Sarah Vleryn menghindari makan malam perjodohan karena ia tidak tahu dengan siapa akan dijodohkan.
Tapi ternyata, pria yang di jodohkan dengan nya mengejarnya di luar resto tempat keluarga mereka bertemu.
"Sarah Vleryn! Berhenti disana." Rovano, pria tinggi dan tampan itu mendekat.
"Kau salah orang," ucap Sarah cepat.
"Aku tahu kau gadis yang harusnya di jodohkan denganku, tapi kau beralasan sedang sakit!" Ucap Rovano.
Tatapan tajam pria itu membuat Sarah terdiam, ia menelan ludahnya dengan berat. Ia tidak bisa menyangkal karena ucapan Rovano benar.
"Menikahlah denganku selama tiga tahun, lalu setelah itu kita bisa bercerai," lanjut Rovano.
Sarah tergelak, ia tidak mengira pria ini akan menawarkan pernikahan kontrak padanya.
"Apa kau bilang?"
"Aku, Rovano Jovian menawarkan pernikahan kontrak pada mu Sarah Vleryn." Ulang Rovano.
"Tunggu, Jovian? Kau... adik Ryan Jovian, Mantan kekasih ku?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AmJiyeon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menahan Rindu
Menahan ku agar tidak meminta untuk bertemu? Yang benar saja, aku yakin dia yang akan merindukan ku. Batin Sarah.
Sarah tidak mengerti apa yang sedang terpikir dalam benak Rovano, tapi pria itu pasti sedang merencanakan sesuatu di belakangnya.
Entah ada yang tengah ia persiapkan atau ada sesuatu yang sedang ia ingin hadapi sendiri.
“Kalau begitu, kau harus menahan rindu,” bisik Sarah pada Rovano.
Pria itu segera menoleh pada Sarah yang sedang tersenyum licik padanya. “Aku yakin aku bisa melakukan nya, tapi bagaimana denganmu?”
Rovano menelan ludahnya perlahan, lalu menatap Sarah dengan cukup yakin, “aku juga bisa.”
"Aku yakin kau pasti akan memintaku bertemu lebih dulu," bisik Sarah lagi.
...****************...
Jane harus di rawat intensif karena beberapa luka yang ia miliki terkena infeksi ringan, jika di biarkan dan digunakan beraktifitas seperti biasa, akan membuatnya lama sembuh.
Ia masih di rumah sakit yang sama, dengan ruang khusus yang sengaja di rahasiakan oleh Ryan, hanya saja Ryan masih bingung bagaimana ia menghadapi sang ayah nantinya.
"Ryan, kau harus berhenti melakukan hal itu, bagaimanapun dalam beberapa hari lagi adikmu akan menikah," ucap Jane pada Ryan.
"Tapi aku masih belum merelakannya bu," ucap Ryan.
Jane tidak tau bagaimana masa lalu Ryan dengan Sarah, tapi yang jelas Jane tidak akan membiarkan Ryan merusak cinta murni yang sedang di jalin oleh Rovano dan Sarah.
Seorang ibu bisa menilai bagaimana kebahagiaan anaknya, yang di lihatnya semalam sudah jelas, kalau dua orang itu saling memberikan ketulusan satu sama lain.
"Semuanya sudah terlambat, Ryan. Mungkin di masa lalu, kau dan Sarah pernah bersama namun itu tidak berjalan dengan baik, tapi masa kini, kau harus membiarkan Sarah memilih jalannya sendiri," ucap Jane.
Ia memeluk puteranya yang mulai menangis, bagaimana pun setiap anak lelaki akan tetap menjadi anak-anak di mata ibunya mau sedewasa apapun mereka.
"Cinta itu terkadang seperti labirin, memiliki dinding penghalang dan juga jalan bercabang, jalan mana yang kau pilih maka itulah akhirnya, kita tidak bisa memaksakan jalan yang di pilih oleh orang lain. Di situlah kita harus belajar yang namanya mengikhlaskan Ryan," jelas sang ibu.
"Bukankah Ibu juga memilih jalan yang salah karena tetap bertahan dengan ayah? Bagaimana bisa ibu diam saja dengan luka-luka ini?" tanya Ryan.
Jane melepaskan pelukannya, mengusap air mata Ryan dan tersenyum dengan lemah, "Ibu selalu berharap ayahmu bisa berubah, inilah jalan yang Ibu pilih.
Meski salah namun Ibu tetap mencintainya, akhir-akhir ini Ayahmu bisa sedikit berubah, Ibu hanya tinggal bersabar sebentar lagi."
"Tapi bu—"
"Ryan, Rovano sudah berhasil memilih jalannya sendiri dan sebentar lagi ia terbebas dari genggaman Ayahmu, jika kau menyayangi adikmu, maka kau juga harus melakukannya, dia sudah terlalu lama menderita. Kau juga harus bisa terbebas dari genggaman ayahmu dengan jalanmu sendiri sebelum terlambat."
...****************...
Rovano terbangun sendirian di kamarnya, semula berbaring kemudian melirik ke sampingnya, kosong. Sebelahnya kosong, hanya tersisa aroma yang memabukkan, menyembuhkan sedikit rasa rindunya.
Ah, Baru sehari di tinggal Sarah... Aku sudah kacau begini. Empat hari lagi menuju pernikahan, kenapa waktu terasa lamban?
Rovano bergelut dengan perasaan galaunya sendiri, dia memang sedang menggebu-gebu pada Sarah dan hatinya tidak pernah menyangkalnya sejak awal.
Apalagi setelah mengenal Sarah lebih dalam, ia menyadari kalau Sarah adalah orang yang ia butuh kan selama ini.
Taruhan Sarah benar, Rovano orang pertama yang mengirimkan pesan kalau ia rindu.
Awalnya akting Sarah cukup membuatnya tergores, namun semakin ia rasakan, ternyata sejak awal gadis itu sama sekali tidak berakting, tapi, Sarah hanya berperilaku sesuai dengan kata hatinya. Semuanya terasa tulus tanpa kepalsuan sedikit pun.
Setidaknya, itulah yang Rovano rasakan karena seumur hidupnya ia sudah biasa dengan kepalsuan, maka ia bisa membedakan dengan mudah.
Namun, hal yang terungkap tentang ibu nya kemarin, di luar perkiraan nya.
Rovano merasa lega, ia mendapat kabar kalau Jane sudah kembali dari rumah sakit, namun sang ibu tidak tinggal di Mansion Jovian. Ryan memberikannya sebuah apartemen, untuk menenangkan diri.
Lalu bagaimana dengan acara pernikahan nya nanti jika ayah dan ibunya terpisah?
Ryan datang hari ini ke rumahnya, pria itu terlihat kalut dan lelah. Sang kakak tiba-tiba sudah berada di ruang tamu rumahnya begitu Rovano turun dari kamar dan akan membuat sarapan.
"Aku tidak peduli, pernikahan ku akan tetap berjalan meski salah satu dari mereka tidak hadir," ucap Rovano pada Ryan.
"Mereka pasti datang, hanya saja, sampai acara pernikahan mu, ibu memberikan ayah ruang untuk memikirkan kesalahannya," ucap Ryan, "aku sudah bicara padanya, kalau aku mengetahui segalanya."
Rovano mendecih pelan, "lalu apa respon nya?" Tanyanya.
Ryan menghela napasnya, wajahnya sedikit terlihat putus asa, kerutannya seakan bertambah saja.
"Dia bungkam, bahkan tidak berani menunjukkan wajahnya padaku, matanya pun tidak berani menatapku," jawab Ryan.
Rasa malu dan penyesalan menjadi satu, ayah pasti merasa buruk, Pikir Rovano.
Rovano kemudian melenggang ke dapur, meninggalkan Ryan yang masih merenung di sana, pria itu akan membuat sarapan untuknya dan sang kakak yang sedang kacau.
Ryan menoleh sekeliling nya, ia sadar akan sesuatu, Sarah sedang tidak ada di rumah ini.
Baguslah, lagi pula aku tidak memiliki wajah lagi di hadapannya jika dia ada di sini sekarang. Batin Ryan.
Pria itu kemudian bangkit, ia berjalan sedikit dan menemukan sebuah bingkai foto besar yang terpajang di dinding, terakhir ia kemari foto tersebut belum ada.
Wajah Sarah begitu ceria, mungkinkah itu foto prewedding nya dengan Rovano? Sangat cantik, menurut Ryan.
"Benar-benar seperti di takdirkan untuk bersama," gumam Ryan, "sangat cocok."
Rovano tersenyum kecil dari kejauhan, ia memperhatikan tingkah Ryan. Anehnya, rasa kesal dan bencinya padam seketika pada sang kakak meski pria itu belum meminta maaf sepenuhnya.
Namun, melihat tatapan Ryan saat ini, membuat Rovano bisa menilai kalau sang kakak sedang belajar merelakan apa yang tidak di takdirkan untuknya.
"Kemarilah, sarapan!" Rovano berteriak sembari kembali berjalan ke dapur, Ryan sedikit tersentak karenanya.
Sedikit senyum terukir pada wajah Ryan, di saat seperti ini bahkan Rovano masih memikirkan dirinya, lantas mengapa dulu Ryan begitu jahat pada adiknya itu?
Apakah pengaruh sang ayah yang mengubah karakter aslinya sebagai kakak yang penyayang?
Rovano untuk pertama kalinya memasak untuk sarapan bersama sang kakak. Mereka tidak pernah melakukan hal seperti ini saat masih serumah, bahkan sejak masih remaja, Rovano sudah tidak saling bertegur sapa dengan Ryan jika bukan karena urusan keluarga atau pekerjaan.
Hubungan mereka renggang.
"Sarah, apa sudah menceritakan tentang Lucas padamu?"