Kinan tak pernah siap kehilangan, terlebih dalam satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Kecelakaan itu bukan hanya merenggut tunangannya, tetapi juga meninggalkan trauma yang perlahan hinggap dalam dirinya.
Alana hadir sebagai perawat—sekedar menjalankan tugas, tanpa tahu bahwa langkah kecilnya akan membawanya masuk ke dalam kisah yang rumit. Ketulusan yang ia berikan justru membuat keluarga Kinan memintanya bertahan… bahkan menikah.
Hubungan yang seharusnya sederhana itu berubah menjadi pertaruhan perasaan.
Sebab mencintai Kinan berarti bersedia berbagi ruang dengan masa lalu yang belum pergi.
Akankah Alana mampu bertahan, atau justru terluka oleh cinta yang belum selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amerta Nayanika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian Tak Tertulis
Suara semprotan dari sebotol air dingin yang ada di tangan sang ibu mampu menyegarkan pagi Alana. Percikannya membasahi setiap helai daun tanaman kesayangan Laksmi yang tumbuh subur di samping jendela. Mengundang aroma tanah untuk muncul dan menyapa setiap manusia yang ada di sekitarnya.
Alana yang tengah menyapu teras kecil rumah itu menoleh pada ibunya. Dapat dia lihat wanita itu merapalkan segala doa untuk kesuburan tanaman miliknya dengan senyuman yang merekah di wajahnya.
"Hari ini cerah banget kayaknya," celetuk Alana yang terdengar sampai telinga Laksmi.
Wanita dengan beberapa helai uban yang mulai muncul di kepalanya itu menoleh. Dia mendongak pada tempat di mana matahari tengah bersinar dengan teriknya pagi ini. "Iya, nggak bakal hujan kayaknya," sahutnya.
Alana tertawa kecil mendengarnya. "Bukan itu, Bu! Yang Alana maksud itu Ibu," jelasnya.
Perempuan itu menggelengkan kepalanya pelan. Dia dudukkan tubuhnya pada teras yang sudah bersih mengkilap. Punggungnya bersandar pada dinding luar rumah yang terasa hangat. Perlahan kepalanya mendongak dengan mata tertutup, menerima sinar matahari yang membasuh wajahnya.
"Aku senang bisa lihat Ibu kayak gini lagi," ucap Alana di sela pejamnya. "Nyiram tanaman lagi tiap pagi..., berjemur di teras. Senyum Ibu awet akhir-akhir ini."
Mendengar itu, Laksmi mengalihkan pandangannya pada Alana yang duduk sambil memeluk gagang sapu. Dia tersenyum seolah melihat Alana versi remaja kembali di hadapannya. Alana yang menjadi alasannya bertahan meski dunia cukup kejam padanya sejak kematian suaminya.
"Ibu juga senang, karena sebentar lagi anak perempuan Ibu akan menikah," timpal Laksmi setelah terdiam cukup lama.
Setelah kalimat itu, senyum tipis di wajah Alana luntur sesaat. Matanya yang semula terpejam, kembali terbuka dan menangkap tajamnya sinar matahari yang ada di atas sana. Apa benar dialah yang membuat ibunya tampak kembali segar seperti ini?
Lalu, dia kembali tersenyum kecil. Tak apa jika dirinya harus sedikit berkorban, toh selama ini ibunya lebih banyak berkorban untuknya. "Ibu bisa aja," sahut Alana.
Usapan halus dia rasakan pada puncak kepalanya. Alana mendongak dan mendapati ibunya yang berdiri di dekatnya. Mata yang kian memudar itu tak hentinya menatap alana dengan kerutan senyum di kedua sudutnya.
"Ibu serius, Lan.... Ibu senang banget waktu tahu ternyata kamu mau menikah sama Kinan," lanjut Laksmi.
Alana terdiam, tak tahu ingin menjawab apa. Dia hanya bungkam dengan tatapan yang tak lepas dari mata ibunya. Tak ada yang lebih cantik dari kilau di mata itu, bahkan bintang-bintang yang terbit semalam pun terkalahkan olehnya.
Akankah dia bisa tetap melihat ini untuk waktu yang lama? Bisakah Alana mempertahankannya? Mungkinkah Alana akan terus mendapatkan senyuman ini di setiap pagi sampai beratus tahun ke depan?
Beberapa detik berlalu, hingga akhirnya sebuah ketukan kecil pada pagar besi rendah di depan sana memecahkan lamunan Alana. Dia menoleh pada dua pria yang berdiri di baliknya. Salah satunya melambaikan tangan dengan senyum cerah pada Alana, sementara satu lagi tersenyum simpul kepada Laksmi.
"Ngapain dia ke sini? Ibu minta dia ke sini?" tanya Alana bingung.
Mendengar itu, Laksmi berdecak pelan. "Kalau calon suamimu datang itu disambut, Lan. Nggak boleh kayak gitu," tegur Laksmi begitu melihat perubahan wajah Alana.
Ini memang hari Minggu dan kebetulan sekali dia mendapatkan jatah libur di hari ini. Namun agendanya yang ingin berleha-leha di rumah sepertinya harus hancur begitu saja. Tamu tak diundang ini datang secara tiba-tiba.
"Masuk, Kinan! Ini Alana juga ada di rumah," pinta Laksmi dengan ramah.
Sekali lagi, seorang pria di belakang Kinan kembali melambaikan tangannya guna menyapa Alana. Sedangkan Alana hanya menanggapinya dengan senyuman canggung dan anggukan kecil. Mau tak mau, dia harus meninggalkan lantai teras nyaman yang menjadi tempatnya singgah.
Kinan menoleh pada Laksmi. "Saya mau ngobrol berdua sama Alana. Boleh, Bu?" tanyanya, meminta izin.
Laksmi yang sudah senyum-senyum pun mengiyakan. Dengan senang hati di beri ruang untuk kedua calon pengantin itu. Tak lupa dia juga mengajak Aldo untuk ikut masuk bersamanya.
"Masuk sana!" pinta Kinan tajam pada Aldo.
Sementara yang disuruh masih betah tersenyum pada Alana. "Saya di sini cuma ngantar Kinan kok. Semoga kuat ya, Alana," ucapnya sebelum berlalu.
Mendengar itu, Alana mengerutkan keningnya heran. "Kok dia tahu namaku?" gumamnya.
"Saya sudah menceritakan tentang kamu ke Aldo," jelas Kinan yang tentu mendengar suara Alana.
Perempuan itu menoleh pada Kinan. Tatapan matanya jatuh lurus pada sepasang mata kecokelatan yang semakin hari semakin dingin sorotnya. Namun, Alana semakin terbiasa dengan hal itu.
"Bapak gosipin saya?" tanya Alana ketus.
Kinan menaikkan bahunya sekilas. "Apa salahnya menceritakan tentang calon istri saya ke sahabat saya sendiri?"
Mendengar sebutan 'calon istri' yang terucap dari mulut Kinan membuat Alana terdiam. Pasalnya, kalimat itu meluncur dengan mulus dan tenang. Sementara Alana masih harus beradaptasi dengan itu.
"Secepat itu Bapak menerima saya sebagai calon istri?" tanya Alana pelan.
Kinan terdiam sejenak. Dia dapat merasakan bagaimana risihnya Alana dengan status itu sekarang. Ternyata, perempuan itu juga memiliki tujuan lain di balik hubungan mereka. Bukan sekedar ingin menjadi istrinya saja.
Mendapati Kinan yang terus memandanginya dalam diam, Alana berdeham kecil. Dia menunjuk kursi kayu yang ada di dekat jendela. "Silakan duduk dulu, biar saya buatkan minum."
"Nggak usah. Saya cuma sebentar di sini," tolak Kinan.
Pria itu tahu-tahu sudah duduk pada kursi yang ditunjuk Alana. Dia seolah sudah mempersiapkan kalimat yang akan dia ucapkan pada Alana.
"Setelah menikah nanti, saya mungkin sering nggak ada di rumah," ucap Kinan, membuka tujuannya datang pagi ini.
Alana memiringkan kepalanya bingung. "Emang ke mana?" tanyanya.
"Nah, itu!" Kinan menunjuk Alana dengan cepat. "Itu bukan urusan kamu. Lagi pula, kita menikah bukan karena benar-benar ingin membangun sebuah rumah tangga kan?"
"Wah...." Alana tersenyum kecil di antara kagumnya.
Kini Kinan lah yang dibuat bingung oleh reaksi itu. Sangat tidak ada dalam dugaannya. "Kenapa?"
"Itu kalimat paling panjang yang pernah Pak Kinan omongin ke saya," ucap Alana.
Kinan lantas memalingkan wajahnya. Perempuan di depannya ini seolah tak benar-benar mendengarkannya. Dan itu adalah hal yang paling tidak dia sukai. Alana berhasil membuatnya ilfeel di pertemuan kesekian.
"Udah, itu aja?" tanya Alana begitu mendapati Kinan yang memalingkan wajahnya.
Mendengar itu, Kinan kembali menatap lurus pada Alana. "Jangan terlalu peduli atau ngurusin saya."
"Loh, kenapa?" Alana kembali keheranan. "Bukannya Bu Ella milih saya karena butuh orang yang peduli dan paham kondisi Pak Kinan sekarang?"
Kinan menarik salah satu ujung bibirnya. "Saya bisa urus diri saya sendiri."
"Tapi, ke sini masih minta diantar sama temannya?" timpal Alana tak mau kalah.
Tangan Kinan yang berada di atas pahanya mengepal erat. Untuk pertama kalinya dia mendapati sisi Alana yang menyebalkan ini. Atau mungkin hanya padanya Alana bersikap seperti ini? Berusaha membuat Kinan yang harus tahan dengan sikapnya, berbanding terbalik dengan ucapan Kinan di apartemen malam itu.
Kinan menundukkan kepalanya, entah mengapa kemejanya tiba-tiba terasa sesak. Setelah mengembuskan nafas panjang, dia kembali mendongak pada Alana. "Mungkin ada yang mau kamu minta dari saya?"
Mendengar itu, Alana terdiam sebentar. sebelah kakinya yang tak beralaskan apa pun mengetuk pada permukaan lantai yang semakin hangat di bawah sana. Berpikir matang-matang akan apa yang dia inginkan.
"Nggak muluk-muluk." Alana mendekatkan kepalanya pada Kinan. Lalu, dengan suara pelan dia melanjutkan, "Saya mau tinggal sama Ibu saya walaupun saya sudah menikah nanti."
Kinan menyunggingkan senyumnya, lalu ikut mendekatkan kepalanya. "Terserah saja," balasnya.
Tepat di saat itu juga, sebuah suara terdengar dari ambang pintu. Suara yang tentu mereka kenal.
"Loh, eh! Ngapain dekat-dekat begitu?! Yang sabar, tunggu tinggal beberapa hari lagi!" tegur Laksmi sambil memukul punggung Alana.
Mendapat pukulan itu, Alana sontak menegakkan tubuhnya. Tangannya berusaha meraih titik panas bekas pukulan dahsyat Laksmi yang kini melotot di hadapan mereka. "Aku nggak ngapa-ngapain, Bu!"
Berbeda dengan Alana yang sibuk dengan rasa panas di punggungnya, Kinan tiba-tiba mengulurkan tangannya. Meski mengambang pada permukaan kaus longgar yang Alana kenakan, Alana dapat merasakan usapan kecil itu di titik yang tepat. Membuatnya mematung seketika.
"Kita lagi ngomongin Aldo, Bu. Kan nggak enak kalau orangnya dengar." Kinan berkelit sambil melirik Aldo ang anteng menyantap hidangan yang diberikan Laksmi.
Melihat Kinan yang langsung mengusap punggung putrinya, Laksmi tersenyum kecil. "Ya sudah kalau begitu. Jangan aneh-aneh!" ucapnya sambil masuk kembali ke dalam rumah.
Begitu Laksmi menghilang dari hadapan keduanya, baik Alana maupun Kinan sama-sama menarik diri dengan cepat. Alana bahkan mendelik pada Kinan yang tampak tenang seperti biasanya.
"Bapak ngapain?!" tanyanya seolah menuduh Kinan melakukan yg tidak-tidak.
Kinan tersenyum kecil. "Itu juga hal yang harus kita lakukan setelah menikah." Dia mengecilkan suaranya dan melanjutkan, "Berpura-pura saling peduli."
Mendengar itu, Alana mengernyit geli. "Sewajarnya orang nikah aja kenapa sih, Pak?"
"Ah! Dan satu lagi!" Kinan mengimbuhi dengan jari telunjuk yang melayang di udara. "Jangan panggil saya Bapak."