Langit Sterling, remaja Jakarta yang bermasalah akibat balap liar, dikirim ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum Yogyakarta untuk dibina. Usaha kaburnya justru berujung petaka ketika ia tertangkap di asrama putri bersama Senja Ardhani, putri Kyai Danardi, hingga dipaksa menikah demi menjaga kehormatan pesantren.
Pernikahan itu harus dirahasiakan karena mereka masih bersekolah di SMA yang sama. Di sekolah, Langit dan Senja berpura-pura menjadi musuh, sementara di pesantren Langit berjuang hidup sebagai santri di bawah pengawasan mertuanya, sambil menjaga rapat identitasnya sebagai suami rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji sebelum berpisah lagi
Waktu berlalu seperti deru angin. Setahun telah terlewati, dan Senja kini bukan lagi santri baru kelas sepuluh yang canggung. Ia tumbuh menjadi santriwati kelas sebelas yang cerdas, tenang, dan semakin anggun. Namun, kerinduan pada Langit adalah lubang di hatinya yang tak pernah benar-benar tertutup.
Malam itu adalah malam ulang tahun Senja yang ke-17. Tidak ada pesta mewah, hanya doa yang ia rapalkan dengan khusyuk di atas sajadah saat shalat Tahajud di masjid pesantren yang sepi. Senja bersujud lama, memohon keselamatan untuk suaminya yang sedang menempuh ujian semester di Melbourne.
Begitu salam terakhir diucapkan, Senja masih duduk bersimpuh, menatap pilar-pilar masjid yang temaram. Ia teringat kembali kenangan masa lalu, saat Langit sering mengintipnya dari balik pilar itu.
"Selamat ulang tahun, Jendela hatiku."
Sebuah suara rendah, maskulin, dan sangat akrab terdengar dari balik bayangan pilar besar di sudut masjid. Jantung Senja berhenti berdetak sesaat. Ia perlahan menoleh, mengira dirinya sedang berhalusinasi karena saking rindunya.
Namun, di sana berdiri seorang pria dengan tinggi badan yang bertambah, bahu yang lebih bidang, mengenakan jaket varsity khas mahasiswa luar negeri dan sarung yang tersampir rapi di bahunya. Senyum nakal namun hangat itu... tidak salah lagi.
"Mas... Langit?" bisik Senja, suaranya bergetar.
Tanpa membuang waktu, pria itu melangkah keluar dari kegelapan. Langit Sterling benar-benar ada di sana. Ia telah terbang 14 jam dari Melbourne, menempuh perjalanan darat dari Surabaya, dan menyelinap masuk ke pesantren hanya untuk memberikan kejutan ini.
Senja langsung bangkit berdiri dan berlari kecil—melupakan sejenak aturan pesantren karena saat ini hanya ada mereka berdua di keheningan masjid. Ia menghambur ke pelukan Langit, menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Ini beneran kamu? Aku nggak mimpi kan?" isak Senja, air mata bahagianya tumpah membasahi jaket Langit.
Langit memeluk Senja begitu erat, mengangkat tubuh istrinya sedikit dan memutar tubuhnya perlahan. Ia menghirup aroma kerudung Senja yang selalu ia rindukan.
"Nggak mimpi, Sayang. Saya pulang. Saya nggak mungkin biarin istri saya ngerayain sweet seventeen sendirian tanpa pelukan dari suaminya."
Langit melepaskan pelukannya sedikit, lalu merengkuh wajah Senja. Ia menatap mata istrinya yang basah dengan penuh cinta, lalu memberikan ciuman dalam di kening Senja yang berlangsung sangat lama.
"Selamat ulang tahun, Senja-ku. Kamu semakin cantik," bisik Langit di depan bibir Senja.
Langit kemudian merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil beludru. Di dalamnya terdapat sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk bintang kecil.
"Ini bintang dari Australia. Supaya kamu tahu, meskipun saya jauh, saya selalu menatap langit yang sama dan bintang yang sama untuk mendoakan kamu."
Senja tak bisa berkata-kata, ia hanya bisa memeluk Langit kembali, merasakan detak jantung suaminya yang masih seirama dengan miliknya.
Malam itu, di bawah kubah masjid yang suci, jarak ribuan kilometer itu luruh, digantikan oleh kehangatan cinta yang kini terasa jauh lebih dewasa dan kuat.
****
Dinginnya Malang
Perjalanan dimulai di sebuah resor mewah di daerah Batu, Malang. Udara dingin yang menusuk tulang justru menjadi alasan bagi Langit untuk tidak melepaskan pelukannya pada Senja.
Sore itu, mereka duduk di balkon kamar yang menghadap langsung ke deretan pegunungan. Langit menyelimuti tubuh Senja dengan jaket besarnya dari belakang, melingkarkan lengannya di perut Senja, dan menyandarkan dagunya di bahu istrinya.
"Dingin ya, Ja?" bisik Langit sambil mengecup leher Senja lembut, membuat Senja merinding bukan karena angin, tapi karena sentuhan suaminya.
Senja memegang tangan Langit yang melingkar di tubuhnya.
"Dingin... tapi kalau begini terus, aku merasa hangat banget, Mas."
Malamnya, dalam keheningan kamar yang hanya diterangi cahaya lilin dan perapian, mereka tenggelam dalam keintiman yang mendalam. Tanpa gangguan suara asrama atau ketakutan akan pengurus, Langit dan Senja memadu kasih dengan penuh kelembutan, seolah ingin membayar setiap detik kerinduan yang sempat tertahan ribuan kilometer.
Dari Malang, mereka menempuh perjalanan menuju Banyuwangi. Langit membawa Senja ke sebuah villa privat di tepi pantai yang sunyi. Sore hari, mereka berjalan bergandengan tangan di atas pasir putih. Langit sesekali menggendong Senja, berputar-putar sambil tertawa lepas, membiarkan deburan ombak membasahi kaki mereka.
"Mas, turunin! Nanti ada yang lihat!" seru Senja sambil tertawa, tangannya memeluk leher Langit erat.
"Biarkan saja, biar dunia tahu kalau kamu itu punya saya, Ja," jawab Langit bangga. Ia menurunkan Senja perlahan, lalu menangkup wajah istrinya, menatap mata Senja yang berkilau terkena pantulan senja, lalu mencium bibirnya dengan penuh perasaan di bawah langit yang berubah jingga.
Malam terakhir mereka habiskan di sebuah penginapan eksklusif di kawasan Ijen. Di bawah langit Banyuwangi yang penuh bintang, mereka menghabiskan waktu dengan bercerita tentang mimpi-mimpi masa depan.
Di dalam kamar, suasana begitu intim dan sakral. Langit menatap Senja dengan tatapan yang sangat dalam.
"Terima kasih sudah bertahan sejauh ini, Sayang. Satu tahun lagi kamu lulus, dan kita akan kuliah di Australia bersamaku."
Senja tidak menjawab dengan kata-kata, ia menarik kerah baju Langit, membawa wajah suaminya mendekat.
Malam itu, di tengah kesunyian alam Banyuwangi, mereka kembali menyatu dalam asmara yang membara. Keintiman suami istri yang mereka lakukan bukan sekadar nafsu, melainkan cara mereka berkomunikasi bahwa jiwa mereka telah terikat mati, tak peduli berapa benua yang memisahkan mereka nantinya.
Pagi harinya, sebelum mereka kembali ke Kediri, Langit memeluk Senja di depan mobil, memberikan ciuman perpisahan di kening yang sangat lama.
"Liburan ini selesai, tapi cinta saya ke kamu nggak akan pernah ada ujungnya, Ja."
Senja tersenyum dengan mata berkaca-kaca, ia tahu bahwa memori tiga hari ini akan menjadi kekuatan terbesarnya untuk menunggu Langit pulang untuk selamanya.
Suasana di gerbang keberangkatan internasional Bandara Juanda terasa begitu berat dan menyesakkan. Aroma kopi bandara dan suara bising pengumuman jadwal penerbangan seolah menjadi latar belakang yang kejam bagi perpisahan mereka.
Langit berdiri mematung, tangannya masih menggenggam erat jemari Senja. Ia sudah mengenakan jaket tebalnya, siap menerjang musim dingin di Melbourne, namun hatinya masih tertinggal di genggaman tangan istrinya. Senja, dengan mata yang sudah sembab dan hidung yang memerah, berusaha sekuat tenaga untuk tetap tegar dan tidak pecah dalam tangis yang hebat.
"Mas... sudah dipanggil," bisik Senja parau, suaranya bergetar hebat saat mendengar pengumuman keberangkatan pesawat menuju Melbourne.
Langit tidak menjawab. Alih-alih melangkah pergi, ia justru menarik Senja ke dalam pelukan yang sangat posesif dan erat. Ia membenamkan wajahnya di celah leher dan bahu Senja, menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya yang ingin ia simpan rapat-rapat dalam ingatannya sebagai bekal satu tahun ke depan.
"Satu tahun lagi, Ja. Saya janji, ini perpisahan terakhir kita yang sesedih ini," gumam Langit tepat di telinga Senja. Suaranya terdengar pecah, menahan gejolak emosi yang luar biasa.
Senja meremas punggung jaket Langit, enggan melepaskan. "Hati-hati di sana, Mas. Jaga kesehatan, jangan telat makan. Aku tunggu kamu di sini... aku selalu tunggu kamu."
Langit melepaskan pelukannya sedikit, hanya untuk menangkup wajah Senja dengan kedua tangannya. Ia menatap mata Senja dengan tatapan yang seolah ingin mengunci jiwa istrinya.
Perlahan, Langit mencium kening Senja sangat lama, lalu turun ke kedua kelopak mata Senja yang basah, dan berakhir dengan ciuman di bibir yang penuh dengan rasa berat hati dan janji setia.
"Saya nggak mau pergi, Ja... rasanya separuh nyawa saya ditarik paksa," bisik Langit di depan wajah Senja.
"Kamu harus berangkat, Mas. Demi masa depan kita," balas Senja sambil mencoba tersenyum meski air matanya kembali luruh. Ia dengan lembut melepaskan satu per satu jemari Langit yang masih mencoba menahan lengannya.
Langit menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kekuatan. Ia mengambil koper besarnya, lalu mulai melangkah mundur tanpa melepaskan pandangannya dari Senja. Setiap langkah menjauh terasa seperti beban berton-ton bagi kakinya.
Saat Langit sudah berada di ambang pintu pemeriksaan dokumen, ia berhenti dan berbalik sekali lagi. Ia melambaikan tangannya, memberikan isyarat saranghae kecil dengan jarinya, lalu memberikan ciuman jauh.
Senja membalas lambaian itu dengan tangan yang gemetar, berdiri mematung di tengah kerumunan orang sampai sosok jangkung suaminya benar-benar hilang di balik pintu kaca.
Di balik pintu itu, Langit menyandarkan tubuhnya ke dinding sejenak, memejamkan mata rapat-rapat untuk meredam sesak di dadanya, sebelum akhirnya melangkah maju demi menjemput hari di mana ia tak perlu lagi mengucapkan selamat tinggal pada Senja.