"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"
Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".
Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.
Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.
"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."
Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: PERJAMUAN DI ATAS ES
BAB 21: PERJAMUAN DI ATAS ES
Berlin di bulan Desember adalah definisi dari keindahan yang membeku. Cahaya lampu kota berpendar di atas hamparan salju yang menyelimuti gerbang Brandenburg, namun bagi Alana Roseline von Heist, keindahan itu terasa seperti pajangan di balik etalase kaca yang tidak bisa ia sentuh.
Malam ini, di aula utama Hotel Adlon Kempinski yang legendaris, sebuah perjamuan bisnis kelas atas sedang berlangsung. Alana berdiri di depan cermin raksasa di ruang rias pribadinya. Ia mengenakan gaun malam berbahan beludru hitam pekat yang menjuntai hingga ke lantai. Bagian punggungnya terbuka, memperlihatkan kulit putihnya yang kini dihiasi sedikit bekas luka memar hasil latihan fisik yang brutal—memar yang ia tutupi dengan foundation mahal.
"Nona, dia sudah tiba di Berlin," suara Maximilian terdengar dari balik pintu. "Pesawat pribadinya mendarat satu jam yang lalu. Dia tidak langsung ke hotel, tapi singgah di kantor pusat bank Jerman. Sepertinya Tuan Dirgantara sedang mencoba membekukan beberapa aset kita sebagai serangan balasan."
Alana menarik napas panjang, membiarkan udara dingin mengisi paru-parunya. "Biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan, Maximilian. Biarkan dia merasa seolah-olah dia memiliki peluang. Itu akan membuatnya tetap merasa hidup."
"Anda yakin bisa menghadapi ini, Nona? Menatap matanya dan mengatakan bahwa Anda adalah musuhnya?"
Alana memejamkan mata sejenak. Bayangan Kenzo yang tersenyum saat mereka makan di pinggir jalan Jakarta melintas kilat. Ia segera menepisnya. "Aku tidak punya pilihan. Jika aku tidak menghancurkan hatinya malam ini, paman-pamanku akan menghancurkan kepalanya besok pagi."
Alana melangkah keluar. Setiap langkah kakinya bergema di lorong sunyi menuju ballroom. Saat pintu ganda raksasa itu terbuka, musik klasik yang tenang menyambutnya, namun perhatian seluruh tamu undangan langsung tertuju padanya. Ia berjalan seperti seorang ratu yang sedang menuju takhta, dingin dan tak terjangkau.
Namun, di ujung ruangan, dekat bar minuman, sosok itu berdiri.
Kenzo Dirgantara.
Pria itu mengenakan setelan jas tiga lapis berwarna abu-abu gelap. Ia terlihat jauh lebih garang daripada terakhir kali Alana melihatnya di rumah sakit. Tidak ada lagi perban di kepalanya, hanya ada aura dominasi yang sangat pekat. Kenzo sedang memutar gelas wiskinya, matanya terkunci pada pintu masuk sejak pertama kali Alana muncul.
Tanpa memedulikan sapaan dari para pengusaha Jerman lainnya, Kenzo melangkah maju. Kerumunan orang seolah terbelah secara otomatis, memberikan jalan bagi dua kekuatan yang sedang bertabrakan ini.
Mereka berhenti tepat di tengah ruangan. Jarak mereka hanya satu meter. Alana bisa mencium aroma parfum kayu cendana milik Kenzo yang sangat ia rindukan—aroma yang dulu selalu membuatnya merasa aman.
"Jadi, ini wajah baru sang Mawar Hitam?" suara Kenzo terdengar rendah, bergetar oleh amarah yang ditekan sedalam mungkin. "Atau aku harus memanggilmu Alana, wanita yang meninggalkanku saat aku bahkan belum bisa membuka mata?"
Alana mempertahankan ekspresi datarnya. Ia mengangkat dagunya sedikit, menatap Kenzo dengan pandangan meremehkan yang sudah ia latih selama berjam-jam di depan cermin.
"Nama itu sudah terkubur di Jakarta, Tuan Dirgantara," sahut Alana dengan nada formal yang sempurna. "Di sini, Anda sedang berhadapan dengan pewaris utama Von Heist. Dan jika Anda datang ke Berlin hanya untuk membahas masa lalu yang remeh, saya sarankan Anda segera memesan tiket pulang."
Kenzo tertawa, namun tawanya tidak sampai ke mata. Ia melangkah lebih dekat, merangsek masuk ke dalam ruang pribadi Alana hingga Alana bisa merasakan kehangatan tubuh pria itu di tengah dinginnya ruangan.
"Masa lalu yang remeh?" Kenzo berbisik tepat di depan wajah Alana. "Tiga tahun aku mencari setiap jengkal bukti untuk membebaskanmu dari Raka. Satu peluru bersarang di bahuku dan satu benturan hampir membuatku mati karena menjagamu. Dan kau menyebut itu remeh?"
Jantung Alana berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia ingin berteriak, ingin memeluk pria ini dan menceritakan betapa ia tersiksa di kastil itu. Namun, ia melihat Maximilian di kejauhan sedang mengawasi bersama dua pria bersenjata milik Baron Friedrich.
"Pengorbananmu adalah kesalahanmu sendiri, Kenzo," ucap Alana dingin, meskipun lidahnya terasa pahit. "Aku tidak pernah memintamu menjadi pahlawan. Aku pergi karena aku menyadari bahwa Keluarga Adiwangsa dan Dirgantara hanyalah kolam kecil yang dangkal. Aku butuh samudera yang lebih besar, dan Von Heist memberikannya padaku."
Alana menyesap sampanyenya, lalu melanjutkan dengan kejam. "Seranganku terhadap proyekmu di Kalimantan hanyalah peringatan. Jangan mencoba mencampuri urusan bisnisku lagi. Aku tidak akan segan-segan menghancurkan Dirgantara Group jika kau terus membuntuti bayanganku."
Kenzo mencengkeram lengan Alana. Cengkeramannya kuat, namun tidak menyakiti. Matanya menatap tajam ke dalam manik mata Alana, mencari satu celah, satu titik kelemahan yang menunjukkan bahwa wanita ini sedang berbohong.
"Kau berbohong," desis Kenzo. "Matamu tidak bisa menipuku, Alana. Kau sedang ketakutan. Siapa yang mengancammu? Siapa yang memaksamu melakukan sandiwara menjijikkan ini?!"
"Lepaskan aku, Tuan Dirgantara!" Alana menyentak lengannya. "Keamanan!"
Dalam sekejap, Maximilian dan empat pengawal bersenjata sudah mengepung Kenzo. Suasana di ballroom mendadak mencekam. Para tamu mulai berbisik panik.
"Tuan Dirgantara, Anda sedang mengganggu tamu kehormatan kami," Maximilian berkata dengan nada mengancam sambil meletakkan tangan di balik jasnya.
Kenzo tidak gentar sedikit pun. Ia menatap para pengawal itu dengan pandangan menghina, lalu kembali menatap Alana. "Kau pikir pria-pria ini bisa menghalangiku? Aku sudah membawa timku sendiri ke kota ini. Jika kau ingin bermain perang, Alana... maka aku akan memberikanmu kehancuran yang kau minta."
Kenzo merogoh saku jasnya dan mengeluarkan kalung perak yang pernah Alana tinggalkan di rumah sakit. Ia menjatuhkan kalung itu ke dalam gelas sampanye Alana. Ting. Bunyi logam yang beradu dengan kaca terdengar sangat nyaring di tengah keheningan.
"Simpan mainanmu ini. Aku tidak butuh kenangan dari seorang pengkhianat," ucap Kenzo dengan suara yang pecah karena rasa sakit. "Mulai besok, aku akan menarik seluruh investasi Dirgantara dari Eropa dan aku akan memastikan setiap mitra bisnismu membatalkan kontrak mereka. Aku akan membuatmu jatuh miskin sampai kau tidak punya pilihan selain merangkak kembali kepadaku."
Kenzo berbalik dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Punggungnya terlihat begitu kokoh namun menyedihkan.
Alana terpaku di tempatnya. Ia menatap gelas sampanyenya, di mana kalung peraknya tenggelam di dasar gelas, tertutup oleh busa minuman. Tangannya bergetar hebat. Ia ingin mengejar Kenzo, ingin berteriak bahwa ia melakukan ini semua agar Kenzo tidak dibunuh oleh paman-pamannya.
"Pilihan yang bagus, Nona," Maximilian mendekat, suaranya kini sedikit lebih lembut namun tetap waspada. "Baron Friedrich akan sangat senang mendengar ini. Anda baru saja memenangkan ujian pertama Anda."
"Ujian?" Alana menoleh ke arah Maximilian dengan mata yang berkilat benci. "Aku baru saja membunuh separuh nyawaku sendiri, Maximilian. Apakah itu yang kalian sebut kemenangan?"
Alana meletakkan gelasnya di atas nampan pelayan dengan kasar, lalu berjalan menuju balkon luar. Udara dingin Berlin segera menerpa wajahnya yang panas. Ia terisak dalam diam, menutup mulutnya agar suaranya tidak terdengar oleh siapa pun.
Di bawah sana, ia melihat limusin hitam milik Kenzo melesat pergi meninggalkan hotel.
Di dalam Limusin Kenzo.
Kenzo duduk di kegelapan, tangannya mengepal hingga luka bekas operasinya terasa berdenyut nyeri. Elvan, yang duduk di depannya, tidak berani membuka suara.
"Dia bukan Alana yang kita kenal, Kenzo," ucap Elvan akhirnya dengan hati-hati. "Lingkungan Von Heist telah meracuninya."
"Tidak," bantah Kenzo pelan namun tajam. "Dia sedang dilindungi oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Kau lihat pria asing yang selalu di sampingnya? Dia bukan sekadar asisten. Dia adalah penjara bagi Alana."
Kenzo menatap keluar jendela, ke arah lampu-lampu Berlin yang menjauh. "Elvan, hubungi markas besar kita di London. Aku ingin semua intelijen kita fokus pada satu hal: cari tahu siapa saja musuh internal keluarga Von Heist. Aku tidak akan menghancurkan Alana. Aku akan menghancurkan setiap orang yang membuatnya terpaksa bersikap seperti itu padaku."
Kenzo mengeluarkan ponsel lain yang tidak bisa disadap. Ia menekan sebuah nomor. "Ini aku. Aktifkan rencana B. Kita tidak akan menyerang lewat pasar saham. Kita akan masuk lewat pintu belakang kastil mereka."
Ternyata, kemarahan Kenzo di hotel tadi adalah sebagian dari taktiknya. Ia tahu Alana sedang diawasi. Ia tahu ia harus menciptakan jarak di depan umum agar musuh-musuh Alana merasa mereka telah berhasil memisahkan keduanya.
Keesokan Harinya – Markas Rahasia Baron Friedrich.
Alana dipanggil ke ruang kerja kakeknya yang gelap. Di sana, sudah duduk dua orang pria paruh baya dengan wajah licik—Paman tiri Alana, Wilhelm dan Gunther.
"Keponakanku yang cantik," Gunther menyapa dengan senyum palsu. "Kami mendengar kau sangat hebat semalam. Membuat Tuan Dirgantara itu terlihat seperti anak kecil yang patah hati. Tapi, kami butuh bukti lebih."
"Bukti apa lagi?" tanya Alana dingin.
"Dirgantara Group memiliki teknologi enkripsi data satelit yang sangat kita butuhkan untuk pengiriman kargo rahasia kita," Wilhelm menimpali. "Gunakan sisa-sisa perasaan pria itu padamu. Rayu dia, bawa dia ke vila pribadi kita di Swiss, dan ambil kunci aksesnya. Setelah itu... kau bebas melakukan apa saja padanya. Bahkan jika kau ingin melenyapkannya sekalipun."
Alana merasakan mual yang luar biasa di perutnya. Mereka memintanya untuk menjadi umpan maut bagi Kenzo.
"Jika aku menolak?"
Baron Friedrich mendongak dari mejanya. "Jika kau menolak, maka Gunther akan mengirimkan tim pembersihnya ke Jakarta malam ini untuk menghabisi Kakak-kakakmu yang tersisa di sana. Pilihannya sederhana, Roseline. Satu pria yang kau cintai, atau enam kakak yang menjadi satu-satunya keluargamu?"
Alana berdiri di tengah ruangan yang mencekam itu, menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil adalah perangkap baru. Namun, di dalam hatinya, sebuah rencana mulai matang. Ia akan mengikuti permainan mereka, tapi ia akan membalikkan papannya.
"Baiklah," ucap Alana, suaranya terdengar seperti lonceng kematian. "Aku akan membawanya ke Swiss. Tapi aku ingin kendali penuh atas operasi ini. Tidak ada satu pun orang kalian yang boleh mendekat dalam radius satu kilometer."
"Sepakat," sahut Baron.
Alana keluar dari ruangan itu dengan langkah yang berat. Ia tahu, di Swiss nanti, hanya akan ada dua kemungkinan: ia dan Kenzo akan selamat bersama, atau mereka akan mati di atas salju putih yang dingin.