Keluarga Arini dan Rizky tampak sempurna di mata orang lain – rumah yang nyaman, anak yang cerdas, dan karir yang sukses. Namun di balik itu semua, tekanan kerja dan harapan keluarga membuat Rizky terjerumus dalam hubungan selingkuh dengan Lina, seorang arsitek muda di perusahaannya. Ketika kebenaran terungkap, dunia Arini runtuh berkeping-keping. Novel ini mengikuti perjalanan panjang mereka melalui rasa sakit, penyesalan, dan usaha bersama untuk memulihkan kepercayaan yang hancur, serta menemukan makna cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BISNIS YANG BERKEMBANG DAN BEBAN YANG BERTAHAN
Sembilan hari setelah proyek gedung baru dimulai, Rasa Arini – bisnis kue online yang dirintis Arini lima tahun lalu – mendapatkan pesanan besar dari sebuah perusahaan yang akan merayakan ulang tahun kantornya.
Lima puluh kotak kue cup dengan desain khusus harus selesai dalam tiga hari.
Arini menyusuri lemari pendingin yang penuh dengan bahan-bahan mentah – mentega, telur, tepung, coklat bubuk berkualitas tinggi yang dia impor langsung dari luar negeri.
Dia sudah mulai bekerja dari jam 04.00 pagi, menyusun jadwal produksi dengan hati-hati agar semua pesanan selesai tepat waktu.
"Bu Arini, adonan kue ke dua sudah siap untuk dipanggang!"
Dewi – karyawan muda yang bekerja sama dengannya selama setahun – muncul dari dapur kecil belakang rumah, tangan masih mengenakan sarung tangan plastik bening.
Gadis berusia dua puluh tahun itu memang cepat belajar dan sudah bisa dipercaya mengurus sebagian besar proses pembuatan adonan.
"Bagus, Dewi. Taruh saja di rak depan ya, saya akan memanggangnya satu per satu agar tidak terlalu banyak sekaligus." Arini membersihkan meja kerja yang sudah ditaburi tepung, sambil melihat catatan pesanan di meja.
Selain pesanan besar perusahaan, masih ada sepuluh pesanan kue ulang tahun untuk anak-anak dan tiga pesanan kue tart untuk acara pernikahan kecil.
Bisnisnya memang semakin berkembang pesat. Bahkan beberapa bulan lalu, ada majalah lokal yang menulis artikel tentang usaha rumahan yang sukses berkembang menjadi bisnis yang dikenal di kota ini.
Arini merasa bersyukur – usaha ini tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan keluarga, tapi juga memberikan penghasilan tambahan bagi Dewi dan dua karyawan lain yang bekerja paruh waktu.
Namun di balik kesuksesan itu, rasa rindu akan kehadiran Rizky semakin terasa. Sudah lima hari suaminya tidak pulang sebelum jam 22.00 malam.
Kemarin bahkan dia tidak pulang sama sekali, bilang harus mengawasi proses pemasangan pondasi di lokasi proyek karena cuaca mulai tidak menentu.
Arini mengambil ponselnya, ingin menghubungi Rizky namun kemudian memutuskan untuk tidak melakukannya. Dia tidak ingin mengganggu pekerjaannya yang sudah sangat padat.
"Setidaknya dia bekerja keras untuk keluarga kita," ujarnya dalam hati sambil mulai menghias kue cup dengan saus keju yang lembut.
Di lokasi proyek yang luas, debu dan suara mesin berat memenuhi udara. Rizky mengenakan topi keselamatan putih, sedang membicarakan detail konstruksi dengan beberapa kontraktor.
Kemejanya sudah basah kuyup karena keringat, wajahnya penuh dengan keseriusan saat memeriksa setiap bagian pondasi yang baru saja selesai dipasang.
"Pak Rizky, permukaan pondasi sudah rata sesuai dengan desain yang diberikan Bu Lina." Salah satu kontraktor menunjukkan bagian tertentu dengan tongkat kayu. "Kita bisa melanjutkan proses selanjutnya besok pagi kalau cuaca tetap baik."
Rizky mengangguk, mencatat beberapa hal penting di buku catatannya. "Baik, tapi pastikan semua peralatan diamankan dengan baik ya. Cuaca bisa berubah kapan saja."
Baru saja dia akan bergerak ke bagian lain lokasi, suara lembut menyapa dari belakang. "Pak Rizky."
Lina berdiri di sana dengan mengenakan jas kerja berwarna kuning keamanan, topi keselamatan merah yang membuat wajahnya tampak lebih cerah.
Tangannya membawa beberapa berkas dan sebuah botol air mineral.
"Saya sudah periksa ulang desain struktur atas. Ada beberapa bagian yang perlu sedikit diubah agar lebih kuat menahan beban gedung yang tinggi." Dia membuka berkas dan menunjukkan bagian yang dimaksud. "Saya sudah diskusikan dengan tim teknik dan mereka menyetujuinya."
Rizky melihat desain yang dimodifikasi dengan cermat. Ide yang diajukan Lina memang sangat tepat – tidak hanya meningkatkan kekuatan struktur, tapi juga menghemat biaya material hingga lima persen.
"Kamu benar sekali, Lina. Bagaimana kamu bisa berpikir begitu cepat dan tepat?" Rizky tidak bisa menyembunyikan kagumnya.
Lina sedikit memerah, mengusap rambutnya yang sedikit berantakan akibat angin di lokasi.
"Saya hanya berpikir kalau kita bisa menghemat biaya sekaligus meningkatkan kualitas, itu akan sangat baik bagi perusahaan dan klien."
Matahari sudah mulai merunduk di ufuk barat, memberikan warna jingga ke langit yang berawan. Rizky melihat ke jam di pergelangannya – sudah hampir jam 19.00.
Dia ingat akan janjinya dengan Tara untuk pulang cepat dan menonton kartun bersama, tapi jelas hari ini tidak mungkin lagi.
"Kita bisa bicarakan revisi ini lebih lanjut di kedai kopi dekat kantor ya?" ujar Rizky. "Kita perlu menyusun laporan yang jelas agar bisa dipresentasikan ke klien besok sore."
Lina mengangguk. "Baiklah Pak Rizky. Saya akan siap dalam sepuluh menit. Saya juga akan bawa laptop agar bisa menunjukkan simulasi 3D yang sudah saya siapkan."
Selama perjalanan menuju kedai kopi, Rizky mencoba menghubungi Arini namun teleponnya tidak terjawab.
Mungkin dia sedang sibuk dengan bisnis kue nya atau sedang mengurus Tara yang akan tidur. Dia hanya bisa mengirim pesan singkat: "Sayang, malam ini saya akan pulang larut lagi. Ada hal penting yang harus saya kerjakan bersama tim. Maaf ya."
Di kedai kopi kecil bernama "Kopi Daun" yang terletak di gang kecil dekat kantor, Rizky dan Lina duduk di sudut paling dalam yang lebih tenang.
Lampu gantung dengan warna kuning keemasan memberikan suasana yang hangat dan nyaman. Meja kecil mereka penuh dengan berkas, laptop, dan dua gelas kopi hangat.
"Saya sebenarnya tidak terlalu suka bekerja lembur seperti ini," ujar Lina sambil menatap layar laptop yang menampilkan simulasi gedung. "Tapi saya merasa ada tanggung jawab besar untuk membuat proyek ini sukses."
Rizky mengangguk. "Saya mengerti perasaanmu. Perusahaan ini adalah warisan dari keluarga saya. Saya tidak bisa membiarkannya gagal karena kesalahan saya."
Lina menoleh padanya, ekspresi wajahnya berubah menjadi lebih lembut.
"Saya tahu betapa beratnya tekanan yang kamu rasakan, Pak Rizky. Kadang saya melihatmu bekerja tanpa henti, bahkan tidak sempat makan dengan benar. Kamu juga perlu merawat dirimu sendiri lho."
Kata-kata itu membuat Rizky terkejut. Selama ini, dia hanya fokus pada pekerjaan dan merasa bahwa orang lain hanya melihatnya sebagai bos yang harus selalu kuat dan benar.
Jarang sekali ada orang yang memperhatikan kondisinya secara pribadi.
"Terima kasih, Lina. Kadang saya lupa bahwa saya juga perlu merawat diri sendiri." Rizky menyendok kopinya perlahan. "Arini – istri saya – selalu mengingatkan saya hal itu, tapi saya seringkali mengabaikannya karena kesibukan."
"Bu Arini pasti sangat mencintaimu dan khawatir padamu." Lina tersenyum lembut. "Saya bisa membayangkan betapa sulitnya menjadi istri dari seseorang yang memiliki tanggung jawab besar seperti kamu."
Perbincangan mereka berlanjut hingga jam 23.00 malam.
Mereka tidak hanya membahas proyek, tapi juga cerita tentang masa lalu, impian masa depan, dan berbagai hal lain yang membuat mereka semakin mengenal satu sama lain.
Rizky merasa lega bisa berbicara dengan seseorang yang benar-benar memahami dunia kerjanya, sesuatu yang sulit dia dapatkan dari lingkaran pertemanan lainnya atau bahkan dari Arini yang fokus pada bisnis kue nya sendiri.
Ketika mereka akhirnya berpisah di depan kedai kopi, Rizky merasa ada sesuatu yang berbeda dalam hatinya terhadap Lina – rasa hormat yang semakin dalam, disertai dengan perasaan hangat yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Dia mencoba mengusir pikiran itu dari benaknya.
"Dia hanya rekan kerja yang baik saja," ujarnya dalam hati saat memasuki mobil dan menghidupkan mesinnya.
Namun ketika dia melihat pesan balasan dari Arini yang hanya berbunyi "Baik sayang, hati-hati di jalan", rasa bersalah mulai muncul di dalam dirinya.
Dia tahu bahwa dia seharusnya lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluarga, tapi godaan untuk bekerja dengan Lina dan merasakan pemahaman yang dia berikan semakin sulit untuk ditolak.