Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 24
Rowena menatap langit-langit. Putih, kasar, penuh noda jamur di sudut-sudutnya. Punggungnya nyeri karena kasur tipis dan tidak nyaman menopang tubuhnya.
Sial.
Rasanya seperti dipenjara lagi.
Matanya terpejam. Ia membenci obat penenang.
Ia berada di ruangan tanpa jendela. Ada yang salah. Bahkan ruang tahanan pun tidak seperti ini.
Lengannya tak bisa digerakkan. Perlahan ia menunduk, melihat tubuhnya sendiri di ranjang. Sebuah jaket putih ketat membelit tubuhnya, lengan terikat, terhampar di dalam terpal kanvas yang sempit.
Pintu mulai terbuka. Seorang perawat dan seorang dokter masuk. Sepasang sosok yang terasa menyeramkan dengan caranya sendiri. Jika Rowena tidak sedang dibius, mungkin tubuhnya sudah menggeliat menahan sakit.
“Rowena Scarlett. Saya Dr. Millo,” ujar pria itu.
Ia mengenakan jas putih. Rowena menyipitkan mata, berusaha fokus, menyusun ulang gumaman-gumaman yang berserakan di kepalanya.
Tadi ia berada di mana?
“Hari ini hari Rabu. Tadi malam kamu dibawa ke rumah sakit oleh tante dan pamanmu. Kamu ingat sesuatu?” tanya dokter itu.
Tante dan pamannya memasukkannya ke rumah sakit jiwa?
Tentu saja.
Mereka sering mengancam hal itu hampir setiap minggu. Itulah sebabnya Rowena biasa mengurung diri di kamar dan menjauh dari mereka. Mereka pernah benar-benar memasukkannya ke rumah sakit jiwa saat ia berusia empat belas tahun. Artinya, kali ini pasti ada sesuatu yang ia lakukan hingga membuat mereka ketakutan.
Dua orang asing itu menunggu jawabannya dengan gelisah. Pandangan Rowena beralih ke perawat berseragam biru. Perempuan itu tampak normal, membosankan.
“Hah?”
Mereka bertanya apakah ia ingat.
Ingat apa?
Apakah mereka sedang menanyakan siapa dirinya?
Ia tahu siapa dirinya.
Namun soal tadi malam, ingatannya kosong. Bahkan beberapa hari terakhir pun hilang begitu saja.
Tetap saja, pasti ada sesuatu. Pasti ia sempat memutuskan melakukan sesuatu. Mabuk berat, lalu membeli narkoba?
Mungkin.
Dokter dan perawat itu saling bertukar pandang.
“Oh, aku paham,” ucap Rowena. “Aku telat datang ke pesta teh?” lanjutnya dengan seringai.
“Berikan dosis berikutnya.” Tatapan dokter itu kembali padanya, lalu ia condong ke depan. “Selamat datang di Paragon, Rowena. Aku sangat senang kamu ada di sini.”
“Aku akan keluar dari sini,” balas Rowena tajam sambil menjilat bibirnya yang kering.
Senyum sinis dokter itu melebar. Dan sejujurnya, sebanyak apa pun obat penenang di dunia, itu tidak akan menghentikannya untuk mencoba kabur. Jaket pengekang ini harus dilepas. Sekarang juga.
“Tidak. Kamu tidak akan bisa,” katanya.
Otak Rowena tenggelam oleh obat, dan ia kembali terlelap.
Sekitar satu jam kemudian, perawat itu kembali. Ia membantu Rowena duduk di tepi ranjang, jaket pengekang masih membelit ketat tubuhnya. Kepalanya mulai terasa lebih jernih, dan tepat saat itu pula perawat tersebut memaksanya menelan kapsul besar. Air baru diberikan setelah kapsul itu tertelan.
Luar biasa.
Benar-benar luar biasa.
Pikiran itu melintas saat pil tersebut meluncur ke tenggorokannya.
Perawat itu berambut cokelat muda, dikepang rapi. Wajahnya biasa saja, tidak ada yang istimewa. Nama Agnes terbordir di seragamnya.
Agnes mendekat dengan wajah tegang, mulai melepas jaket pengekang. Pandangan Rowena menelusuri wajahnya, lalu turun ke lehernya. Bunyi dari pergelangan tangan perempuan itu menjadi satu-satunya hal yang menarik perhatian. Rowena menjilat gusinya yang terasa geli.
“Jangan pernah berpikir untuk melakukan itu,” kata Agnes singkat sambil melepaskan ikatan di pergelangan tangannya.
“Melakukan apa?” balas Rowena. “Aku cuma duduk di sini.”
Agnes memutar mata, menyuruhnya berdiri dan menghadap tembok, sementara ia melepas ikatan di bagian belakang jaket pengekang.
“Pil apa tadi?” tanya Rowena. “Aku tidak mau minum lithium.”
Agnes mendengus. Rahang Rowena langsung mengeras.
Ia sudah membenci tempat ini. Jelas ini bukan rumah sakit jiwa yang benar. Ia bahkan belum sempat ke mana-mana, sudah dibius, diikat dengan jaket pengekang, lalu dipaksa menelan pil yang tidak dikenalnya. Ia bukan binatang. Sial, binatang saja diperlakukan lebih manusiawi.
Akhirnya jaket pengikat itu dilepas. Rowena langsung meregangkan kedua tangannya ke atas kepala. Kemeja yang dikenakannya cukup panjang.
Ia menurunkan pandangan, bingung dengan pakaiannya. Ia mengenakan kemeja pria. Aromanya sangat menyenangkan. Tubuhnya bahkan merespons wangi itu dengan antusias. Selebihnya, pakaian dalam dan yang lain, itu miliknya sendiri.
“Bajuku di mana?”
“Itu saja yang kamu bawa ke sini,” jawab Agnes sambil berjalan ke lemari besar dan membukanya. “Keluargamu yang membawanya. Aku sudah memeriksa dan mengambil yang perlu.”
“Apa-apaan ini?” Rowena melongo melihat isi lemarinya.
“Kami hanya mengamankan catokan dan kaleng aerosol. Semua perhiasan dan barang elektronik juga sudah dikemas.”
“Siapa namanya?” tanya Rowena. “Yang membawa semua bajuku?”
Agnes menutup lemari, lalu menghadapnya dengan tangan menyilang.
“Dokter kamu akan menjelaskan semuanya,” katanya cepat. Jelas terlihat ia kesal, padahal satu-satunya hal yang Rowena lakukan hanyalah terbangun di tempat asing dan dipaksa minum obat.
“Kalau begitu, bawa aku ke dokternya,” ucap Rowena kesal sambil menarik bulu mata palsunya yang terlalu panjang.
Agnes kembali memutar mata dan berjalan ke pintu. Untungnya Rowena masih setengah teler.
“Ikut aku,” katanya.