hai semua ini novel pertama Rayas ya🤭
kalau ada saran atau komentar boleh tulis di kolom komentar ya. lopyouuuu 😘😘
Dalam keputusasaan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya di tahun 2025. Namun, maut ternyata bukan akhir. Safira terbangun di tubuhnya yang berusia 17 tahun, kembali ke tahun 2020—tepat di hari di mana ia dikhianati oleh adik tirinya dan diabaikan oleh saudara kandungnya hingga hampir tenggelam.
Berbekal ingatan masa depan, Safira memutuskan untuk berhenti. Ia berhenti menangis, berhenti memohon, dan yang terpenting—ia tak lagi berharap pada cinta keluarga Maheswara.
kalau penasaran jangan lupa mampir ke novel pertama Rayas 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Penyelamatan yang Tak Terduga
Satu bulan telah berlalu sejak Safira terbangun di tubuhnya yang berusia tujuh belas tahun. Dalam waktu singkat, di sekelilingnya berubah drastis. Ia bukan lagi gadis yang menunduk saat berjalan di koridor SMA Pelita Bangsa. Meski Maya tetap berusaha menyebar rumor buruk dan Ratih tak henti mengirimkan pesan-pesan bernada perintah, Safira menganggap mereka semua tak lebih dari gangguan radio yang rusak. Ia mengabaikannya, namun tetap waspada.
Sore itu, langit Jakarta tampak muram, tertutup awan mendung yang menggantung rendah. Safira baru saja keluar dari kelas tambahan matematika. Ia memutuskan untuk berjalan kaki menuju halte bus yang agak jauh dari gerbang sekolah, ingin menikmati udara sore sebelum kembali ke tempat yang mereka sebut rumah.
Saat melewati sebuah gang sempit yang memisahkan area pertokoan tua dengan kawasan perumahan elit, telinga Safira menangkap suara benturan keras dan rintihan tertahan.
Bugh! Brak!
Langkah kaki Safira terhenti. Ia menajamkan pendengarannya. Ada suara tawa mengejek dan deru napas yang memburu. Sebagai orang yang terlatih dalam bela diri di kehidupan sebelumnya, ia tahu itu bukan sekadar perkelahian biasa.
Safira mengintip dari balik tembok beton. Di sana, seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang kini tampak berantakan sedang dikepung oleh empat orang pria bertubuh kekar. Wajah pria itu berdarah, namun matanya tetap memancarkan wibawa dan keberanian yang tak goyah.
"Serahkan tas itu, Pak Tua! Jangan mempersulit keadaan kalau masih mau melihat matahari besok pagi!" bentak salah satu preman yang memegang pisau lipat.
Pria tua itu terengah, tangannya mencengkeram erat sebuah koper kulit kecil. "Kalian... kalian hanya pesuruh. Katakan pada tuanmu, aku tidak akan pernah menjual prinsipku."
"Banyak bicara! Habisi saja dia!"
Saat pisau itu terangkat, Safira tidak lagi berpikir dua kali. Ia melepaskan tas sekolahnya ke tanah dan berlari masuk ke dalam gang dengan kecepatan yang tak terduga.
"Berhenti!" seru Safira lantang.
Keempat preman itu menoleh serempak. Mereka tertegun sejenak melihat seorang gadis SMA dengan rambut short bob dan poni wispy yang tampak imut berdiri dengan tangan masuk ke saku hoodie-nya.
"Wah, liat ini... ada pahlawan kesiangan yang nyasar," ejek salah satu preman sambil tertawa. "Pulang sana, Dek! Jangan sampai muka cantikmu ini luka-luka."
Safira tidak bergeming. Tatapannya dingin, menusuk langsung ke mata pria yang memegang pisau. "Empat lawan satu. Bukan gaya bertarung yang terhormat. Pergi sekarang sebelum aku membuat kalian menyesal."
Pria tua yang terduduk di tanah menatap Safira dengan cemas. "Nak, lari! Mereka berbahaya! Jangan ikut campur!"
Safira melirik sekilas pada pria itu, lalu kembali menatap lawan-lawannya. "Terlambat, Pak. Saya paling tidak suka melihat orang-orang sombong yang merasa kuat karena jumlah."
"Cari mati ya!" Salah satu preman maju, hendak melayangkan tinju besar ke arah wajah Safira.
Dengan gerakan yang sangat luwes, Safira merunduk. Ia menggunakan momentum berat badan lawan, menangkap lengan pria itu, dan membantingnya ke arah tembok. Duar! Kepala pria itu membentur beton dan ia langsung jatuh lunglai.
Tiga preman lainnya terperangah. Mereka tidak menyangka gadis sekecil itu punya tenaga sebesar itu.
"Sialan! Serang bareng-bareng!"
Ketiganya maju serentak. Safira memutar tubuhnya, melepaskan tendangan berputar yang telak mengenai rahang salah satu penyerang. Tak berhenti di situ, ia menangkap pergelangan tangan pria yang memegang pisau, memutarnya hingga terdengar suara krak yang memilukan, dan menjatuhkan senjata itu ke tanah.
Hanya dalam waktu kurang dari tiga menit, ketiga pria itu mengerang kesakitan di lantai gang yang kotor. Satu orang yang masih tersisa bergetar ketakutan, ia segera memapah temannya dan lari terbirit-birit keluar gang.
Suasana mendadak sunyi. Hanya suara rintik hujan yang mulai turun perlahan. Safira mengatur napasnya, lalu mendekati pria tua yang masih terduduk lemas.
"Anda tidak apa-apa?" tanya Safira sambil mengulurkan tangannya. Suaranya kembali tenang, hampir tidak terdengar seperti seseorang yang baru saja melumpuhkan empat preman.
Pria itu menerima uluran tangan Safira dengan ragu. Saat ia berdiri, ia menatap Safira dengan pandangan penuh selidik namun penuh rasa terima kasih. "Terima kasih, Nak. Kamu... kamu menyelamatkan nyawaku."
Safira mengambil koper kulit pria itu yang terjatuh dan menyerahkannya. "Luka di pelipis Anda cukup dalam. Ada apotek di ujung jalan, sebaiknya Anda segera membersihkannya."
Pria paruh baya itu tersenyum kecil, ia merapikan jasnya meski masih terlihat berantakan. "Namaku Abimanyu. Siapa namamu, gadis pemberani?"
"Safira," jawabnya pendek. Ia tidak menyebutkan nama belakangnya. Ia tidak ingin pria ini mengaitkannya dengan keluarga Maheswara.
"Safira... Nama yang indah. Kamu murid SMA Pelita Bangsa?" tanya Abimanyu sambil melirik logo di seragam yang menyembul dari balik hoodie Safira.
Safira mengangguk sekilas. "Saya hanya lewat. Kebetulan saya sedang tidak suka melihat keributan."
Abimanyu terkekeh, meski rasa sakit di wajahnya membuatnya meringis. "Banyak orang lewat dan memilih pura-pura tidak melihat. Tapi kamu... kamu berbeda. Kamu punya kemampuan yang tidak biasa untuk anak seusiamu."
"Saya hanya belajar sedikit untuk melindungi diri sendiri," jawab Safira datar. "Sebaiknya Anda segera pergi. Mereka mungkin membawa teman lebih banyak."
Abimanyu mengangguk setuju. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama yang terbuat dari bahan metal berwarna hitam elegan. Ia menyodorkannya pada Safira.
"Simpan ini. Jika suatu saat kamu butuh bantuan—apapun itu—hubungi nomor di sana. Katakan namamu, dan aku akan datang."
Safira menerima kartu itu. Di sana hanya tertulis nama Abimanyu Razka Byakta dan sebuah nomor telepon. Tidak ada jabatan, tidak ada nama perusahaan. Namun, Safira tahu dari kualitas kartu dan cara pria ini membawa diri, ia bukanlah orang sembarangan. Di kota ini, nama Byakta memiliki pengaruh yang sangat besar, meski mereka jarang tampil di publik.
"Terima kasih, Pak. Tapi saya menolong bukan untuk mendapatkan imbalan," ujar Safira jujur.
"Aku tahu. Justru karena itu aku ingin memberikannya. Dunia ini berhutang pada keberanianmu hari ini," ucap Abimanyu tulus. "Hati-hati di jalan, Safira. Sampai jumpa lagi."
Safira menatap punggung pria itu yang berjalan menuju sebuah mobil sedan hitam yang tiba-tiba muncul di ujung gang. Setelah mobil itu pergi, Safira memasukkan kartu nama itu ke saku celananya dan mengambil kembali tas sekolahnya.
Ia berjalan di bawah rintik hujan, kepalanya dipenuhi pikiran tentang masa depan. Ia tidak merencanakan untuk bertemu orang berpengaruh. Ia juga tidak merencanakan untuk menjadi pahlawan. Ia hanya ingin menjalani hidupnya tanpa harus mengemis kasih sayang lagi.
Sesampainya di rumah, suasana masih sama. Raga belum pulang, Ratih dan Maya mungkin sedang di butik, dan para abangnya sibuk dengan urusan mereka sendiri. Safira masuk lewat pintu samping, menghindari Bi Asih yang mungkin akan bertanya kenapa bajunya sedikit basah.
Saat ia sedang membersihkan diri di kamar, ia memandang kartu hitam di atas meja. Ia tidak tahu bahwa pertemuan di gang sempit itu akan menjadi awal dari pergeseran kekuatan yang lebih besar. Sesuatu yang bahkan tidak bisa dilakukan oleh uang ayahnya atau kelicikan Maya.
"Abimanyu byakta..." gumam Safira pelan. "Setidaknya, sore ini tidak terlalu buruk."
Ia merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar. Di kehidupan sebelumnya, ia mungkin akan menceritakan kejadian ini pada ayahnya untuk mendapatkan pujian. Namun sekarang, ia menyimpan rahasia ini rapat-rapat. Kekuatannya adalah miliknya sendiri, dan ia tidak butuh siapa pun untuk mengakuinya.
...****************...
Guyssss jangan lupa like nya ya, kalau ada yang kurang atau typo coment aja nanti, biar jadi pelajaran buat Rayas soal nya ini novel pertama rayas