terinspirasi dari film: Takut Gak Sih.
menceritakan seorang You Tuber dengan nama Chanel Takut Gak Sih yang membuat konten untuk membongkar kasus kematian para arwah gentayangan dari berbagai daerah dan pulau.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
misteri rumah Gantung part 1
Setelah kejadian Boneka Rebecca itu nama tim Takut Gak Sih semakin viral, sudah banyak tempat yang di datangi mereka namun dari sekian banyak tempat yang mereka datangi ternyata hanya gosip dan tidak ada hantu apapun di sana, membuat mereka sedikit menyesal.
Hingga 3 hari berlalu, saat ini Atmo tampak duduk di belakang rumah dengan wajah ngeselinnya yang teterpa angin, ia hanya mengenakan boxer hitam dengan gambar kepalan tangan saitama.
Saat ini Atmo sedang memainkan ponselnya dengan tangan kanan sementara tangan kirinya mengibas ngibaskan raket listrik untuk mengusir nyamuk.
Ting!
Sebuah DM ig tiba tiba muncul.
"Halo kak Atmo, perkenalkan Nama saya Gita saya pindahan dari jakarta ke Semarang. Saat ini saya sedang tinggal di desa Sidoluhur, menurut cerita orang orang di sini terdapat rumah angker, kak. Rumah itu sering di sebut Rumah Gantung.." isi pesan itu.
"Terimakasuh requestnya, Kak Gita. Saya akan rundingkan dulu dengan member lainnya, apabila mereka setuju saya akan hubungi kakak lebih lanjut..." balas Atmo.
Atmo langsung mengscrenshoot isi DM ig itu kemudian mengirimnya di Grup TGS. Tidak butuh waktu lama Cahaya dan Vina langsung merespon untuk setuju, sementara Galang seperti biasa ia tidak merespon apapun.
Akhirnya mereka sepakat untuk menuju desa Sidoluhur dan menyelidiki tentang Rumah Gantung itu, apakah benar ada hantunya.
Pagi pagi sekali mobil minibus putih dengan poster dan stiker Takut Gak Sih melaju di jalan raya menuju ke desa Sidoluhur dengan Atmo yang menyetir di depan sesekali ia menyingkirkan rambut keritingnya yang menutupi jidat hitam metalicnya.
Di sampingnya tampak Galang yang memejamkan matanya dengan tangan yang di lipat di dada, dan sesekali menguap karena mengantuk.
Sementara Vina dan Cahaya tampak sibuk mengobrol di belakang.
"Semoga di Rumah Gantung itu beneran ada hantunya lah, Vin. Udah tiga hari semenjak Boneka Rebecca kita ngga update konten..."
"Ya semoga aja, Ay. Kamu tahu sendirikan akhir akhir ini kita berkunjung ke tempat yang sia sia, terakhir kita udah jauh jauh ke Tegal katanya di sana ada tuyul ehh ternyata uangnya bukan di curi tuyul tapi justru kelupaan nyimpen di mana.." jawab Vina mengingat kejadian kala itu.
Hingga akhirnya mobil minibus itu tiba di Desa Sidoluhur mereka langsung di sambut baik oleh para warga.
Di sana mereka juga bertemu dengan Gita dan langsung di ajak kerumahnya.
Sebelum ke rumah Gita mereka terlebih dahulu berkeliling desa, sembari beramah tamah kepada warga sekitar agar mereka bisa saling mengenal.
Saat mereka berjalan jalan mereka melihat sekelompok anak anak sedang bermain sepak bola di sawah yang tidak ada padinya hanya tanah kering.
Galang dan Atmo pun menghampiri mereka.
"Hai dek, boleh tidak kakak ikut main?" Tanya Galang.
"Boleh dong kak.." jawab salah satu dari mereka.
Galang dan Atmo pun bergabung bermain sepak bola dengan mereka, sedangkan Cahaya, Vina dan Gita kembali berjalan menglilingi desa.
"Sepertinya Quetes tentang lelaki tidak pernah dewasa itu benar ya, Vin..." ucap Cahaya.
"Haha, iya bener Ay. Galang sama Atmo udah gede gitu main sama anak anak..." sahut Vina.
Tiba tiba Gita berucap, "ih sebenarnya aku males banget tinggal di kampung seperti ini, udah kotor jorok lagi." Ucapnya yang membuat Cahaya dan Vina tercengang.
"Kamu ngga boleh gitu Git.." ucap Vina.
"Memangnya kenapa? Kan kenyataannya memang seperti itu."
"Terus kalau kamu males tinggal di sini kenapa kamu pindah ke desa, Git."
"Ya aku terpaksa karena di suruh ibu sama bapak, alesannya biar aku merasakan hidup susah.."
Tiba tiba mereka melihat sekelompok ibu ibu yang sedang menanam jagung.
Mereka langsung menghampiri ibu ibu yang sedang menanam jagung itu.
"Assalamualaikum ibu ibu.." ucap Cahaya dan Vina secara bersamaan.
"Wa'alaikum salam mbak.." jawab mereka secara serentak.
"Ibu ibu boleh kita ngobrol sebentar?"
"Boleh mbak..."
"Ibu ibu kerja menanam begini dari pagi sampai sore atau cuma sampai setengah hari?"
"Ya sama sore lah mbak."
"Wah pasti ibu ibu sehat ya, soalnya keluar keringat setiap hari.."sahut Cahaya.
"Kenapa mereka malah ngobrol sama mereka sih! Bukannya langsung buat konten tentang rumah Gantung itu, siapa tahu aku bisa Viral karena kecantikanku..." batin Gita.
"Alhamdulillah, tapi kita juga sering merasakan sakit pinggang mbak." Jawab salah satu warga.
"Baik terimakasih atas waktunya ya ibu ibu, kalau ibu ibu merasa tidak enak badan ibu ibu lebih baik cek ke puskesmas." Ucap Vina.
"Baik Neng..."
Cahaya dan Vina bersalaman dengan ibu ibu itu, tetapi Gita tidak mau ia hanya berdiri sejauh 6 meter menjaga jarak dengan tangan yang di lipat di dada.
"Gita, kamu ngga salaman?" Tanya Vina.
"Ngga mau, kotor banyak kumannya!" Jawab Gita.
"Gita, kenapa kamu ngomong begitu? Sopan sedikit tidak bisa?" Tanya Cahaya sedikit jengkel, ia sendiri merasa tidak menyangka bahwa sifat Gita seperti ini.
"Memangnya ada yang salah dengan omonganku? Kalian lihat sendirikan betapa kotornya tangan mereka.." ucap Gita.
"Sudah sudah Mbak, kami tidak apa apa kok. Memang kenyataannya tangan kami kotor.." jawab salah satu ibu ibu berusaha melerai.
"Kami benar benar minta maaf ya bu, karena Gita sudah tidak sopan." Ucap Cahaya.
"Iya tidak apa apa, mbak.." jawab salah satu ibu ibu, semua ibu ibu di sana sudah tidak heran dengan sikap Gita yang sangat sombong karena mereka sudah beberapa kali melihatnya.
Mereka kerap kali menyapa Gita namun tidak pernah menjawab hanya menatap secara sekilas.
"Kalau begitu kami permisi dulu, Asslamu'alaikum." Ucap Cahaya dan Vina..
"Wa'alaikum salam.." jawab semua ibu ibu di sana.
Kemudian mereka bertiga meninggalkan kelompok ibu ibu itu, dan mereka segera berjalan menjauh menuju ke rumah Gita.
"Gita, kamu kenapa ngga bisa jaga bicaramu sih?" Tanya Cahaya saat mereka sudah menjauh dari ibu ibu.
"Lah? Mulut mulutku ya suka suka akulah.." jawab Gita dengan angkuh.
"Tahu orangnya ngeselin kaya begini aku ogah banget kesini..." batin Cahaya yang kesal dengan sikap Gita.
"Kamu bilang kamu baru pindah kan Gita? Kita itu di desa orang, kita harus jaga sikap jangan sampai kita menyakiti hati orang lain kalau tidak kamu bisa menyesal sendiri nantinya karena tidak ada warga yang mau berteman denganmu.." sahut Vina.
"Aku menyesal? Hahaha... tidak ada di kamusku kata menyesal." Ucapnya dengan ekspresi tengil.
"Terserah kamu saja, kalau ada apa apa jangan menyesal.." sahut Cahaya.
Gita memang gadis yang sangat sombong, karena dia aslinya adalah anak seorang pengusaha kaya dari Jakarta, ia terpaksa tinggal di desa karena orang tuanya ingin Gita hidup mandiri.
Gita sendiri secara tidak sengaja mendengar desas desus tentang rumah gantung yang ada di desa ini. Dia tidak mengetahui pasti rumah itu angker atau tidak, namun dia tetap mengundang tim TGS dengan harapan dia dapat Viral atau mungkin bergabung menjadi member mereka.