Persahabatan yang solid dari masa sekolah akhirnya harus berkumpul pada satu Batalyon di sebuah daerah perbatasan karena suatu hal. Situasi semakin kompleks karena mereka harus membawa calon istri masing-masing karena permasalahan yang mereka buat sebelumnya.
Parah semakin parah karena mereka membawa gadis mereka yang sebenarnya jauh dari harapan dan tak pernah ada dalam kriteria pasangan impian. Nona manja, bidadari terdepak dari surga + putri sok tau semakin mengisi warna hidup para Letnan muda.
KONFLIK TINGKAT TINGGI. Harap SKIP bila tidak mampu masuk ke dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Masalah baru.
Malam hari tiba.
Dinda sudah mandi, terlihat bingung mencari barang miliknya.
"Cari apa?"
"Ini Bang, sepertinya bedak Dinda tertinggal di kamar mess Bang Rico deh." Jawab Dinda.
"Biarkan saja. Besok Abang belikan lagi." Kata Bang Rama.
Bang Rama pun menemaninya di dalam kamar sambil menyuapi Dinda makan bubur kacang hijau hangat.
Sementara tak ada keributan lagi apalagi tentang Ranti, Bang Rama benar-benar sudah memprotect keamanan yang ada.
"Mbak Ranti bagaimana, Bang?" Tanya Dinda.
"Jangan membahasnya..!! Abang tidak mau lagi kamu pergi dari Abang..!! Tolong kamu percaya sama Abang." Jawab Bang Rama tegas.
Dinda mengerti dan percaya suaminya bisa menyelesaikan permasalahan ini.
"Kalau Bang Rico, kenapa??" Agaknya Dinda mulai penasaran.
Bang Rama kembali menyuapi Dinda kemudian membelai rambutnya.
"Sebenarnya, masalah ini tidak bisa di ceritakan. Tapi, kamu jangan pernah keceplosan masalah ini ya.."
Dinda mengangguk mantap mendengarnya.
Bang Rama menarik nafasnya lalu mulai bercerita. "Rico itu laki-laki yang teguh pendirian, jadi nampak kaku. Dari kami pendidikan, dia pun sudah punya pacar, namanya Rania. Dia sayang banget sama pacarnya itu, bahkan rela kabur demi menemuinya. Singkat cerita, satu tahun setelah lulus pendidikan, kami sudah di ijinkan menikah. Saat itu posisi Rico baru saja selesai dinas luar, dia sengaja mengajak Rania keluar karena akan memberi kejutan untuk melamarnya. Tapi untuk mempersingkat waktu, Rania pergi dari klinik tempatnya bekerja ke cafe yang menjadi tempat tujuan sebelum Rico menjemput, disana lah tragedi itu terjadi. Lima orang pemuda memperko*anya hingga hamil."
Cerita tersebut sejenak terputus. Lagi-lagi peristiwa yang menimpa sahabatnya itu ikut membuatnya terluka.
"Lalu??"
"Rico ingin menikahinya, dia tidak peduli anak siapa yang ada di dalam perut Rania, Rico juga berjanji akan menyayangi anak itu tapi Rania... Dia memilih gantung diri. Rico sempat berduka selama dua bulan sampai akhirnya kembali sadar, untuk melanjutkan hidupnya."
Dinda sampai menutup mulutnya karena kaget mendengarnya. Perutnya terasa begitu nyeri.
"Sudah, dek. Jangan bicarakan Rico lagi. Yang penting dia sudah baik-baik saja sekarang. Do'akan dia cepat dapat jodoh, biar nggak garang terus. Hidupnya kaku sekali." Ujar Bang Rama.
"Bang, kira-kira.. Apa Bang Rico mau, kalau di jodohkan sama teman Dinda. Tapiiii.. Dia nggak punya orang tua." Kata Dinda.
"Deekkk........"
"Dia kalem kok Bang." Dinda mulai menatap Bang Rama.
Sudah di pastikan Bang Rama tidak sanggup membalas tatapan tersebut. "Siapa namanya??"
"Hanna..... Besok dia terbang kesini. Dua hari lagi Bang Rico naik pesawat itu, kan???"
"Iya, tapi bagaimana caranya??" Tanya Bang Rama bingung.
***
Besok paginya.
Bandara begitu ramai. Hanna berjalan melewati koridor counter check-in, sibuk mengeluarkan berkas data dirinya dari tas kerjanya.
Sementara itu, Bang Rico berdiri beberapa meter di sebelahnya, pakaiannya rapi tertutup jaket warna hitam, wajahnya tetap kaku seperti batu, dingin seperti es sedang memeriksa jadwal pesawat di ponselnya.
"Hannaaa.." Panggil Dinda.
"Nomer antrian empat puluh lima." Panggilan dari counter.
Hanna dan Rico serentak mendengar dan mereka berjalan menyilang ke arah panggilan hingga membuat tas Hanna jatuh, tas Bang Rico pun terbuka hingga isinya keluar.
Hanna yang syok langsung menutup mulutnya. Dia kaget melihat ada bedak padat di dalam tas seorang tentara tinggi gagah yang mungkin tingginya di perkirakan di atas seratus delapan puluh centimeter.
"Bapak pakai make up setiap hari??" Tanya Hanna tanpa sadar.
"Apaan sih, perempuan nggak jelas." Bang Rico menggenggamnya kemudian berjalan ke. Counter sambil memasang wajah kesal pada Bang Rama yang sudah berdiri di samping Dinda.
Ternyata disana sudah ada Bang Arben dan Bang Sanca juga.
"Kau yakin akan menjodohkan Rico dan Hanna??? Kenapa aku nggak yakin kalau Hanna kalem ya?" Kata Bang Arben curiga.
"Kenapa nggak yakin, Bang. Dinda kenal sama Hanna." Agaknya kini Dinda yang tidak terima mendengar Bang Arben meragukannya.
Mata Bang Rama menyipit seolah ikut menyetujui kecurigaan Bang Arben.
Terlihat kemudian langkah Bang Rico terhenti dan ia menatap wajah Hanna. "Kita pernah bertemu sebelumya???"
Hanna ikut menghentikan langkah namun kini wajahnya menunjukan kehati-hatian meskipun masih terlihat tenang.
Hanna pun tersenyum. "Kata orang dunia ini sempit, tapi banyak orang bilang bahwa kita hidup pasti banyak menemukan hal yang mirip, termasuk.. wajah manusia." Kata Hanna.
Gadis itu pergi, Bang Rico menoleh memperhatikan langkahnya. Yang lain pun terdiam saling pandang. Hanya Dinda saja yang masih mengoceh tidak terima hanya karena semua tidak percaya 'kalemnya' Hanna.
:
Masih ada waktu untuk duduk bersama. Bang Rama dan yang lain mengobrol sementara Dinda memilih berjumpa dengan beberapa orang temannya.
"Kurasa memang ada yang aneh. Jika manusia ada kemiripan, tidak mungkin tinggi badan dan perawakannya ikut sama." Ujar Bang Sanca.
Bang Arben dan Bang Rama menatap tajam ke arah Bang Rico.
"Kamu yang pernah berhadapan langsung dengan Hans." Kata Bang Rama.
Tak lama panggilan telepon dari ayah Bang Rico. Bang Rico nampak malas menjawabnya. "Kapan kau nikahi Tiarani??? Kalau tidak, Kinkin akan aku nikahkan dengan juragan tambak."
"Kau jangan macam-macam, dia adik saya..!!" Bang Rico tak kalah garang mengancam.
.
.
.
.
tetap💪💪🙏
Aduuh...piye to bang Ric....🥹
lanjut mba Nara