Sangat di sarankan untuk membaca kisah sebelumnya, Wanita Mantan Narapidana Vol 1.
Setelah 20 tahun mendekam di balik jeruji tahanan, Lembayung Senja akhirnya bisa menghirup udara kebebasan di luar penjara.
Tapi, waktu yang berlalu, masa yang telah lama berganti, masih meninggalkan bekas luka yang begitu dalam di hati Ayu.
Hingga dendamnya pun kian membara, tekadnya semakin kuat untuk menghancurkan dua orang yang membuatnya terkurung selama 20 tahun lamanya.
Berhasilkah Lembayung Senja membalaskan sakit hatinya?
Lantas bagaimana hubungannya dengan Biru putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curiga
#24
Angin tak dapat ditangkap, asap tak bisa digenggam. Yang berarti, sebuah rahasia tak akan mungkin bisa disembunyikan selamanya, suatu saat pasti akan terbuka juga.
Itulah prinsip yang Giana dan Ayu genggam saat ini. Gunawan boleh di atas angin, semakin tenggelam dalam keserakahannya. Anjani masih bebas menikmati hidupnya berganti-ganti pria sesuai keinginan hatinya.
Tapi suatu saat semesta pasti mampu membalik keadaan, karena itulah Giana tak mudah menyerah.
“Kak, apakah Kakak tidak rugi melakukan semua ini?” Ayu bertanya ketika mereka sibuk menyiapkan uang untuk membayar orang-orang yang bekerja dibelakang layar demi mempermudah pengintaiannya pada Gunawan dan juga istrinya.
Giana menggeleng dengan enteng, karena baginya ini bukan jumlah yang besar bila dibanding hasil yang kelak didapat. “Allah tak pernah menyia-nyiakan pengorbanan seorang hamba. Apalagi kita melakukannya demi kemaslahatan bersama, yakinlah, kita di jalan yang benar.”
Giana menyerahkan amplop berisi uang tunai tersebut, “Awasi pria itu dengan benar, rekam apa yang bisa direkam dari semua aktivitas mereka,” perintah Giana pada pria yang bertugas mengawasi gerak gerik Anjani dari kejauhan.
“Baik, Nyonya.”
Sementara itu, yang diawasi justru seperti dua orang yang sedang reuni. Bulshit dengan alasan bertemu teman lama, karena di perjumpaan pertama pria yang pernah menjadi teman kumpul kebonya Anjani itu, langsung tahu bahwa sudah sangat lama Anjani tak merasakan belaian lelaki.
Dan setelah pergulatan yang cukup menguras tenaga, keduanya berpelukan manja sembari menatap mentari sore.
“Bagaimana? Kamu puas, kan?”
“Hmm.”
Jono tertawa bangga, memang begitulah pekerjaannya, berganti-ganti wanita demi memuaskan mereka. Karena itulah, penampilannya kini semakin bergaya, wajahnya tak lagi pas-pasan karena ia melakukan permak di seluruh bagian tubuhnya, agar lebih sedap dipandang para pelanggannya.
Demi penampilan dan gaya hidup, semua Jono lakukan. Anjani saja langsung terpukau ketika kemarin mereka bertemu untuk pertama kalinya setelah 20 tahun tak saling berkirim kabar.
“Apa kau mau melakukannya sekali lagi, sebelum pulang?” bisik Jono dengan suara nakal.
Anjani tak menjawab, ia hanya tersenyum diam-diam. Sejenak lari dari Gunawan ternyata cukup menyegarkan jiwanya yang haus belaian.
•••
Hari-hari terus berganti, sambil menanti kesempatan datang kembali, Ayu dan Giana pum kembali pada rutinitas mereka masing-masing. Selain mendesain merek untuk brand masing-masing, Giana pun tetap bekerja, sesekali ia pun menerima tawaran mendesain pakaian untuk acara tertentu. Misalnya gaun pengantin, atau gaun untuk ke acara pesta tertentu.
Hingga suatu hari, Giana kedatangan seorang tamu penting.
“Bu Andini,” sapa Giana pada wanita tersebut.
“Nona Giana, lama tak jumpa, aku pikir Anda sudah hilang dari peredaran,” balas wanita itu, keduanya pun bersalaman lalu beramah tama ala wanita sosialita.
“Sibuk, Bu, saya juga mengurus penuh Huda Tex, selepas ayah saya wafat. Jadi, bukan sepenuhnya menghilang. Hanya saja waktu saya tak sebebas dulu.”
Keduanya tertawa ramah, “Ah, ternyata Anda multi talenta juga.”
“Mau bagaimana lagi, saya anak satu-satunya, jadi saya wajib menjaga amanah ayah saya, demi keberlangsungan para karyawan kami juga.”
Bu Andini adalah istri Pak Menteri, siang ini wanita itu datang bersama putra bungsunya, Tian.
“Begini, Nona. Putra sulung saya akan menikah, jadi, kami ingin memesan set pakaian seragam pada Anda, apakah Anda bisa?”
Kedua kelopak mata Giana membesar, rezeki tak perlu terlalu digali, bila sudah waktunya akan datang menghampiri. “Tentu saja bisa, dengan senang hati kami akan mengerjakannya dengan penuh kehati-hatian, semoga nanti hasilnya memuaskan.”
“Aku yakin Anda bisa, Nona. Sejak dulu Aku menyukai desain pakaian Madame Gi.”
Giana kembali tersipu, “Oh, iya, saya perkenalkan orang baru di dunia fashion, nantinya saya akan bekerja dengan dibantu olehnya.”
“Oh, boleh,” sahut Bu Andini.
Giana pun berdiri dan menghampiri sekretarisnya. Minta tolong agar Ayu dipanggil ke ruangannya.
“Baik, Bu.”
Giana kembali ke tempat ia duduk, kemudian mulai membahas desain seperti apa yang diinginkan Bu Menteri, karena acara itu nantinya akan dihadiri banyak tamu penting.
Sementara para wanita sibuk berbincang, Tian sibuk berkeliling dan melihat seisi ruangan, pria itu sedang ada waktu senggang di luar jam kuliah. Makanya Bu Andini menyeretnya keluar untuk menemaninya, karena tak mungkin meminta sang suami menemaninya.
Tok!
Tok!
Ayu datang bersamaan dengan Sasti yang menyuguhkan minuman dan kudapan ringan.
“Ini dia, yang saya maksudkan, Bu.”
Giana segeda memperkenalkan Ayu pada Bu Andini. “Namanya Ayu, dia desainer muda yang memenangkan acara kompetisi para desainer. Kebetulan juga, dia adalah adik sepupu saya.”
Wajah Bu Andini berubah, kala melihat wajah Ayu, beberapa waktu lalu, nama Ayu sempat menjadi kontroversi, hingga membuat Bu Andini sedikit antipati. Wanita itu hanya melirik sekilas, lalu menyambut uluran tangan Ayu sekedarnya saja.
“Tapi, Nona Giana tetap desainer utamanya, kan?” Belum apa-apa, Bu Andini sudah menarik diri. Wajar bila meragukan Ayu, setelah pemberitaan saat itu.
“Tentu saja,” jawab Giana.
Kemudian mereka mulai sibuk membicarakan desain pakaian yang diinginkan Bu Andini. Pastinya yang elegan, mewah, dan bergaya.
Ketiga wanita itu sibuk dengan urusan pakaian, hingga Ayu pun mengabaikan ponsel yang tergeletak diatas meja. Beberapa kali benda tersebut menyala, karena ada notifikasi pesanan yang masuk. Hal itu menarik perhatian Tian yang sejak tadi diam dan menunggu dengan bosan.
Wallpaper ponsel Ayu, menampilkan gambar pria muda yang belakangan mengusik ketenangan Tian, dialah Biru. Bagaimana bisa tenang, bila sang gadis idaman kini terlihat makin akrab dengan Biru, ya walaupun tak salah berteman dengan siapa saja.
Tapi Tian tak bodoh, ia bisa melihat Miranda yang tergila-gila pada Biru, apalagi Biru pernah menjadi penyelamatnya malam itu. Membuat Tian makin sulit mendekati Miranda.
Diam-diam Tian menatap intens wajah Ayu, pria itu mulai bertanya-tanya ada hubungan apa Ayu dengan Biru?
Tian pun mengeluarkan ponselnya, tanpa ada yang curiga padanya, pria itu mengirimkan pesan pada seseorang.
•••
Seperti yang Biru katakan, pria itu tak bohong ketika mengatakan bahwa ia membutuhkan bantuan Miranda. Biru sedang mencari tempat magang untuk tugas perkuliahan, dan yang menjadi tujuannya adalah Firma Guns.
Meski Biru masuk atas rekomendasi Miranda tetap saja tak membuat Gunawan melepaskan pengawasan. Karena Biru terlihat bekerja dengan cukup baik, bahkan terkesan terus berusaha untuk lebih dekat dengan dirinya.
Seperti saat ini, Gunawan tengah mencari sekretarisnya, “Biar saya saja, Pak. Nona Dinara sedang ada perlu di lantai bawah.”
“Ah, terserah saja. Foto kopi ini sebanyak 10 rangkap.”
“Baik, Pak.”
Ada begitu banyak asisten yang bekerja untuk Gunawan, dan semuanya bekerja sesuai dengan pos dan porsi kerja masing-masing. Tapi Biru, terlalu bersemangat, sering nya malah berinisiatif agar dirinya terlihat sangat rajin bekerja.
Hingga Gunawan semakin menaruh curiga.
###
Yang nunggu neng Mayra dan Sadam, nanti malam othor up expart lagi, 🤓
kayaknya Biru sudah lupa dengan ajaran" bapak Ismail sama mamak Karmila tentang sopan santun dgn yg lebih tua 🥺😤 .., apa mungkin si Biru nurut sikapnya kayak neneknya yang sikapnya kayak Mak lampir 😏
Biru mendekati Miranda dan sekarang magang di firma Gunawan, mungkin sambil menyelidiki Gunawan