"Apakah kamu kira tempurung pantas merangkai permata? Mana mungkin anakku pantas bersanding dengan gadis miskin tak berpunya seperti dirimu!"
Runi ternhenyak menahan segala rasa akit di hatinya atas hinaan yang di lontarkan oleh nenek dari bayi yang di kandungnya.
"Mas, kamu akan bertanggung jawab 'kan?" tanya runi pada lelaki yang telah menodai dirinya. meskipun ia sangat mencintai lelaki itu, tetapi tak pernah ada niat sedikitpun untuk melakukan perbuatan dosa. semua yang terjadi karena paksaan oleh lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runi ngedrop
Yandra segera mengikuti Runi masuk ke dalam kamar mandi. Ia tak habis pikir kenapa wanita itu tampak acuh. Dirinya yang seorang dokter, sungguh ia sangat cemas.
Di kamar mandi Runi membersihkan diri. Ia mengabaikan rasa nyeri dan tak ingin stress memikirkannya. Karena hal itu sangat wajar terjadi bagi wanita yang mengidap kanker rahim stadium akhir.
"Runi, apakah perut kamu sakit?" Tanya Yandra masih khawatir.
Runi tersenyum. "Nggak, Mas. Aku baik-baik saja. Lagian nggak ada lagi keluar darahnya," jawabnya berusaha meyakinkan lelaki itu.
Yandra masih berdiri disana. Ia mengamati sang istri yang tengah m3mb4suh tub*hnya di bawah kucuran air shower.
"Kenapa Runi santai sekali? Apakah ada sesuatu yang di sembunyikan dariku?" Batin Yandra. Ia sangat tidak percaya, karena biasanya wanita yang baru pertama kali hamil, dia akan merasa sangat cemas dan khawatir jika ada pendarahan.
Yandra menghela nafas dalam. Ia segera ikut mandi bersama wanita itu.
Runi merasa perutnya semakin nyeri. Ia menyudahi mandi dan mengenakan handuk, lalu segera keluar dari kamar mandi terlebih dahulu.
Runi mencari obatnya yang ada di tasnya, dan segera meminumnya. Ia meremas sisi tempat tidur karena menahan rasa sakit yang tak terkira.
"Kuatkan aku ya Allah," gumamnya seorang diri.
Yandra baru saja keluar dari kamar mandi. Ia melihat Runi masih belum menggunakan p4kaian. Wajahnya terlihat sedang menahan rasa sakit.
"Runi, kamu kenapa?" Tanya Yandra seketika menghampiri wanita itu.
"Awwhh!" Pekik Runi tak kuasa menahan rasa sakit.
"Kenapa kamu ngeyel sekali. Ayo sekarang kita ke RS!" Yandra segera menuju lemari pakaian untuk mengambil pakaian ganti.
Setelah mengenakan p4kaiannya, Yandra segera menghampiri Runi dan membawa p4kaian ganti untuk Runi. Terlihat wanita itu tak mampu untuk melakukan apapun. Obat anti nyeri yang ia minum tak mampu mengobati.
"Ayo pakai dulu p4kaian kamu," ucap Yandra seraya membuka b4lutan handuk yang masih di kenakan oleh Runi.
Karena rasa sakit yang di rasakan, maka Runi tidak menolak. Ia membiarkan Yandra melakukannya.
"Mas, sakit banget," lirih Runi mencengkram lengan Yandra karena menahan rasa sakit di perutnya.
"Ayo kita ke RS."
"Nggak Mas, aku nggak mau ke RS. Nanti rasa sakitnya pasti akan hilang," tolak Runi. Ia takut Yandra akan mengetahui penyakitnya.
Yandra tak lagi menanggapi ucapan Runi. Ia seketika membopong tubuh wanita itu.
"Aku tidak akan mendengarkan kata-katamu, ayo sekarang kita ke RS."
"Mas, aku tidak mau! Turunkan aku, Mas!" Runi memberontak.
"Diam, Runi!" intrupsi Yandra membuat Runi seketika terdiam.
"Loh, Runi kenapa, Yan?" Tanya papa saat berpapasan.
"Runi pendarahan, Pa."
"Apa?" Lelaki baya itu terkejut. Berbeda dengan nyonya Emeli hanya berwajah santai.
"Aku akan membawa Runi ke RS dulu, Ma. nanti akan aku kasih kabar," ucap Yandra segera berlalu.
Di perjalanan Runi masih menikmati rasa sakitnya. Yandra menambah kecepatan kendaraannya agar segera sampai di RS.
"Apa sebenarnya yang kamu sembunyikan dariku, Runi?" Tanya Yandra membuat Runi terkesiap.
"Ng-nggak, aku nggak menyembunyikan apapun," jawab Runi jelas berbohong.
Yandra hanya diam saja. Ia menghubungi dokter Vano agar segera ke RS untuk memeriksa kondisi Runi.
Hanya beberapa menit, akhirnya mobil yang di kendarai oleh Yandra sudah sampai di RS. Lagi-lagi Yandra tak bicara apapun. Ia membopong tubuh Runi untuk membawanya ke ruang IGD.
Setelah menjelaskan keluhan Runi. Dokter umum segera menyuntikkan obat penghilang nyeri melalui tabung infus.
"Kita tunggu dokter Vano ya, Bu. Nanti untuk pemeriksaan selanjutnya akan di lakukan oleh dokter Vano," ujar dokter tersebut.
Runi hanya mengangguk. Berangsur rasa sakit itu hilang setelah mendapatkan suntikan obat. Tak berselang lama dokter Vano sudah datang. Ia meminta perawat untuk memindahkan Runi ke ruang prakteknya.
"Apa yang terjadi, Yan? kenapa Runi pendarahan?" tanya Vano pada Yandra.
"Aku tidak tahu, Bang. Tadi setelah kami selesai..." Yandra tak meneruskan ucapannya.
"Berhubungan b4dan?" Tebak Vano yang di jawab dengan anggukan oleh Yandra.
Dokter Vano hanya menghela nafas dalam. Hal inilah yang sulit untuk ia jelaskan. Ia menatap Runi dengan wajah penuh pertimbangan. Namun, Runi menggelengkan kepalanya agar Vano tak bicara apapun.
"Baiklah, mari kita periksa," ujar Vano terpaksa mengikuti kemauan Runi.
Vano segera melakukan USG untuk melihat kondisi bayi. Bersyukur bayi itu baik-baik saja. Namun, sel kanker semakin menyebar luas. Ia benar-benar di lema. Ini tidak bisa di biarkan begitu saja. Runi memang harus melakukan tindakan untuk operasi pengangkatan rahim. Ya meskipun tingkat kesembuhan sangat tipis, tetapi sebagai seorang dokter ia harus berusaha terlebih dahulu.
"Bagaimana dengan bayi aku, Bang?" tanya Runi tak sabaran.
"Alhamdulillah bayi kamu baik-baik saja," jawab Vano jujur. Ia juga baru kali ini menangani pasien seperti Runi. Biasanya pasien yang menderita kanker rahim stadium akhir, maka bayi tidak bisa bertahan lama. Dia akan gugur sendiri. Tetapi bayi Runi baik-baik saja dan perkembangannya cukup bagus. Apakah karena Runi memang menginginkan bayinya tetap hidup?
"Alhamdulillah ya Allah...." Runi mengucapkan rasa syukur.
"Apa yang membuat Runi mengalami pendarahan, Bang?" tanya Yandra penasaran. Meskipun ia juga seorang dokter, tetapi beda spesialis, maka ia tidak paham mengenai reproduksi wanita.
Bersambung....