Di ambang keruntuhan Majapahit dan fajar menyingsingnya Islam di Nusantara, seorang pemuda eksentrik bernama Satya Wanara berkelana dengan tingkah laku yang tak masuk akal. Di balik tawa jenaka dan tingkah konyolnya, ia membawa luka lama pembantaian keluarganya oleh kelompok rahasia Gagak Hitam. Dibekali ilmu dari seorang guru yang lebih gila darinya, Satya harus menavigasi dunia yang sedang berubah, di mana Senjata bertemu doa, dan pedang bertemu tawa.
Daftar Karakter Utama:
Satya Wanara (Raden Arya Gading): Protagonis yang lincah, konyol, namun mematikan.
Ki Ageng Dharmasanya: Ayah Satya, Panglima Telik Sandi Majapahit (Almarhum).
Nyai Ratna Sekar: Ibu Satya, keturunan bangsawan yang bijak (Almarhumah).
Eyang Sableng Jati: Guru Satya yang konyol dan sakti mandraguna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kala Karang Beradu Angin
Sunan Kalijaga menatap mata Satya dengan kedalaman yang membuat pemuda itu merasa seolah seluruh hatinya sedang dibaca. Beliau memegang pundak Satya, lalu berkata dengan nada yang sangat lembut namun berwibawa.
"Satya, jika kau turun ke Trowulan hanya untuk membalas dendam, maka kau tak ada bedanya dengan mereka yang membunuh ayahmu. Kau hanya akan mengganti satu kegelapan dengan kegelapan lainnya."
Sunan kemudian mengutip sebuah prinsip agung, "Ketahuilah, dalam jalan yang aku tempuh, ada sebuah amanah yang disebut Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Artinya, kau bergerak untuk mengajak pada kebaikan dan berdiri tegak untuk mencegah kemungkaran. Namun ingat, melakukannya harus dengan cara yang ma’ruf pula—dengan bijaksana, bertahap, dan tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar."
Beliau melanjutkan sambil menunjuk ke arah air terjun, "Seperti air ini, ia membersihkan kotoran tanpa harus menjadi kotor. Hukumlah mereka karena mereka telah merusak tatanan keadilan Tuhan, bukan karena mereka telah menyakitimu. Hilangkan 'aku' dalam dirimu, maka Toya Emasmu akan bergerak atas izin-Nya."
Selama berbulan-bulan, Satya tidak lagi melompat-lompat liar. Ia belajar bersujud, belajar menahan napas dalam dzikir, dan belajar memahami bahwa kekuatan sejatinya bukan terletak pada otot, melainkan pada ketenangan jiwanya.
Di balairung istana Majapahit, ketegangan telah mencapai titik didih. Prabu Brawijaya V duduk di singgasana dengan kening berkerut dalam. Di depannya, laporan kegagalan demi kegagalan menumpuk tinggi.
"Sudah berbulan-bulan!" suara Sang Prabu menggelegar, membuat para pejabat menunduk dalam. "Satu pemuda, hanya satu! Tapi ia berhasil mempermalukan seluruh kavaleri kita. Bahkan Senopati Rangga Gading, ksatria terbaik kita, pulang dengan senjata retak dan pasukan yang porak-poranda. Apakah Majapahit sudah kehabisan orang sakti?"
Tumenggung Gajah Pradoto melihat celah ini sebagai kesempatan emas. Ia maju selangkah, memberikan sembah yang dibuat-buat sedalam mungkin.
"Gusti Prabu, ampun beribu ampun," ujar Gajah Pradoto dengan suara licik. "Satya Wanara bukan sekadar pendekar biasa. Ia menggunakan ilmu hitam kera liar yang licin. Senopati Rangga Gading gagal karena ia terlalu terpaku pada aturan ksatria, sementara lawan kita adalah iblis yang tak punya aturan. Jika kita ingin menangkap macan, kita harus mengirim naga."
Gajah Pradoto menjeda kalimatnya, memberikan efek dramatis sebelum menyebutkan sebuah nama yang membuat seisi ruangan mendadak sunyi senyap.
"Hamba sarankan... utuslah Kebo Anabrang II yang kini sedang bertapa di lereng Gunung Penanggungan. Hanya dia yang memiliki kekerasan hati dan raga untuk menandingi kegilaan si monyet itu."
Mendengar nama itu, beberapa pejabat tua tampak pucat. Mereka teringat akan keganasan sosok tersebut dalam menumpas pemberontakan di masa lalu. Prabu Brawijaya V terdiam sejenak, menimbang risiko memanggil pendekar yang dikenal sulit dikendalikan itu. Namun, demi martabat kerajaan, ia akhirnya mengangguk.
"Baiklah. Utus kurir tercepat. Panggil Kebo Anabrang II ke hadapanku!" titah Sang Prabu.
Beberapa hari kemudian, sosok yang ditunggu tiba. Ia tidak setinggi raksasa, tingginya sekitar 180 cm, namun perawakannya luar biasa mengintimidasi. Tubuhnya padat dengan otot-otot yang mengeras seperti lilitan akar pohon jati. Kulitnya yang gelap seolah kebal terhadap sayatan senjata. Di pundaknya yang lebar, tersampir senjata yang mengerikan—sebuah gada perunggu padat berduri tajam yang diberi nama Kyai Mega Mendung.
"Gusti Prabu," suara Kebo Anabrang II berat dan parau saat ia bersujud di tengah balairung. "Berikan aku izin untuk meremukkan tulang monyet itu. Aku tidak butuh pasukan. Cukup aku dan gada ini yang akan menyeretnya ke hadapan Gusti."
Sementara itu, di Curug yang tenang, Sunan Kalijaga baru saja selesai memberikan nasehat tentang Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Beliau menatap Satya yang kini tampak lebih tenang namun waspada.
"Satya, ujian sesungguhnya telah tiba," ujar Sunan Kalijaga pelan. "Seseorang dengan kekuatan fisik luar biasa sedang diutus untuk mencarimu. Ia adalah gambaran dari amarah yang tak terkendali. Jika kau melawannya dengan tenaga, kau akan hancur. Kau harus melawannya dengan kelembutan angin yang telah kau pelajari."
Sunan Kalijaga memegang tangan Satya, memberikan wejangan terakhir. "Ingat, tugasmu adalah mencegah kemungkaran. Jika kau ingin menghukum orang-orang itu, jangan disertai dengan dendam pribadi di hatimu. Lakukan karena kebenaran, bukan karena sakit hatimu. Itulah hakikat Amar Ma'ruf Nahi Munkar."
Satya Wanara bangkit berdiri. Ia merasakan getaran halus di tanah, sebuah firasat hewani yang kini tajam berkat olah batin dari Sang Wali. "Hamba merasakannya, Kanjeng Sunan. Sesuatu yang sangat berat dan penuh kebencian sedang mendekat."
"Pergilah," sambung Sunan Kalijaga. "Hukumlah kesombongannya, tapi selamatkan jiwanya jika mungkin. Itulah esensi dari tugasmu sekarang."
Satya meraih Toya Emas Angin Langit. Kali ini, ia tidak melompat-lompat girang. Ia berjalan tenang menuju tanah lapang di bawah lereng bukit. Di sana, Kebo Anabrang II sudah menunggu. Dengan satu hentakan, ia menghantamkan gada Kyai Mega Mendung ke sebuah batu besar hingga hancur menjadi debu.
"Jadi kau monyet kecil itu?" ejek Kebo Anabrang II, matanya memerah penuh gairah bertarung. "Siapkan tulangmu, karena aku akan membuatnya menjadi bubur!"
Satya berdiri tegak, toya emasnya bersandar tenang di tanah. Wajahnya serius, namun sorot matanya kini penuh kedamaian yang asing bagi lawannya. "Tuan Kebo, tubuhmu kuat seperti gunung, tapi sayang hatimu penuh asap kebencian. Mari kita lihat, apakah besi durimu bisa menyentuh hembusan angin."
Pertempuran terbesar dalam hidup Satya Wanara pun dimulai.