Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Barikade di Jalur Naga
Suara deru mesin diesel yang berat memecah kesunyian fajar di Sukamaju. Bukan suara truk pengangkut sayur atau bus antarkota yang biasa melintas, melainkan suara geraman mesin ekskavator dan truk tronton yang membawa muatan material berat. Rian, yang sejak semalam terjaga di meja kerjanya, langsung berdiri tegak saat getaran halus mulai terasa di lantai kayu Balai Kreatif.
"Gia! Bangun, Gia! Mereka datang," suara Rian rendah tapi penuh urgensi.
Gia tersentak dari tidurnya di kursi panjang. Matanya masih merah karena kurang tidur, tapi adrenalin langsung memacu kesadarannya. Ia segera berlari ke jendela yang menghadap ke arah lereng utara. Di bawah temaram lampu jalan, ia melihat deretan lampu kuning berputar dari kendaraan proyek yang mulai memblokade satu-satunya jalan akses menuju Mata Air Buta.
"Mereka mau nutup jalur air kita secara fisik, Rian!" teriak Gia.
Tanpa banyak bicara, Rian menyambar jaketnya dan radio panggil. "Jon! Pak RT! Semua kumpul di pertigaan bawah sekarang! Jangan bawa senjata, bawa badan saja. Kita lakukan blokade damai!"
Dalam waktu kurang dari lima belas menit, puluhan warga desa sudah berkumpul. Ada yang masih mengenakan sarung, ada ibu-ibu yang membawa daster, namun wajah mereka semua seragam: marah. Mereka berdiri di depan sebuah ekskavator raksasa yang sudah menurunkan bilahnya ke aspal, siap untuk menggali parit isolasi.
Seorang pria dengan seragam safari cokelat dan helm proyek putih turun dari mobil double cabin yang berada di garis depan. Di dadanya tersemat logo kalajengking perak—kelompok Scorpio.
"Selamat pagi, Bapak-bapak dan Ibu-ibu. Nama saya Boris, kepala keamanan operasional PT Tambang Bumi Hijau," ujarnya dengan suara yang dibesar-besaran lewat pengeras suara. "Berdasarkan izin usaha pertambangan yang baru saja diterbitkan kementerian, wilayah ini resmi menjadi zona eksplorasi. Demi keselamatan, jalan ini ditutup untuk umum."
Rian melangkah maju, berdiri tepat di depan moncong ekskavator. "Izin pertambangan tidak bisa membatalkan hak asasi warga atas air, Pak Boris. Jalan ini adalah jalan desa yang sudah ada sebelum perusahaan Anda punya nama. Silakan matikan mesinnya sebelum kami yang matikan lewat jalur hukum."
Boris tertawa meremehkan. "Hukum? Kami punya surat perintah yang ditandatangani gubernur. Anda hanya warga desa dengan bangunan setengah jadi. Minggir, atau kami dorong."
Situasi memanas. Beberapa pemuda desa mulai berteriak dan mendekati barisan penjaga Scorpio yang sudah membentuk pagar betis. Gia segera mengambil pengeras suara dari tangan Jon.
"Semuanya tenang! Jangan terpancing!" teriak Gia. Suaranya yang lantang dan tegas membuat warga sedikit mereda. "Pak Boris, kami tahu Anda hanya menjalankan perintah. Tapi perlu Anda ketahui, di dalam bangunan ini—Balai Kreatif—ada delegasi dari Dinas Provinsi yang sedang melakukan peninjauan akreditasi. Jika Anda mengganggu ketenangan mereka atau memutus akses mereka, Anda berurusan dengan negara, bukan hanya dengan warga desa!"
Itu adalah gertakan yang cerdik. Rian menoleh ke arah Gia dan memberikan jempol kecil. Meskipun delegasi baru akan datang siang nanti, Boris tampak ragu. Ia membisikkan sesuatu ke radio panggilnya.
Blokade itu bertahan hingga matahari meninggi. Warga tetap duduk bersila di jalan, membentuk rantai manusia. Ibu-ibu mulai membawa termos kopi dan gorengan dari Kedai Harapan, membagikannya kepada semua orang, termasuk kepada beberapa petugas keamanan yang tampak haus dan malu-malu menerima bantuan itu.
Rian menggunakan waktu ini untuk menelepon Maya di Jakarta. "Maya, aku butuh bantuan mendesak. Cari tahu siapa pemilik asli PT Tambang Bumi Hijau. Dan tolong kirimkan tim jurnalis lingkungan ke sini secepatnya. Kita butuh sorotan kamera."
Sambil menunggu, Rian mendekati kerangka ekskavator. Ia mengamati kode seri mesin tersebut. Dengan keahlian teknisnya, ia menyadari sesuatu. "Gia, lihat ini. Ekskavator ini bukan punya perusahaan tambang. Ini alat yang disewa dari perusahaan konstruksi milik salah satu anak perusahaan Mahendra yang sempat dinyatakan pailit."
"Maksudmu, Mahendra masih mengendalikan ini dari penjara?" tanya Gia tak percaya.
"Bukan Mahendra. Tapi kroni-kroninya yang ingin mencuci aset mereka lewat kedok pertambangan mineral langka. Mereka tahu kalau lahan ini disita negara, mereka kehilangan segalanya. Tapi kalau lahan ini berubah jadi 'zona tambang strategis', mereka bisa tetap menguasainya lewat konsesi."
Menjelang tengah siang, sebuah mobil dinas benar-benar datang. Itu adalah Ibu Sari bersama tim penilai akreditasi. Boris dan anak buahnya terpaksa membuka jalan saat melihat plat nomor merah dan sirine petugas.
Rian dan Gia menyambut mereka di Balai Kreatif yang hanya berjarak beberapa meter dari barisan alat berat. Suasana menjadi sangat kontras: di satu sisi ada keheningan pendidikan dan aroma kayu, di sisi lain ada debu dan geraman mesin tambang.
"Apa yang terjadi di sini, Mas Rian?" tanya Ibu Sari dengan dahi berkerut melihat alat berat tersebut.
"Itu yang ingin kami tanyakan juga, Bu," sahut Rian tenang. "Kami sedang mencoba membangun pusat pendidikan, tapi perusahaan ini mengklaim tanah di bawah sekolah ini mengandung mineral dan ingin menggusurnya. Bagaimana mungkin akreditasi bisa turun jika lingkungan belajarnya terancam seperti ini?"
Ibu Sari tampak geram. Ia mengeluarkan ponselnya. "Pertambangan di lahan pendidikan dan konservasi air? Ini keterlaluan. Saya akan langsung hubungi Kepala Dinas dan Biro Hukum Provinsi. Mas Rian, tolong siapkan semua dokumen kepemilikan lahan desa yang kemarin Anda ceritakan."
Selama proses penilaian berlangsung, Gia membawa tim delegasi ke Kedai Harapan. Ia menunjukkan hasil cupping kopinya yang sudah jauh lebih maju. Ia menyajikan kopi hasil panen Sukamaju dengan teknik V60 yang sempurna.
"Ini kopi yang tumbuh di atas lahan yang mereka sebut 'zona tambang', Bu," ujar Gia sambil meletakkan cangkir di depan Ibu Sari. "Rasanya manis karena air Mata Air Buta yang jernih. Kalau tambang itu masuk, rasa ini akan hilang selamanya, digantikan bau merkuri dan limbah."
Ibu Sari menyesap kopinya, menutup mata sejenak, lalu menatap Gia dengan bangga. "Mbak Gia, lidah tidak bisa bohong. Ini adalah potensi ekonomi yang jauh lebih berkelanjutan daripada tambang yang hanya akan meninggalkan lubang. Saya akan pastikan Balai Kreatif dan Kedai Harapan mendapatkan perlindungan sebagai Kawasan Cagar Budaya dan Ekonomi Kreatif."
Namun, saat delegasi baru saja meninggalkan desa sore itu, Boris kembali mendekati Rian. Kali ini ia tidak membawa pengeras suara, melainkan sebuah amplop cokelat.
"Kalian pikir kalian menang karena ada orang dinas?" Boris berbisik dingin. "Besok pagi, surat pengosongan lahan dari pengadilan negeri akan turun. Kami sudah membeli tanah ini dari ahli waris yang sah di Jakarta. Kalian punya waktu 24 jam untuk angkat kaki, atau kami ratakan dengan tanah."
Rian menerima amplop itu, membukanya, dan tersenyum miring. Ia melihat nama "Ahli Waris" yang tertulis di sana: Niko Mahendra.
"Niko..." desis Rian. "Dia rupanya sudah keluar dari persembunyiannya."
Gia yang mendengar nama itu langsung pucat. Kenangan buruk tentang mantan tunangannya itu kembali menghantui. "Rian, Niko itu nekat. Dia akan lakukan apa saja untuk membalas dendam pada kita."
"Jangan takut, Gia," Rian menggenggam bahu Gia. "Niko pikir dia bermain catur di papan yang sama. Dia lupa kalau aku sudah memindahkan bidaknya ke arah yang berbeda."
Malam itu, Rian tidak mengajak warga untuk ronda seperti biasa. Ia justru menyuruh semua orang pulang dan mengunci pintu. Di dalam Balai Kreatif, Rian dan Jon sibuk memasang sesuatu pada pipa-pipa air utama dan sistem kelistrikan bangunan.
"Apa yang Mas Rian lakukan?" tanya Jon heran melihat Rian memasang banyak sensor nirkabel.
"Kita akan bikin bangunan ini 'berbicara', Jon. Kalau besok pagi Niko berani menyentuh tiang pertama sekolah ini dengan alat beratnya, seluruh dunia akan melihatnya secara langsung."
Rian telah memasang sistem Live Streaming otomatis yang terhubung ke server internasional dan akun media sosial para aktivis lingkungan di seluruh dunia. Setiap getaran, setiap hantaman pada gedung, akan langsung diunggah dengan koordinat GPS dan identitas alat beratnya.
Gia datang membawa kopi jahe hangat untuk mereka. "Kamu siap, Rian? Besok adalah pertaruhan terakhir kita."
Rian menyeruput kopinya, menatap cincin di jari Gia yang berkilat terkena cahaya lampu senter. "Aku sudah menyiapkan skenario ini sejak kita di Jakarta, Neng. Besok pagi, Sukamaju bukan lagi desa yang tersembunyi. Besok, Sukamaju akan jadi benteng yang menghancurkan sisa-sisa dinasti Mahendra untuk selamanya."
Di lereng utara, Niko Mahendra duduk di dalam mobil hitamnya, menatap ke arah Kedai Harapan dengan benci. Di tangannya, ia memegang perintah eksekusi lahan. Ia tidak tahu bahwa setiap langkahnya sudah masuk ke dalam desain besar sang Arsitek. Fajar esok hari akan menjadi saksi, apakah beton dan mesin sanggup mengalahkan nurani dan kecerdikan.