Siang itu Berlian berniat pulang kerja lebih awal, dengan tujuan untuk memberi kejutan pada sang suami. Hari ini adalah anniversary pernikahan mereka yang ke tujuh.
Tapi kenyataan kadang tak sesuai ekspektasi. Niat awal ingin memberi surprise, malah dirinya sendiri yang terkejut.
Berlian mendapati sang suami asyik berbagi peluh dengan adik di ranjang miliknya.
Kedua kakinya tak mampu lagi menopang badan, hatinya luruh lantak melihat kenyataan di depan mata.
"Sayang, ini tak seperti yang kamu lihat," alibi laki-laki yang menjadi suami Berlian.
Akankah Berlian tegar menghadapi atau malah hancur meratapi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berlian Putri Wiranata
Berlian Putri Wiranata, merupakan putri sah dari Adrian Kusuma dan Indah Wijaya.
Setelah sang ibu meninggal, tuan Adrian membawa seorang wanita dan putri perempuannya. Yang akhirnya diakui sebagai ibu sambung Berlian. Adik yang awalnya hanya adik tiri, setelah dewasa baru Berlian sadari bahwa Intan adalah putri kandung dari ayahnya. Ibu sambungnya adalah selingkuhan sang ayah sejak masih terikat pernikahan dengan Indah Wijaya, ibunya.
Sedari awal Intan datang, semua yang Berlian punya beralih perlahan ke tangan Intan. Mulai dari mainan sampai kamar yang ditempati Berlian bergeser menjadi milik Intan.
Seorang kakak harus mengalah kepada adiknya, selalu itu yang menjadi alasan ayahnya untuk membela Intan Kusuma.
Setelah memutuskan menikah dan menetap bersama pria yang dicintainya, Berlian berharap teror dari keluarganya berhenti.
Semua itu hanyalah ekspektasi. Pada kenyataannya suaminya pun direbut oleh sang adik.
Berlian mendesah panjang, dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Dadanya terasa sesak dan sulit bernafas mengingat kejadian di rumahnya tadi.
Rumit sekali cerita hidupnya.
Tujuh tahun hidup membina rumah tangga berasa sia-sia.
Janji manis yang biasa terucap dari bibir sang suami ternyata hanya kepalsuan belaka.
Berlian teringat bagaimana sang suami berucap, "Meski rumah ini tak ada celoteh anak-anak, kita akan menua bersama sayang. Rasa cinta dan sayang ini akan selalu ada untukmu," yang pada akhirnya hanya fatamorgana.
Berlian menenggak wine yang berada di depannya.
Menikmati kesendirian di tengah-tengah hingar bingar musik yang dimainkan oleh Disk Jockey di sana.
.
"Wah... Wah.... Ternyata kakak munafik juga.... Sok bersih, sok suci tapi endingnya main di klub malam," Intan menghampiri sang kakak, setelah memastikan bahwa wanita yang menyendiri itu adalah Berlian.
"Jaga ucapanmu!" bentak Berlian.
"Jangan sok suci kak," balas Intan mengejek.
"Diam, atau kusumpal mulut sampahmu," Berlian bangkit dari duduknya.
Badan Berlian terhuyung.
"Ha...ha... Hanya segitu kak," olok Intan menertawakan Berlian yang setengah mabuk.
"Aduh... Aduh kasihan yang barusan diselingkuhi suami," lanjut Intan memprovokasi.
Intan mendekat, "Tahu nggak kak, Mas Arya puas banget main sama aku," bisik Intan.
"Desahannya.... Wow.... Membayangkannya aja aku sampai nggak tahan," sesungging senyum licik di bibir Intan.
Berlian hendak mengangkat tangan dan bersiap menampar sang adik tak tahu diri itu.
"Tahan kak! Jangan emosi. Kalau mas Arya tahu, dia pasti tak terima," cegah Intan.
"Mas Arya pasti akan membelaku. Karena dia tahu ada benihnya yang tumbuh di rahimku," kata Intan sambil berlalu pergi.
Berlian mengepalkan tangannya erat. Ingin dia meremas mulut Intan sampai keriting.
"Akan kubalas perbuatan kalian berdua," gumam Berlian mengancam.
Berlian berjalan terhuyung saat hendak keluar klub.
Kehadiran Intan di tempat itu membuatnya muak dan ingin segera pergi dari sana.
Berlian berpapasan dengan orang kedua yang ingin sekali dihindarinya, dialah Arya.
"Sayang, ngapain kamu di sini? Kamu mabuk?" tatap Arya tak percaya.
Sebutan 'sayang' yang terucap dari pria bengsek itu membuat Berlian memuntahkan cairan dari mulutnya karena rasa mual yang mendera.
Ya, Berlian muntah tepat di kemeja Arya membuat Arya mendelik ke arah Berlian.
"Sayang," kata Arya sambil mengibaskan baju yang basah dan berbau itu.
Berlian tersenyum sinis dan berlalu pergi.
"Sayang, tunggu!" teriak Arya sambil mengejar Berlian.
"Mas Arya," teriak Intan dari kejauhan memanggil Arya.
Berlian tersenyum kecut.
"Tuh... Gundikmu," seru Berlian.
"Dia adikmu," sanggah Arya.
Intan menghampiri.
"Mas, perutku sakit! Antar aku pulang", rajuk Intan manipulatif.
Reflek Arya mengelus perut datar Intan.
Perbuatan Arya barusan cukup membuktikan bahwa perkataan Intan sebelumnya benar adanya.
Berlian berlalu pergi tanpa memperdulikan Arya yang ingin pulang bersama setelah mengantar Intan tentunya.
"Bullshit kalian," umpat Berlian.
Dengan rasa pusing mendera, Berlian berjalan ke arah mobilnya.
Berlian bersandar di pintu mobil, sambil mengetuk-ngetuk kepalanya. Berharap rasa pusingnya berkurang.
"Hai nona cantik, godain kita dong," segerombolan cowok menghampiri Berlian yang berdiri sempoyongan.
"Pergi kalian!" usir Berlian.
"Wah, cantik-cantik tapi galak," seru lainnya dan hendak menyentuh dada Berlian.
"Stop!" cegah Berlian.
"Akan ku panggil security kalau kalian macam-macam," ancam Berlian.
Tawa mereka semakin pecah mendengarnya.
"Ikut kami aja Nona, dijamin puas deh," salah satu dari mereka mencekal lengan Berlian.
Berlian ditarik paksa oleh mereka. Berlian meronta, tapi kalah tenaga.
Bugh... Bugh ...
Tendangan demi tendangan terdengar samar di telinga Berlian. Konsentrasinya terganggu karena setengah mabuk.
Tak berapa lama, mereka yang mengganggu Berlian tergeletak tak beraturan dengan luka-luka lebam di sekujur tubuh masing-masing.
Berlian semakin terhuyung dan hendak jatuh hingga tiba-tiba tangan kokoh menahan tubuh Berlian.
"Sok kuat," gumam orang itu yang masih terdengar lirih sebelum Berlian benar-benar pingsan.
.
Berlian terbangun dengan rasa sedikit pening. Berlian memukul pelan kepalanya untuk menghilangkan efek minuman semalam.
Lama tak menjamah klub malam, membuat tubuhnya harus beradaptasi kembali dengan minuman beralkohol.
"Di mana ini?' Berlian kaget setelah matanya terbuka sempurna.
Berlian menelisik tubuhnya yang berada di bawah selimut.
Helaan nafas panjang terdengar setelahnya. Lega karena bajunya masih utuh menempel di badan.
Bayangan seperti cerita drakor dan dracin sempat melintas di otak.
Berlian bangkit dan mencari ponsel.
"Hhhmmm di sini ternyata," Berlian menemukan ponsel nya tergeletak di atas nakas.
Saat ponsel menyala, terlihat banyak panggilan dan pesan tak terjawab dari Arya.
Berlian meletakkan kembali ponsel, malas saja.
Berlian terlonjak, setelah sekilas melihat jam di wallpaper ponsel miliknya.
"Sialan, telat kerja nih," gerutu Berlian saat sadar sepenuhnya.
Berlian terburu keluar tanpa tahu saat ini dia berada di mana.
Karena buru-buru, dia berjalan tanpa melihat jalan.
Bruk....
"Aawh," reflek Berlian mengelus dahinya.
Berlian mendongak untuk melihat siapa yang berdiri tegak di depannya.
"Pagi... Pagi.... Apes banget nasibku," gumam Berlian menggerutu.
Berlian terlonjak kaget
"Loh ... Kok anda di sini?" tanya Berlian sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Kok bisa bertemu dengan pria es balok di sini? Batin Berlian.
.
.
.
Ayam berkokok tanda hari telah pagi
Matahari pagi datang menyinari
Karya baru telah datang lagi
Semoga membuat readers berseri
Kopi tanpa gula enak rasanya
Biarpun pahit banyak yang suka
Readers kasih dukungannya
Karya naik popularitasnya
Tahun telah berganti
Banyak suka duka terlewati
Setelah hiatus jarang menggerakkan jari
Smoga karya ini masuk di hati
Kalau suka, lanjut guysss
Tak suka, skip aja
Kasih komen bijak, dan rating baik ya guysss.... Maacih 💖