Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam
Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.
Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.
Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hancur Menjadi Kabur
Hari kedelapan.
05.30 pagi.
Apartemen Ibu dian masih diselimuti kabut tipis khas subuh. Jam di ponselnya menunjukkan pukul 05.30 masih gelap, tapi langit di ufuk timur mulai abu-abu. Ia mencari apartemen anggrek unit 13 ~ 12B.
"Gampang kok, kata Roby, "tinggal masuk gerbang utama, lurus terus, paling ujung,"
" Rumah nya?"
" Bukan, kuburan."
Dewa melempar nya pakai sendal buluk
Tapi memang benar, Dewa seperti muter-muter di tempat yang sama. Gedung-gedung di kompleks menjulang tinggi dengan denah persegi sempurna, seperti tower biasa. Tapi semakin ke dalam, bangunannya semakin... tak biasa.
Ia memasuki area yang lebih sepi. Lampu-lampu taman mulai redup, beberapa mati total. Di depannya, sebuah apartemen berdiri. Bukan gedung megah, tapi bangunan tua dengan bentu slab panjang
Angin subuh bertiup, lebih dingin dari sebelumnya. Daun-daun kering berputar di kakinya Ia menatap bangunan itu lagi, dan baru sekarang menyadari sesuatu yang membuat jantungnya hampir berhenti, " Ibu dian mungkin penyihir cantik tinggal di kastil setan."
Dewa sudah berdiri di depan Apartemen Anggrek seperti kurir paket salah alamat. Ia tidak hentinya hentinya memastikan bahwa ini rumah ibu Dian Wulandari, MSi, dosen statistik.
Motor butut menyala pelan, knalpotnya batuk-batuk ikutan bengek. Udara dingin bercampur kabut asap knalpot terlihat lebih tebal dari napasnya sendiri.
Tangan kirinya gemetar di setang, tangan kanan memegang helm cadangan erat-erat, sampai buku-buku jarinya memutih.
Helm itu terasa lembab di telapak tangannya. Atau mungkin yang berkeringat adalah harapannya.
“Jam enam, antar Ibu dian, mesti profesional. Jangan aneh, mikir cincin, jangan mikir cincin. Nanti berubah menjadi cincin Lords Of The Rings
Sayangnya, otaknya hanya memikirkan satu hal: kilau perak di jari manis itu.
Nilai 60. 58. 62.
Ayahnya yang tak pernah puas.
Sasha yang memilih diam.
Harga diri yang dia jaga mati-matian di kontrakan sempit.
Oke. Fokus.
Fokus, Dewa. Tuhan bersamamu
\=\=\=
Jam 6 tepat, pintu kaca apartemen terbuka. Akhirnya yang ditunggu-tunggu keluar dari dalam apartemen memakai Blazer hitam membalut tubuh sempurna. Rambutnya di kuncir rapi, tak sehelai pun lepas. Tatapannya dingin, seperti danau di pagi hari—tenang di permukaan, tapi siapa yang tahu di dalamannya?
Tangan kirinya masuk saku seperti biasa, perisai dari ancaman mata horor.
" Bu..?"
Ia berhenti menatap motor butut, seolah motor itu pernah dibawa oleh Nicolas Cage " Ghost Rider." tapi ini tidak, hanya Dewa mahasiswa telmi menurut teman dosennya, polos, apa adanya.
" Ya...kita naik ini?"
“Transportasi premium, Bu.” Suaranya berusaha terdengar ringan. “Edisi angin langsung. AC sepuasnya, pemandangan kota gratis.”
Dian menatapnya tidak tersenyum. Tapi ada sesuatu di sudut matanya—kerutan halus yang bisa jadi adalah awal dari tawa yang ditahan.
“Mohon maaf Bu, mobil saya masih indent sejak zaman Belanda." katanya bercanda. Warna kelabu awan, tidak pernah di produksi lagi."'
Perempuan itu nyengir, matanya berbinar, " Saya hanya meminta jaminan, gerobak ini sampai ke kampus."
“Tidak ada, yang bisa menjamin Bu, yang ada hanya doa.” Ia menepuk dada kirinya. “Supirnya alhamdulillah sudah di screening di KUA supaya tidak macem macem.'
Dian tersenyum dikulum
Hening dua detik.
Dua detik yang terasa cukup baginya untuk memutuskan bahwa hari ini, untuk pertama kalinya dia naik kereta sinterklas
“Baiklah.”
\=\=\=
Perempuan itu naik ke boncengan seperti tahanan di ikat lalu diceburkan kedalam sumur, tubuhnya tegak lurus penggaris besi, jarak aman lima sentimeter—cukup untuk sebuah kehormatan, untuk sebuah penolakan. Tangannya memegang tas di pangkuan satu-satunya benda yang menjamin seandai ia di begal.
Tapi siapa yang mau membegal ?
“Pelan.”
“Motor saya tidak punya pilihan lain, Bu, giginya cuma tiga, ompong ditengah."
Kalau lah tidak mengingat menimbang, laki laki ini sudah ia masukan kedalam karung, gak ada sopannya
Tapi Dewa bisa melihat di kaca spion, bibirnya bergerak—membentuk setengah senyum yang langsung dia telan kembali.
Perjalanan 20 menit terasa seperti 20 episode drama. Setiap adegan terasa intim, meski tak ada dialog. Setiap belokan, Dian sedikit bergeser, dan setiap rem, jarak lima sentimeter itu menyusut jadi tiga.
Lalu kembali lima.
Lalu tiga lagi.
Di setiap lampu merah, Dewa bisa mencium parfum wangi bersih seperti buku baru belum dibuka, awal semester penuh harapan—dan trauma kisah kasih berlalu.
" Stop, jangan didepan pintu gerbang," katanya pelan menarik tali helm dari belakang.
" Eh ya Bu, ada apa ? " Dewa hampir terjengkang
" Gak apa apa,"
Dewa menoleh melihat sorot mata cemas, dan menutup cepat tangan kirinya pakai sarung tangan. Laki laki itu mengerti, gara gara cincin perak.
Tapi sebelum melangkah, ia berkata seperti berbisik, " Jangan lupa nanti malam pukul delapan antar saya ke perpustakaan."
Dewa hanya diam menatap punggungnya menghilang dari balik pagar pagar gerbang," Gue udah jadi sandera," ucapnya antara kesal dan rasa penasaran.
\=\=\=
Malamnya.
Perpustakaan Nasional.
Jam 8 malam.
“Penelitian,” kata Dian tadi, singkat perintah, " Bantu saya."
Tiga jam kemudian, penelitian itu masih berupa dua orang duduk saling diam dengan dua puluh buku yang bahkan belum disentuh. Tumpukan kertas hanya jadi alas siku. Lampu meja menyorot wajah mereka seperti saksi bisu.
Dewa hampir tertidur. Matanya berat. Kelopaknya jatuh perlahan, melawan.
Dian memperhatikannya diam-diam, dari balik halaman buku yang tidak pernah dia balik.
Lalu matanya beralih ke cincin di jari kirinya.
Kilau kecil di bawah lampu. Diam, tapi berisik.
Dia tahu? pikirnya.Dia pasti tahu. Cowok itu teliti melihat semua hal kecil.
Kalau tahu, kenapa diam? Kenapa tidak bertanya? Kenapa tidak… apa pun?
Kalau tidak tahu… kenapa dia bilang aku cocok di matanya?
Dian hampir berharap sesuatu yang tidak rasional. Sebuah skenario di mana Dewa tiba-tiba bertanya, dan dia bisa menjawab dengan jujur: Ini cerita lama luka yang belum sembuh..
Tapi ia tidak suka dirinya berharap hanya membuat batas antara aman dan hancur menjadi kabur.