Seminggu menjelang hari bahagianya, dunia Jamila runtuh seketika. Di sebuah gubuk tua di tepi sawah, ia menyaksikan pengkhianatan paling menyakitkan: Arjuna tunangannya, justru bermesraan dengan Salina, sepupu Laila sendiri. Sebagai gadis yatim piatu yang terbiasa hidup prihatin bersama kakaknya, Jamal, serta sang kakek-nenek, Engkong Abdul Malik dan Nyai Umi Yati, Mila memilih tidak tenggelam dalam tangis.
Jamila mengalihkan rasa sakitnya dengan bekerja lebih keras. Dengan kulit hitam manisnya yang eksotis dan kepribadian yang pantang menyerah, ia mencari nafkah melalui cara yang tak lazim: live streaming di TikTok. Bukan sekadar menyapa penonton, Jamila melakukan aksi nekat memanjat berbagai pohon mulai dari jambu hingga durian sambil bercengkerama dengan para followers nya
Awalnya hanya kagum pada keberanian Laila, Daren, pemuda tampan dari Eropa perlahan jatuh cinta pada ketulusan Jamila, dan berniat melamarnya, apakah Jamila menerima atau tidak ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indira MR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32. Janji Daren
Lembayung senja mulai turun di ufuk barat desa Suka Maju, menyisakan semburat jingga yang memantul di kaca mobil mewah Daren. Suasana di dalam kabin mobil yang biasanya dingin dan kaku itu kini terasa berbeda. Ada haru yang masih tertinggal dari acara lamaran tadi siang, tapi ada juga ketegangan kecil yang menggantung di udara.
Mila duduk di samping Daren, jemarinya tak berhenti memainkan cincin baru di jari manisnya. Di kursi belakang, Jamal tampak sibuk merapikan kain sarung dan pecinya, sementara Jerry sang asisten yang setianya melebihi cicilan bank duduk tegak sambil memegang bungkusan besar berisi bunga mawar, melati, dan air mawar.
"Kita sudah sampai," ucap Mila pelan saat mobil berhenti di depan gerbang sebuah pemakaman umum yang rimbun dengan pohon kamboja.
Begitu turun dari mobil, Jerry langsung disambut oleh tragedi kecil. Kakinya yang biasa melangkah di lantai marmer kantor pusat, tiba-tiba terperosok ke dalam lubang tanah yang agak becek sisa hujan semalam.
"Aduh, Bos! Sepatu pantofel gue masuk ke dalem tanah! Ini tanahnya lembek apa gimana sih?" keluh Jerry sambil berusaha menarik kakinya.
Jamal tertawa pendek.
"Sabar, Jer. Itu tandanya penghuni sini mau kenalan sama asisten CEO. Lagian lu pake gaya bener, ke makam pake sepatu kinclong gitu. Nih, pake sandal jepit cadangan gue di bagasi."
Akhirnya, Jerry terpaksa berjalan dengan gaya absurd kemeja slim-fit, rambut klimis, tapi kaki beralaskan sandal jepit hijau yang ukurannya kekecilan. Daren hanya bisa geleng-geleng kepala melihat asistennya itu, sementara Mila mulai berjalan memimpin di depan.
Di Depan Pusara Surya dan Dewi
Langkah Mila terhenti di bawah sebuah pohon kamboja tua yang bunganya berguguran menutupi dua gundukan tanah yang berdampingan. Nisan itu tampak terawat, bukti bahwa meski raga telah tiada, cinta dari yang hidup tak pernah putus.
Surya bin Malik (Wafat 2006)
Dewi binti Abdullah (Wafat2006)
Mila berlutut. Tangannya yang gemetar mulai membersihkan dedaunan kering di atas pusara ibunya. Daren ikut berlutut di sampingnya, diikuti Jamal. Jerry berdiri agak menjauh untuk memberi ruang, meski ia tetap sigap memegang botol air mawar.
"Assalamualaikum, Mak... Bapak..." suara Mila serak.
"Ini Mila. Mila dateng sama Bang Jamal. Tapi hari ini, Mila nggak cuma berdua."
Mila menoleh ke arah Daren. Daren bisa merasakan jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia harus melakukan presentasi di depan investor asing.
"Mak, Bapak... Kenalin, ini Daren. Orang yang tadi siang nekat ngelamar Mila di depan Engkong," Mila tersenyum tipis, meski air mata mulai menggenang di sudut matanya.
"Dia orangnya agak kaku, bossy, dan suka maksa kalau nyuruh makan. Tapi... dia orang baik. Dia yang bikin Mila ngerasa kalau Mila nggak sendirian."
Mila menarik napas panjang. Ia menatap nisan ibunya dengan tatapan kosong yang dalam.
"Mas Ren," panggil Mila lirih.
"Mas Ren mungkin lihat gue sama Bang Jamal tumbuh besar dengan tawa yang keras di rumah Engkong. Tapi asal mas tau, gue nggak pernah tau rasanya dipeluk Mak atau diajak main bola sama Bapak."
Jamal menimpali dengan nada berat.
"Bapak meninggal waktu kami masih di dalem kandungan Mak, tujuh bulan. Kecelakaan di proyek bangunan. Mak sendirian, Ren. Dia berjuang mati-matian buat pertahanin kami berdua di perutnya."
Mila menyeka air matanya yang jatuh.
"Pas hari kami lahir, itu jadi hari terakhir buat Mak. Mak meninggal sesaat setelah gue keluar ke dunia. Dia belum sempat liat muka kami secara jelas. Dia cuma sempat bisikin nama Jamal dan Jamila ke telinga Nyai, terus dia pergi... nyusul Bapak."
Daren tertegun. Ia meraih tangan Mila, menggenggamnya erat. Ia baru menyadari bahwa di balik sifat galak dan mandiri Mila, ada luka yang begitu besar yang sudah mengering namun tak pernah hilang bekasnya.
"Makanya, Engkong sama Nyai itu segalanya buat kami," lanjut Mila.
"Engkong yang nyuapin kami susu pakai botol sambil nangis-nangis kalau ingat anaknya Mak gue. Nyai yang begadang tiap malam waktu kami berdua demam barengan. Mereka bukan cuma kakek nenek, mereka itu pengganti ibu bapak kami."
Daren berdehem, mencoba menahan rasa sesak di dadanya. Ia kemudian menyentuh batu nisan Bapak Surya dengan penuh hormat.
"Bapak Surya, Ibu Dewi... Perkenalkan, nama saya Daren. Saya minta izin untuk menikahi putri kalian, Jamila."
Suara Daren terdengar mantap, menggema di antara kesunyian pemakaman.
"Mungkin saya bukan laki-laki sempurna. Saya juga sering bikin Mila kesal dengan sifat saya yang keras kepala. Tapi hari ini, di depan rumah terakhir kalian, saya berjanji. Saya akan melindungi Mila dengan seluruh hidup saya. Saya akan memastikan dia selalu punya alasan untuk tersenyum, sehingga dia nggak perlu lagi ngerasa kesepian seperti waktu dia masih kecil."
Daren menatap Mila dengan intens.
"Mila bilang dia tukang ngomel kalau makan kerupuknya berisik. Saya janji, saya akan beliin dia kerupuk paling banyak, dan saya akan dengerin omelannya sebagai musik paling indah di rumah kami nanti. Saya akan bahagiain dia, sebagaimana kalian menginginkannya dari sana."
Jerry yang mendengar itu langsung sesenggukan.
"Aduh Bos... jangan gitu dong ngomongnya. Gue jadi mau resign terus daftar jadi anak angkat Bos juga kalau gini caranya," celetuk Jerry sambil mengelap ingus pakai sapu tangan sutranya.
Suasana yang tadinya penuh haru pecah sedikit karena tingkah Jerry. Jamal tertawa kecil sambil menepuk pundak Jerry.
"Udah, Jer. Jangan drama. Sini, bantuin siram air mawar."
Mereka pun mulai menyiramkan air mawar secara bergantian. Saat giliran Jerry, karena terlalu semangat, ia malah terpeleset lagi karena sandal jepitnya yang licin.
"Waduh!" Jerry hampir terjatuh menimpa nisan kalau tidak segera ditangkap oleh Jamal.
"Hati-hati, Jer! Lu mau ikut 'check-in' di sini juga apa gimana?" ledek Jamal.
"Enggak, Bang! Ampun! Ini tanahnya kayak punya dendam pribadi sama sandal gue!" jawab Jerry panik sambil membetulkan posisi berdirinya.
Mila tertawa di tengah sisa air matanya.
Setelah suasana kembali tenang, mereka membacakan doa bersama. Suasana berubah khidmat. Suara kicauan burung sore dan gesekan daun pohon kamboja seolah menjadi saksi bisu atas janji suci yang baru saja diucapkan.
Pulang dengan Restu yang Tak Tampak
Sebelum beranjak pulang, Mila mencium nisan kedua orang tuanya lama sekali.
Ada rasa damai yang kini merayap di hatinya. Mengenalkan Daren kepada orang tuanya adalah bagian terpenting dari prosesi lamarannya.
Saat berjalan menuju mobil, Daren merangkul bahu Mila.
"Makasih ya, Mil, udah bawa gue ke sini. Gue jadi makin tau kalau gue dapet berlian yang ditempa dari api yang sangat panas. Lo hebat bisa bertahan sampai sejauh ini."
Mila tersenyum manis, senyum yang paling tulus yang pernah Daren lihat.
"Gue hebat karena ada doa mereka yang selalu jagain gue lewat Engkong sama Nyai."
Sesampainya di mobil, Jerry sudah duduk di kursi belakang dengan wajah ditekuk.
"Kenapa lagi lo, Jer?" tanya Daren sambil menghidupkan mesin.
"Kaki gue gatal, Ren. Kayaknya tadi gue digigit semut rangrang pas lagi adegan sedih. Mau garuk tapi nggak enak sama almarhum. Sekarang gatalnya sampai ke ubun-ubun!"
Jamal terbahak-bahak.
"Itu namanya semut restu, Jer! Berarti perjalanan cinta Bos lo ini didukung sama alam semesta, termasuk serangganya!"
Mobil pun melaju meninggalkan kompleks pemakaman. Matahari sudah benar-benar tenggelam, digantikan lampu-lampu jalanan Jakarta yang mulai berpendar. Di dalam hati masing-masing, ada keyakinan baru. Bahwa meski orang tua Mila telah tiada, cinta mereka terus hidup, mengalir melalui Engkong Malik, melalui Jamal, dan kini... mengalir ke dalam hati Daren.
"Ren," panggil Mila pelan di tengah perjalanan.
"Ya?"
"Beneran ya, bayarin token listrik rumah gue?"
Daren tertawa lepas.
"Iya, Mil. Token listrik, cicilan kulkas kalau ada, sampai biaya skin care lo, gue tanggung. Tapi syaratnya satu."
"Apaan?"
"Jangan pernah berhenti ngomel kalau gue telat bangun. Karena itu tandanya, gue punya orang yang peduli sama gue."
Mila tersipu malu, menyembunyikan wajahnya yang merona merah. Di kursi belakang, Jerry sibuk menggaruk kakinya, sementara Jamal tersenyum menatap langit malam dari balik jendela.
Bersambung
bener bener kek dpt hidayah atas kemauannya sendiri