Devan, ketua geng motor yang disegani, tak pernah menyangka hatinya akan terpikat pada Lia, gadis berkacamata yang selalu membawa setumpuk buku. Lia, dengan dunia kecilnya yang penuh imajinasi, awalnya takut pada sosok Devan yang misterius. Namun, takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kisah tak terduga, membuktikan bahwa cinta bisa tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Luka yang Menyatukan
Malam yang penuh dengan aroma aspal terbakar dan mesiu itu akhirnya berganti dengan kesunyian yang mencekam di dalam mobil Baron. Devan bersandar di kursi belakang dengan kepala tertelungkup di bahu Lia. Napasnya pendek-pendek, dan setiap kali mobil melewati guncangan, Devan meringis menahan sakit dari luka di punggung dan lengannya. Lia tidak berhenti menggenggam tangan Devan yang dingin, sesekali mengusap tetesan darah yang mulai mengering di pelipis kekasihnya itu.
"Kita ke rumah sakit, Bos?" tanya Baron dari kursi kemudi, matanya sesekali melirik spion dengan cemas.
"Jangan," gumam Devan parau. "Ke rumah ibuku saja. Terlalu banyak pertanyaan jika aku ke rumah sakit dengan luka seperti ini. Panggil dokter pribadi geng kita ke sana."
Lia ingin memprotes, namun ia melihat ketegasan di mata Devan yang meredup. Ia tahu duni Devan punya aturan sendiri. Sesampainya di rumah kecil yang tersembunyi itu, Baron dan beberapa anggota lainnya membantu memapah Devan masuk ke dalam kamar. Lia segera mengambil alih, ia meminta air hangat, kain bersih, dan kotak pertolongan pertama sementara menunggu dokter datang.
Begitu Devan dibaringkan di tempat tidurnya, ia tampak begitu rapuh. Jaket kulit kebanggaannya telah dilepas, memperlihatkan kaos hitam yang robek dan bersimbah darah. Lia dengan tangan gemetar mulai menggunting kaos itu untuk melihat luka di lengan Devan.
"Lia... kamu tidak perlu melakukan ini. Kamu pasti syok," bisik Devan, mencoba meraih tangan Lia.
Lia menggeleng, air matanya jatuh tepat di atas luka Devan. "Diamlah, Devan. Kamu terluka karena aku. Biarkan aku yang merawatmu sekarang."
Dengan telaten, Lia membersihkan luka sayatan di lengan Devan. Setiap kali Devan menggerakkan otot rahangnya menahan perih, Lia akan meniup luka itu dengan lembut, seolah napasnya bisa menjadi penawar rasa sakit.
Tak lama kemudian, Dokter Han—seorang dokter paruh baya yang sudah lama menjadi orang kepercayaan Black Roses—datang. Ia memberikan beberapa jahitan di lengan Devan dan membalut luka memar di punggungnya.
"Dia butuh istirahat total selama beberapa hari.
Jangan biarkan dia banyak bergerak atau lukanya akan terbuka kembali," pesan Dokter Han sebelum pamit.
Kini, hanya ada mereka berdua di dalam kamar yang remang-remang itu. Suara rintik hujan mulai turun membasahi atap seng rumah, menciptakan suasana yang intim sekaligus melankolis. Lia duduk di kursi kayu di samping tempat tidur, tidak sedetik pun ia melepaskan pandangannya dari Devan.
"Kemarilah," panggil Devan pelan, menepuk sisi tempat tidur yang kosong di sampingnya.
Lia ragu sejenak, namun akhirnya ia berbaring di samping Devan dengan sangat hati-hati, takut menyentuh bagian tubuhnya yang diperban. Devan menggunakan tangan yang tidak terluka untuk merangkul bahu Lia, menariknya mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci.
"Clara benar tentang satu hal," Devan memulai pembicaraan dengan suara yang sangat rendah.
"Duniaku berbahaya. Melihatmu menangis dan ditarik paksa di atas motor tadi... itu adalah ketakutan terbesarku, Lia. Aku merasa gagal menjagamu."
Lia menatap mata hitam Devan yang kini dipenuhi kejujuran. "Kamu tidak gagal, Devan. Kamu datang untukku. Kamu mempertaruhkan nyawamu untuk gadis culun yang baru beberapa bulan kamu kenal. Clara tidak benar tentang apa pun. Dia hanya cemburu karena dia tahu kamu mencintaiku dengan cara yang tidak pernah dia rasakan."
Devan tersenyum tipis, tangannya mengusap pipi Lia yang masih sedikit kotor karena debu gudang. "Aku memberikan liontin mawar itu padamu bukan karena dia. Aku memberikannya karena mawar butuh duri untuk dilindungi, dan aku berjanji akan menjadi duri itu untukmu. Tapi ternyata, malam ini kamu membuktikan bahwa mawar pun bisa melawan."
Lia tersenyum kecil mengingat tendangannya pada Clara tadi. "Aku harus bisa menjaga diriku sendiri kalau aku ingin bersamamu, kan?"
"Aku tidak ingin kamu berubah menjadi orang lain, Lia. Aku mencintaimu karena kacamata tebalmu, karena buku-bukumu, dan karena keberanian tersembunyimu. Tapi mulai besok, aku akan memerintahkan Baron untuk benar-benar melatihmu bela diri secara serius. Bukan untuk menjadikanku lemah, tapi agar hatiku sedikit lebih tenang saat aku tidak berada di sampingmu."
Malam itu, di dalam rumah yang jauh dari bisingnya knalpot motor dan hiruk pikuk geng, Lia merawat Devan dengan segenap cintanya. Ia membacakan salah satu novel fantasinya dengan suara lembut sampai Devan tertidur pulas karena pengaruh obat pereda nyeri.
Lia menyadari bahwa luka di tubuh Devan mungkin akan sembuh dalam hitungan minggu, namun ikatan yang terbentuk di antara mereka malam ini akan bertahan selamanya. Ia telah melihat sisi paling gelap dari dunia Devan, dan alih-alih berlari menjauh, ia justru ingin menggenggam tangan pria itu lebih erat.
Namun, di balik ketenangan itu, Lia tahu bahwa Marco dan sisa-sisa The Vipers tidak akan tinggal diam. Dan Clara... wanita itu seperti ular yang sedang berganti kulit, bersiap untuk serangan yang lebih licik. Tapi untuk malam ini, Lia hanya ingin menikmati detak jantung Devan yang tenang di bawah telapak tangannya.
"Aku mencintaimu, Devan. Lebih dari sekadar cerita dalam buku," bisik Lia sebelum ikut terlelap di pelukan sang ketua geng motor.