Mikhasa tidak pernah menyangka jika cinta bisa berakhir sekejam ini. Dikhianati oleh pacar yang ia cintai dan sahabat yang ia percaya, impian tentang pelaminan pun hancur tanpa sisa.
Namun Mikhasa menolak runtuh begitu saja. Demi menjaga harga diri dan datang dengan kepala tegak di pernikahan mantannya, ia nekat menyewa seorang pelayan untuk berpura-pura menjadi pacarnya, hanya sehari semalam.
Rencananya sederhana, tampil bahagia dinikahan mantan. Menyakiti balik tanpa air mata.
Sayangnya, takdir punya selera humor yang kejam. Pelayan yang ia sewa ternyata bukan pria biasa.
Ia adalah pewaris kaya raya.
Mikhasa tidak bisa membayar sewa pria itu, bahkan jika ia menjual ginjalnya sendiri.
Saat kepanikan mulai merayap, pria itu hanya tersenyum tipis.
“Aku punya satu cara agar kau bisa membayarku, Mikhasa.”
Dan sejak saat itu, hidup Mikhasa tak lagi tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part Dua Puluh Dua
"Tuan terlihat pucat pagi ini," ucap Pak Edo.
Mikhasa membawa pandangan pada Pak Edo.
"Apakah Tuan sakit?" Tanya Mikhasa. Berpura-pura tidak mengerti keadaan Axel yang sesungguhnha. Juga untuk mengetahui apakah Pak Edo tahu tentang sakit Axel atau tidak.
Pak Edo membenarkan kaca matanya lalu menatap Mikhasa. "Saya pikir, anda tahu tentang keadaan, Tuan Axel," katanya. "Apakah sungguh anda tidak tahu?"
"Saya hanya tahu sedikit tentang beliau," jawabnya rendah.
"Tuan mengalami kecelakaan hebat tiga tahun yang lalu," jelas Pak Edo. Penjelasan yang sama yang pernah Mikhasa dengar dari Nyonya besar. Pak Edo kemudian menambahkan dengan sebuah permintaan tulus dari hatinya, "Nona, mohon jaga tuan dengan baik. Saya percaya pada anda."
Mikhasa semakin menatap Pak Edo. "Saya akan berusaha, Pak," jawab Mikhasa.
Pak Edo tersenyum lembut. "Sebelum saya menjadi asisten Tuan di perusahaan ini, saya adalah pengasuhnya dari kecil. Jadi saya menyayanginya seperti menyayangi putra saya sendiri," jelas Pak Edo dengan tenang penuh perhatian.
Mikhasa hanya diam. Ia memperhatikan komputer yang menyala terang di depannya. Sekali lagi ia disadarkan bahwa keberadaan di perusahaan ini hanyalah sebagai pajangan dan penenang hati sang Tuan Muda.
Bukankah ia sudah tahu dari awal tapi kenapa sekarang rasanya menyakitkan. Dia disini, tapi bukan Mikhasa.
'Semangat, Mikhasa. Jangan hiraukan apapun. Kan namanya juga pengasuh. Namanya juga bibi perawat ya harus merawat orang sakit. Yang penting cuan ngalir. Punya tabungan banyak, beli apapun yang ku pengen, lalu pergi keliling dunia.' Mikhasa menyemangati dirinya sendiri.
Hari ini, Mikhasa mulai menerima beberapa jadwal Axel, juga belajar bagaimana cara mendampingi Axel saat meeting dengan client dalam dan luar negeri.
Pak Edo keluar ruangan saat bel istirahat siang. Sekarang, hanya tinggal Mikhasa dan Axel di ruangan yang luas ini.
Axel tetap diam di tempatnyajarinya, tubuhnya tegak, sorot matanya terkunci pada layar. Jarinya sibuk menari diatas keyboard dengan cepat.
Dari meja sebelah kanan, Mikhasa menatap pria itu lama. Pikirannya berkecamuk tapi semuanya ia tekan rapat. Ia mengambil nafas dalam. Menenangkan hati dan pikirannya.
Mikhasa akhinya beranjak, lalu melangkah ke meja Axel. Ia berdiri tepat di depan meja pria itu.
Menyadari keberadaan Mikhasa, Axel mendongak, membawa pandangan pada gadis itu. Menatapnya dengan keteduhan.
"Apa ada yang ingin kau laporkan?" Tanyanya.
Mikhasa mengangguk pelan. "Iya," jawabnya.
"Katakan."
"Sudah waktunya makan siang, Tuan."
Axel memiringkan kepalanya, menatap wajah Mikhasa lekat-lekat, mencari titik kesedihan, ketakutan dan amarah yang tadi pagi sangat jelas terlihat, tapi yang ia temukan justru pandangan mata yang jernih, tenang dan profesional. Bahkan ada binar kecil di sana yang tersimpan indah.
"Apakah saya harus membawanya kesini untuk anda?" Tanya Mikhasa lagi, kali ini desertai dengan sedikit senyuman. Sebuah senyuman seorang perawat yang tengah merayu pasiennya agar mau makan.
"Kau marah padaku?" Tanya Axel rendah penuh kehati-hatian. "Mikhasa... Aku tidak ada niat buruk padamu. Ku harap kau tidak berpikir bahwa aku akan menyakitimu. Tolong jangan berpikir seperti itu."
Mikhasa mengalihkan pandangan sejenak, mengambil nafas dalam lalu kembali menatap Axel dengan senyum.
"Saya masih memerlukan pekerjaan ini, mana mungkin saya marah," jawabnya ringan.
Axel menatapnya lebih lekat. "Diluar pekerjaan ini, kau marah padaku."
Mikhasa tersenyum lagi, bahkan lebih lebar dan manis.
Axel segera berkata, "Jangan tersenyum jika hatimu terluka karena sikapku, Mikha. Aku minta maaf. Tolong jangan takut padaku dan tetaplah di sini."