Hai teman-teman, aku masih berjuang konsisten tapi aku nggak tahu kalau akhirnya di tengah jalan aku menyerah dan tidak melanjutkan. Aku hanya rindu menulis. Tapi aku terjebak pada rutinitas harian yang tiada henti. Lanjutan dari Penantian panjang 1 dan 2. Padahal Penantian panjang 2 saja belum saya tamatkan. Tapi semua nama tokoh bermula dari sana.
"Apa kamu bilang?" Suara serak zahrin dengan air mata kemarahan namun dia tahan. Tenggorokannya tercekat sakit, ditambah harus mendengar permintaan suaminya yang dirasa tak mampu dia tunaikan.
Kembali dengan seorang pria yang pernah menyakitinya sangat dalam. Rasanya Zahrin tak terima.
Regi tak beralih tatap. Menatap Zahrin dengan mata sendu yang membuat Zahrin melengos sakit bertambah dengan dadanya yang nyeri.
Apa yang terjadi teman-teman? Sampai-sampai Zahrin begitu?
Ingatkah kalian, siapa pria yang menyakiti Zahrin dulu?
Aku tidak janji menamatkan ceritanya. Tapi aku dapat fell nya. Semoga bisa konsisten menggarapnya🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naisa strong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunci pintu rahasia Alma
Dokter sangat terkejut. "Tes DNA?" Tanya dokter dengan mengernyitkan keningnya.
Armand mengangguk.
"Iya, setelah baby dalam kandungan istri anda lahir, anda bisa tes DNA, pak." Jawab dokter.
Armand sekali lagi mengangguk paham, lalu berpamitan kepada dokter dan tak lupa mengucapkan terimakasih. Dimana kemudian Armand menghampiri Alma yang tengah mengantri resep di apotek rumah sakit. Seolah tidak ada hal dia sembunyikan. Tampaknya Armand berusaha menyembunyikan keraguan nya terkait kehamilan Alma.
Di Toko Olivia.
Zahrin yang tengah sibuk memeriksa bagian produksi Toko Olivia mendengar panggilan telepon dari Akhyar. Nina bergegas menguping. Akhyar memberitahukan kepada Zahrin kalau Arsyad dan Arsyla sudah dia jemput dan sudah diantar nya pulang ke rumah. Akhyar meminta Zahrin untuk tidak khawatirkan Arsyad dan Arsyla.
Zahrin seketika melihat jam tangan yang dikenakan nya. "Astaghfirullah, mas, maaf aku lupa kalau ini waktunya anak-anak pulang." Zahrin yang kemudian meminta maaf ke Akhyar. "Sebelumnya terimakasih, mas, kamu sudah perhatian sama Arsyad dan Arsyla."
"Iya, Rin, sama-sama." Akhyar juga bertanya terkait mobil Zahrin apakah sudah di bawa ke bengkel atau belum. Jika belum Akhyar akan menghubungi teman nya untuk mengambil mobil Zahrin dan memeriksa nya jika ada terjadi kerusakan.
Zahrin yang tadinya keras kepala, ingin membawa ke bengkel sendiri, akhirnya setuju saja jika Akhyar menghubungi teman nya dan untuk memperbaiki mobilnya. Sampai dimana pembicaraan telepon mereka selesai, Zahrin menengok ke arah belakang dimana ternyata ada Nina dan Nina yang pura-pura merapikan barang. "Kamu, kenapa ada disini?" Tanya Zahrin menghampiri Nina.
"Em, aku sedang memeriksa tanggal produksi cake-cake ini, bu." Nina yang gelagapan dengan kedua tangan nya yang berusaha memeriksa satu per satu cake-cake di depan nya.
Zahrin yang kemudian berlalu meninggalkan Nina. Dimana setelahnya Nina melamun dan sepertinya tidak ada harapan terkait hubungan nya dengan Akhyar. "Apa mereka akan kembali lagi?" Lirih Nina yang menerka-nerka hubungan Zahrin dan Akhyar. "Tidak, tidak, Nin. Kan mas Akhyar pernah bilang jika bu Zahrin sampai sekarang belum memaafkan dia. Tapi mengapa setelah pak Regi meninggal, hubungan mereka kok malah kelihatan membaik dari yang sebelum nya?" Batin Nina mulai penasaran. Ingin lebih tahu sejauh apa kedekatan keduanya.
Di kediaman Alma.
Malam harinya Alma mencoba menghubungi papa nya, kalau dia ingin mengadakan acara tujuh bulanan di rumah. Alma mau papa dan mama nya datang ke rumah. Tidak hanya ibu Olivia dan pak Hanung, Alma malam itu juga menghubungi Zahrin, Akhyar dan keluarga besar lain nya untuk menghadiri acara tujuh bulanan yang sengaja dia persiapkan.
Ketika Akhyar dihubungi Alma, jujur Akhyar memanglah sibuk selama ini sehingga kurang begitu peduli terhadap permasalahan Alma yang dulu pernah diceritakan padanya. "Syukurlah, rumah tangga kamu baik-baik saja, Al." Ucap Akhyar setelah diminta Alma datang ke rumah di acara tujuh bulanan nya besok.
Alma tersenyum getir. "Entahlah mas, aku sendiri juga tidak tahu sampai kapan aku kuat menyimpan bara api dalam rumah tangga ku ini.
"Maksudnya?" Tanya Akhyar.
"Aku belum bicarakan dengan Armand." Jawab Alma.
"Jadi?" Lanjut Akhyar dengan rasa penasarannya.
"Aku masih menyimpan rapat pengkhianatan Armand." Alma yang celingukan, memastikan jika Armand tidak mendengar nya.
Akhyar terdiam sejenak. "Baguslah, lupakan, Al! Karena bagaimana pun kamu sekarang mengandung anak Armand. Sebentar lagi kamu juga akan melahirkan. Jika dengan memaafkan Armand bisa menyelamatkan rumah tangga mu. Maafkan lah dia, Al." Nasehat Akhyar kepada Alma malam itu.
Berbeda dengan Alma yang jujur hatinya masih sakit, belum bisa ikhlas begitu saja dengan pengkhianatan suaminya. Namun karena Alma sendiri juga bingung harus memulai nya dari mana membahas perselingkuhan Armand. Sampai saat ini, Alma putuskan masih diam. "Doakan saja, mas." Jawab Alma tampak pasrah malam itu. Setelahnya Alma mengakhiri panggilan telepon nya kepada Akhyar. Akhyar pun berjanji jika tidak ada halangan dia akan datang di acara nya tujuh bulanan Alma.
Alma kembali ke bedroom nya mendapati Armand pulas tidur, Alma mengambil kunci untuk ruangan rahasia nya. Dengan perlahan-lahan supaya tidak membuat Armand terbangun, Alma mencoba membuka pintu ruangan rahasia nya pelan-pelan. Alma menutupnya kembali dengan hati-hati. Dimana ingatan Alma tertuju pada sosok Regi. Buliran-buliran jernih mulai berjatuhan dari kelopak matanya. Alma merindukan Regi yang hampir satu tahun meninggalkan nya. Penyesalan nya terkait semua hal bodoh yang pernah dilakukannya sampai membuat Regi memberikan sebagian hatinya untuknya demi menyelamatkan hidupnya. "Kalau waktu itu kakak tidak mendonorkan sebagian hati kakak buat aku, mungkin aku yang sudah pergi. Lebih baik aku yang pergi, kak. Karena aku jujur sekarang hancur karena Armand mengkhianati ku, kak." Alma meratapi kepergian Regi sembari menatap foto Regi di hadapan nya. "Sebentar lagi aku mau melahirkan, mengapa kakak pergi terlalu cepat? Sampai-sampai kakak tidak bisa melihat keponakan kakak." Alma semakin sedih malam itu. "Aku juga tidak tahu, sampai kapan aku bisa menyembunyikan pengkhianatan Armand. Aku hanya pura-pura tersenyum di hadapan Armand, kak." Cerita Alma yang mencoba mengungkapkan semua isi hati nya kepada foto Regi di hadapan nya.
Tidak lama Armand yang terbangun malam itu, melihat disamping nya ternyata Alma tidak ada. Armand berusaha memanggil-manggil istrinya, namun tak ada jawaban dari Alma. Kepanikan Armand yang kemudian langsung beranjak dari tempat tidurnya untuk mencari Alma. Mencari ke bath room nya namun Alma ternyata tidak ada di sana. Sesaat kemudian Alma membuka pintu bedroom nya bersamaan dengan Armand yang membuka nya. Armand tampak lega mendapati istrinya berdiri di hadapan nya. "Jam berapa ini, sayang? Kok kamu belum tidur?" Armand yang menengok kearah jam dinding.
Alma yang berusaha menutupi kesedihan nya, berkilah mau ke bathroom nya sebentar lalu akan kembali tidur.
Armand tak punya curiga sedikitpun. Armand masih duduk diatas tempat tidur untuk menunggu Alma kembali dari bathroom. "Kamu habis dari mana sih, sayang?" Tanya Armand yang setelah itu menguap karena mengantuk.
"Em, aku tadi haus jadi aku ambil minum." Jawab Alma gelagapan yang setelahnya mengajak kembali Armand untuk tidur. Namun kedua mata Armand kemudian menoleh ke arah kulkas kecil di bedroom nya, mengarah ke meja nakas samping kanan dan kirinya, dimana semua masih utuh air putih Alma dalam gelas nya. Namun Armand yang tidak mau memusingkan hal itu memilih untuk tidur kembali.
Acara tujuh bulanan Alma.
Ibu Olivia sudah sibuk pagi-pagi mempersiapkan segala sesuatunya di acara tujuh bulanan Alma. Ya, ibu Olivia lah yang meminta kepada Alma terkait pengadaan acara tujuh bulanan ini. Lalu ibu Olivia menyuruh Alma untuk menentukan hari dan tanggalnya supaya acara tujuh bulanan ini berlangsung.
Dari acara siraman, ganti busana dan langkah-langkah berikutnya dari adat Jawa ini seperti sudah menjadi tradisi ketika usia kehamilan sudah menginjak tujuh bulan. Meminta supaya doa-doa dipanjatkan untuk keselamatan ibu dan bayi saat melahirkan nanti. Baik Alma dan Armand tampak bahagia di acara tersebut.
Tidak sengaja ibu Olivia menemukan kunci yang tergeletak di meja wastafel toilet rumah. "Seperti kunci pintu bedroom nya Alma?" Ibu Olivia yang mengambilnya. Namun karena ibu Olivia di panggil pak Hanung untuk segera keluar dan kebetulan bertemu dengan Zahrin. "Rin, tolong kamu gantungkan ini, sepertinya kunci bedroom Alma tertinggal di toilet." Perintah ibu Olivia.
Zahrin mengangguk. Zahrin menuju lantai dua dan berniat menggantungkan saj kunci tersebut. Bersamaan dengan Alma yang teringat jika kunci ruangan rahasia nya terjatuh atau lupa menaruhnya dimana. Alma berusaha tidak panik dihadapan umum. Memasang wajah senyum, tapi tangan kanan nya mencoba meraba-raba disamping kanan dan kiri tempat duduk nya mana tahu jatuh disekitar nya. Karena tidak menemukan Alma pamit ke belakang sebentar. Menelusuri pelan-pelan supaya tidak tampak mencurigakan.
Sedangkan Zahrin sudah berada di hadapan pintu ruangan rahasia Alma. Zahrin yang tidak tahu menahu hal itu, menganggap ruangan itu adalah bedroom nya Alma. Zahrin hendak menggantungkan kunci pintu. Alma berteriak. "Jangan!" Alma gugup lalu menyusul Zahrin naik kelantai dua.
Zahrin menoleh dan kunci pintu masih ditangan Zahrin.
Alma dengan cepat mengambil kunci pintu ruangan rahasia nya dari tangan Zahrin.
Tidak lama Armand menyusul Alma, akan tetapi belum sampai naik ke lantai dua. Armand mendengarkan percakapan Zahrin dan istrinya.
"Mbak ngapain di sini?" Alma terlihat panik.
"Disuruh mama, ini kunci pintu bedroom kamu, kan? Tadi ketinggalan di toilet dan ditemukan mama. Aku disuruh mama buat gantung kunci ini ke pintu." Jawab Zahrin yang heran mengapa Alma seperti ketakutan.
"Em, maaf ya mbak. Tapi ini bukan kunci bedroom aku."
"Terus kunci apa itu?" Celetuk Zahrin.
Bersambung