setelah menyebrang, aku ingin berkultivasi dengan santai tetapi semua orang memubuat ku bekerja keras, saat aku berkata bahwa aku berkultivasi dengan bekerja keras, orang-orang ngin menghajar ku berkata bahwa aku orang termalas di dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kristanto artsx,...., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
cap 1 menyebrang
Seorang pria paruh baya tergeletak tak bergerak di sebuah kuil bobrok di tengah hutan
Napas pria itu sangat lemah seolah akan berhenti kapan saja.
Pada saat itu Seekor tikus muncul dari sudut ruangan kuil, tikus itu melihat sekeliling dan kemudian menatap pada pria itu dengan waspada.
Pandangan nya kemudian tertuju pada sebuah roti kering yang tergeletak di dekat lelaki itu.
Tikus itu mengamati cukup lama kemudian tak lagi mampu menahan godaan makanan sehingga iya mendekat dengan hati-hati.
Saat dia akan mecapai roti itu, mata pria paruh baya yang terpejam tergeletak tepat di samping roti itu tiba-tiba terbuka.
Tikus itu menjerit kaget dan dengan cepat kabur menghilang ke sudut kuil
Sementara itu, pria paruh baya itu membuka matanya, pandangan nya tampak kosong, tanda-tanda hidupnya pulih dengan cepat, namun pandangan mata pria itu tetap kosong, seolah matanya orang buta yang membuka mata nya tapi tak bermaksud dan tak mampu melihat apapun.
Butuh waktu cukup lama sebelum mata pria itu berkedip beberapa kali seakan berusaha melihat, kemudian kejernihan terlihat di matanya.
"Urgh"
Erangan kesakitan terdengar dari mulut nya diikuti oleh tangan dan kakinya yang mulai berkedut kemudian bergerak menopang dirinya duntuk duduk.
"Apa yang terjadi" Ucap pria itu bingung, namun sebelum iya sempat berpikir lama-lama, gelombang rasa sakit yang lebih dahsiyat melanda kepalanya.
Pria itu mengerang kesakitan, tangan nya memegangi kepalanya dan berguling-guling di dalam kuil beberapa kali sebelum sakit di kepalanya mereda.
"Ini... " Gumaman kecil terdengar dari mulut pria itu, beberapa ingatan muncul di kepalanya kemudian saat dia berusaha menjelajah, dan mengingat-ingat lebih banyak ingatan muncul.
"Aku menyebrang" Itulah kata-kata yang muncul setelah beberapa saat menjelajah ingatan itu.
Yaa.. Pria paruh baya itu bernama Art mc kita yang merupakan seorang beruntung yang menjadi penyebrang dari bumi ke dalam tubuh pria paruh baya ini
Dunia tempatnya tinggal saat ini adalah dunia kultivasi dimana terdapat iblis, monster dan kultivator yang dapat terbang di langit
Art yang mati di bumi menyebrang ke tubuh pria paruh baya ini yang merupakan seorang kultivator independen dengan kemampuan rendah (sangat rendah, sampah jir)
Pemilik asli tubuh ini bepergian bersama beberapa kenalan untuk berburu di hutan sekitar. Saat berburu, mereka menemukan 4 buah spiritual yang cukup berharga, pemilik yang naif sangat senang dan tak memperhatikan tatapan aneh rekan-rekan nya.
Buah roh memang berharga namun jumlah nya hanya 4 sementara jumlah orang yang ada adalah 5 orang
Pemilik asli yang berkemampuan terendah sial dan menjadi target eliminasi rekan-rekan lain .
Saat malam tiba, rekan-rekan nya mematahkan lehernya membunuh nya dan pergi meninggalkan tubuhnya.
Art kemudian entah bagaimana masuk ke tubuhnya dan saat sadar sekarang sudah keesokan siangnya setelah pemilik asli mati, terlebih leher tubuh ini saat ini telah pulih tanpa luka.
"Huf sungguh malang nasibmu, karena aku sudah menduduki tubuh mu, aku akan hidup dengan lebih baik darimu heheheh" Art terkekeh merasa beruntung karena saat mati ternyata dia menyebrang dan bukan ke dunia bawah seperti dalam cerita-cerita
Setelah senang sesaat, Art menenangkan diri dan memikirkan kondisinya saat ini.
Perubahan mendadak dari mati dan menyebrang membuat nya sedikit bingung dan pikiran nya melayang' kenapa menyebrang? Bagaimana bisa menyebrang?, Apa memang seperti ini harusnya?, semua orang yang mati di bumi menyebrang?, banyak pertanyaan yang muncul di benak art.
Namun sesaat kemudian Art menggelengkan kepalanya dan fokus memikirian kondisi saat ini. Kondisinya sekarang tak baik, iya harus menghadapi masalah yang harus iya hadapi saat ini terlebih dahulu.
Saat ini tubuhnya mati di sebuah kuil di tengah hutan belantara, kota terdekat atau pemukiman manusia cukup jauh, terlebih lagi bahaya jika bertemu orang-orang yang membunuh nya.
Setelah memikirkan beberapa saat, art memutuskan untuk tinggal di dalam hutan untuk sementara dan berkultivasi, dengan ingatan di bumi, seharusnya lebih banyak cara untuk bertahan hidup pikirnya.
Setelah membuat keputusan, iya langsung berdiri dan meninggalkan kuil itu memasuki hutan di sebelah selatan, iya langsung pergi karena kuil itu sering di kunjungi orang-orang yang pergi berburu untuk beristirahat.
Setelah memasuki hutan, art sangat berhati-hati, di tubuh nya saat ini tak memiliki senjata apapun, semuanya telah di ambil oleh orang-orang yang membunuh nya.
Hutan itu terkadang lebat hingga cahaya matahari tak menembus ke tanah, terkadang jarang namun pepohonan tetap sangat tinggi
Yang pendek sekitar 50 meter dan ada pula pohon Tuak yang terkenal di daerah ini yang tingginya bisa mencapai 100 meter lebih
Hanya dengan tubuh dan pakaian yang di kenakan nya tanpa senjata perlindungan diri di hutan ini sangat berbahaya.
Namun meski waspada, art tetap merasa takjub, Tempat ini sungguh seperti negeri dongeng dengan gunung batu yang mencapai awan, sesekali burung raksasa dengan ukuran sapi terbang di atas hutan.
Iya berjalan dengan hati-hati mengamati sekeliling kadang-kadang memanjat ke atas pohon yang dipastikan aman dari ular dan serangga beracun serta bahaya lain-lain yg biasanya ada di pohon kemudian melihat sekeliling memastikan jalan di depan aman barulah iya melanjutkan Berjalan tanpa tujuan yang jelas ke kedalaman hutan.
Sepanjang jalan iya sering merubah arah dan memutar karena melihat tanda-tanda bahaya.
Baru setelah senja, iya sampai di sebuah daerah dengan tebing-tebing batu menjulang tinggi, melihat-lihat sekitar dengan hati-hati.
Tebing-tebing itu seperti kumpulan gunung batu, ada yang rendah namun ada juga yang mencapai langit.
Selama perjalanan dari kuil hingga tempat ini, iya cukup beruntung tak menemui bahaya tak terduga.
Setelah beberapa saat melihat-lihatsekitar, art menemukan sebuah tempat yang baik untuk di jadikan tempat berlindung yang merupanan sebuah celah sempit patahan batuan.
Dari luar patahan terlihat seperti patahan panjang dengan lebar hanya 2 meter, di beberapa tempat terdapat cekungan atau lubang batu seperti goa-goa yang menurut Art cukup bagus untuk di jadikan tempat berlindung.
Tempat yang iya pilih adalah lubang batu berbentuk C di satu sisi patahan batu dengan dua jalan masuk di kedua ujung, lubang itu cukup luas lebarnya tak menentu sekitar 3 hingga 2 meter dan tinggi nya juga bervariasi dari 1,5 hingga 3 meter melebar di tengah kemudian panjangnya sekitar 10 meter.
Setelah menetapkan tempat, art mulai sedikit merapikan gua menumpuk bebatuan kecil yang mengganggu ke salah satu sudut, kemudian membawa rumput kering yang di tumpuk kemudian menaruh dedaunan di atasnya untuk di jadikan tempat tidur.
Setelah itu iya juga menutupi kedua pintu masuk dengan dedaunan lebar.
Setelah menyelesaikan semua itu, iya langsung tidur karena merasa lelah.
Meski belum makan seharian, tubuh art adalah seorang kultivator yang telah melakukan pemurnian 4 kali sehingga mampu menahan lapar 2 sampai 3 hari meski tak nyaman namun belum sampai mengganggu kelancaran aktivitas.