Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.
Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16. Niat Di Balik Senyum
Ratna berdiri di depan rumah Naya dengan sikap yang tidak biasa. Tangannya saling bertaut di depan perut, bahunya sedikit membungkuk, wajahnya tidak lagi menampilkan sorot tajam yang selama ini selalu membuat Naya merasa kecil. Bahkan senyum yang terukir di bibirnya tampak… lembut. Terlalu lembut untuk seseorang seperti Ratna.
“Ibu ada keperluan apa menemui Naya?” tanya Naya sopan, meski di dalam dadanya muncul perasaan aneh yang sulit ia jelaskan.
Ratna melirik ke kanan dan kiri, memastikan halaman rumah sepi. Gerak-geriknya membuat Naya sedikit heran, tetapi ia memilih diam.
“Begini, Nak,” ujar Ratna pelan, suaranya dibuat serendah mungkin, “ibu mau bicara. Bisa masuk?”
Naya mengangguk tanpa ragu. Sifatnya memang selalu seperti itu—lebih memilih memberi ruang daripada curiga.
“Silakan, Bu.”
Mereka duduk berhadapan di ruang tamu. Naya menyuguhkan segelas air putih, lalu duduk dengan punggung tegak, tangannya terlipat rapi di pangkuan. Ratna menghela napas panjang, seperti seseorang yang sedang mengumpulkan keberanian.
“Nay…” panggilnya lirih. “Ibu mau minta maaf sama kamu.”
Kalimat itu membuat waktu seakan berhenti sesaat. Naya terdiam. Ia menatap wajah Ratna dengan mata membesar, bukan karena tersinggung, melainkan karena tidak menyangka. Selama ini, Ratna tidak pernah meminta maaf. Tidak pernah.
Namun Naya adalah Naya. Hatinya terlalu lembut untuk menyimpan dendam.
“Ibu…” jawabnya pelan sambil tersenyum, “sebelum ibu bilang begitu pun, Naya sudah memaafkan ibu. Dari awal.”
Ratna tersenyum semakin lebar. “Alhamdulillah. Ibu lega dengarnya.”
Di balik senyum itu, hatinya tertawa kecil.
Ternyata semudah ini, batinnya puas. Menantu bodoh. Tinggal pakai muka sedih, langsung luluh.
Ratna terus berbicara dengan nada penuh penyesalan, tentang masa lalu, tentang kata-kata yang seharusnya tidak ia ucapkan. Naya mendengarkan dengan sungguh-sungguh, bahkan sempat menahan haru. Ia benar-benar percaya bahwa Ratna telah berubah.
Malamnya, seperti biasa, Naya duduk di sisi tempat tidur sambil menceritakan segalanya pada Adit. Matanya berbinar, wajahnya tampak jauh lebih ringan dibanding hari-hari sebelumnya.
“Ibu datang, Mas,” katanya antusias. “Ibu minta maaf sama Naya.”
Adit terdiam sejenak. Alisnya sedikit mengernyit, meski bibirnya tersenyum tipis.
“Alhamdulillah,” ucapnya akhirnya.
“Iya, Mas. Naya senang banget. Akhirnya ibu menerima Naya.”
Adit mengusap kepala istrinya lembut. “Kalau itu bikin kamu bahagia, Mas ikut senang.”
Namun ketika Naya merebahkan kepala di bahunya, pandangan Adit justru menerawang. Ada kegelisahan kecil yang tidak bisa ia singkirkan.
Tumben ibu berubah seperti itu, batinnya. Apa benar ibu sadar… atau ada maksud lain?
Adit menepis pikirannya sendiri. Ia tidak ingin mencederai kebahagiaan Naya dengan prasangka yang belum tentu benar.
Waktu berjalan tanpa terasa. Hampir sebulan sejak kedatangan Ratna yang pertama, rumah Naya kembali sunyi dari kunjungan. Tidak ada pesan, tidak ada telepon. Naya mengira mertuanya sedang sibuk atau mungkin benar-benar memberi ruang untuk memperbaiki diri.
Ia kembali pada rutinitas hariannya. Mengurus rumah, mencatat pemasukan kos satu per satu dengan teliti, menyusun rencana investasi berikutnya, dan sesekali keluar rumah untuk membeli kebutuhan dapur. Hidupnya sederhana, rapi, dan penuh perhitungan.
Hingga suatu siang, bel rumah kembali berbunyi.
Naya membuka pintu dan mendapati Ratna berdiri di sana. Kali ini wajah mertuanya tampak berbeda. Alisnya berkerut, bahunya sedikit turun, dan napasnya terdengar berat. Seolah membawa beban besar.
“Ibu?” Naya terkejut. “Masuk, Bu.”
Ratna duduk dengan gerakan pelan. Ia mengusap tangannya sendiri, berpura-pura gelisah.
“Nay…” ucapnya lirih, “ibu sebenarnya sungkan mau datang lagi. Tapi ibu lagi butuh banget.”
Naya menatapnya penuh perhatian. “Ada apa, Bu?”
Ratna menarik napas panjang, lalu menunduk. “Ibu perlu uang sepuluh juta.”
Ucapan itu membuat jantung Naya berdegup sedikit lebih cepat. Sepuluh juta bukan angka kecil. Bukan pula uang yang bisa ia keluarkan tanpa berpikir.
“Sepuluh juta… untuk apa ya, Bu?” tanyanya hati-hati.
“Buat bayar arisan,” jawab Ratna cepat, terlalu cepat. “Kalau tidak dibayar, ibu malu. Nanti nama ibu jelek.”
Naya terdiam. Ia menunduk, pikirannya langsung menghitung. Dana itu sudah ia siapkan untuk penambahan modal kos yang akan direnovasi bulan depan.
“Ibu… maaf ya,” ucap Naya lembut setelah beberapa saat. “Kalau sepuluh juta, Naya belum bisa. Uangnya sedang diputar semua.”
Sorot mata Ratna berubah sekejap. Ada kilatan kesal yang nyaris tak tertangkap, tapi cukup cepat ia tutupi dengan senyum tipis.
“Kalau begitu… satu juta saja juga tidak apa-apa,” katanya, nada suaranya terdengar mengalah.
Dalam hati Ratna mendengus kesal.
Pelan-pelan saja. Yang penting dapat dulu.
“Baik, Bu,” jawab Naya tanpa curiga. “Tunggu sebentar, ya.”
Naya masuk ke kamar dan mengambil uang. Saat menyerahkannya, tangannya sedikit gemetar—bukan karena berat, tapi karena ia merasa tidak enak menolak lebih jauh.
“Terima kasih, Nay,” kata Ratna manis. “Ibu doakan kamu selalu dilancarkan rezekinya.”
“Aamiin,” jawab Naya tulus.
Begitu keluar dari rumah itu, langkah Ratna berubah ringan. Senyum puas terukir jelas di wajahnya. Ia menggenggam uang itu erat-erat.
“Lumayan,” gumamnya sambil tertawa kecil. “Sekali datang, langsung dapat.”
Hari itu juga, uang itu habis untuk berbelanja. Tas-tas baru, makan enak, dan kesenangan sesaat. Ratna sama sekali tidak memikirkan dari mana uang itu berasal, apalagi niat baik di balik pemberian itu.
Malamnya, seperti biasa, Naya menceritakan semuanya pada Adit. Ia duduk bersandar di sofa, wajahnya datar namun suaranya tetap lembut.
“Ibu minta uang hari ini, Mas,” ucapnya.
Adit menoleh. “Kamu kasih?”
“Iya. Satu juta.”
Adit menghela napas panjang. Perasaannya campur aduk—antara kesal dan khawatir.
Aku tahu persis uang itu dipakai untuk apa, batinnya. Dan ibu pasti akan datang lagi.
Ia menatap Naya yang masih tampak tenang, tanpa sedikit pun prasangka buruk.
Beberapa hari setelah percakapan itu, Naya kembali keluar rumah untuk berbelanja. Catatan belanja sudah tersimpan rapi di ponselnya. Ia melangkah santai menuju swalayan langganan, tanpa beban, tanpa pikiran buruk.
Swalayan siang itu tidak terlalu ramai. Pendingin udara menyebarkan hawa dingin yang menenangkan. Naya mendorong troli kecil sambil sesekali mengecek layar ponsel, memastikan tak ada yang terlewat.
Di lorong lain, Mira—yang tengah menjalani shift sore—sedang merapikan rak kebutuhan rumah tangga. Gerakannya cekatan meski wajahnya tampak lelah. Tangannya sedikit gemetar karena kelelahan, tapi ia tetap fokus. Pekerjaan adalah satu-satunya hal yang bisa ia pegang erat saat ini.
Langkah Naya dan Mira akhirnya bertemu di lorong yang sama.
Tanpa sengaja, bahu mereka bersenggolan.
“Oh, maaf, Mbak,” ucap Naya refleks, menunduk sopan.
“Iya, Mbak, nggak apa-apa,” jawab Mira cepat, ikut tersenyum.
Tatapan mereka bertemu sejenak. Tidak lama. Tidak cukup untuk menimbulkan curiga. Hanya dua perempuan asing yang saling bertukar senyum singkat, lalu kembali ke urusan masing-masing.
Namun ada sesuatu yang tak terlihat.
Jantung Mira berdetak sedikit lebih cepat tanpa alasan yang jelas. Ia menghela napas pelan, berusaha menenangkan diri.
Aneh… kenapa barusan rasanya sesak? batinnya.
Di sisi lain, Naya melangkah pergi sambil mendorong troli. Entah mengapa, ada perasaan ganjil yang singgah sebentar di dadanya—seperti bayangan yang lewat terlalu cepat untuk ditangkap.
Ia menoleh sekilas ke belakang.
Lorong itu sudah kosong.
Naya menggeleng pelan. Mungkin aku cuma capek, pikirnya.
Sementara Mira kembali menata barang, tangannya sempat berhenti di satu rak. Bayangan wajah perempuan tadi terlintas lagi di kepalanya. Wajah yang tenang, bersih, dan terasa… asing sekaligus dekat.
Ia menggeleng, memaksa fokus. Jangan melamun. Kerja.
Di luar swalayan, matahari mulai condong ke barat. Langit berubah jingga. Dua kehidupan berjalan di jalurnya masing-masing—tanpa tahu betapa dekat jarak mereka dengan kebenaran yang selama ini tersembunyi.
Malam itu, Naya duduk di kamar sambil menghitung kembali catatan keuangan. Angkanya tetap rapi, tapi dadanya terasa sedikit berat. Ia tidak tahu kenapa.
Sementara di kontrakan kecilnya, Mira memeluk anaknya yang sudah tertidur. Ia menatap wajah kecil itu lama-lama.
“Tenang ya, Nak,” bisiknya lirih. “Ibu akan kuat.”
Di tempat yang berbeda, dua perempuan itu mengucapkan doa yang sama—tanpa menyebut nama yang sama.
...****************...
Selamat pagi readers selamat membaca tinggalkan jejak kalian ya,like komen nya
Terimakasih..