Di dunia yang tunduk pada Mandat Langit, kultivasi bukan sekadar kekuatan, melainkan belenggu. Setiap embusan qi dikenakan pajak oleh langit, dan mereka yang membangkang akan dikutuk dalam kehancuran. Di tengah tatanan tiran ini, hiduplah Li Shen, seorang yatim piatu fana dengan meridian cacat yang dianggap sampah oleh dunia.
Namun, penolakannya terhadap anugerah langit justru menarik perhatian Dewa Xuan Taiyi.
Selama seratus tahun, Li Shen ditempa dalam isolasi dimensi Taixu Shengjing, mengasah Kehendak Murni yang tidak mampu diintervensi oleh dewa mana pun. Ia bangkit kembali bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai Penolak Takdir.
Perjalanan panjangnya di mulai dari Perkumpulan Tanpa Mandat, sebuah gerakan revolusi rakyat kecil Lianzhou yang muak dengan penindasan langit. Bersama Yan Shuhua (Hua'er), gadis pembunuh bayaran yang setia, dan Ru Jiaying, penjinak binatang roh misterius, Li Shen memulai perang mustahil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : Air yang Terusik
Li Shen duduk di ruang belakang rumah bordil, di balik sekat kayu yang memisahkannya dari keramaian utama. Ia baru saja menurunkan bundel panjang dari punggungnya dan menyandarkannya ke dinding. Kain pembungkusnya masih rapi, menyembunyikan bentuk pedang dan tombak yang kini menjadi bagian dari langkah hidupnya.
Madam Luo mondar-mandir di hadapannya sambil merapikan lengan baju. Gerakannya cepat, penuh energi yang tak pernah benar-benar habis. Setiap beberapa langkah, ia berhenti untuk menuangkan teh, lalu kembali berjalan sambil menggerutu, bukan kepada siapa pun secara khusus, tapi pada dunia secara keseluruhan.
Li Shen memperhatikan tanpa banyak bereaksi. Pandangannya lebih sering melayang ke luar jendela, ke arah jalan Hongluo yang masih sibuk. Ia bisa merasakan tekanan samar di udara. Kota ini hidup, tapi juga gelisah.
Madam Luo akhirnya berhenti di depannya. Ia menatap Li Shen dari ujung kepala sampai kaki, matanya tajam seperti sedang menghitung sesuatu yang tak kasatmata.
“Kau pulang membawa lebih banyak besi,” ujarnya. “Biasanya itu pertanda buruk.”
Li Shen tersenyum tipis. “Atau pertanda aku masih hidup.”
Madam Luo mendengus. “Hongluo tidak berubah. Tapi orang-orang yang mengawasinya bertambah.”
Ia memberi isyarat singkat. Mei Lan, yang sejak tadi pura-pura sibuk, menutup tirai depan lebih awal. Suara luar teredam. Senja menyusup lewat jendela kisi, memotong ruangan menjadi garis-garis cahaya.
“Perkumpulan cabang kecil dari Selatan mulai bergerak lagi,” lanjut Madam Luo tanpa basa-basi. “Yang sempat mati suri, sekarang hidup. Tapi Tianyuan menekan lebih keras dari sebelumnya.”
Li Shen menoleh sedikit. “Seberapa keras?”
“Pengawas mati misterius,” jawab Madam Luo. “Satu di utara, satu di jalur dagang timur. Tidak ada saksi. Tidak ada jenazah utuh.” Ia menyesap teh. “Dan rumor mulai beredar.”
“Penolak Langit,” gumam Li Shen.
“Hm.” Madam Luo mengangguk. “Nama itu menyebar cepat di kalangan rakyat kecil. Tianyuan tidak suka cerita yang tidak mereka tulis sendiri.”
“Tianyuan?” tanya Li Shen.
“Siapa lagi,” jawab Madam Luo. “Mereka tidak turun tangan langsung. Mereka biarkan sekte kecil dan kelompok bayaran bergerak lebih dulu. Yang selamat sedikit. Yang hilang jauh lebih banyak.”
Li Shen mencondongkan badan, menahan tangan di meja. “Mereka menguji air.”
“Dan kau kembali dari air yang sama,” kata Madam Luo. “Apa yang kau lihat?”
Li Shen terdiam sejenak. Lalu ia bicara runtut, tanpa dramatisasi. Tentang Hutan Batu Hitam. Tentang qi yang tercemar. Tentang Mo Wuxie yang haus darah, tombak yang meminum qi tanpa pilih-pilih, dan pertempuran yang tak memberi ruang ragu sampai kehancuran desa-desa di pelosok. Ia tidak menyebutkan kemenangan. Hanya urutan kejadian, seolah melaporkan sesuatu yang memang harus terjadi. Keculai tentang pertemuannya dengan Luyin.
Ia juga menjelaskan senjata itu. Bagaimana tombak yang sama bereaksi berbeda di tangannya. Bagaimana qi musuh tidak menjerat jiwanya, tapi terurai, ditahan oleh kehendak, bukan nafsu.
Ruangan seakan berfikir saat dirinya selesai. Madam Luo tidak langsung bicara. Ia menuangkan teh lagi, matanya bergerak cepat, menghubungkan potongan-potongan cerita yang sejak lama berserakan. “Jadi… Mo Wuxie mati di tanganmu. Tombaknya memilihmu. Kudanya tunduk padamu.” Ia menghela napas pendek. “Dan Tianyuan kehilangan satu alat penting, tanpa sempat berteriak?”
Li Shen tidak menyangkal.
Madam Luo tertawa kecil bukan karena geli, lebih mirip kelelahan yang bercampur kagum. “Aku sudah menduga kau akan membawa masalah besar. Tapi bukan sebesar ini. Kehadiran Mo Wuxie di sana memang di luar perhitungan Perkumpulan, tapi… ,” Ia menatap Li Shen lebih lama dari sebelumnya. “Yang membuatku bingung bukan kau bisa menang,” lanjutnya. “Tapi caranya. Kau tidak punya qi seperti kultivator. Seolah ada jalan ketiga.”
Li Shen tidak menjawab sampai Madam Luo menggeleng pelan. “Entah dari mana asalmu, Li Shen, tapi jelas kau bukan manusia biasa yang terseret arus. Kau seperti… koreksi yang berjalan.”
Di dekat jendela, Hua’er berdiri dengan tangan tersembunyi di balik lengan baju. Ia tidak ikut duduk. Tidak ikut bicara. Tatapannya tenang, tapi tidak pernah benar-benar lepas dari Li Shen. “Auramu berbeda.”
Li Shen menoleh. “Keluhan?”
“Pengamatan,” jawab Hua’er. Ia memalingkan wajah. “Lebih berat.”
Madam Luo tersenyum tipis. “Dia benar. Kau membawa sesuatu pulang. Bukan cuma senjata.”
Li Shen mengangkat bahu. “Aku tidak merasa berubah.”
“Itu karena perubahan yang berbahaya jarang terasa dari dalam,” balas Madam Luo.
Lalu, dengan suara cukup rendah hingga Hua’er tidak menoleh, ia menambahkan, “Dan Hua’er… menjadi aneh sejak kau pergi.”
Li Shen melirik Madam Luo.
“Qi-nya tidak stabil,” lanjutnya. “Bukan karena lemah. Tapi seperti menunggu sesuatu bergerak lebih dulu.” Madam Luo menatap Li Shen tajam. “Atau seseorang.”
Li Shen tidak menjawab. Tapi pandangannya beralih ke arah Hua’er, yang berdiri kaku, seolah tidak mendengar atau pura-pura tidak mendengar.
Madam Luo menepuk meja sekali. “Rencanaku sederhana. Kita sabotase gudang qi Paviliun Hongluo. Dalam kekacauan, kita rekrut rakyat kecil. Biarkan rumor Penolak Langit tumbuh selagi Tianyuan masih disibukkan dengan kematian Mo Wuxie.”
Li Shen mengangguk.
“Baiklah,” ujar Madam. “Biarkan seperti ini dulu untuk malam ini. Aku perlu membahas detailnya dengan kepala cabang Perkumpulan.”
Percakapan berhenti di sana hingga malam turun menjemput.
Lorong Selendang Merah sepi malam ini. Lampu minyak menyala redup, memantulkan bayangan panjang di lantai kayu. Dari salah satu kamar terdengar dengkuran tak tahu malu dari Luo Pang, tidur menyamping dengan pakaian masih lengkap, botol kosong terguling di dekat bantal. Rasanya puasa arak murahan selama Tuannya pergi terasa seperti sedang berpuasa satu bulan penuh.
Di ujung lorong, Hua’er berdiri. Madam Luo bilang qi-nya stabil. Tapi tubuhnya sendiri tidak setuju.
Sejak Li Shen menghilang, aliran qi-nya terasa berat. Tidak rusak, hanya lambat. Dan sejak ia kembali… bukan kelegaan yang datang, melainkan gelisah.
Ia berhenti di depan satu pintu. Mengetuk sekali.
Pintu terbuka.
Li Shen berdiri di ambang. “Ada apa?”
“Aku perlu bantuan,” kata Hua’er. “Ada misi.”
“Kapan?”
“Sekarang.”
Mereka keluar tanpa suara. Di dalam bangunan tua yang masih berada di area Hongluo, Li Shen berhenti. “Kenapa mengajakku ke sini?”
Hua’er berbalik. Belati muncul di tangannya.
“Lawan aku.”