NovelToon NovelToon
CINTA DI UJUNG DOA

CINTA DI UJUNG DOA

Status: tamat
Genre:Teen Angst / CEO / Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Surat Perpisahan

#

Hari kelima.

Zahra duduk di lantai kamar. Kaki dilipat. Punggung bersandar di dinding yang cat nya udah ngelupas. Di depannya ada kertas putih polos kertas HVS yang dia beli dari warung Bu Lastri. Satu lembar. Dua puluh perak.

Pulpen biru murah di tangan kanan. Gemetar.

"Gimana... gimana nulis ini?"

Zahra udah coba tiga kali. Tiga kali kertas diremes. Tiga kali dibuang ke pojokan kamar yang sekarang penuh bola-bola kertas kusut.

Karena... karena gimana caranya nulis surat perpisahan buat orang yang paling kamu cinta di dunia?

Gimana caranya bilang "aku pergi" ke orang yang kamu pengen peluk selamanya?

Gimana?

Zahra ambil napas panjang. Tutup mata sebentar. Berdoa dalam hati.

"Ya Allah... kuatkan hamba... ini... ini keputusan yang paling berat dalam hidup hamba... tapi hamba yakin... yakin ini yang terbaik... tolong... tolong kasih hamba kata-kata yang tepat..."

Dia buka mata. Pulpen menyentuh kertas.

Dan mulai menulis.

---

*Untuk Mas Arkan yang Zahra sayang,*

Zahra berhenti. Tangan gemetar makin parah. Air mata udah mulai keluar padahal baru nulis satu kalimat.

"Nggak... nggak boleh nangis... harus... harus selesein ini..."

Dia lanjutin.

---

*Untuk Mas Arkan yang Zahra sayang,*

*Mungkin Mas bingung kenapa tiba tiba Zahra nulis surat. Kenapa nggak telepon aja. Kenapa nggak ketemu langsung. Tapi Zahra... Zahra nggak kuat Mas. Kalau Zahra denger suara Mas... kalau Zahra liat wajah Mas... Zahra pasti... pasti lemah lagi. Pasti nggak jadi pergi.*

*Jadi maafin Zahra ya. Maafin Zahra yang cuma bisa nulis kayak gini. Zahra... Zahra pengecut.*

Air mata tetes di kertas. Bikin tinta biru menyebar jadi bulatan basah.

"Sial..."

Zahra usap air mata pake ujung hijab. Tapi makin diusap... makin keluar.

"Zahra bodoh... nangis mulu... gimana mau nulis kalau nangis terus..."

Tapi dia lanjutin. Harus lanjutin.

---

*Mas... Zahra mau minta maaf. Maaf udah bikin hidup Mas berantakan. Maaf udah bikin Mas kehilangan keluarga. Kehilangan pekerjaan. Kehilangan... kehilangan semuanya. Semua itu... semua itu gara gara Zahra.*

*Zahra tau Mas pasti bilang bukan salah Zahra. Pasti bilang itu pilihan Mas sendiri. Tapi Mas... kalau Zahra nggak ada... Mas nggak perlu kehilangan apa apa kan? Mas bisa... bisa hidup tenang. Bisa balik sama Mama Papa Mas. Bisa jadi direktur sukses. Bisa... bisa bahagia.*

*Dan Zahra... Zahra nggak mau jadi alasan Mas kehilangan kebahagiaan Mas.*

Zahra berhenti nulis. Ngelap muka. Isakan keluar nggak bisa ditahan.

"Hiks... kenapa... kenapa harus kayak gini... kenapa Zahra harus... harus nulis surat ini..."

Tapi dia lanjut. Meskipun sakit. Meskipun pengen robek kertas ini dan lari ke pelukan Arkan.

---

*Zahra inget... inget waktu pertama kali kita ketemu. Waktu Zahra jatuh di tengah hujan. Baju baju pelanggan rusak. Zahra nangis. Putus asa. Tapi tiba tiba... tiba tiba Mas dateng. Kasih payung. Senyum. Bilang "kita pasti ketemu lagi takdir".*

*Waktu itu Zahra pikir Mas cuma orang baik yang lewat. Nggak nyangka... nggak nyangka Mas bakal jadi orang yang... yang paling penting dalam hidup Zahra.*

*Mas ngajarin Zahra banyak hal. Ngajarin Zahra kalau cinta itu nggak liat status sosial. Nggak liat kaya atau miskin. Cinta itu... cinta itu ikhlas. Tulus. Tanpa pamrih.*

*Dan Zahra bersyukur... bersyukur pernah ngerasain cinta kayak gitu. Cinta dari Mas.*

Zahra gigit bibir. Keras. Sampe berdarah. Supaya nggak teriak nangis.

"Mas... Zahra... Zahra nggak mau lepas Mas... tapi... tapi Zahra harus..."

---

*Tapi Mas... cinta itu nggak cukup. Zahra baru sadar. Cinta itu nggak bisa bayar makan. Nggak bisa obatin Bapak Zahra yang sakit. Nggak bisa... nggak bisa hadapin kenyataan kalau kita... kita dari dua dunia yang beda.*

*Mas dari dunia yang terang. Dunia yang penuh kesempatan. Penuh harapan. Sementara Zahra... Zahra dari dunia yang gelap. Dunia yang penuh perjuangan. Penuh air mata.*

*Dan Zahra sadar... sadar kita nggak bisa bersatu. Karena kalau kita maksa... kita cuma bakal saling nyakitin.*

*Zahra udah ketemu Mama Mas. Dia... dia bilang banyak hal. Bilang Zahra nggak layak. Bilang Zahra pemburu harta. Bilang Zahra... Zahra yang ngeracunin pikiran Mas.*

*Dan tau nggak Mas? Yang paling sakit bukan kata kata itu. Yang paling sakit itu... itu waktu Zahra sadar... sadar Mama Mas mungkin ada benernya.*

Tangan Zahra berhenti. Napas tercekat.

"Nggak... nggak... Mama nya salah... Zahra nggak ngeracunin Mas... Zahra cuma... cuma cinta..."

Tapi dia tetep nulis. Nulis apa yang ada di hati. Meskipun sakit. Meskipun rasanya kayak nusuk diri sendiri.

---

*Zahra nggak bermaksud ngeracunin pikiran Mas. Tapi... tapi Zahra juga nggak bisa bohong. Zahra nggak bisa nikah sama orang yang beda agama. Itu... itu aturan Islam. Dan Zahra... Zahra nggak bisa ninggalin Islam. Nggak bisa.*

*Sementara Mas... Mas masih ragu kan? Masih bingung kan? Masih... masih cinta sama Yesus kan?*

*Dan Zahra nggak mau Mas masuk Islam cuma gara gara Zahra. Nggak mau Mas... Mas jadi munafik. Pura pura muslim di luar tapi hati masih di Yesus. Itu... itu nggak adil buat Allah. Nggak adil buat Mas. Dan nggak adil buat Zahra juga.*

*Jadi Mas... Zahra mau lepas Mas. Biar Mas bisa... bisa cari jalan sendiri. Biar Mas bisa mikir dengan kepala jernih tanpa ada Zahra yang ganggu. Biar Mas bisa... bisa balik ke kehidupan Mas yang dulu. Kehidupan yang tenang. Yang... yang bahagia.*

Zahra nangis makin keras. Napas sesak. Tangan gemetar sampe tulisannya jadi kacau.

"Zahra nggak mau... nggak mau lepas Mas... tapi... tapi ini yang terbaik... ini... ini demi Mas..."

Dia paksa diri lanjutin meskipun penglihatan udah kabur karena air mata.

---

*Mas jangan cari Zahra lagi ya. Jangan... jangan dateng ke kontrakan. Jangan telepon. Jangan... jangan apapun. Biar Zahra bisa... bisa move on. Biar Zahra bisa lupa.*

*Meskipun Zahra tau... tau Zahra nggak bakal pernah bisa lupa Mas. Nggak bakal pernah.*

*Mas adalah cinta pertama Zahra. Cinta terakhir Zahra. Cinta... cinta satu satunya.*

*Tapi kadang... kadang cinta nggak cukup kan Mas?*

*Kadang kita harus... harus rela lepas orang yang kita sayang. Demi kebaikan mereka. Demi... demi kebaikan kita semua.*

Zahra berhenti nulis. Taruh pulpen. Tutup muka pake kedua tangan.

Dan nangis. Nangis keras. Isakan yang nggak bisa ditahan lagi.

"HIKS... MAS... ZAHRA... ZAHRA NGGAK KUAT... ZAHRA... HIKS... KENAPA HARUS KAYAK GINI... KENAPA..."

Bapak ketuk pintu pelan. "Zahra? Kamu kenapa nak?"

"NGGAK APA APA PAK... ZAHRA... ZAHRA BAIK BAIK AJA... HIKS..."

"Zahra... Bapak masuk ya..."

"JANGAN PAK... ZAHRA... ZAHRA LAGI PENGEN SENDIRI... PLEASE..."

Hening sebentar.

"...baiklah. Tapi kalau butuh Bapak... langsung panggil ya."

"I-iya Pak... hiks... makasih..."

Suara langkah kaki Bapak menjauh.

Zahra ambil pulpen lagi. Tangan gemetar. Air mata masih ngalir tapi dia paksa diri ngelanjutin surat ini. Harus selesein. Harus.

---

*Cincin yang Mas kasih... cincin janji itu... Zahra kembaliin ya Mas. Bukan karena Zahra nggak suka. Bukan karena Zahra nggak hargai. Tapi... tapi Zahra nggak bisa simpen cincin itu. Karena tiap kali Zahra liat... Zahra inget janji kita. Janji yang... yang nggak bakal bisa terwujud.*

*Dan itu... itu sakit Mas. Sakit banget.*

*Jadi maafin Zahra ya. Maafin Zahra yang nggak bisa pegang janji itu. Maafin Zahra yang... yang lemah.*

Zahra buka laci kecil di samping kasur. Ambil cincin perak bertuliskan "Janji Kita". Cincin yang udah dia pake selama berbulan bulan. Cincin yang udah jadi bagian dari dirinya.

Dia cium cincin itu. Lama. Sayang.

"Maaf Mas... maaf Zahra harus kembaliin ini... maaf..."

Terus dia taruh cincin itu di atas kertas surat. Di samping tulisan.

---

*Mas... Zahra doain Mas selalu. Doain Mas sehat. Doain Mas sukses. Doain Mas... Mas nemuin cewek yang lebih baik dari Zahra. Cewek yang sederajat. Yang bisa bikin Mama Papa Mas seneng. Yang bisa... yang bisa bikin Mas bahagia.*

*Dan Zahra berharap... berharap suatu hari nanti... Mas bisa maafin Zahra. Maafin Zahra yang... yang egois. Yang cuma mikirin perasaan Zahra sendiri. Yang... yang ninggalin Mas kayak gini.*

*Maaf ya Mas.*

*Maaf...*

*Zahra sayang Mas. Selamanya.*

*Zahra Amanda Putri*

---

Zahra taruh pulpen. Surat selesai.

Tapi kenapa... kenapa rasanya kayak ada yang sobek di dada?

Kenapa rasanya kayak... kayam Zahra baru aja nulis surat kematian diri sendiri?

"Ini... ini bener kan Ya Allah? Ini... ini keputusan yang bener kan?"

Tapi nggak ada jawaban. Cuma... cuma sepi. Cuma suara isakan Zahra sendiri di kamar sempit yang pengap.

Zahra lipat surat itu. Pelan. Hati hati. Masukin ke amplop coklat murah yang dia beli bareng kertas tadi.

Cincin perak dia masukin juga. Ke dalam amplop.

Terus dia tulis di amplop:

**Untuk Mas Arkan Alexander Wijaya**

Amplop itu dia pegang lama. Peluk ke dada.

"Ini... ini terakhir kalinya Zahra... Zahra nulis nama Mas. Terakhir kalinya... Zahra bilang... bilang Mas milik Zahra..."

Nangis lagi. Peluk amplop itu erat erat.

"Maaf Mas... maaf... Zahra... Zahra nggak kuat... Zahra pengecut... maaf..."

---

Dua hari kemudian.

Zahra berdiri di depan kantor megah Wijaya Group. Gedung tinggi yang dulu pernah dia datengin. Gedung yang bikin dia ngerasa kayak semut di tengah hutan beton.

Di tangan ada amplop coklat. Amplop yang udah dia pegang berhari hari. Amplop yang... yang bakal ngakhirin segalanya.

"Zahra... kamu yakin?"

Dia nggak yakin. Nggak yakin sama sekali. Tapi... tapi dia harus lakuin ini.

Harus.

Zahra masuk lobby. Satpam liat dia curiga—cewek berhijab lusuh bawa amplop coklat. Pasti disangka tukang pos atau apa.

Tapi Zahra nggak peduli. Dia langsung ke resepsionis.

"Permisi... apa... apa Kak Alisha ada?"

Resepsionis—cewek muda pake blazer rapi—liat Zahra dari atas sampe bawah. Tatapan... tatapan yang bikin Zahra mau ngumpet.

"Maksud Anda Dr. Alisha Wijaya?"

"I-iya. Dokter Alisha. Kakak nya Mas... maksud saya Pak Arkan."

"Ada janji?"

"Nggak. Tapi... tapi tolong sampaikan ini penting. Zahra... maksud saya saya... saya temen Pak Arkan. Nama saya Zahra Amanda."

Resepsionis angkat alis. Terus... terus senyum. Senyum yang nggak tulus.

"Oh. Jadi Anda... Anda Zahra yang itu."

Zahra diem. Deg.

"Tunggu sebentar."

Resepsionis angkat telepon. Ngomong sesuatu. Pelan. Zahra nggak denger jelas.

Lima menit kemudian, Alisha turun dari lift. Pake jas dokter putih. Kacamata. Rambut diikat tinggi. Kelihatan... kelihatan profesional. Anggun. Beda banget sama Zahra yang... yang kayak pengamen.

"Zahra?" Alisha jalan mendekat. Wajahnya... khawatir. "Kamu kenapa? Kamu... kamu kenapa kesini? Arkan... Arkan nyari kamu kemana mana tau nggak? Dia—"

"Kak... Zahra... Zahra mau titip sesuatu." Zahra keluarin amplop coklat. Tangan gemetar. "Tolong... tolong kasih ini ke Mas Arkan. Tapi... tapi jangan sekarang. Kasih... kasih besok. Atau... atau lusa. Pokoknya jangan hari ini. Biar... biar Zahra ada waktu... waktu buat..."

Alisha natap amplop itu. Terus natap Zahra. Matanya... matanya sedih.

"Zahra... ini... ini surat perpisahan kan?"

Zahra nggak jawab. Air mata udah keluar duluan.

"Zahra dengar Kakak..." Alisha pegang pundak Zahra. Lembut. "Kamu... kamu nggak perlu lakuin ini. Arkan... Arkan cinta kamu. Dia beneran serius. Dia—"

"Zahra tau Kak. Zahra tau Mas Arkan serius. Tapi... tapi Zahra juga serius. Serius buat... buat lepas dia. Demi kebaikan dia."

"Kebaikan dia atau kebaikan kamu?" Alisha nanya pelan. "Zahra... kadang kita pikir kita ninggalin orang demi kebaikan mereka. Padahal... padahal kita cuma takut. Takut nggak cukup. Takut... takut nggak layak. Dan kita lari. Sebelum mereka yang ninggalin kita."

Zahra terdiam. Kena.

"Apa... apa kakak bilang Zahra lari karena takut ditinggalin?"

"Iya." Alisha jujur. "Aku bilang kamu takut. Takut suatu hari Arkan sadar kamu beda kelas. Takut dia nyesel. Takut... takut dia pergi. Jadi kamu pergi duluan. Supaya... supaya nggak terlalu sakit."

Zahra nangis. "Emang... emang salah ya Kak kalau Zahra takut? Emang... emang salah kalau Zahra nggak mau... nggak mau ngerasain ditinggalin setelah Zahra ngasih segalanya?"

"Nggak salah. Tapi... tapi kamu nggak kasih Arkan kesempatan buat buktiin dia nggak bakal ninggalin kamu. Kamu... kamu udah putuskan sendiri. Dan itu... itu nggak adil Zahra. Nggak adil buat dia. Dan nggak adil buat kamu juga."

Hening.

Zahra pegang amplop itu makin erat. "Kakak... tolong kasih ini ke Mas Arkan. Please. Ini... ini keputusan Zahra. Dan Zahra... Zahra udah yakin. Meskipun sakit. Meskipun... meskipun pengen mati aja rasanya."

Alisha diem lama. Natap Zahra. Terus... terus ambil amplop itu.

"...oke. Aku bakal kasih. Tapi Zahra... aku harap kamu nggak nyesel."

"Zahra udah nyesel dari sekarang Kak. Tapi... tapi Zahra tetep harus lakuin."

Alisha peluk Zahra. Tiba tiba. Erat.

"Kamu cewek yang kuat Zahra. Terlalu kuat sampe... sampe kadang kamu lupa kalau kamu boleh lemah. Boleh... boleh minta tolong. Boleh... boleh nggak sendirian."

Zahra nangis di pelukan Alisha. "Zahra... Zahra nggak tau harus gimana lagi Kak... Zahra capek... capek banget..."

"Aku tau. Aku tau..."

Mereka pelukan lama. Di tengah lobby kantor yang rame. Di tengah orang orang yang lalu lalang.

Tapi Zahra nggak peduli. Karena ini... ini mungkin terakhir kalinya dia... dia ngerasain kehangatan keluarga Arkan.

Terakhir kalinya.

Setelah beberapa menit, Zahra lepas pelukan. Ngelap air mata.

"Makasih ya Kak. Makasih... makasih udah baik sama Zahra. Makasih udah... udah nggak judge Zahra kayak yang lain."

"Zahra... kamu temen adek aku. Kamu... kamu juga penting buat aku. Jadi... jadi jangan bilang makasih kayak kita nggak bakal ketemu lagi."

Tapi Zahra tau. Mereka nggak bakal ketemu lagi. Setelah Arkan baca surat itu... setelah Arkan tau Zahra pergi... segalanya... segalanya bakal berakhir.

"Permisi Kak. Zahra... Zahra harus pulang. Bapak... Bapak nunggu di rumah."

"Oke. Hati hati ya. Dan... dan Zahra... kalau kamu berubah pikiran... kalau kamu... kalau kamu mau balik... telepon aku. Kapanpun. Aku... aku bakal bantuin."

Zahra senyum. Senyum sedih. "Makasih Kak. Tapi... tapi Zahra nggak bakal berubah pikiran."

Dia berbalik. Jalan ke pintu keluar. Langkah berat. Kayak kaki diikat beban berton ton.

"Zahra!"

Zahra berhenti. Nggak noleh.

"Arkan... Arkan bakal sakit banget baca surat ini. Dia... dia bakal nggak terima. Dia bakal... bakal nyari kamu. Dan aku... aku nggak janji bisa nahan dia."

"Zahra tau Kak. Tapi... tapi tolong. Tolong bilang ke Mas... bilang Zahra minta maaf. Bilang... bilang Zahra sayang dia. Selamanya."

Dan Zahra jalan lagi. Keluar dari gedung itu. Keluar dari... dari hidup Arkan.

Selamanya.

---

Di lift, Alisha buka amplop coklat itu. Liat surat yang dilipat rapi. Liat cincin perak yang jatuh ke telapak tangannya.

Cincin bertuliskan "Janji Kita".

"Zahra... kamu... kamu beneran serius..."

Dia baca surat itu. Baca sampe habis. Dan... dan matanya berkaca kaca.

"Aduh Zahra... kamu... kamu terlalu kuat sampe menyakiti diri sendiri... kamu... kamu terlalu sayang Arkan sampe rela ninggalin dia..."

Alisha lipat surat itu lagi. Masukin ke amplop. Pegang erat.

"Arkan... maafin Kakak ya. Tapi... tapi Kakak harus kasih ini ke kamu. Meskipun Kakak tau... tau ini bakal ngehancurin kamu."

Lift terbuka di lantai sepuluh. Alisha keluar. Jalan ke ruangan Arkan.

Tapi dia nggak langsung masuk. Dia... dia berdiri di depan pintu. Lama.

"Besok. Aku kasih besok. Biar... biar dia punya waktu satu hari lagi... satu hari lagi sebelum dunianya... dunianya hancur..."

Alisha masuk ke ruangannya sendiri. Taruh amplop itu di laci meja. Kunci.

Dan dia... dia nangis.

Nangis buat Zahra yang terlalu kuat.

Nangis buat Arkan yang bakal kehilangan segalanya.

Nangis buat... buat cinta yang indah tapi nggak bisa bersatu.

"Kenapa... kenapa cinta harus sesakit ini..."

---

**BERSAMBUNG KE BAB 31...**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!