Kelahirannya menciptakan badai dahsyat. Di saat yang sama, klan Erlang kalah telak. Kekalahan itu membuatnya dicap sebagai anak pembawa sial. Bukan hanya hampir menghilang dari alam langit, klan Erlang juga harus membayar pajak ke klan Liu setiap. tahunnya.
*******
Erlang Xuan, nama yang sama dengan Leluhur klan, tapi nasib mereka berbeda. Jika Leluhur terlahir dengan kekuatan tak terbatas, maka dia terlahir dengan tubuh cacat. Selama belasan tahun, ia disiksa dan direndahkan. Bahkan, karena masalah sepele, ayahnya menghukumnya.
Karena tak punya dantian dan meridian, Erlang Xuan tak bisa berkultivasi. Sampah pembawa sial, itulah julukannya. Tak ada yang tahu bahwa dibalik tubuh cacat itu tersembunyi sesuatu yang akan mengguncang alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena_Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3 Hati yang Membeku
Dua ratus cambukan tidak membunuhnya. Karena itu, Patriark Erlang Xiao menambahkan hukuman lain. Hukuman itu adalah hukuman petir, hukuman yang menyebabkan ribuan orang mati mengenaskan.
"Xuan'er!" Panggilan seorang wanita menghentikan langkahnya.
"Pergilah, jangan sampai petir ini melukaimu!" balas Erlang Xuan dengan dingin.
Li Yanran hanya bisa diam dan menyaksikan semuanya. Sebenarnya, ia bisa menghentikan hukuman itu, tapi tak dilakukannya. Yang dilakukan hanya berdiri dan menatap petir yang terus menyambar.
"Kebodohanmu menghancurkan kepercayaannya. Kamu mengubah hati yang lembut menjadi es yang sangat keras," ucap pria misterius yang muncul entah darimana.
Pria itu menjentikkan jarinya, dan petir yang menyambar semakin kuat. Ia melirik Li Yanran, tapi ekspresi wanita itu tidak berubah. Meski petir diperlukan 10 kali lipat, ekspresi datarnya tidak berubah sama sekali.
"Bagaimana bisa kau bersikap biasa-biasa saja?" tanya pria itu.
Li Yanran tak menjawab. Ia meninggalkan tempat itu dengan wajah datar. Sikap cueknya membuat pria itu bingung. Puluhan kali diuji, tapi wanita itu tidak menunjukkan reaksi apa pun.
"Andai tidak dilarang, kamu sudah kusiksa!" Pria itu geram. Pasalnya ini bukan pertama kalinya Erlang Xuan dihukum oleh ibunya sendiri. Setahun yang lalu, orang yang menyiksanya di penjara adalah ibunya yang sedang menyamar.
"Demi suamimu kamu membuang anak kandungmu! Sungguh mengecewakan!" Pria itu menghilang lagi.
Di sisi lain, Erlang Xuan jatuh berlutut. Pandangannya menjadi gelap, tapi kesadarannya tetap terjaga. Dia juga memuntahkan darah berkali-kali.
"Ibu, kenapa kamu berubah?" tanyanya.
"Sejak Hehua lahir, Ibu selalu mengabaikanku," gumannya.
Traarkk
Petir terus menghantam tubuhnya. Bukannya mati seperti yang ia harapkan, petir itu justru memperkuat tubuhnya. Meski sambaran petir tanpa henti membuatnya buta.
Petir berhenti menyambar. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi seseorang menghampirinya. Orang itu menyentuh keningnya dan memberinya sebuah teknik khusus, pengganti matanya yang buta.
"Mata jiwa, Fungsinya sama seperti mata. Bedanya, mata jiwa dapat melihat isi hati seseorang," jelas orang itu.
"Latihlah teknik itu!" katanya sebelum angin berhembus pelan. Setelah itu, petir kembali menyambar.
...****************...
Erlang Xuan meninggalkan altar petir. Meski matanya buta, tapi dia masih bisa melihat dengan jelas. Bahkan, isi hati, dan niat terselubung orang lain bisa diketahuinya berkat mata jiwa pemberian pria misterius itu.
"Hanya buta, kenapa tidak mati?" tanya Erlang Han.
"Sampah sepertinya ternyata panjang umur!" Liu Yu menimpali, sementara Erlang Xuan hanya tersenyum. Bukan karena meledek dua orang di depannya, melainkan karena hal lain.
"Karena aku bosan menghukummu, kau bisa tinggal di sini!" jelas Patriark Erlang Xiao.
"Tidak, terima kasih!" tolaknya. Ia melesat meninggalkan klan Erlang. Orang-orang yang melihatnya hanya bisa diam dan menelan pertanyaan mereka.
"Katanya cacat!" Seorang pemuda berkomentar.
"Kudengar, dantiannya dihancurkan saat bayi, tapi sepertinya dantiannya sudah pulih." Yang lain menjelaskan.
"Kenapa kalian diam saja? Kejar dan tangkap sampah itu! Kalau perlu, bawa pulang mayatnya!" Patriark Erlang Xiao memberi perintah. Tanpa banyak tanya, para pemuda klan langsung menyusul Erlang Xuan.
"Hei, sampah! Jangan coba-coba melarikan diri!" Seorang pemuda menghadang Erlang Xuan dengan pedang terhunus, tapi kekuatan tak kasat mata mendorongnya dengan keras.
"Siapa yang akan kabur? Aku hanya ingin menyiapkan hadiah perpisahan untuk ibuku!"
Erlang Xuan membersihkan reruntuhan gubuknya. Dibawah reruntuhan, ia mengambil sebuah kotak kayu yang sudah lapuk. Di dalam kotak itu terdapat kalung giok setengah jadi.
"Kamu dapat giok itu dari mana?" tanya pemuda berambut perak.
"Kuambil di dasar sungai!"
Jawaban itu membuat ketiga pemuda klan Erlang terkejut. Di seluruh wilayah kekaisaran Zhang, hanya sungai kristal yang menyimpan giok murni. Siapapun yang menyelam ke sungai itu tidak akan kembali ke permukaan, tapi seorang manusia biasa mengambil giok di dasar sungai.
"Bagaimana bisa?" Pemuda yang memegang pedang penasaran.
"Karena kalian melemparku ke sungai," jawabnya sambil mengukir giok itu.
"Ibumu tidak peduli denganmu, kenapa kamu menyiapkan hadiah untuknya?" Erlang Hao, pemuda berambut perak bertanya dengan nada serius.
"Karena dia ibuku!" jawab Erlang Xuan dengan tangis yang ditahan.
Tepat saat matahari hampir terbenam, giok itu berhasil diselesaikannya. Ia mengarahkan giok itu ke arah datangnya sinar matahari. Saat matahari matahari menyinari giok tersebut, kata ibu muncul di langit.
"Besok ulang tahun ibu, sebaiknya kalung ini kuberikan saat ini juga!"
Tanpa mempedulikan pakaiannya yang compang-camping, ia melesat ke klan Erlang. Tujuannya adalah paviliun bunga, kediaman ibunya. Untungnya tidak ada penjaga di sana.
"Mau apa kau?" tanya Li Yanran.
"Hanya ingin memberikan hadiah ulang tahun untukmu!" Erlang Xuan menunjukkan kalung yang baru saja diselesaikannya. Ia tersenyum, tapi wanita itu menatapnya dengan dingin. Kalung yang dibuatnya selama setahun penuh dibuang di buang begitu saja.
"Kalung sampah," ucapnya.
"Tapi gioknya kuambil di dasar sungai kristal." Erlang Xuan mengambil kalung giok itu. Ia mengarahkannya ke sinar matahari, dan tulisan ibu muncul di udara.
"Meski hampir mati, tapi aku mengambil giok putih yang bersinar. Bukan untukku, tapi sebagai hadiah yang akan kuberikan kepada ibuku," jelasnya.
"Kalau tidak mau, tidak apa-apa. Yang penting sudah kuberikan padamu," Erlang Xuan memakai kalung itu lalu kembali ke kediamannya. Ia kecewa karena hadiah yang dibuatnya dengan susah payah ditolak begitu saja. Bahkan, karena mempertahankan giok itu, Erlang Han hampir saja membunuhnya.
"Jelas-jelas Ibu membenciku, kenapa aku harus peduli dengan ulang tahunnya?" tanyanya kepada dirinya sendiri.
Swuuuussss
Erlang Xuan melesat ke luar kota. Tujuannya adalah sungai kristal, tempat yang dipenuhi giok kualitas terbaik. Dahulu, tempat itu sangat ramai, tapi sekarang tidak ada siapapun di sana. Karena tidak ada yang berhasil mengambil giok di dasar sungai, orang-orang tidak lagi menambang giok.
"Anak Muda, apakah kamu mau mengambil giok?" tanya seorang pria paruh baya.
"Benar Kakek. Saya mau mengambil giok untuk membuat topeng untuk menutupi mataku," jelas Erlang Xuan.
"Karena kamu orang baik, aku akan memberikan sesuatu!" Pria paruh baya itu menjentikkan jarinya. Tak beberapa lama, topeng giok yang sangat tipis melayang di depannya.
"Ambillah!" katanya.
"Terima kasih, Kakek!" Erlang Xuan mengambil topeng itu dan memakainya. Topeng tersebut hanya menutupi dahi dan matanya. Karena sangat tipis, topeng itu menyatu dengan kulit wajahnya.
"Cincin ini untukmu. Di dalamnya terdapat giok berharga dan kitab alkemis!" jelas pria paruh baya itu.
"Terima—" Belum sempat ia mengucapkan terima kasih, pria itu sudah menghilang.
"Aku akan berlatih di hutan di sini!" Erlang Xuan memeriksa cincin pemberian pria paruh baya itu. Isinya adalah giok bumi, giok langit, dan giok suci. Selain itu, berbagai tanaman herbal dan sebuah kitab kuno tersimpan rapi di dalam cincin tersebut.