Di pesta 1 tahun pernikahan, dia dikhianati oleh suami dan sahabatnya. Terlibat dalam kecelakaan mobil yang membuatnya meregang nyawa,
Namun tuhan memberi Reta kesempatan untuk menjalani kehidupan kedua.
Kali ini, dia berjanji akan mengambil kembali semua yang pernah menjadi miliknya. Berencana menghubungi satu-satunya keluarga,
"Mulai sekarang kamu adalah wanitaku." tegas Max menatap tajam gadis yang telah ia lucuti,
Secuil tragedi mengantar mereka ke hubungan yang salah.
Bisakah Reta membalas dendam sembari mengatur takdir yang membelenggu tubuh keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlilit hutang
"Tidak. Aku akan tetap di sini," ujar Ana datar, begitu enggan meladeni.
Dia tak ingin menjadi pusat perhatian, namun ternyata keputusan itu malah membuka masalah besar baginya.
Seluruh mata termenung melihat pria paling tampan dan berkuasa seperti Van mendapat penolakan.
"Tenanglah. Kamu tidak usah takut, Mia tidak akan mengganggumu." sanggah Van bersikukuh,
Merasa jika penolakan Ana didasari alasan lain.
"Tidak." imbuh Ana dengan serius,
"Kenapa?"
"Gapapa, aku ga sudi duduk di tempatnya."
Ana menunjuk datar ke arah Mia yang sudah kesetanan,
"..." pria itu terdiam seribu bahasa, rasa malu yang begitu menusuk hingga membuatnya merasa geram.
Rasa sesak membakar dada,
BRAK!!
Dengan keras Van mendepak bangkunya sendiri sebelum melangkah keluar dengan raut kesal,
"Van!" Mia memanggil cukup lantang,
"Mia! Kamu tetap disitu. Tidak ada keributan lagi, kita lanjutkan pelajaran." tegur Dosen menatap tajam,
Van Hanle, gaya berandalannya malah dikagumi para wanita. Memiliki rambut gelombang, tubuh tinggi, serta kulit kuning langsat,
Dan Ana baru saja menolak pria idaman di kampusnya.
"Siapa namamu?" gumam Ana menoleh.
Menyapa pria berpenampilan kuno, dengan kacamata tebal serta rambut yang sengaja diarahkan ke belakang, membuat tompel berukuran cukup besar di sudut keningnya terlihat.
"I-iya..." Alfio tampak canggung, belum berani menatap Ana.
"Aku Ana. Salam kenal,"
Nada lemah lembut yang gadis itu ucapkan, membuat Alfio menoleh, terpesona senyuman indah yang terukir di wajah Ana.
"Hm...salam kenal." angguk Al,
Alfio Forrest merupakan murid terpintar seangkatan,
Sikap pendiam, kutu buku, mebuatnya sulit berinteraksi dengan yang lain. Selama kuliah dia selalu menyendiri tanpa teman,
Siapa sangka pria tenang itu malah berani bertindak ceroboh.
Suatu hari, dia melaporkan Van yang tengah menyontek saat ujian. Kebetulan dosen tersebut memang terkenal galak, jadi dia tak segan menghukum meski Van adalah anak rektor,
Lalu masalah itu berkembang membuat Al menjadi bahan bullyan. Semua dosen tahu tapi tak ada yang bertindak,
Al juga diam saja menahan semua hinaan dan perlakuan mereka.
"Hh! Kayaknya bakal sulit dapat teman di kelas ini," pikir Ana perlahan menoleh ke sekeliling
"Tapi setidaknya. Aku ada teman sebangku, kayaknya dia juga kesepian."
"Apa aku mintain nomor telepon?"
Waktu berlalu sampai kelas berakhir,
Dengan serentak semua orang berlomba mengemasi tas masing-masing meski dosen yang mengajar belum selesai mengemasi barangnya.
"Al---apa aku boleh minta nomor hpmu?!" Ana berbisik,
"Ha? T-tentu," Al tersipu malu, segera meraih ponsel yang disodorkan.
"I-ini,"
"Terima kasih," ungkap Ana tersenyum singkat, menambah barisan nomor ke dalam kontak.
"Ng---Ana. Kalau ga ada hal lain lagi, aku pulang duluan ya?" pamitnya merendahkan suara, mulai beranjak pergi.
"Tunggu!" tegas Ana berhasil menghentikan langkah,
Sigap pria tadi menoleh, menatap sosok yang masih duduk dengan buku yang masih berserakan di atas meja.
"Apa kamu mau menemaniku, mencari buku di perpustakaan?"
"B-baiklah," angguk Al,
Dia menunduk, sadar akan rautnya yang berubah semerah tomat.
Sepulang sekolah...
Selang beberapa menit, kendaraan hitam yang membawa Ana berhenti di halaman rumah.
Langkah demi langkah mengantarkan Ana ke dalam. Menatap ruang luas yang terasa hening,
Mungkin wajar karena hanya ada 6 penghuni di dalam. 4 anggota keluarga serta 2 pelayan yang tak selalu berlalu lalang,
"Kayaknya, kakak sama papa lagi di kantor." gumam Ana mulai berjalan ke arah tangga,
"Papa! 2 milyar itu, uang yang sangat banyak!"
DAP.
Seketika langkah Ana terhenti, tak sengaja mendengar percakapan mengejutkan saat melewati kamar yang belum tertutup rapat.
Pasangan suami istri tadi belum menyadari jika perbincangan mereka berhasil lolos melalui sela pintu.
"Apa yang mereka bicarakan?" benaknya mengerutkan alis,
Mulai melangkah mundur demi mendekati kamar yang berada di lantai bawah. Sesekali mengintip ke dalam,
Terlihat suami istri tengah berdiri berhadapan dengan raut risau.
"Kita tidak punya uang sebanyak itu,"
"D-dan dari mana kita mendapatkannya dalam waktu 1 minggu!" seru Citra, menatap pria yang berdiri dengan raut menyesal.
"Kenapa jadi seperti ini..."
"Apa maksudnya? Apa yang terjadi?" pikir Ana masih sigap menguping pembicaraan,
"Maaf, Ma. Sungguh...Papa tidak melakukan apa pun, tiba-tiba pimpinan bilang kalau uang investor tidak dalam jumlah yang tepat."
"Padahal Papa selalu mentransfer langsung semua uangnya, tanpa mengambil sepeserpun." sanggah Wira,
Percakapan yang didengarkan, sekilas membuat Ana paham perihal masalah yang tengah mereka hadapi.
"Papa akan coba tanya Leo,"
"Leo? Kamu mau menyusahkan putramu? Dia sedang mengurus proyek besar."
"Dan pasti banyak uang yang harus dikeluarkan. Tidak! Mama ga setuju, kalo Papa minta bantuan Leo."
"Apa ga ada cara lain?"
"Ada. Sebenarnya Kakak menawarkan bantuan..." gumam Wira tampak ragu melanjutkan,
"Tapi dengan syarat, kita harus menjodohkan Ana dengan Rangga."
"Apa! Perjodohan?" sontak Ana,
Tak ragu menyela pembicaraan, padahal niatnya hanya menguping namun perbincangan mereka membuat Ana terguncang.
Muka masam yang tersemat di wajah gadis itu begitu jelas, menatap penuh kecewa pada ayahnya.
"Sayang, kamu sudah pulang..." sapa Citra tersenyum menghampiri putrinya,
Merangkul lembut, berusaha mengajaknya pergi namun Ana menolak. "Apa maksud Papa?"
"Apa benar, kalian mau menjodohkanku buat dapetin uang?"
"Tentu saja, tidak." Citra menggeleng tak ingin menyakiti putrinya,
Sedangkan Wira hanya menunduk lemas, tak berani mengelak. Ana tidak marah, hanya terkejut saja karena nama yang mereka sebutkan tadi,
Rangga adalah sepupunya sendiri, dia dulu adalah pria hebat namun terlibat kecelakaan, membuatnya mengalami cedera tulang belakang sampai mengalami kelumpuhan.
Padahal dulu tidak ada yang peduli apalagi membantu biaya pengobatan Ana. Tapi setelah mendengar kabar kesembuhan Ana, mereka justru mencari cara untuk merekrutnya sebagai pelayan gratis dan merawat pewaris keluarga Pratama.
Pasti mereka sengaja, selain dapat pembantu mereka juga bisa mendapat keturunan, karena tak ada wanita lain yang sudi menikahi putranya.
"Kenapa Papa diam saja? Kalau memang tidak ada cara lain, aku akan menyetujui perjodohan ini..."
Wira menangis, berlari merangkul erat putrinya. "Ana, maafkan Papa..."
"Seharusnya Papa tidak menyerah. Tenang saja, Papa akan cari cara lain tanpa harus mengorbankanmu."