Mentari Jingga atau yang biasa di panggil MJ, merupakan anak broken home yang mempunyai tekanan besar di hidupnya. Selepas ibunya meninggal, ayahnya menikah lagi dengan ibu dari mantan kekasihnya.
Hari-harinya bertambah buruk karena harus bertemu setiap hari dengan sang mantan yang telah ia lupakan mati-matian. Hingga pada akhirnya ia menjadi rajin melepas stress dengan berjalan-jalan di taman setiap malam.
Ia cukup akrab dengan beberapa penjual ditaman, berada ditengah-tengah mereka membuatnya lupa akan permasalahan hidup. Hingga pada akhirnya ia bertemu dengan Mas Purnama, seorang pedagang jagung bakar yang baru saja mangkal di area taman.
Mas Pur berusia 5 tahun diatas MJ, tapi dia bisa menjadi teman curhat yang menyenangkan. Mereka sering menghabiskan waktu berdua sambil memandangi langit malam itu.
Hingga setelah 3 bulan bersahabat, malam itu MJ tak pernah menemukan sosok Mas Pur lagi berdiri di tempat ia biasa berjualan. Kemana Mas Pur menghilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehidupan Baru MJ
Ini malam pertama MJ berada di kota Madiun, cuaca malam ini gerah dan panas. Ia menempati kontrakan lantai atas dekat tangga, di sampingnya tepat rumah ibunya Bu Nawang.
Kontrakan itu ada 8 pintu, 4 diatas dan 4 dibawah. Yang di bawah full diisi oleh karyawan yang belum memiliki keluarga, sementara yang lantai atas ada 1 pintu yang kosong, dan itu letaknya ada di sebelah kamar MJ.
" Lusa gue pulang, Je. Maaf nggak bisa lama-lama nemenin disini karena takut ibu dan ayah curiga. Gimana pun gue harus jaga perasaan mereka" ujar Gilang sambil duduk di teras balkon
MJ menatap rembulan yang penuh malam ini, rambutnya ia biarkan tergerai dan tersapu angin. Bulannya sangat indah. MJ jadi ingat sama tukang jagung bakar yang ganteng itu.
Kemana ya Mas Pur? Dia inget aku nggak ya?
" Mas, titip ayah ya. Tengokin dia walau sesekali, dia itu aslinya sedang rapuh karena menanggung beban berat. Andai si Kanjeng ratu nggak hamil, pasti udah aku bawa kesini" pinta MJ sambil menoleh ke bangku tempat duduk Gilang
" Iya nanti sesekali gue tengokin, tapi nggak janji bisa nolongin ya Je"
" Aku ngerti kok Mas, yang penting aku tau beritanya meskipun tipis-tipis"
" Nggak usah terlalu dalam di pikirin, fokus sama kuliah lo aja Je! Semua orang punya perang nya masing-masing, dia itu udah cukup pengalaman tapi nggak ada keberanian aja.
Berbanding terbalik sama lo yang punya nyali tapi masih minim perhitungan. Bertahanlah sampai waktunya siap untuk maju, dan setiap perang pasti ada yang di korbankan"
" Apa yang harus aku korbankan, Mas?"
" Mungkin rumah itu"
MJ menghela nafas panjang, ia tau benar jika pada akhirnya rumah itu adalah hal yang harus ia ikhlaskan. Siapa yang mau menebus rumah itu seharga 150 juta? Ayah pasti nggak punya uang sebanyak itu.
" Kalau rumah itu di sita, maka aku tidak ada tempat untuk kembali pulang, Mas. Sedih banget lebaran nggak ada tempat kumpul, aku udah nggak punya rumah" ucapnya lirih
" Rumah itu sudah hilang sejak ayah menikah lagi, Je. Lo udah nggak punya keluarga sekarang, hanya gue yang lo punya. Gue janji akan selalu ada buat lo, tapi lo juga harus janji sama gue untuk survive" ujar Gilang menyemangati
MJ mengangguk penuh keyakinan, ia tak mau lagi menangis untuk masa lalu. Ia harus kuat dan bangkit menuju masa depan yang diimpikan oleh ibu Sintia.
" Iya Mas, aku akan berjuang. Tapi Mas juga harus kerjain skripsinya biar jadi sarjana, jangan kebanyakan kerja karena yang prioritas adalah wisuda" ucapnya penuh optimisme
Gilang terkekeh lalu meneguk minuman nya
" Iya nanti gue garap lagi skripsinya. Ohya, gimana lo akan membiayai kuliah nanti, Je?" tanya Gilang yang belum tau perihal uang warisan Bu Sintia semasa hidup
" Ayah kasih uang untuk biaya masuk kuliah hingga setahun kedepan. Setelah ini aku akan kerja sampingan Mas, apa aja yang penting bisa nabung buat biaya kuliah semester 3. Kalau untuk makan sehari-hari, katanya suruh nebeng Bu Nawang aja" jawab MJ masuk akal
" Kirim nomor rekening lo, Je. Gue akan bantu lo buat bayar uang kuliah, nanti tiap bulan gue akan transfer, terus lo kumpulin buat semesteran ya " ujar Gilang
" Ekh jangan Mas, nggak perlu segitunya bantuin aku. Diakui adik aja udah sukur, jadi Mas nggak perlu repot-repot biayain aku"
" Kita ini satu nasab Je. Kewajiban kakak laki-laki terhadap adik perempuan yang belum menikah meliputi memberikan perlindungan, nafkah (jika diperlukan), bimbingan moral dan spiritual, serta menjadi wali nikah (jika wali lain tidak ada). Walau aku slengean, tapi aku paham sama hak dan kewajiban sebagai kakak laki-laki" ujar Gilang
Mata MJ berkaca-kaca, rasanya sangat terharu ketika ia diperlakukan sebegitu baiknya oleh kakak satu ayah.
" Tapi Mas dapat uang dari mana?" tanya MJ sambil menghapus air matanya
" Gue kan kerja, emang nggak besar tapi lumayan setara UMR Bogor. Tiap dapat klien kelas kakap, gue suka dapat uang tip yang gede sampai pernah melebihi gaji pokok. Udah pokoknya lo tenang aja, gue pasti usahakan buat lo. Doain gue ya biar kerjaan lancar"
MJ langsung memeluk Gilang sambil menangis sesenggukan. Ia memang kehilangan kasih sayang ayah dan dukungan dari sahabatnya Mas Pur, tapi MJ dapat gantinya yaitu Kakak seayah yang begitu bertanggung jawab.
" Sehat-sehat ya Je, kamu fokus sama kuliahmu. Sisanya biar aku yang urus, Insya Allah semua akan baik-baik saja" ujar Gilang
" Iya Mas, terima kasih banyak"
******
Sudah setahun dilalui dengan penuh semangat, tiap bulan MJ selalu mendapatkan kiriman uang dari Gilang seperti yang dijanjikan. Memang tidak banyak, tapi kalau di kumpulkan bisa untuk bayar semesteran.
MJ masih sering berkomunikasi dengan Jo dan Sisil, mereka ambil kuliah di PTS Bogor saja karena tak lolos di PTN manapun. Sementara Damar, menurut keterangan Mas Sultan ia kerja di pabrik ciki yang berada di kabupaten.
" Jee... Bu Nawang mana?" tanya Mbak Sekar dari bawah
MJ langsung melongok ke bawah, disana sudah ada Mbak Sekar bersama seorang Mas Mas matang sempurna.
" Lah emang nggak ada di rumahnya?"
" Nggak ada Je, ini ada orang yang mau lihat kontrakan kosong. Kamu punya kuncinya nggak?"
" Ada Mbak! Suruh ke atas aja!"
Baru seminggu kontrakan samping kamar MJ kosong, penghuninya pindah karena pekerjaannya di mutasi ke Riau. Memang sudah biasa bongkar pasang personil di kontrakan. Hanya beberapa saja yang merupakan anggota lama, salah satunya Mbak Sekar yang kerja di salon dekat kampus.
Aroma harum semerbak tercium saat Mas Mas yang pake ransel hitam lewat, tubuhnya tak seberapa tinggi tapi gagah perkasa. Ia memperkenalkan diri sebagai Biantara, atau bisa disebut Mas Bian saja.
" Semua unit memiliki kamar mandi dalam dan sudah free kipas angin nempel di dinding" ujar MJ udah kek marketing Agung Sedayu group
" Nggak free kasur ya Mbak?" tanya Mas Bian
" Ya enggak to Mas, ini kan kontrakan bukan kos-kosan. Tapi kalau Mas mau, bisa sewa ke Bu Nawang kok. Dia punya kasur lantai tipe single yang biasa di sewakan buat penghuni yang tinggalnya nggak lama seperti pekerja proyek"
" Mending beli sih Mas, sewa tiap bulan juga lama-lama kebeli kasur baru" celetuk Mbak Sekar
" Mas nya baru pindah ke Madiun to?"
" Iya Mbak, aku baru di mutasi kesini. Tadinya aku tugas di Jepara, makanya kesini nggak bawa apa-apa"
" Ya kalau gitu emang mending cari kos-kosan aja Mas, tinggal beli printilan doang karena kasur dan lemari sudah include" usul MJ
" Emmm.. Kontrak kerjaku 3 tahun disini Mbak, mending prepare beli saja karena aku cocok disini"
" Yaudah Mas hubungi langsung Bu Nawang, aku kasih nomornya"
" Matur nuwun Mbak Sekar dan Mbak Emjeee.. Ekh, ini i serius namanya MJ?"
Hahhahhah!
Mas Bian sangat menyenangkan, dia luwes dan tidak kaku. Mungkin karena ia adalah staff marketing di kantornya, jadi sudah biasa berkomunikasi dengan orang-orang.
" Kenapa Mbak Sekar? Kok senyum-senyum lihat Mas Bian? Naksir ya Mbak?" goda MJ
Mbak Sekar mesem-mesen salah tingkah,
" Lucu sih Je, tapi aku udah punya pacar "
" Ya jangan main api kalau gitu. Stop menormalisasikan perselingkuhan! "
" Iya iya bawel akh! Yaudah aku turun dulu, nanti malam mau ikut kulineran nggak sama Mbak Inka?" tanya Mbak Sekar
" Gas lah!!!"
Meski berada jauh dari rumah, Bu Nawang selalu memperhatikan dan mengawasi MJ seperti anak sendiri. Asal ia pergi dengan orang yang dikenal, Bu Nawang akan mengizinkannya.
MJ tak mempermasalahkan itu, sebab ia sudah menganggap Bu Nawang seperti ibu sendiri. Malah ia bersyukur hidupnya jadi tak hilang arah.
Ting!
Sebuah pesan di grup Karang Taruna membuat ia kaget. Isinya adalah berita duka meninggalnya bayi Pak Abdul dan Bu Nia karena kejang-kejang.
" Innalillahi Yah, aku turut berdukacita " ucap MJ kaget