NovelToon NovelToon
Obsession Sang Mafia

Obsession Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kriminal dan Bidadari / CEO / Cintapertama
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Queen__halu

Alana terpaksa harus menikah dengan Axel Luciano, seorang CEO yang begitu terobsesi padanya. Ancaman Axel berhasil membuat Alana terjebak dalam dilema, sehingga ia terpaksa harus menerima pernikahan tersebut demi menyelamatkan nyawa orangtuanya.

Axel bukan hanya kejam di mata Alana, melainkan seorang psikopat yang siap melepaskan peluru kepada siapa saja yang berani melawannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen__halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Mike

Siang itu, rumah Luciano terasa lebih sunyi dari biasanya.

Alana berdiri di depan jendela besar ruang tengah, ponsel berada di genggaman tangannya. Jemarinya bergerak pelan membuka galeri, berhenti pada foto lama bersama rekan-rekan perawat di rumah sakit. Senyum-senyum tulus, seragam putih, lelah yang terasa bermakna.

Ia menarik napas dalam.

Luciano masuk tanpa suara, memperhatikan Alana dari kejauhan. Ia tahu tatapan itu. Tatapan yang sama saat Alana termenung beberapa hari terakhir. Bukan sedih, bukan marah. Tapi rindu.

“Alana,” panggilnya lembut.

Alana menoleh. “Hm?”

“Kau memikirkan sesuatu,” ucap Luciano sambil mendekat.

Alana ragu sejenak, lalu menurunkan ponselnya. “Aku cuma merasa hidupku terlalu sempit akhir-akhir ini.”

Luciano berhenti melangkah.

“Bukankah kau sudah punya semua yang kau butuhkan di sini?” tanyanya hati-hati.

Alana menggeleng pelan. “Aku punya segalanya, Luciano. Tapi bukan itu maksudku.” Ia menelan ludah. “Aku ingin keluar sebentar. Sendiri.”

Kening Luciano berkerut. “Keluar ke mana?”

“Ke toko buku. Atau kafe kecil di dekat taman. Aku nggak peduli ke mana, asal aku bisa berjalan, duduk, melihat orang lain… tanpa pengawalan ketat, tanpa bayangan senjata.”

Luciano terdiam. Rahangnya mengeras, refleks lamanya hampir muncul.

“Itu tidak aman,” katanya otomatis.

Alana mendesah, lalu melangkah mendekat. Ia berdiri tepat di hadapan Luciano, menatap mata pria itu tanpa gentar.

“Inilah yang ingin aku bicarakan,” ucapnya tenang, tapi tegas. “Aku nggak minta kebebasan besar. Aku nggak minta kembali bekerja sekarang. Aku hanya ingin hal kecil, Luciano, napas.”

Luciano memalingkan wajahnya sesaat, berusaha mengendalikan gelombang panik yang muncul di dadanya. Dalam kepalanya, bayangan ancaman, musuh, darah, dan kehilangan berkelebat cepat.

“Aku takut,” katanya jujur, nyaris berbisik.

“Aku tahu,” jawab Alana lembut. Ia mengulurkan tangan, menggenggam jemari Luciano. “Tapi kalau setiap langkahku dibatasi oleh ketakutanmu, aku akan hilang pelan-pelan.”

Luciano menatap genggaman itu. Hangat.

“Kau tidak akan ke mana-mana,” katanya.

“Aku bukan ingin pergi dari kamu,” balas Alana cepat. “Aku cuma mau tetap menjadi diriku sendiri saat sama kamu.”

Hening menyelimuti ruangan.

Beberapa detik terasa panjang sebelum Luciano akhirnya mengangguk kecil.

“Satu jam,” katanya. “Altair tidak akan ikut. Hanya satu mobil, satu pengawal dari jauh. Mereka tidak akan mendekat.”

Alana terkejut. Matanya membesar, lalu perlahan berkaca-kaca.

“Benarkah?” tanyanya lirih.

Luciano menghela napas. “Jangan buat aku menyesal, Alana.”

Alana tersenyum, senyum yang jarang muncul belakangan ini. Ia memeluk Luciano dengan erat.

“Terima kasih,” bisiknya. “Ini berarti lebih dari yang kamu kira.”

Luciano membalas pelukan itu, sedikit kaku, tapi tulus. Di dadanya, masih ada ketakutan. Namun kini bercampur dengan sesuatu yang baru.

***

Kafe itu tidak ramai. Hanya suara mesin kopi, denting sendok, dan musik jazz yang mengalun pelan. Alana duduk di dekat jendela, kedua tangannya melingkari cangkir kopi yang masih mengepul. Untuk pertama kalinya setelah lama, ia merasa normal.

Lalu seseorang berdiri di hadapannya.

“Alana?”

Suara itu membuat Alana menoleh. Matanya membesar sesaat sebelum senyum kecil terbit di bibirnya.

“Mike?”

Pria itu tertawa kecil, jelas terkejut sekaligus senang. “Gila… ini beneran kamu. Aku hampir nggak yakin.”

Mike tampak sedikit lebih dewasa dari terakhir yang Alana ingat. Rambutnya lebih rapi, rahangnya lebih tegas, tapi sorot matanya masih sama. Hangat.

“Kamu sendirian?” tanya Mike.

“Iya,” jawab Alana. “Kamu?”

“Nunggu klien. Tapi sepertinya dia telat.” Mike menarik kursi di hadapan Alana. “Boleh duduk?”

Alana mengangguk.

Percakapan mengalir pelan. Tentang pekerjaan, tentang kota, tentang masa kuliah yang terasa seperti hidup orang lain.

Lalu Mike terdiam sejenak, menatap Alana lebih dalam.

“Terakhir aku dengar…” katanya ragu, “kamu mau nikah sama Oliver.”

Jemari Alana refleks mengerat di cangkirnya.

“Itu batal,” jawabnya singkat.

Mike mengernyit. “Oh, maaf. Aku—”

“Nggak apa-apa,” potong Alana cepat. Ia menarik napas. “Aku sudah menikah sekarang.”

Mike terkejut. “Menikah?”

“Iya.”

“Dengan Oliver?”

Alana menggeleng. “Bukan. Namanya Luciano.”

Nama itu meluncur dari bibir Alana dengan nada yang bahkan tidak ia sadari terdengar berbeda. Tidak sepenuhnya bahagia, tapi juga bukan ragu.

Mike tersenyum kecil. “Aku terlambat, ya.”

Alana terdiam.

Mike melanjutkan, suaranya lebih lembut, “Aku senang kamu baik-baik aja. Jujur aja, dulu aku sempat nyesel nggak pernah bilang langsung perasaanku.”

Alana menatapnya, tidak terkejut. Ia sudah tahu sejak lama.

“Aku menghargai itu, Mike,” katanya pelan. “Tapi hidup kadang membawa kita ke arah yang tidak kita rencanakan.”

Mike mengangguk, menerima. “Kalau gitu aku cuma mau bilang, kamu terlihat lebih kuat sekarang.”

Alana tersenyum. “Aku belajar.”

Di sudut kafe, seorang pria berpakaian biasa menurunkan ponselnya perlahan setelah mengambil beberapa foto. Sudutnya pas. Terlalu pas. Alana dan Mike duduk berhadapan, Mike sedikit condong ke depan, Alana tersenyum kecil.

Foto itu terkirim dalam hitungan detik.

***

Di rumah, Luciano sedang berdiri di depan meja kerjanya saat ponselnya bergetar.

Satu pesan masuk.

Disusul foto.

Lalu foto kedua.

Tatapan Luciano mengeras saat matanya menangkap wajah Alana. Duduk di kafe. Bersama seorang pria asing.

Tangannya mengepal.

“Napas,” gumamnya pada diri sendiri.

Tapi dadanya terasa sesak.

Nama kontak pengirim muncul di layar, disertai pesan singkat: Target aman. Tapi tidak sendirian.

Luciano menutup mata sejenak.

Di benaknya, hanya satu nama yang bergaung.

Alana.

***

Mobil hitam itu berhenti tepat di depan kafe.

Alana baru saja mengangkat cangkir kopinya ketika bayangan seseorang menutup cahaya di balik jendela. Jantungnya langsung turun.

Luciano.

Wajah pria itu dingin. Terlalu tenang. Tatapan yang membuat perut Alana mengencang tanpa alasan yang jelas.

Mike menyadari perubahan ekspresi Alana. “Kenapa?”

“Seseorang menjemputku,” jawab Alana pelan.

Pintu kafe terbuka.

Luciano masuk dengan langkah mantap, jasnya rapi, rahangnya mengeras. Suasana kafe seolah menyusut. Beberapa pengunjung menoleh, lalu cepat-cepat kembali ke urusan masing-masing.

Luciano berhenti tepat di sisi Alana.

“Sudah selesai?” tanyanya singkat, suaranya datar tanpa emosi.

Alana berdiri refleks. “Luciano, aku—”

Tatapan Luciano bergeser ke Mike. Tajam seolah siap untuk menguliti.

“Dan kamu?” Luciano bertanya, tanpa mengulurkan tangan. “Siapa?”

Mike ikut berdiri, mencoba bersikap sopan. “Mike. Teman kuliah Alana.”

Luciano mengangguk tipis. Bukan tanda ramah. Lebih seperti penilaian cepat.

“Teman lama,” ulang Luciano pelan. “Menarik.”

Ia meraih tangan Alana. Bukan kasar, tapi cukup kuat untuk menunjukkan kepemilikan. Jarinya mengunci jemari Alana, jelas dan tanpa ragu.

“Kami harus pergi.”

Mike menatap tangan mereka, lalu wajah Alana. “Aku nggak tahu kalau—”

“Sekarang kamu tahu,” potong Luciano dingin. “Dan aku harap ini pertemuan terakhir.”

Nada itu bukan permintaan.

Alana menarik tangannya sedikit. “Luciano, jangan begitu.”

Luciano menoleh padanya. Tatapannya berubah, bukan marah, tapi menekan. “Masuk mobil.”

Mike mengepalkan rahangnya. “Hei, bro. Dia bukan barang—”

Satu langkah Luciano maju.

Cukup satu.

Aura yang terpancar membuat Mike otomatis mundur setengah langkah. Bukan karena takut fisik, tapi karena ada sesuatu di mata Luciano yang berkata jelas, jangan lanjutkan.

“Jaga ucapanmu,” kata Luciano rendah. “Itu istriku.”

Alana terdiam.

Luciano kembali menarik Alana, kali ini memeluk pinggangnya, membawanya keluar tanpa memberi kesempatan lagi.

Di dalam mobil, keheningan terasa mencekik.

Luciano menyetir dengan satu tangan, tangan satunya masih menggenggam tangan Alana. Terlalu erat.

“Kamu bilang mau kebebasan kecil,” ucap Luciano akhirnya. “Bukan nostalgia dengan pria lain.”

“Aku cuma minum kopi,” jawab Alana, menahan emosinya. “Aku jujur sama kamu.”

Luciano tertawa kecil. Tidak ada humor di sana. “Jujur? Kamu duduk berhadapan dengan pria yang jelas menyukaimu.”

“Itu masa lalu!”

Luciano mengerem mendadak di pinggir jalan. Mobil berhenti.

Ia menoleh, matanya gelap. “Dan masa lalu itu tidak akan menyentuh hidupmu lagi.”

Alana menelan ludah. “Kamu udah janji nggak akan mengekang aku.”

“Aku juga berjanji melindungimu,” balas Luciano. “Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mendekat dengan niat lain.”

Ia mendekat, suaranya rendah, posesif, namun terkontrol. “Kamu istriku, Alana. Dunia boleh melihatmu. Tapi hanya aku yang boleh berada sedekat itu.”

Alana menatapnya lama. Dadanya naik turun.

“Kalau begitu,” katanya pelan tapi tegas, “belajar percaya padaku. Karena kalau nggak, kebebasan kecil ini akan berubah jadi penjara baru.”

Luciano terdiam.

Mesin mobil kembali menyala.

Tangannya masih menggenggam Alana. Tidak dilepas. Tidak dilonggarkan.

Dan di dalam hatinya, Luciano sadar satu hal yang mengganggu. Rasa takut kehilangan itu mulai menguasainya lagi.

**"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!