NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Tuan Ammar

Istri Kontrak Tuan Ammar

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Nikah Kontrak
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: hermawati

Pengusaha sukses, Harta berlimpah, Istri Cantik. Tapi sayang di usianya yang sudah kepala empat, keluarga kecilnya belum dikaruniai keturunan.

Lalu kepada siapa kelak, harta kekayaannya akan diwariskan?

Bukan karena Ammar dan Istrinya tidak sehat, ada penyebab yang membuat mereka belum juga dikaruniai keturunan.

Sementara di sisi lain.

Seorang Janda anak dua, mati-matian bekerja untuk menghidupi anak-anaknya.


Bagaimana kesepakatan bisa terjalin antara si Janda dan Pengusaha kaya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masalah

Nina hanya bisa pasrah mendengarkan Omelan dari seberang sana. Ini memang salahnya, yang sudah tiga bulan absen membayar biaya sekolah si kembar. Padahal ini baru semester awal, kedua anaknya bersekolah di sebuah pondok pesantren.

"Iya, saya janji akan secepatnya melunasi sebelum ujian dilaksanakan." Ujarnya menyahut, sambil menundukkan kepalanya terus menerus. Walau dia tau, si lawan bicara tak bisa melihat gesturnya.

Lagi Omelan terdengar dari seberang sana, seolah tak percaya akan janjinya. Dan sekali lagi, Nina hanya bisa mengucapkan hal sama berulang kali.

Lalu embusan napas lega keluar dari mulutnya begitu panggilan diakhiri oleh lawan bicara. Mata cokelatnya, menatap kusen jendela yang menampilkan pemandangan di luar tempatnya bekerja.

Janji yang beberapa saat lalu dia ucapkan, sebenarnya dia tak yakin bisa memenuhi. Itu terlontar begitu saja dari mulutnya.

Biayanya cukup besar menurutnya, apalagi ini sudah menunggak selama tiga bulan. Upahnya yang hanya pekerja warung nasi sederhana, sebenernya tak cukup untuk membiayai sekolah dua orang anak yang sedang mengenyam pendidikan setara SMP.

Bukan tanpa alasan Nina memasukan dua buah hatinya ke sebuah pondok pesantren. Ada banyak alasan yang bisa dia sebutkan.

"Nina..."

Lamunan Nina buyar oleh panggilan dari Darmi, si pemilik warung tempatnya bekerja. "Iya Bu!" dia menyimpan ponselnya di kantong celananya. Nina harus segera menghampiri.

Meski hari tengah hujan, warung tempatnya bekerja cukup ramai pengunjung. Kebanyakan dari pengendara motor yang berteduh. Sekedar membeli kopi dan gorengan, atau bahkan memesan nasi berserta lauk pauknya. Hujan benar-benar pembawa berkah bagi warung milik Darmi.

Letaknya yang cukup strategis di salah satu sudut ibu kota, merupakan sebuah keuntungan. Tentu saja selain masakan enak dan pelayanan yang baik.

Andai Warung ini buka dua puluh empat jam, dipastikan penghasilan semakin besar. Tapi sang pemilik mengatakan untuk mencari rejeki sekadarnya saja, yang penting cukup. Malam hari adalah waktu beristirahat.

Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Semua pekerjaan bersih-bersih warung sudah selesai. Ada sedikit sisa makanan yang tidak terjual, biasanya Darmi akan membagikannya pada gelandangan ataupun anak jalanan. Intinya warung milik Darmi akan selalu menyajikan masakan baru setiap harinya.

"Nina..."

"Iya Bu!" Nina menoleh, begitu namanya dipanggil. Dia baru saja menutup tirai warung.

"Sini duduk!" Darmi menepuk sisi bangku panjang di sampingnya. Nina menurut.

"Maaf, tadi siang ibu tidak sengaja dengar ucapan kamu di telepon." Ujar Darmi lembut.

Ah ... Nina merasa malu, bos-nya ini memergokinya lagi. "Aku ngomong kekencangan, ya Bu?" Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maaf ..." Nina merasa sungkan.

Wanita berhijab cokelat tua itu tersenyum hangat. "Nggak kok, ibu sengaja menguping." Katanya jujur. "Ibu penasaran aja." Sudah lebih dari satu tahun, Nina menjadi salah satu pekerja di Warungnya. "Kalau Ibu boleh tau, berapa kurangnya?"

Nina menggeleng, dia merasa sungkan untuk menjawab. Perempuan paruh baya di sampingnya ini, kelewat baik padanya. Nina tak ingin merepotkan lagi. "Aku ada tabungan kok, Bu!"

Membiayai sekolah dan segala kebutuhan si kembar, membuat Nina kewalahan. Meskipun upah yang Darmi berikan lumayan lebih tinggi dibandingkan tempatnya bekerja sebelumnya. Tapi tetap saja, itu tidak menutupi.

Seharusnya Nina mencari pekerjaan tambahan di luar jam kerjanya. Tapi rasa sungkan pada Darmi membuatnya urung melakukannya.

Usapan di lengannya, membuat Nina menoleh. "Kalau kurang, kamu bilang ke Ibu. Sebisa mungkin Ibu akan bantu." Darmi tersenyum hangat.

Obrolan mereka terhenti begitu lelaki paruh baya berkemeja batik datang. Itu Sabar, suami Darmi yang baru saja pulang bekerja.

"Mau dibikinin Kopi, pak?" Tawar Darmi.

"Ndak usah Bu! Tadi bapak dibeliin kopi sama pak Dami." Sahut Sabar. "Kalau warung udah beres, pulang Bu!" ajaknya.

Darmi mengangguk. Dia lalu menoleh kearah salah satu pekerjanya. "Ibu pulang dulu, kamu istirahat ya!" dia menepuk pelan lengan Nina. "Pokoknya jangan sungkan sama Ibu." Pesannya seraya berdiri dari duduknya.

"Baik Bu!" Nina tersenyum canggung. Dia sungguh merasa tak enak hati dengan perempuan berhati malaikat itu.

Sepeninggal pasangan suami istri pemilik Warung, Nina segera mengunci pintu dan mematikan lampu di area dalam.

Sebelum tidur, Nina akan mandi dan mencuci baju yang dipakainya hari ini. Hal yang rutin dia lakukan setiap harinya.

Sudah dua tahun ini Nina bekerja di warung, selepas dirinya pergi dari kampung halamannya. Tempat yang meninggalkan begitu banyak luka mendalam.

Tepat jam sebelas malam, Nina berbaring di atas kasur tipis. Tepatnya di lantai dua warung tempatnya bekerja.

Kamar yang ukurannya hanya dua kali dua meter, adalah tempatnya beristirahat malam selama setengah tahun kebelakang. Walau sempit, tapi Nina bersyukur. Setidaknya dia tidak perlu membayar sewa kontrakan atau membayar iuran listrik dan air.

"Gimana ya cara bayar uang sekolahnya Aby sama Anin?" Gumamnya sambil mengembuskan napas kasar. "Nggak enak kalau pinjem Mulu sama Bu Darmi."

Nina sudah terlalu banyak merepotkan perempuan berusia lima puluhan itu. Dia tak mau merepotkan lebih banyak lagi.

Sudah cukup dia mendapatkan upah melebihi pekerja warung nasi pada umumnya, belum lagi tempat tinggal dan makan gratis. Nina cukup tau diri.

Pinjam ke saudara?

Itu tidak mungkin. Nina sudah memutus tali persaudaraan. Dia tak mau lagi dimanfaatkan oleh mereka yang tidak tau diri dan berterima kasih.

Di ibu kota yang sebesar ini. Nina hanya memiliki Bu Darmi, orang yang menolongnya di saat dirinya pertama kali menjejakkan kaki di sini. Selain itu, hanya sesama pelayan warung, pelanggan, tetangga warung serta pedagang di pasar dan sekitar saja. Itu pun hanya sekedar basa-basi atau beramah-tamah.

Benda berharga?

Tentu saja, Nina juga tak punya. Saat dirinya pergi dari kampung halaman, dia hanya membawa serta dua anaknya, surat penting tentang kependudukan dan beberapa potong pakaian. Soal Uang saja, Nina hanya memiliki beberapa lembar yang dia bawa serta. Itu adalah uang pemberian sahabat karibnya.

"Kalau pinjem ke Nanik, dia juga lagi butuh banyak biaya." Monolognya. "Anak bungsunya mau disunat."

Nanik hanya satu-satunya orang dari kampung halamannya yang masih berkomunikasi dengan Nina. Sekedar saling curhat tentang kehidupan sehari-hari.

"Ke siapa ya?" Lagi Nina menatap langit-langit kamarnya.

Tadi pihak Asrama memberitahukan, jika dalam tempo satu Minggu Nina tak bisa melunasi. Maka Aby dan Anin akan segera dipulangkan.

Andai tetap dipulangkan. Pertanyaannya, Dimana kedua anaknya akan tidur? Kamarnya terlalu sempit untuk mereka bertiga.

Sewa rumah?

Di sekitar warung, sewa rumah begitu tinggi dan tidak bisa dicapainya dengan gaji yang diterimanya. Belum lagi sekolah di kota itu memiliki biaya cukup mahal, serta kebutuhan makan sehari-hari.

Itu salah satu alasan Nina nekad memasukan dua anaknya ke dalam lingkungan Asrama. Setidaknya Aby dan Anin tak perlu bingung soal tempat berteduh.

Andai bisa ...

 .

1
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
siapa ya? apakah ammar atau ibu tuti? lanjut kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
up lg kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
jangan jatuh cinta ya nina, karena jatuh cinta sendirian itu sakit...
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
mudah mudahan nina hamil
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
cerita nya bagus, update nya jangan lama2 kak🙏
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀: aamiin,, cepat sembuh kak🤲🏼
total 2 replies
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
nina apa sofia kak
Mareeta: maaf banget ya, aku typo Mulu.
agak nggak konsentrasi. ngerjainnya kadang malam dan nggak sempat edit.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!