NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Ruang Ajaib / Fantasi Wanita / Tamat
Popularitas:286k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

TAMAT SERI 1 - Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.

Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.

Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.

NANTIKAN SERI 2 - Ruang Ajaib Gadis Desa Mengguncang Istana Yogyakarta

Segera.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menerima Hukuman

Tek... tek... tek...

Suara ketukan kayu jati yang beradu dengan tanah kering itu terdengar ritmis, namun membawa vibrasi yang mampu menggetarkan nyali siapa pun yang mendengarnya.

Bagi Rahayu dan Sekar Wening, suara itu adalah lonceng kematian bagi ketenangan mereka. Itu adalah suara tongkat Eyang Marsinah.

Sekar yang sedang merapikan letak kain batik di dalam lemari langsung menegakkan punggung. Matanya menyipit, waspada.

Hawa dingin yang dibawa angin sore mendadak terasa lebih mencekam, seolah alam pun tahu bahwa sang penguasa absolut keluarga Adhiwijaya sedang melangkah menuju gubuk buangan ini.

"Nduk... Sekar..." suara Ibu Rahayu terdengar bergetar dari ambang pintu depan.

Sekar menoleh dan mendapati ibunya berdiri mematung dengan wajah seputih kertas. Tangannya yang kurus gemetar hebat, mencengkeram kusen pintu yang lapuk.

"Eyangmu, Nduk... Eyang datang," bisik Rahayu dengan nada ketakutan yang begitu murni hingga membuat hati Profesor Sekar berdenyut nyeri.

Belum sempat Sekar menjawab, bayangan besar muncul di balik cahaya sore yang temaram. Eyang Marsinah berdiri di sana.

Sosoknya tinggi tegap untuk ukuran wanita lanjut usia, dengan kebaya hitam yang kaku dan sanggul yang tertata tanpa cela.

Di belakangnya, Rendi mengekor dengan wajah yang dibuat-buat menyedihkan.

Tangan kirinya dibalut kain putih kasar, dan matanya memancarkan kilat kemenangan yang licik.

"Linuwih tenan kowe saiki, Sekar Wening," (Hebat sekali kamu sekarang, Sekar Wening), suara Eyang Marsinah berat dan serak, namun penuh otoritas yang menindas.

Dia melangkah masuk ke dalam gubuk tanpa permisi.

Matanya menyapu ruangan sempit itu dengan tatapan jijik.

Sekar berdiri dengan tenang, tidak menunduk, tidak juga menunjukkan ketakutan.

Dia menatap wanita tua itu dengan pandangan datar yang justru membuat Eyang Marsinah meradang.

"Eyang, apa yang membawa Eyang ke gubuk ini sore-sore begini?" tanya Sekar dengan nada yang sangat sopan, namun tanpa sedikit pun nada penghambaan.

Eyang Marsinah menghantamkan tongkatnya ke lantai tanah.

Brak!

"Kurang ajar! Siapa yang mengajarimu bicara dengan dagu terangkat begitu di depan nenekmu?" teriaknya, wajahnya yang keriput memerah padam.

Rahayu langsung bersimpuh di kaki Eyang Marsinah, air mata mulai mengalir deras di pipinya yang cekung. "Maafkan Sekar, Ibu... Sekar baru sembuh, pikirannya mungkin belum jernih.

Saya mohon, jangan marahi dia," isak Rahayu.

"Minggir kamu, Rahayu! Kamu itu tidak becus mendidik anak. Pantas saja Radit membuangmu ke sini!" Eyang Marsinah mengibaskan kainnya dengan kasar, membuat Rahayu tersungkur.

Melihat ibunya diperlakukan seperti itu, kepalan tangan Sekar mengeras. Benak profesornya mulai melakukan analisis singkat.

Subjek menunjukkan pola perilaku tirani tradisional. Menggunakan intimidasi fisik dan verbal untuk mempertahankan struktur hierarki sosial yang usang.

"Eyang, jika Eyang datang ke sini hanya untuk menghina Ibu, lebih baik Eyang pulang.

Kami sedang tidak ingin menerima tamu yang tidak memiliki tata krama," ucap Sekar dingin.

Suasana gubuk mendadak senyap. Bahkan Rendi yang tadinya sibuk berpura-pura meringis kesakitan, kini ternganga tidak percaya.

Eyang Marsinah tertawa kering. "Kowe krungu, Rendi? Anak pembawa sial ini sudah berani mengusir neneknya sendiri."

"Dia bukan cuma berani mengusir, Eyang! Lihat tanganku ini! Dia mau mematahkan tulangku tadi!" Rendi mulai merengek, menambahkan bumbu pada dramanya. "Dia pakai ilmu hitam, Eyang!"

Eyang Marsinah kembali menatap Sekar dengan kebencian yang mendalam.

"Sudah pembawa sial, sekarang jadi pemberontak.

Kamu benar-benar sampah yang merusak nama besar Adhiwijaya," desisnya.

Sekar tersenyum tipis.

"Nama besar yang Eyang banggakan itu... apakah dibangun di atas penderitaan cucu dan menantu sendiri?"

"Cukup!" teriak Eyang Marsinah, suaranya menggelegar. Dia menatap Rahayu yang masih terisak.

"Rahayu! Karena anakmu ini sudah tidak tahu diri dan berani menyakiti cucu kesayanganku, kalian harus menerima hukuman."

"Mulai detik ini, sampai dua hari ke depan, tidak ada satu pun orang di rumah utama yang boleh memberi kalian makan. Aku akan menyuruh Rudi untuk mengunci pintu gubuk ini dari luar."

Rahayu histeris. Dia memeluk kaki Sekar, tubuhnya bergetar hebat. Kelaparan adalah hantu yang paling menakutkan bagi mereka.

Namun, Sekar hanya berdiri diam, mengamati Eyang Marsinah dengan tatapan klinis.

"Dengar itu, Sekar? Dua hari!

Kita lihat apa kamu masih bisa bicara sombong saat perutmu melilit besok!" cibir Rendi dengan wajah puas.

"Ayo, Rendi. Kita biarkan mereka merenungi dosa-dosa mereka," ajak Eyang Marsinah sambil berbalik arah.

Tak lama kemudian, terdengar suara gaduh kayu yang dipalang melintasi pintu gubuk, disusul suara gembok besar yang dikunci dengan kasar.

Brak! Cklek!

Suara langkah kaki mereka perlahan menjauh, meninggalkan keheningan yang mencekik.

"Nduk... bagaimana ini..." Rahayu merosot ke lantai.

"Dua hari tanpa makan... kita bisa mati, Sekar."

Sekar berjongkok di depan ibunya, mengusap bahunya lembut. "Ibu, dengarkan Sekar. Lihat saya, Bu."

Rahayu mengangkat wajahnya yang basah.

Sekar menatapnya dengan sangat yakin. "Ibu ingat waktu Sekar sakit kemarin? Diam-diam Sekar sudah menyimpan sedikit persediaan di sudut lemari. Cukup untuk kita bertahan dua hari."

"Benarkah? Tapi... Ibu tidak pernah melihatnya," bisik Rahayu ragu.

"Sekar menyembunyikannya dengan sangat baik. Jadi Ibu jangan takut, nggih? Sekarang Ibu istirahat saja di kamar. Biar Sekar yang atur semuanya," pinta Sekar meyakinkan.

Dengan langkah gontai dan hati yang sedikit lebih tenang karena percaya pada perkataan anaknya, Rahayu masuk ke kamar kecilnya. Dia terlalu lelah secara emosional dan fisik untuk bertanya lebih lanjut.

Setelah memastikan ibunya benar-benar berbaring, Sekar melangkah menuju amben bambu di sudut ruangan.

Dia merebahkan tubuhnya yang masih terasa ringkih.

Secara biologis, rasa lapar mulai memicu pelepasan hormon ghrelin yang agresif ke otaknya.

Namun, Sekar memejamkan mata, mengatur napasnya ke frekuensi yang sangat rendah, hampir seperti meditasi dalam.

Tangan kirinya diletakkan di atas dada. Di kegelapan gubuk itu, tanda lahir di jari manisnya mulai berdenyut—hangat, ritmis, dan bercahaya keemasan yang hanya terlihat dalam kegelapan total.

Neural interface sedang aktif.

Pemindahan kesadaran ke ruang spasial dimulai, pikir Sekar dengan logika profesornya yang tetap tenang.

Dia tidak benar-benar menghilang. Secara fisik, tubuh Sekar Wening tetap terbaring di atas amben bambu itu, tampak seperti gadis yang sedang tertidur lelap dalam kepasrahan.

Napasnya teratur, kelopak matanya tertutup rapat, menyembunyikan kenyataan bahwa jiwanya sudah tidak lagi berada di sana.

Sekar merasakan sensasi 'tarikan' yang halus pada pusat kesadarannya.

Dunianya yang gelap, pengap, dan berbau debu mendadak bergeser.

Saat dia membuka matanya kembali, dia tidak lagi melihat langit-langit gubuk yang bocor.

Dia berdiri di tengah hamparan tanah hitam yang luas, di bawah langit perak yang memancarkan cahaya abadi. Aroma tanah basah dan kesegaran air spiritual langsung menyapu indra penciumannya.

Sekar berdiri tegak, tak lagi merasakan beban tubuh aslinya yang kelaparan.

Di dunia nyata, tubuhnya mungkin terlihat kalah dan terkurung, namun di sini, dia adalah penguasa mutlak.

"Dua hari di luar sana berarti dua puluh hari riset di sini," gumam Sekar sambil menatap gubuk bambu estetik di tengah lahan itu.

"Cukup waktu untuk memastikan keluarga Adhiwijaya membayar setiap tetes air mata Ibu."

1
hanachi_🌷
setau aku tehnik irigasi tetes memakai pompa air, jadi butuh listrik. dan jarang sekali dipakai di indonesia karena investasinya sangatlah mahal.
hanachi_🌷
kalau bilang begini lebih ga masuk akal lagi, Sekar. duuhh. sepetak tanah menghasilkan ratusan kilo beras ?
hanachi_🌷
ya tapi kan Arya sendiri sudah melihat berasnya dan dia juga yang pertama berani membeli dengan harga sangat tinggi.
hanachi_🌷
ga ditanya darimana beras ratusan kilo yang kemaren kemaren dijual ? ditanam di lahan mana kalau Sekar aja baru beli lahan ?
hanachi_🌷
ada akses jalan yang masih bisa dilewati SUV padahal lahannya terpencil tersembunyi.
hanachi_🌷
intinya kalau ga ada ruang rahasia, air spritual, Sekar akan tetap mengalami kesulitan dalam hidup barunya 😁
hanachi_🌷
tapi bambu itu kan ada ruas ruasnya. dan di ruas itu dalamnya buntu 🤔
hanachi_🌷
murah banget ya 200 meter persegi harganya cuma 50 juta.
hanachi_🌷
ah ga juga. kan di pasar tradisional juga banyak beras kualitas premium.
hanachi_🌷
mungkin aromanya mirip nasi dari beras menthik susu ya.
hanachi_🌷
soalnya dia ga perlu mikir gimana susahnya nyuci baju yang super kotor.
INeeTha: Bener juga🤣
total 1 replies
hanachi_🌷
kalau terjadi perubahan drastis hanya dalam waktu satu bulan, apa ga terlalu mencurigakan ?
hanachi_🌷
bukannya ada bintik kemerahan seperti batu delima di dalamnya. aku mikirnya bakal jadi kayak bubur beras merah kalau dimasak.
hanachi_🌷
solusi tercepat menyelamatkan ibunya kenapa ga dikasih minum air ajaib itu ? kan airnya bisa dibawa ke dunia nyata.
hanachi_🌷
menurutku tokoh yang paling bikin kesel di sini justru Rahayu.
hanachi_🌷
masih punya cincin kawin emas tapi memilih anaknya hidup kelaparan. padahal kalau dijual mungkin duitnya bisa untuk modal memulai hidup baru. minggat dari keluarga toxic. gila sih. secinta itu kah sama suami laknatnya.
hanachi_🌷
emang biji gabah yang ditanam itu dari jenis apa ?
hanachi_🌷
dih ngomongin dosa orang lain. ga punya kaca kah di rumah ?
hanachi_🌷
apakah seperti Le Mineral yang ada manis manisnya 😊
hanachi_🌷
ini jaman modern tapi kenapa masih pakai ember kayu ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!