NovelToon NovelToon
You Can Run, But You'Re Still Mine

You Can Run, But You'Re Still Mine

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Kehidupan Tentara / Nikahmuda / Karir / Persahabatan / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:228.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Raska dikenal sebagai pangeran sekolah, tampan, kaya, dan sempurna di mata dunia. Tak ada yang tahu, pendekatannya pada Elvara, gadis seratus kilo yang kerap diremehkan, berawal dari sebuah taruhan keji demi harta keluarga.
Namun kedekatan itu berubah menjadi ketertarikan yang berbahaya, mengguncang batas antara permainan dan perasaan.

Satu malam yang tak seharusnya terjadi mengikat mereka dalam pernikahan rahasia. Saat Raska mulai merasakan kenyamanan yang tak seharusnya ia miliki, kebenaran justru menghantam Elvara tanpa ampun. Ia pergi, membawa luka, harga diri, dan hati yang hancur.

Tahun berlalu. Elvara kembali sebagai wanita berbeda, langsing, cantik, memesona, dengan identitas baru yang sengaja disembunyikan. Raska tak mengenalinya, tapi tubuhnya mengingat, jantungnya bereaksi, dan hasrat lama kembali membara.

Mampukah Raska merebut kembali wanita yang pernah ia lukai?
Atau Elvara akan terus berlari dari cinta yang datang terlambat… namun tak pernah benar-benar pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Belajar Bertahan

Raska berdiri di depan kamar ibunya.

Pintu itu, yang jika dibuka, selalu membawa kembali luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

Jantungnya berdetak tidak teratur. Ia memejamkan mata sejenak.

"Aku harus kuat."

Tangannya gemetar saat menyentuh gagang pintu.

Klek.

Krieeek.

Pintu terbuka perlahan. Raska terpaku di ambang. Segalanya masih sama.

Ranjang. Seprei. Lampu tidur. Lemari pakaian.

Dan foto itu, dirinya diapit kedua orang tuanya, tersenyum lebar, bahagia, utuh.

Bahkan aroma dupa gaharu itu… masih sama.

Langkahnya berat, seolah kakinya digantungi batu. Tatapannya jatuh ke lantai.

Di sana. Tempat ibunya pernah terbaring. Pucat, dingin, dengan pil obat tidur berserakan.

"Ma..." bisiknya lirih, nyaris tak terdengar.

Kakinya kehilangan tenaga. Ia terduduk di lantai. Tubuhnya gemetar. Tangannya terkepal di paha. Matanya terpejam erat.

“Nak Raska…”

Suara Bik Uci menyentuh kesadarannya. Usapan lembut di lengannya membuat dadanya sesak.

“Bibi bantu keluar?” tanya wanita itu lirih.

Raska menggeleng. “Gak apa-apa, Bik,” ucapnya pelan. “Saya mau sendiri.”

Bik Uci mengangguk, meski jelas berat meninggalkannya sendirian.

"Aku harus kuat. Demi Elvara. Demi diriku sendiri."

Rahangnya mengeras. Ia menarik napas dalam-dalam.

Raska menatap sekeliling kamar itu lagi. Tak ada yang berubah. Detik jam dinding berdetak pelan, mengiringi langkahnya ke lemari.

Ia membukanya.

Pakaian-pakaian ibunya tersusun rapi, terbungkus plastik.

Tangannya menyentuh satu dress yang paling sering dikenakan ibunya.

Jarinya gemetar.

Ia menarik napas panjang, lalu menutup lemari itu kembali.

Langkahnya berhenti di tengah ruangan. Di titik tempat ia pernah duduk, mengguncang bahu ibunya yang sudah dingin.

Tatapannya jatuh ke meja rias.

Foto ibunya memeluknya, tersenyum lebar.

“Ma… aku rindu.” gumamnya lirih, seolah ibunya di hadapannya, merentangkan tangan penuh senyuman.

Ia merogoh saku. Sepucuk kertas. Surat taruhan. Tinta tanda tangannya masih jelas.

“Gara-gara ini… aku kehilangan dia, Ma.”

Taruhan itu kini terasa menjijikkan. Satu tanda tangan penuh gengsi itu menjelma dosa, yang tak bisa ditebus.

Perlahan, Raska berlutut. Tempat ini dulu menakutkan. Kini ia berbisik,

“Ma… aku gagal.

Dan aku nyakitin orang yang aku sayang.”

Ia mengeluarkan sebuah bros berbentuk hati. Kenang-kenangan milik ibunya.

Dalam diam, keputusan itu mengeras di dadanya.

Akademi militer.

Bukan demi gengsi. Bukan demi warisan.

Tapi agar ia layak. Untuk dirinya sendiri. Dan untuk Elvara.

"Kalau suatu hari aku ketemu dia lagi…

aku mau dia lihat versi terbaik dariku, Ma.

Bukan Raska yang main taruhan. Bukan Raska yang penuh trauma. Bukan Raska anak orang kaya yang identik dengan drama.

Tapi Raska yang bisa dia percaya… untuk masa depannya."

Ia berdiri.

Meletakkan bros itu di meja rias, di samping foto ibunya.

“Aku pergi, Ma,” ucapnya lirih. “Bukan karena aku lupa. Tapi karena aku ingin tetap hidup.

Untuk diriku...untuk dia yang kusayang.”

Raska berbalik. Dan tanpa menoleh lagi, ia melangkah keluar, membawa luka, tekad, dan janji yang tak akan ia ingkari.

***

Peluit itu meraung.

Bukan panjang.

Tapi cukup untuk membuat semua tubuh refleks berdiri, seolah tulang mereka ditarik paksa keluar dari kasur.

“BANGUN!”

Raska terbangun dengan napas tersentak. Belum sempat pikirannya menyatu, tubuhnya sudah bergerak. Refleks yang dibentuk dari rasa takut, bukan disiplin.

Lima menit.

Bukan untuk mandi. Bukan untuk rapi. Hanya cukup untuk hidup.

Ia menyambar sepatu, mengenakannya dengan tangan gemetar. Di kiri-kanannya, para taruna lain bergerak terburu-buru, sebagian terjatuh, sebagian terantuk ranjang besi.

“LEBIH CEPAT!”

“INI BUKAN HOTEL!”

Raska berlari keluar barak bersama taruna lain.

Udara pagi menusuk paru-paru. Dingin. Lembap. Belum ada matahari. Lapangan terbentang luas, dan terasa kejam.

Rumput masih basah oleh embun pagi ketika Raska berdiri tegak di barisan.

Seragam loreng barunya terasa kaku di tubuh. Sepatu boot menghantam tanah serentak bersama puluhan rekrutan lain. Bau lumpur, keringat, dan logam bercampur menjadi satu.

Belum genap lima menit.

“TARIK NAPAS!”

Suara instruktur meledak, memantul di dada.

“HEMBUSKAN!”

Raska mengikuti. Dadanya sudah terasa berat. Padahal ini baru pemanasan.

“PUSH UP! POSISI!”

Tanpa aba-aba kedua, tubuh Raska dan taruna yang lain jatuh ke tanah.

Satu.

Dua.

Sepuluh detik pertama lengannya masih bertahan. Setelah itu, tubuhnya mulai berkhianat.

“Fokus!" suara instruktur menghantam telinganya. "Kalian pikir ini mainan?

Kalian pikir seragam ini hadiah?”

Dua puluh.

Tanah basah menempel di telapak tangan. Napasnya mulai tercekik. Ada suara muntah di barisan sebelah.

“Terus!”

Tiga puluh.

Punggungnya panas. Ototnya menjerit.

Dan tiba-tiba—

Wajah ibunya melintas.

Lantai kamar. Tubuh dingin. Obat berserakan.

Lengannya runtuh.

“BANGUN!” sepatu menghantam tanah di samping kepalanya. “Atau pulang sekarang!”

Raska menggigit bibir.

Ia bangkit.

Memaksa.

Bukan karena takut dihukum. Tapi karena ia tidak punya rumah untuk pulang.

Raska berdiri sempoyongan.

Napasnya putus-putus. Paru-parunya terasa terbakar. Setiap langkah seperti menabrak dinding tak terlihat.

“SIAPA NAMAMU?”

Suara itu tepat di depan wajahnya.

Refleks, Raska menjawab.

“SIAP, Raska!”

Detik berikutnya.

“ULANGI!”

Nada itu dingin. Tanpa emosi. Tanpa ampun.

Raska menelan ludah. Kesalahannya kecil, tapi di sini, kecil berarti dihukum.

Ia menarik napas, lalu membentak dengan seluruh sisa tenaganya.

“SIAP! NAMA: RASKA!”

Instruktur menatapnya lama.

“Bagus. Ingat itu. Di sini, kau bukan siapa-siapa sebelum kau menjawab dengan benar.

LARI! KELILING LAPANGAN! SEKARANG!”

Tanpa menunggu aba-aba kedua, Raska berlari.

Satu putaran.

Dua.

Tiga.

Napasnya pecah. Paru-parunya seperti diremas dari dalam.

Di putaran keempat, dunia mulai menyempit.

Suara instruktur terdengar jauh. Seperti dari bawah air.

Langkahnya mulai tidak sinkron. Setiap hentakan kaki terasa lebih berat dari sebelumnya.

Bayangan ibunya melintas di kepala.

Wajah Elvara.

Tatapan terakhirnya sebelum pergi.

"Aku harus kuat.

Aku gak boleh jatuh."

Putaran kelima.

Pandangan Raska menghitam di tepi.

Langkahnya goyah.

“RA—”

Suara itu belum selesai ketika lutut Raska menghantam tanah.

Bukan pingsan.

Belum.

Ia masih sadar, tapi tubuhnya menolak patuh. Kepalanya tertunduk. Napasnya terengah, seperti ikan kehabisan air.

Instruktur berjongkok di depannya.

“BANGUN!”

Raska mencoba.

Tangannya gemetar hebat. Ia berhasil berdiri… lalu dunia berputar lagi.

Instruktur menahan bahunya tepat waktu.

“Dengar,” katanya rendah, tajam. “Kalau kau masuk ke sini untuk lari dari masa lalu, kau akan mati di tengah jalan.”

Raska mengangkat wajah. Keringat bercampur air mata yang tak sempat jatuh.

“Tapi kalau kau masuk ke sini untuk bertahan hidup—”

Instruktur melepasnya.

“—jangan pingsan sebelum waktunya.”

Raska berdiri terpaku. Dadanya naik turun keras. Ia masih berdiri.

Belum tumbang.

Dan di belahan dunia lain—

Elvara berdiri di dapur. Tangannya bergetar memegang spatula. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Perutnya mengeras pelan. Pandangan tiba-tiba berkunang.

Elvara memegang tepi meja. Napasnya tersengal. Dunia miring. Spatula terjatuh, berdenting pelan di lantai. Tubuhnya goyah. Tidak pingsan.

Belum.

Ia menahan. Seperti seseorang yang jauh di tempat lain, sedang belajar bertahan dengan caranya sendiri.

Mereka tak saling melihat. Tak saling mendengar. Tapi di hari yang sama, di waktu yang hampir bersamaan, dua tubuh yang saling mencintai itu sama-sama belajar satu hal:

bertahan hidup itu sakit.

...🔸🔸🔸...

..."Tidak semua orang jatuh karena lemah....

...Sebagian jatuh karena terlalu lama bertahan."...

..."Di tempat yang berbeda, mereka sama-sama belajar:...

...mencintai berarti bertahan, meski tanpa pegangan."...

..."Ada luka yang tidak bisa disembuhkan dengan lari....

...Hanya dengan bertahan."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
love_me🧡
kutebak ya, "Roy"
anonim
Malaikat mengutus Raska untuk menyelamatkan Roy yang sedang bertaruh nyawa.

Itulah Raska - nalurinya bekerja cepat untuk segera menolong. Tidak di sangka orang yang ditolong Roy - orang yang selalu iri dan benci terhadap Raska.

Raska tidak benci terhadap Roy - Raska memaafkan - Raska memberi nasehat pada Roy.

Roy sadar kalau selama ini membenci orang yang salah.

Rava ulang tahun yang hadir keluarga inti komplit - Om trio berisik 😄, ada kakek Nata, Jovi, Priyo, adrian, dan yang baru datang Roy kah ....
rose lilian
semoga Aja baby triplet raska dan elvara
Dew666
🌹🌹🌹🌹🌹
Puji Hastuti
Siapa yang datang ya? Roy kah, /Bye-Bye/
Sugiharti Rusli
wah ternyata jarak Raska dan calon adiknya cukup jauh yah nanti, berarti setelah Raska dan Elvara kembali bersama setelah tiga tahun baru mereka akan memiliki anak lagi
Sugiharti Rusli
Raska tidak pernah memupuk dendam kepada 'adik'nya itu, karena walau bagaimanapun Roy hanya dimanfaatkan oleh ibunya sendiri
Sugiharti Rusli
memelihara dendam dan kebencian memang pada akhirnya merugikan diri sendiri kan Roy, apalagi saat nyawa kamu terancam ternyata yang menyelamatkan adalah orang yang kamu benci dengan salah,,,
Sugiharti Rusli
siapa yah yang sepertinya menginginkan nyawa si Roy, apa orang" yang dulu bersekutu dengannya saat mau mengambil alih perusahaan Nata,,,
Sugiharti Rusli
karena sejatinya memang lebih baik posisi Raska seperti itu, dia tetap memiliki rumah nya dan tetap jadi prajurit meski kiprahnya di belakang yang tidak terlihat, dan sekarang dia akan bertambah tanggung jawabnya dengan kehadiran calon anak k-2
Sugiharti Rusli
ternyata para senior hanya bisa memberikan yang terbaik yang mereka bisa yah ke Raska
Siti Jumiati
kayaknya si roy deh...
Anitha Ramto
sepertinya itu Roy yang datang...
kan si Roy sekarang sudah tobat,sudah menjadi orang yang baik
Cicih Sophiana
yg datang si Roy kah... semoga si Roy berubah jd orang baik biar jd saudara dgn Raska
septiana
Rio bukan ya yg datang???🤔
Sri Hendrayani
apa itu roy..?
Felycia R. Fernandez
perkataan Raska sama dengan perkataan Nata...
Roy gak salah disini,tapi ibu nya yang jalang sejati dan lucknut
irala
sukaaaaaa🥰🥰🥰
🌠Naπa Kiarra🍁: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Eka Burjo
aku terharu uuu😭
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lsnjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!