Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siang yang Berbeda
Naya berjalan berdampingan dengan Nadira di lorong kantor menuju meja kerja. Suara sepatu yang beradu pelan dengan lantai, menciptakan irama kecil di antara obrolan ringan tentang pekerjaan dan jadwal yang menumpuk.
"Eh, Nay..... Semalam aku makan malam di rumah....." ucap Nadira tiba-tiba, lalu langsung menutup mulutnya sendiri seolah menyesali kata-katanya.
Mereka berhenti. Naya menoleh sekilas saat Nadira terdiam di tengah kalimatnya, "dimana?"
Nadira berkedip cepat, seperti baru tersadar telah keceplosan. "Ma-maksudku di rumah teman mama, iya... di rumah teman mamaku." jawabnya cepat.
Naya hanya mengangguk kecil, "ohhhh."
Tak ada nada penasaran. Tak ada pertanyaan lanjutan. Ia memang bukan tipe orang yang suka mengulik kehidupan pribadi orang lain, apalagi kalo lawan bicaranya jelas jelas ragu untuk bercerita.
"Ayok, Nay." Nadira menarik tangan Naya.
Suasana ruangan itu sudah mulai ramai oleh suara ketikan. Naya duduk pelan di kursinya. Ia meletakkan tas kecil itu di atas meja, tepat di samping laptopnya. Tangannya sempat diam di atas tas itu.
"Bagaimana caranya aku memberikan ini? Pada orang sepenting dia?" tanyanya pelan pada dirinya sendiri.
Jam makan siang tiba. Karyawan mulai beranjak dari meja masing-masing menuju pantry. Naya masih duduk di kursinya dan hanya memperhatikan gerakan-gerakan teman-temannya. Tangannya menggenggam tas kecil berisi bekal dari ibunya.
Nadira berdiri dan mendorong kursi kerjanya.
“Nay, ayok makan.” ajak Nadira.
Naya tersentak, “ehhh….aku mau ke toilet dulu, duluan aja, Dir.”
Nadira melirik tas di meja Naya. “Loh, kamu bawa bekal? Tumben.”
Naya refleks menutup tasnya sedikit, ”iya…lagi pengen aja. Biar lebih hemat juga kan?” jawabnya cepat.
Nadira menyipitkan mata, tanda sedikit tak percaya. ”Sejak kapan kamu hemat?”
Naya tersenyum kaku.”Lagi pengen suasana beda aja, bosan makan di pantry juga.”
Jawaban Naya jelas tidak menjawab pertanyaan Nadira.
Nadira mengangkat bahu, “nggak jelas, Nay.” Jawabnya tersenyum jengkel. “Ya udah deh, aku duluan ya.” Lanjutnya.
Naya mengamati langkah Nadira sampai jelas tidak terlihat lagi. Naya menghela napas panjang.
Ia menatap tas bekal itu lagi.
"Harusnya tadi pagi aku nggak bawa aja ini bekal."
Dia mengingat kembali perkataan Ibunya tadi pagi. Naya memang mengangguk waktu itu, tapi sekarang langkahnya terasa berat.
“Masalahnya aku akan beri bekal ini ke CEO perusahaan ini? Kepada pria yang jarang tersenyum itu?” gumamnya sendiri.
Naya menatap tas kecil itu lagi. "Memberikan langsung?" gumamnya pelan. Ia langsung menggeleng sendiri. "Tapi terlalu berani."
Naya membayangkan berdiri di depan pintu ruangan itu, mengetuknya lalu menyerahkan bekal begitu saja. Wajahnya pasti memerah tanpa bisa disembunyikan.
"nggak... nggak...." Naya memegang pipinya dengan kedua tangannya.
"Menitipkan ke asisten?" lanjutnya lagi dalam hati, "Terlalu mencolok. Bisa-bisa jadi bahan gosip di kantor ini."
Naya menghela napas pelan.
"Atau.... pura-pura ada urusan pekerjaan? Minta tanda tangan? Lalu aku kasih aja sekalian."
Ia terdiam sesaat, lalu mengangkat alisnya sendiri. "Lebih masuk akal sih, aman juga" Jawabnya pelan.
Tangannya mulai membuka map di mejanya, membolak-balikan beberapa dokumen, mencari alasan yang terdengar profesional.
"Tapi yang mana, ya..."
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, padahal belum melakukan apa-apa.
Gerakannya berhenti, "Ihhh.... Konfirmasi laporan apa?"
Naya mendesah pelan, spontan menggaruk kepalanya sendiri. "Kerjaanku aja belum ada yang perlu langsung berurusan sama dia."
Ia bersandar di kursinya, memutar badan sedikit ke kanan dan kiri. Ide yang tadi terdengar masuk akal sekarang terasa konyol.
"Ribet...." katanya sedikit lebih keras.
_
Di ruang kerjanya, CEO itu menutup map laporan di tangannya. Ia melirik jam di pergelangan tangan.
Sepi.
Biasanya di jam seperti itu, lantai sudah kosong.
CEO itu turun dari lantai ruangannya. Jasnya masih rapi, tapi langkahnya tidak seformal saat jam kerja penuh. Ia berniat menuju pantry untuk mengambil kopi seperti biasanya.
Langkahnya terhenti.
Di antara deretan meja yang kosong, satu orang masih duduk di kursinya. Naya duduk bersandar, seperti orang yang sangat lelah. Kedua tangannya menggenggam tas kecil di pangkuannya.
Adrian memperhatikannya sebentar, tersenyum. Ia melangkah mendekati Naya.
“Ini jam kerja?”
Suaranya berat membuat Naya terlonjak kaget.
Dia buru-buru berdiri.
“Sa-saya….Pak” jawab Naya gugup.
Adrian menatap sekeliling.”Jam istirahat kan?”
Naya menunduk, “Iya, Pak.” Suaranya masih terdengar gemetar.
“Lalu kamu?”
Naya menelan ludah. Jantungnya berdegup tak karuan. Dia tak menyangka justru CEO itu yang keluar.
Tas bekal itu masih tetap di tangannya.
Tatapan Adrian turun ke tas kecil yang dipegang oleh Naya. “Itu apa?”
Naya terdiam, bingung mau menjawab apa. Ia menggenggam tasnya lebih erat. Pipinya memerah.
Keheningan melingkupi ruangan itu sementara.
“Maaf, saya bertanya lebih.” Adrian melangkah melanjutkan ke arah pantry.
Naya spontan memanggil, ”Pak?”
CEO itu berhenti, menoleh kepada Naya. Memastikan itu benar-benar suara Naya yang memanggilnya.
Naya mendekat, “I-Ini....Ini bekal dari ibu saya untuk Bapak, ibu yang bapak tolong saat di dekat pasar kemaren, itu adalah ibu saya.” Jelas Naya sambil menunduk memejamkan matanya.
Ekspresi dingin di wajah CEO itu berubah. Dia tersenyum. Tapi hanya sebentar dan kembali lagi. Ingin terlihat berwibawa di depan Naya.
“Ibumu?” tanya Adrian berpura-pura kaget.
Naya mengangguk pelan. “Ini katanya sebagai ucapan terima kasih karna sudah menolong ibu saya, Pak.” Menyodorkan tas kecil itu tanpa berani menatap Adrian.
Adrian segera mengambil bekal itu. “Sampaikan kepada Ibu, terima kasih ya.”
Naya mengangkat wajahnya, menatap wajah CEO itu. Menelan air liurnya.
Lalu tanpa berkata banyak lagi, Adrian berbalik dan melangkah ke ruangannya. Dia lupa akan tujuan awalnya, untuk mengambil kopi di pantry.
Naya hanya bisa berdiri terpaku, jantungnya masih berdebar kencang.
Naya kembali duduk di kursinya. Tangannya terlipat di atas meja, tapi pikirannya dipenuhi wajah CEO saat menerima bekal itu.
Cara bicaranya singkat. Sikapnya sulit ditebak.
Naya menghela napas, ”Aduh....mati aku…”
Naya menunduk pelan. Dahinya menyentuh permukaan meja.
Di dalam ruangan CEO itu, Ia meletakkan tas bekal itu di atas meja kerjanya yang biasa dipenuhi berkas penting.
Ia membukanya pelan. Aroma ayam goreng dan sambal langsung menyeruak. Sederhana. Tidak mewah. Tidak seperti hidangan yang biasa ia nikmati.
Sudut bibirnya terangkat tipis. Dia bersandar di kursinya. Senyumnya tak biasa jelas tergambar di wajahnya. Ada rasa bahagia kecil yang tak bisa ia jelaskan. Bukan karna makanan itu istimewa.
“Semoga ini awal yang baik,” katanya pelan.
Ia merasa dekat dengan gadis yang selama ini hanya bisa diperhatikan dari kejauhan.
“Naya.....” ucapnya sambil tersenyum.
Asistennya mengetuk pintu dua kali sebelum masuk.
"Permisi, Pak. Untuk makan siang hari ini, mau saya pesan seperti biasa?"
Adrian tak langsung menoleh, ia duduk di kursinya. Sikunya bertumpu di meja, jemarinya saling bertaut di depan bibirnya.
Bukan menghadap layar laptop. Bukan membaca laporan. Melainkan menatap isi bekal yang sudah terbuka di hadapannya.
Asisten itu kembali bertanya pelan, "Pak?"
Suara itu membuatnya sedikit tersadar.
Ia tak langsung menutup kotak makan itu. Tidak juga menggesernya. Hanya mengangkat wajahnya.
"Iya? " tanyanya memastikan.
Asisten itu menanyakan pertanyaannya kembali.
"Tidak perlu," jawabnya tenang.
Assisten itu terdiam sebentar, "Baik, Pak. Apakah Bapak ingin saya siapkan sesuatu dari pantry?"
Ia mengalihkan pandangannya dari bekal itu, menatap asistennya dengan ekspresi datar.
"Tidak perlu, saya sudah ada bekal." Nadanya terdengar profesional, tanpa emosi.