Setelah tiga tahun berpisah, Rocky kembali menggemparkan hati Ariana dengan membawa calon tunangannya.
Siapa sangka CEO tempat Ariana bekerja adalah sang mantan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit Hati Ariana
*****
Ariana, yang tak kuasa menahan kekecewaan, kembali mengambil gelas berisi alkohol dari meja terdekat.
Dengan gerakan tegas, dia meneguk habis isinya, mencoba meredakan api kemarahan yang semakin membara di dalam dadanya. Setiap tegukan seolah menambah berat beban di hatinya, sementara Rocky hanya bisa meliriknya dengan tatapan penuh penyesalan, berharap bisa mengubah keadaan yang sudah terlanjur rumit ini.
" Sudah, Ariana. Kamu bisa mabuk kalau kebanyakan minum." Cegah Marvin memegangi tangan Ariana.
" Tidak apa - apa, pak. Saya tidak akan mabuk hanya dengan minum minuman ini. Saya lelah sekali, pak. Jadi biar kan tenang sebentar saja ya, pak." Racau Ariana dengan wajah memerah.
" Tapi kamu sudah mabuk, Ariana."
" Sedikit lagi saja, pak. Setelah ini saya akan berhenti. Acara ini membuat saya muak." Celoteh Ariana lagi.
" Ariana cukup."
" Bapak kenapa sih, Pak? Bapak kalau mau minum, minum saja. Jangan larang - larang saya untuk minum." Ucap Ariana menaikkan nada suara nya.
Ariana, yang sudah mulai tidak sadarkan diri, terkulai lemah di pelukan Marvin.
Dengan langkah cepat, Marvin membawanya keluar dari keramaian, menuju ruangan yang lebih sepi. Di sana, ia meletakkan Ariana dengan hati-hati di atas sofa yang empuk. Marvin mengusap dahi Ariana, mencoba membawanya kembali ke kesadaran, namun gadis itu hanya meracau hal-hal yang tidak jelas.
" Ariana, kamu dengar saya?"
" Sstt... diam, pak. Saya sedang menikmati kesendirian saya sekarang. Tidak ada yang peduli dengan saya lagi, pak. Semua nya pergi meninggalkan saya. Mama, papa dan sekarang dia. Dia laki - laki egois yang brengsek."
Racau Ariana karena sudah mabuk.
" Siapa laki - laki yang kamu maksud, Ariana?" Tanya Marvin penasaran.
" Hah...? Bapak nanya? Bapak bertanya - tanya? Bapak kepo ya sama hidup saya? Kenapa sih, pak? Bapak suka ya sama saya? Dan bapak selalu saja mengambil kesempatan memberikan pertanyaan - pertanyaan aneh yang tidak bisa saya jawab. Bapak selalu memaksa saya menerima cinta bapak itu. "
" Iya, saya suka sama kamu. Sekarang beri tahu saya, siapa laki - laki berengsek itu?"
" Ckk... Bapak laki - laki kan? Kalau bapak laki - laki, ya bapak lah si berengsek itu. Siapa lagi? Bapak, bapak... Semua laki - laki itu sama. Sama - sama berengsek. Kata nya cinta, kata nya sayang. Tapi mereka tidak bisa berkomitmen dengan ucapan mereka sendiri. Dasar pengecut. Kaum laki - laki itu pengecut. Hanya bisa berlindung di balik keinginan orang tua mereka yang tidak bisa mereka lawan. "
Marvin terdiam sejenak menyimak setiap kata yang keluar dari mulut Ariana.
" Kamu bilangin saya berengsek?" Protes Marvin.
" Bapak memang berengsek. Bapak selalu saja mau tahu semua urusan saya. Bapak mau tahu siapa pacar saya. Memang nya bapak siapa saya? Papa saya? Tidak kan?" Racau Ariana tertawa.
" Ariana..."
Rocky, dengan mata yang terbakar rasa cemburu, mengendap-endap mengikuti Marvin yang menyeret langkah Ariana yang tampak mabuk. Hatinya terasa tertusuk melihat wanita yang sangat dicintainya itu dalam genggaman Marvin, pria yang dia curigai memiliki niat buruk.
" Kurang ajar kamu, Marvin. Berani nya kamu menyentuh Ariana." Gumam Rocky pelan, setiap bait kata yang dia keluarkan berisi amarah yang memuncak.
Setiap langkah yang mereka ambil, membawa perasaan Rocky semakin gundah, ragu antara harus menghadapi atau terus memantau dari kejauhan apa yang akan dilakukan Marvin terhadap Ariana.
" Kamu tunggu di sini dulu. Saya mau ambil barang - barang kamu. Setelah itu kita pulang." Kata Marvin.
Ketika Marvin hendak meninggalkan ruangan untuk meminta bantuan, tiba-tiba Ariana meraih tangan Marvin dengan kekuatan yang tak terduga dari seseorang yang tampaknya sudah sangat mabuk.
" Jangan pergi, pak. Jangan tinggal kan saya. Saya takut sendirian di sini. Bapak di sini saja temani saya." Rengek Ariana.
" Saat ini saya butuh seseorang untuk menemani saya, pak. Seseorang yang bisa mengerti hati saya."
Dengan mata yang setengah terpejam, Ariana menarik Marvin mendekat, bibirnya bergerak-gerak seakan ingin mengucapkan sesuatu, namun hanya keluar suara yang tidak jelas.
" Bapak nggak pengen mencium saya?" Tanya Ariana pelan.
Marvin mengerutkan kening nya menatap Ariana.
" Bagaimana kalau saya saja yang mencium bapak?" Ucap Ariana lagi.
Marvin, yang terkejut, hanya bisa mematung saat Ariana mendekatkan wajahnya, ingin mencium Marvin.
Tepat saat bibir mereka hampir bersentuhan, tiba-tiba saja lampu di ruangan itu padam, meninggalkan mereka dalam kegelapan total.
Suasana menjadi tegang dan canggung seketika, hanya terdengar suara nafas mereka yang berat dalam keheningan yang pekat. Marvin merasakan jantungnya berdebar kencang, sementara Ariana masih memegang tangannya, tidak menyadari perubahan situasi.
" Kenapa lampunya mati? Kamu tunggu di sini. Saya mau periksa di sebelah dulu." Ucap Marvin yang beranjak pergi meninggalkan Ariana.
Marvin pun keluar dan mengecek situasi di luar ruangan itu.
" Lampu nya hidup. Apa mungkin hanya lampu di ruangan tadi yang mati? Mungkin sudah rusak." Gumam Marvin pelan.
Lalu dia kembali ke ruangan itu. Dan menggunakan lampu ponsel nya, dia mencari keberadaan Ariana yang sudah tidak ada di tempat. Entah kemana hilang nya Ariana. Rasa nya tidak mungkin dia berjalan jauh, kondisi nya masih dalam mabuk berat.
" Ariana... kamu dimana, Ari? Ariana..." Panggil Marvin mencari keberadaan Ariana di dalam ruangan itu.
" Ariana... Ariana..." Panggil Marvin lagi.
Tanpa sepengetahuan Marvin, setelah Marvin beranjak keluar untuk memeriksa lampu yang mati, Rocky masuk ke dalam ruangan itu dan menggendong Ariana keluar tanpa sepengetahuan dia.
Dia tidak bisa bayangkan, kalau tadi dia tidak melihat Marvin membawa Ariana, mungkin sekarang Marvin sudah bisa menikmati bibir manis nya Ariana.
*
*
*
Setelah mencari Ariana tidak bisa di temukan, Marvin kembali ke ruangan acara dan mencari keberadaan Lily di sana.
" Lily, kamu lihat Ariana?" Tanya Marvin.
" Ariana kan sudah pulang, pak. Di jemput sama Amelia tadi." Jawab Lily datar.
" Di jemput Amelia? Kapan Amelia nya datang?" Tanya Marvin lagi karena heran.
" Amel nunggu di bawah, Pak. Ariana yang keluar."
" Kamu yakin dia pulang dengan Amelia?"
" Yakin dong, pak. Saya sendiri yang antar Ariana ke depan."
" Oh... ya sudah." Marvin berbalik meninggalkan Lily.
" Bapak mau kemana? " Tanya Lily.
" Mau pulang? Tadi saya sudah pesan sama kreator di belakang, nanti mereka yang bereskan. Sisa nya baru besok." Jawab Marvin.
" Saya boleh nebeng nggak, pak? Sudah malam, saya takut naik taksi. Sampai depan gang juga nggak papa kok, pak."
" Ya sudah, ayo..." Marvin melangkah lebih dulu dan di ekori oleh Lily di belakang nya.
" Terima kasih sebelum nya, pak." Ucap Lily tersenyum.
Kesempatan ini mungkin tidak sering bisa dia dapat kan. Kapan lagi bisa berdua an di dalam mobil dengan Marvin pikir nya.
Dan bahkan selama kerja dengan Marvin, Marvin juga tidak pernah menawarkan tumpangan pada Lily. Selalu hanya pada Ariana saja. Memang nya cuma Ariana karyawan perempuan di kantor?
*
*
*
" Kamu yakin melihat Ariana pulang dengan Amelia tadi?" Tanya Marvin memastikan saat dia dan Lily sudah berada di dalam mobil.
" Yakin lah, pak. Kan Ariana sendiri yang minta temani saya ke depan karena dia mabuk. Dia takut nggak kuat kalau jalan sendirian." Jawab Lily dengan santai nya.
Pikiran Marvin kembali ke ocehan - ocehan Ariana saat dia mabuk tadi. Dia yang berfikiran kalau Ariana sudah mabuk berat dan tak kuat berjalan.
" Memang nya kenapa, pak? Tadi bapak ketemu Ariana?"
" Oh... Tidak. Saya tidak melihat Ariana selama cara, makanya saya bertanya sama kamu."
" Dia bilang Amel takut sendirian di kost, makanya Amel menjemput Ariana. Supaya mereka pulang sama. Kebetulan tadi Amel baru pulang dari rumah sakit juga."
Marvin hanya mengangguk paham.
" Lily, kamu kan sudah lama temenan dengan Ariana. Apa selama ini Ariana memang tidak punya pacar?" Tanya Marvin.
" Hhmmm ... Setahu saya sih memang tidak ada, pak. Kalau pun ada pasti Ariana sudah cerita dengan saya." Jawab Lily.
" Atau mungkin laki - laki yang lagi dekat dengan Ariana gitu? Masa nggak ada?" Tanya Marvin lagi.
" Nggak ada kayak nya, pak. Ariana itu kayak trauma gitu pak sama laki - laki. Dulu itu dia pernah punya pacar. Tapi karena pacar nya itu orang kaya, dia ninggalin pacar nya. Mereka putus, pak." Jawab Lily.
" Jadi sekarang mantan nya itu dimana?"
" Di luar negeri, pak. Di Melbourne kalau nggak salah. Sudah lama tidak kembali ke Indonesia. Sudah menetap di sana kali."
Tanpa rasa curiga, Lily menceritakan masa lalu Ariana pada Marvin yang menurut nya bisa di percaya.
" Saya tahu kalau bapak suka dengan Ariana kan?" Tebak Lily tepat sasaran.
Marvin tersenyum kecut.
" Sok tahu, kamu."
" Ya saya tahu lah, pak. Kelihatan kali dari sikap bapak sama Ariana. Bapak nggak usah bohong sama saya."
" Menurut kamu bagaimana? Apa saya ada peluang untuk dekat dengan Ariana?"
" Yah ada, pak. Tapi bapak harus banyak bersabar. Ariana itu susah buat dekat sama laki - laki. Bapak harus lebih kerja keras lagi saja untuk buktikan sama Ariana kalau bapak benar - benar serius dengan dia."
*
*
*
Rocky menggendong Ariana masuk ke dalam mobil dan membaringkan nya di jok belakang.
" Maafkan aku, Ari. Aku tahu kamu seperti ini karena merasa kecewa dengan ku. Aku juga nggak tahu bakalan seperti ini jadi nya. " Gumam Rocky pelan.
" Awas saja kamu ya, Marvin. Sekali lagi kamu berani berbuat kurang ajar pada Ariana, aku akan buat kamu menyesal seumur hidup." Gumam nya lagi.
" Kamu tuh yang kurang ajar. Kamu kurang ajar... Dasar kamu itu memang kurang ajar... kurang ajar..." Oceh Ariana, namun mata nya tetap terpejam.
" Kamu pengecut. Tahu nya cuma minta maaf saja. Aku benci sama laki - laki pengecut seperti kamu." Oceh Ariana.
Mobil pun sampai di depan lobby hotel berbintang. Dia menggendong Ariana masuk ke dalam kamar yang sudah dia pesan.
Dia membaringkan Ariana dengan pelan di atas ranjang, tapi tangan Ariana tidak mau di lepaskan dari leher Rocky.
" Ariana..."
" Kamu mau kemana? Dasar kamu memang gila ya. Kamu bilang cinta sama aku, nyatanya kamu tunangan sama orang lain. Ucapan kamu memang tidak bisa di percaya. Aku kecewa sama kamu, Rocky. I hate you..." Racau Ariana dalam pelukan Rocky.
" Aku tuh masih cinta sama kamu, tapi sebagai laki - laki, kamu itu nggak ada peka nya ya. Malah tunangan di depan aku. Aku cemburu tau. Aku sakit hati hati melihat kamu memasangkan cincin pada wanita itu. Harus nya aku yang ada di sana, bukan dia. Kamu jahat... kamu jahat... kamu jahat..." Ariana terus memukuli dada bidang Rocky, pukulan nya keras hingga melemah.
" Maafkan aku, Ari." Rocky memejamkan mata nya dan mempererat pelukan nya pada Ariana yang sudah terlelap pada bidang itu.
Setelah memastikan Ariana istirahat dengan nyenyak di bawah selimut tebal itu, Rocky membuka jas dan dasi nya. Dia berjalan pelan ke balkon sambil membawa sekaleng minuman beralkohol.
Tak berapa lama, terdengar suara dering ponsel milik nya. Dia merogoh saku dan mengeluarkan benda pipih itu. Tertera nama papa nya di sana. Pasti di sana semua orang sedang panik mencari nya.
" Halo, pa." Ucap Rocky saat panggilan itu tersambung.
" Kamu dimana? Acara nya sudah selesai tapi kamu malah menghilang. Mama dan Nelly mencari kamu?" Tanya Rizal yang menjauh dari istri dan calon menantu nya itu.
" Sebenarnya papa tahu kan soal rencana mama ini? Hanya saja papa malah merahasiakan nya sama ku." Tuduh Rocky yang merasa sangat kecewa pada yang sudah terjadi malam ini.
" Papa nggak tahu. Ini semua rencana mama kamu. Mama kamu memberitahu papa saat acara perusahaan di mulai. Mama kamu dan Nelly yang merencanakan semua ini? Kalau papa tahu, pasti papa sudah katakan sama kamu. Sekarang kamu dimana?"
" Katakan saja kalau papa tidak tahu aku dimana." Ucap Rocky mengakhiri pangilan itu.
" Rocky... Rocky..." Panggil Rizal lirih.
" Bagaimana, pak?" Tanya Jhoni.
" Dia tidak mau beri tahu saya dimana dia. Anak ini kalau sudah kecewa pasti seperti ini." Kata Rizal.
" Bagaimana, pa? Di angkat telpon nya?" Tanya Yusnita.
" Tidak di angkat. Kita pulang saja. Mungkin dia bersama teman - teman nya clubbing." Jawab Rizal menyentuh bahu sang istri.
" Nelly, kamu pulang di antar sama Jhoni saja ya." Kata Yusnita.
" Aku nggak mau Tante. Aku mau di antar sama Rocky. Kita kan baru saja bertunangan ya, Tante. Kenapa Rocky malah tega meninggalkan aku." Tolak Nelly dengan nada sedih.
" Maaf, sayang. Jangan sedih ya. Kamu harus sabar menghadapi Rocky. Dia sedang bersama teman - teman nya sekarang. Tapi kamu jangan khawatir. Nanti begitu dia pulang, Tante akan memarahi nya karena sudah meninggalkan kamu. Tenang sayang." Bujuk Yusnita memeluk Nelly.
" Aku kecewa sama Rocky Tante. Dia jahat sekali. Dia sudah mempermalukan aku sebagai tunangan nya malam ini. Kalau saja papa masih hidup, dia juga pasti akan kecewa dengan Rocky."
" Sayang, nggak boleh bawa nama papa gitu ah. Papa sudah tenang di sana. Kamu yang sabar ya. Serahkan masalah ini sama Tante." Kata Yusnita membujuk Nelly agar tak bersedih lagi.
Jhoni menggelengkan kepala nya. Merasa muak mendengar kan ocehan Nelly yang selalu berhasil mengambil perhatian dari Yusnita.