Ditinggalkan oleh calon suami seminggu sebelum pernikahan nya membuat hati Alina hancur lebur. Belum mendapatkan jawaban akan maksud calon suaminya yang meninggalkan dirinya, Alina kembali dikejutkan beberapa bulan kemudian akan permintaan pria yang belum menghilang dari hatinya itu.
"Aku mohon padamu, tolong rawat bayi ini. Aku memohon padamu Alina. Jaga Rosa dengan baik." Setelah mengucapkan itu, Edwin menghembuskan nafas terakhirnya.
Bagaimanakah kelanjutan nya? Apakah Alina akan membesarkan nya? atau justru mengikuti egonya? Dan bayi siapa itu sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Nilam Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penantian dan perdebatan
"Siapa itu nona?" Tanya bibi setelah terbangun dari tidurnya.
"Penjaga rumah dia juga yang membersihkan rumah ini selama aku pergi." Jelas Alina.
"Pantas saja, masih terjaga." Ujar bibi, Alina hanya mengulum senyum.
"Oh ya nona. Pagi ini mau makan apa? Jujur saja, bibi masih bingung...." Jelas bibi.
"Tidak apa, bibi akan belajar dan terbiasa nanti. Untuk bahan makanan semuanya sudah ada. Aku sudah katakan pada penjaga rumahku. Disini, bibi bisa membuat sup ataupun bubur. Tapi, ya itu... Hanya menggunakan garam maupun lada. Tidak apa kan?" Jelas Alina dengan tersenyum.
"Tidak apa nona. Bibi mengerti."
"Ekhee, mamamamamaa." Terdengar suara Rosa. Tampaknya bayi itu terjaga dari tidurnya.
"Sudah bangun ya mawar nenek! Hmmmm, selamat pagi Rosa." Alina dapat mendengar jelas suara bibi yang sambil memeriksa popok bayi itu. Entah mengapa, dia tidak begitu marah lagi. Namun, tetap saja, Alina belum mau berinteraksi dengan bayi itu.
"Mamamamamaa." Alina melirik kakinya, tampak Rosa menempel disana. Saat tatapan mereka bertemu, Rosa melebarkan senyumnya.
"Mamamamamaa." Ujarnya lagi mencoba memanjat seolah ingin dipangkuan Alina.
"Dengar ya, aku sedang sibuk. Entah bagaimana kau bisa secepat itu kesini." Jelas Alina, matanya masih menatap tablet di tangannya.
"Ekhee, mammamaa." Alina tersentak, tubuhnya mematung sejenak. Rosa, bayi itu sudah naik dan berhasil menetap di tulang keringnya seolah itu sebuah ayunan yang menyenangkan dan tempat bermain.
"Mamamamamaa." Ujarnya lagi, tangannya bergerak lebih menyentuh kulit bagian kaki Alina seolah seperti kata sandi untuk bermain.
"Astaga bayi ini. Hei, kau......"
"Akhahaha, buababababbaa." Tapi Rosa justru berjingkat kegirangan saat Alina menggerakkan kakinya.
"Mammamaa." Ujar bibir mungil itu kembali saat Alina berhenti.
"Kau pikir aku ini ayunan? Begitu? Atau sebuah taman kanak-kanak? Fasilitas bermain? Iya? Begitu?" Jelas Alina dengan nada dan gaya bicaranya yang khas pada Rosa.
"Akhahaha." Seolah mengiyakan ucapan Alina, Rosa membalasnya dengan tawa.
"Aku akan jatuhkan kau ke karpet ini. Kita lihat seberapa tangguh tangan kecil mu ini. Hmmm."
"Mamamamamaa."
"Kau tampak setuju. Ok! Kita mulai!" Jelas Alina seperti menabuhkan genderang perang. Alina kembali mengayunkan kakinya, dan Rosa tertawa kegirangan akan itu. Sungguh pemandangan itu dilihat lain oleh bibi. Sudut pandang wanita itu melihatnya lain, seperti seorang ibu dan anak yang tengah bermain bersama. Entah Alina sadar atau tidak, tapi dia tersenyum dan begitu juga dengan Rosa. Bayi itu kegirangan bermain seperti menaiki ayunan.
"Akhahaha."
"Kau tangguh juga ya. Aku akan jatuhkan tubuh gembul mu ini. Lihat saja!" Ujar Alina kembali.
"Buababababbaa."
"Sungguh pemandangan yang indah." Ujar bibi terharu melihat nya.
********************
"Hangat kan Rosa? Rosa suka?" Seolah mengerti dengan apa yang ditanyakan Rosa tertawa lebar.
"Mawar nenek. Kau senang? Bermain dengan i-ibu Alina?"
"Yayayaya." Balas Rosa.
"Nenek juga. Perlahan, Rosa akan mendapatkan nya. Sekarang kita juga sudah jauh dari orang-orang itu. Mereka tidak akan datang ataupun menemukan kita. Bibi tidak masalah dengan udara dingin ini mawarku, asalkan kau aman." Jelas bibi, dia mendekap erat tubuh Rosa dan mengecup rambut itu sesekali.
Dengan leluasa, bibi dapat melihat salju turun dan kembali menumpuk di halaman ditemani dengan lampu-lampu yang akan menyala di malam hari dengan boneka maupun patung yang menggemaskan dengan berbagai karakter natal.
"Kita sekarang di dongeng Elsa... Rosa nenek."
"Aku tidak bisa begini saja. Tampaknya aku harus cari pekerjaan setelah musim dingin ini berlalu. Ya, memang begitu." Jelas Alina menatap jendela yang samar dengan ditemani uap minuman coklat ditangannya.
**********************
"Kau mau pergi, benar?"
"Ya, pekerjaan. Biasanya juga begitu kan Daddy. Kenapa sekarang?"
"Kau tau benar, kita sedang dalam pencarian. Jangan pura-pura tidak tahu."
"Ayolah Daddy, lagipula aku bisa apa? Daddy bilang, aku ini harus bekerja melanjutkan pertemuan dengan rekan bisnis. Ya kan? Atau Daddy ingin aku menjadi pawang Rhea terus? Ya, pasti itu.... Karena tidak ada yang peduli padanya!"
"Jangan sembarangan bicara!" sela Daddy nya cepat.
"Memang benar kan? Kalau apa yang aku katakan salah, maka tidak akan begini jadinya!" balasnya tak kalah sengit.
"Kalau kau mau pergi, pergilah! Aku tidak tahan dengan sikap keras kepala mu itu! Selalu saja menentang ku! Aku ini Daddy mu!"
"Bagus, itu yang aku mau. Aku akan terus menentang, kalau itu adalah faktanya!"
"Son! Jangan pergi! Hei!"
"Sudah, biarkan saja!" pria bertubuh besar itu langsung menahan tubuh wanita yang menjadi kecil baginya.
"Putramu itu membuat ku tambah pusing!"
"Itu karena mu juga!"
"Kau menyalahkan ku juga? Astaga, aku tidak percaya ini! Aku melakukan semua ini untuk kita. Kau tidak bisa melihat nya sayang?" Wanita itu langsung lemas, kepalanya tertunduk dengan wajah yang mulai basah.
Bersambung......
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak 🥰 🥰 🙏