NovelToon NovelToon
Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Dan budidaya abadi
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4 membedah angin mencincang arus

Udara malam di sekitar gudang kayu mendadak terasa berat, seolah-olah oksigen di sana telah diperas habis oleh tekanan energi yang kuat. Wang Lin berdiri dengan wajah yang masih pucat, bekas-bekas halusinasi dari Jamur Bayangan Hitam tadi siang rupanya menyisakan trauma mendalam pada sarafnya. Akan tetapi, keberadaan pria di sampingnya—seorang pemuda jangkung dengan jubah murid dalam berwarna abu-abu pekat—memberinya keberanian yang luar biasa.

Wang He, kakak dari Wang Lin, memutar pergelangan tangannya. Suara tulang-tulangnya yang berderak terdengar seperti kayu kering yang patah. Di Sekte Awan Merah, mencapai Tahap Pembersihan Tingkat Lima berarti seseorang telah memiliki kekuatan fisik yang setara dengan kekuatan tiga ekor kerbau jantan.

"Kau pelayan dapur itu?" Wang He bertanya dengan nada meremehkan. Suaranya rendah, bergetar dengan gelombang Qi yang membuat api obor di dinding asrama bergoyang tak tentu arah. "Adikku bilang kau menggunakan trik kotor di hutan. Sebagai kakaknya, aku punya kewajiban untuk memastikan bahwa sampah sepertimu tahu di mana tempatmu berada."

Han Shuo melangkah keluar dari bayang-bayang gudang. Ia memegang sebilah pisau dapur tua yang tampak kusam. Posisinya tidak tegak menantang, melainkan sedikit merendah, mirip dengan posisi seorang koki yang bersiap menghadapi potongan daging besar yang alot.

"Tuan Muda Wang He, saya hanyalah seorang pekerja yang menjalankan tugas dari Koki Liu. Jika adikmu merasa terganggu oleh kabut hutan, itu bukan urusanku," jawab Han Shuo dengan suara tenang, hampir tanpa emosi.

"Berani sekali kau bicara begitu!" Wang Lin berteriak dari belakang. "Kak, patahkan tangannya! Aku ingin dia merangkak saat membersihkan kotoran di dapur besok!"

Tanpa peringatan lebih lanjut, Wang He bergerak. Langkah kakinya menghentak tanah dengan keras hingga menimbulkan bunyi dentum yang solid. Ia meluncur ke depan dengan tinju yang dilapisi cahaya putih redup. Ini adalah teknik Tinju Penghancur Batu. Bagi murid biasa, serangan ini adalah momok yang mengerikan karena kecepatannya sulit diikuti mata telanjang.

Dalam pandangan Han Shuo, dunia seolah melambat.

Pikirannya secara otomatis membedah gerakan Wang He. Ia tidak melihat seorang petarung hebat; ia melihat "bahan makanan" yang bergerak dengan sangat tidak efisien. Tinju Wang He terlalu banyak membuang energi di bagian siku. Langkah kakinya terlalu berat di tumit, menyisakan celah besar pada keseimbangan tubuhnya.

Terlalu banyak lemak dalam tekniknya. Harus dibuang, batin Han Shuo.

Saat tinju itu nyaris menyentuh hidungnya, Han Shuo tidak mundur. Ia justru melangkah maju setengah langkah ke arah samping, sebuah gerakan yang sangat berisiko. Pisau dapurnya bergerak dalam lengkungan pendek yang sangat presisi.

Sret!

Ujung pisau Han Shuo tidak menusuk kulit Wang He. Ia hanya menggores tipis bagian pergelangan tangan pria itu, tepat di titik saraf di mana aliran Qi seharusnya mengalir ke arah kepalan tinju.

Seketika, cahaya putih di tinju Wang He padam. Seluruh lengan kanannya mendadak lemas dan mati rasa, membuat serangannya meleset dan menghantam tiang kayu gudang hingga hancur berkeping-keping.

Wang He tertegun. Ia menatap lengannya yang menjuntai lemas. Tidak ada darah yang mengalir deras, hanya garis merah setipis rambut. Meskipun demikian, ia tidak bisa merasakan jarinya sendiri.

"Apa yang kau lakukan?!" Wang He meraung marah sekaligus bingung.

"Hanya sedikit koreksi pada tekstur gerakanmu," sahut Han Shuo datar.

Marah karena dipermalukan oleh seorang pelayan, Wang He melepaskan seluruh energi dantians-nya. Aura Tahap Pembersihan Tingkat Lima meledak sepenuhnya. Ia mulai menyerang secara membabi buta dengan tendangan-tendangan yang mampu memecahkan tulang.

Han Shuo mulai merasa kewalahan. Perbedaan basis kultivasi adalah jurang yang nyata. Meskipun ia bisa melihat titik lemah lawan, tubuhnya sendiri masih terlalu lemah untuk terus-menerus menghindari serangan yang begitu masif. Setiap kali kaki Wang He menyentuh tanah dekat Han Shuo, gelombang kejutnya membuat dada Han Shuo terasa sesak.

Aku tidak bisa bertahan selamanya. Aku harus memperlakukannya seperti memasak ikan yang licin. Jangan dilawan arusnya, tapi ikuti jalannya.

Saat Wang He melayangkan tendangan memutar ke arah lehernya, Han Shuo menjatuhkan tubuhnya ke tanah, lalu berputar seperti gerakan mengaduk kuali besar. Ia menggunakan momentum putaran itu untuk menyabetkan pisaunya ke arah tendon di belakang lutut Wang He.

Lagi-lagi, itu bukan serangan yang dalam. Han Shuo hanya menggunakan teknik "Memisahkan Tulang". Pisau itu bergetar dengan frekuensi tertentu yang ia pelajari dari cara menggetarkan pisau saat memotong daging beku.

Clang!

Wang He merasakan sensasi dingin yang luar biasa menusuk lututnya. Keseimbangannya runtuh seketika. Pria bertubuh besar itu jatuh berlutut di depan Han Shuo, sebuah posisi yang sangat memalukan bagi seorang murid dalam.

"Kau... kau menggunakan ilmu hitam!" Wang He terengah-engah, wajahnya merah padam. Ia mencoba bangkit, kaki kirinya menolak untuk berdiri tegak.

Han Shuo berdiri perlahan, napasnya memburu. Tangannya yang memegang pisau sedikit gemetar karena tekanan Qi dari Wang He tadi mulai menyerang organ dalamnya. Ia tahu, jika pertarungan ini berlanjut lebih lama, ia akan menderita luka dalam yang serius.

"Ini bukan ilmu hitam. Ini hanya ilmu tentang bagaimana sesuatu tersusun," kata Han Shuo. Ia mengangkat pisaunya, menunjuk tepat ke arah mata Wang He. "Pergilah. Jika kau melanjutkan ini, aku tidak menjamin kakimu akan bisa digunakan untuk berjalan lagi dalam sebulan ke depan. Kau tahu seberapa akurat pisauku."

Wang Lin yang melihat kakaknya berlutut merasa dunianya runtuh. Ia segera berlari menghampiri Wang He dan membantunya berdiri. "Kak, ayo pergi... dia aneh. Kita harus melaporkannya pada Penatua Penegak!"

Wang He menatap Han Shuo dengan tatapan penuh kebencian yang bercampur dengan ketakutan tersembunyi. Sebagai seorang praktisi bela diri, ia tahu bahwa teknik Han Shuo tadi melampaui logika teknik pedang mana pun yang pernah ia lihat. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia membiarkan adiknya memapahnya pergi dari sana.

Setelah mereka menghilang di kegelapan malam, Han Shuo terduduk di tanah. Ia memuntahkan sedikit darah gelap.

"Kultivasi Tingkat Lima benar-benar tidak bisa diremehkan," bisiknya sambil menyeka mulutnya. "Jika dia tidak sombong dan sedikit lebih hati-hati, aku pasti sudah mati tadi."

Ia menyadari bahwa kekuatannya saat ini hanyalah gertakan yang cerdik. Tanpa energi Qi yang cukup untuk menopang fisiknya, teknik terbaik di dunia pun tetap akan hancur oleh kekuatan kasar yang murni. Ia butuh lebih banyak energi. Ia butuh masakan yang lebih kuat.

Keesokan harinya, Han Shuo menggunakan lencana perunggu pemberian Li Mei untuk menuju ke Kebun Herbal Luar. Ini adalah wilayah yang sangat asri, dipenuhi dengan ribuan jenis tanaman obat yang aromanya bisa membuat orang merasa segar hanya dengan menghirupnya.

Para penjaga kebun herbal sempat menatapnya curiga, namun lencana simbol bunga krisan itu adalah paspor yang tak terbantahkan. Li Mei bukan sekadar murid jenius; ia adalah cucu dari salah satu Penatua Aula Pengobatan.

Di sudut terjauh kebun, Han Shuo menemukan sesuatu yang menarik perhatian "Lidah Dewa"-nya.

Di sana terdapat sekumpulan tanaman Akar Langit Dingin yang tampak layu. Daun-daunnya menguning dan batangnya dipenuhi bintik-bintik hitam. Seorang murid pengelola kebun sedang bersiap untuk mencabutnya dan membuangnya ke tempat sampah.

"Tunggu sebentar, Saudara," panggil Han Shuo.

Murid pengelola itu menoleh. "Ada apa? Tanaman ini sudah terserang busuk akar. Tidak ada gunanya lagi. Energi dingin di dalamnya telah berubah menjadi racun."

Han Shuo mendekat, ia berjongkok dan mencium tanah di sekitar akar tersebut. Di matanya, yang terjadi bukanlah pembusukan, melainkan "fermentasi berlebih". Energi dingin dari tanaman itu terperangkap karena tanahnya terlalu padat, menyebabkannya bereaksi dengan kelembapan dan menciptakan rasa "pedas-pahit" yang sangat pekat.

"Bolehkah aku membawanya? Aku ingin menggunakannya sebagai bahan bakar untuk... eksperimen dapur," pinta Han Shuo.

Murid pengelola itu tertawa kecil. "Ambil saja sampah ini. Kau menyelamatkanku dari pekerjaan membuangnya."

Han Shuo mengumpulkan akar-akar yang "busuk" itu ke dalam keranjangnya dengan hati yang berdebar. Bagi seorang alkemis, ini adalah sampah beracun. Bagi seorang koki seperti Han Shuo, ini adalah bahan dasar untuk membuat sebuah hidangan stimulan yang sangat kuat.

Dalam Kitab Rasa Semesta, ada sebuah resep bernama "Sup Sembilan Putaran Es dan Api". Bahan utamanya adalah akar yang telah terfermentasi oleh tanah, yang jika diolah dengan suhu tinggi yang tepat, akan meledakkan potensi energi tersembunyi yang terkunci di dalam bintik-bintik hitam tersebut.

Ia membawa bahan-bahan itu ke tempat rahasianya—sebuah gua kecil di belakang bukit sekte yang jarang dikunjungi orang. Di sana, ia telah menyiapkan kuali tanah liat kecil.

Han Shuo mulai menyalakan api. Kali ini ia menggunakan teknik Api Sembilan Lapisan. Ia tidak membiarkan api membakar kuali secara langsung. Ia mengatur aliran udara di bawah kuali sedemikian rupa sehingga panasnya berputar, mirip dengan cara mengasap daging agar aromanya meresap hingga ke tulang.

Akar-akar yang tadinya berbau busuk mulai mengeluarkan aroma yang sangat tajam—perpaduan antara bau mentol yang menusuk dan aroma kayu terbakar. Han Shuo terus mengaduknya, setiap gerakan sudipnya diatur untuk memecah molekul racun menjadi energi murni.

Tiba-tiba, sebuah suara langkah kaki ringan terdengar di mulut gua.

"Aroma yang sangat berani. Jika kau salah sedikit saja dalam mengatur suhu, asap ini bisa melumpuhkan paru-parumu selamanya."

Li Mei berdiri di sana, menatap kuali Han Shuo dengan mata penuh rasa ingin tahu. Ia tidak tampak marah karena Han Shuo menggunakan lencananya untuk mengambil "sampah" kebun. Sebaliknya, ia tampak sangat terkesan.

"Nona Li," Han Shuo tidak berhenti mengaduk. "Setiap bahan memiliki titik baliknya sendiri. Terkadang, sesuatu yang dianggap rusak hanya sedang menunggu untuk diolah dengan cara yang benar."

Li Mei berjalan mendekat, mengabaikan panas yang keluar dari kuali. "Aku telah mempelajari Alkimia selama sepuluh tahun, tapi aku belum pernah melihat seseorang mencoba memurnikan racun busuk akar menggunakan teknik... mengukus?"

"Ini bukan hanya mengukus, Nona. Ini adalah perjamuan transformasi," jawab Han Shuo.

Ia mengambil sebuah mangkuk kecil, menuangkan cairan berwarna biru gelap yang kental dari kuali, lalu menyodorkannya pada Li Mei. "Apakah Nona berani mencicipi 'sampah' ini?"

Li Mei menatap cairan itu sejenak, lalu menatap mata Han Shuo yang tenang. Ia mengambil mangkuk itu dan menyesapnya sedikit.

Seketika, mata Li Mei melebar. Wajahnya yang pucat mendadak merona merah, sementara napasnya menjadi pendek. Ia merasakan aliran energi es yang sangat murni menusuk dantians-nya, diikuti oleh sensasi hangat yang menyebar ke seluruh anggota tubuhnya. Ini adalah kualitas pemurnian energi yang bahkan melampaui pil tingkat menengah Aula Pengobatan.

"Ini... ini mustahil," bisik Li Mei. "Kau tidak menggunakan kuali alkimia, tidak menggunakan mantra... kau hanya menggunakan api dan kayu!"

Han Shuo tersenyum tipis. "Seni kuliner tidak butuh mantra, Nona. Ia hanya butuh pemahaman tentang rasa yang jujur."

Namun, di tengah momen tersebut, sebuah ledakan energi datang dari arah hutan di bawah gua. Suara raungan binatang buas yang sangat kuat menggetarkan tanah. Tampaknya, aroma dari masakan Han Shuo telah menarik perhatian sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada Wang He.

Seekor Harimau Bertaring Kristal, binatang tingkat menengah yang seharusnya berada di pedalaman hutan, kini sedang menuju ke arah mereka, tertarik oleh aroma energi murni dari sup Han Shuo.

"Celaka," Li Mei mencabut pedang pendeknya dari balik jubah. "Han Shuo, lari! Itu binatang tingkat tiga! Kau tidak akan bisa melawannya dengan pisau dapurmu!"

Han Shuo tidak lari. Ia justru mengambil sisa sup di kuali dan meminumnya sekaligus. Ia bisa merasakan tubuhnya mulai membara. "Nona, tetaplah di belakangku. Masakan ini belum selesai... perjamuan yang sebenarnya baru saja akan dimulai."

Langkah selanjutnya:

1
Nanik S
Lanjut terus Tor
Nanik S
Tetua Agung ..kenapa pakai Kuali Tulang
Nanik S
Apa Han Suo mau dipanggang
Nanik S
Huo . masak seja sekalian Panatua Mu Chen
Nanik S
Menu yang tida akan dia Lupakan.. menu apa Jan Shuo
Nanik S
Besok memasak Wang Lin
Nanik S
Masak Mie pemutus jiwa
Nanik S
Punya Asisten baru
Nanik S
Keren...jadi Koki Dewa
Nanik S
Han Shuo.. kasih makan dan nanti bawa saja kirin ke depan Tetua Tie
Nanik S
Han Shuo .. apa yang akan terjadi dipuncak
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Han Shuo.. cerdas sekali
Nanik S
NEXT
Nanik S
Perjamuan dengan Harimau
Nanik S
Keren bener
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Hadir ...awal yang beda dari lainya
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!