"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."
Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.
Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.
Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.
Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.
Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?
Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?
Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
"Selamat datang di lembaran baru yang akan mengaduk emosi kalian. Pernahkah kalian merasa berada di titik terendah, tepat saat kalian membawa harapan baru di dalam rahim? Kisah ini bukan sekadar tentang perpisahan, tapi tentang harga diri seorang wanita yang diinjak-injak oleh pria yang ia panggil 'Rumah'. Siapkan hati kalian, karena perjalanan Hana dimulai dari sini..."
.
.
Lampu gantung di ruang tengah apartemen itu tampak berpijar redup, seolah turut kehilangan gairah setelah badai talak yang baru saja dilepaskan Bima. Udara terasa tipis dan mencekam. Hana masih berdiri di posisi yang sama, memegang sepasang sepatu bayi yang kini terasa seperti beban seberat gunung di tangannya.
Bima tidak beranjak. Ia berdiri di dekat jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta yang buram karena rintik hujan. Ia menunggu. Egonya yang haus akan pengakuan masih berharap mendengar isak tangis yang pecah.
Ia ingin Hana menyerah, memohon belas kasihan, dan mengakui bahwa tanpanya, Hana bukanlah siapa-siapa.
Namun, Hana justru bergerak. Bukan menuju kaki Bima, melainkan menuju kamar utama.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Bima, suaranya parau, terkejut melihat Hana yang begitu tenang.
"Melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang asing di rumah orang lain, Mas. Berkemas," jawab Hana tanpa menoleh.
Bima mendengus sinis, menyembunyikan rasa tidak nyamannya. "Bagus kalau kau sadar diri. Apartemen ini atas namaku. Clarissa akan datang besok, dan aku tidak ingin dia melihat jejakmu di sini."
Kalimat itu bagai belati yang diputar di dalam luka yang masih basah. Hana menghentikan langkahnya sejenak di ambang pintu kamar. Dadanya sesak, namun ia menolak untuk ambruk. Ia menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan sisa-sisa keberanian yang ia miliki demi nyawa kecil di perutnya.
Di dalam kamar, Hana mengeluarkan sebuah koper tua dari bawah ranjang. Koper yang dulu ia bawa saat pertama kali pindah ke sini setelah akad nikah. Ironisnya, koper itu kini akan menjadi saksi kepulangannya yang tragis.
Hana mulai membuka lemari pakaian. Ia tidak mengambil semuanya. Ia hanya memilih pakaian-pakaian sederhana, beberapa daster hamil, dan baju-baju yang ia beli dengan uang hasil kerjanya sendiri sebelum ia dipaksa berhenti oleh Bima.
Gaun-gaun mewah, tas desainer, dan mantel bulu yang dibelikan Bima sebagai simbol status istrinya, ia biarkan tetap tergantung kaku.
Setiap helai kain yang ia masukkan ke dalam koper terasa seperti serpihan kenangan yang ia buang. Ia melihat sebuah syal biru yang dulu diberikan Bima saat mereka berbulan madu di pegunungan. Untuk sesaat, tangan Hana bergetar.
Kenangan tentang pelukan hangat di balik dinginnya salju menyerbu pikirannya. Namun, bayangan wajah Bima yang muak saat melihat sepatu bayi tadi segera menghapus semua kehangatan itu.
Hana melipat syal itu, lalu meletakkannya kembali ke rak lemari. Bukan milikku lagi, batinnya.
Setelah koper itu terisi, Hana berjalan menuju meja rias. Di sana terdapat sebuah kotak beludru merah berukuran besar. Di dalamnya tersimpan set perhiasan berlian - *kalung, anting, dan gelang* - yang Bima berikan sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka yang pertama setahun lalu. Saat itu, Bima berjanji akan menjaganya sampai rambut mereka memutih.
Hana mengeluarkan semua perhiasan itu. Bukan untuk dipakai, melainkan untuk diletakkan di atas meja makan di ruang tengah, tepat di bawah lampu yang bersinar pucat. Satu per satu. Kilau berlian itu kini tampak seperti air mata yang membeku.
Bima, yang masih berdiri di ruang tengah sambil menenggak segelas wiski, mengamati gerakan Hana dengan kening berkerut.
"Kenapa kau taruh di situ? Ambil saja. Anggap saja itu upah karena kau sudah melayaniku selama dua tahun," ucap Bima dengan nada merendahkan yang kental.
Hana menegakkan punggungnya. Ia berjalan mendekati meja makan, namun tidak untuk mengambil perhiasan itu. Ia melepaskan cincin kawin emas putih yang melingkar di jari manisnya, jari yang kini sedikit membengkak karena kehamilan. Dengan sekali gerakan tegas, ia meletakkan cincin itu di tengah-tengah berlian lainnya.
"Aku tidak butuh upah, Mas. Aku istrimu, bukan wanita sewaan," suara Hana terdengar sangat jernih dan berwibawa di tengah kesunyian malam. "Simpan semua ini. Berikan pada Clarissa. Mungkin dia lebih butuh benda-benda ini untuk menutupi kekosongan hatinya."
Bima meletakkan gelasnya dengan keras di atas meja. "Kau sombong sekali, Hana! Kau tidak punya uang, tidak punya pekerjaan, dan kau sedang hamil tua. Tanpa perhiasan itu, kau mau makan apa? Rumput?"
Hana menatap Bima tepat di manik matanya. Sebuah tatapan yang membuat Bima tersentak karena tidak ada lagi sisa-sisa pemujaan di sana.
"Aku mungkin keluar dari sini dengan koper yang hampir kosong, Mas. Tapi aku keluar dengan harga diri yang penuh. Aku tidak butuh sisa-sisa darimu. Tidak perhiasanmu, tidak uangmu, dan mulai detik ini... tidak juga cintamu."
Hana menyeret kopernya menuju pintu depan. Suara roda koper yang bergesekan dengan lantai marmer terdengar seperti suara perpisahan yang menyayat. Saat ia sampai di ambang pintu, ia berhenti sejenak, namun tidak berbalik.
"Satu hal lagi, Mas Bima," ucap Hana pelan. "Tadi kamu bilang apartemen ini atas namamu. Kamu benar. Tapi anak yang ada di rahimku ini, dia adalah atas namaku. Dia tumbuh dari darahku, dan dia bernapas dari napasku. Jangan pernah bermimpi untuk mengklaimnya sebagai milikmu suatu saat nanti."
"Halah! Jangan bicara terlalu tinggi," Bima tertawa meremehkan, meski hatinya terasa seperti tertusuk duri. "Paling-paling sebulan lagi kau akan mengemis di depan kantorku agar aku membayar biaya persalinanmu."
Hana tidak membalas lagi. Ia membuka pintu. Angin dingin malam hari langsung menyergap masuk, menerbangkan ujung rambutnya. Ia melangkah keluar tanpa ragu.
***Brak***!
Suara pintu tertutup dengan keras. Bima berdiri sendirian di tengah ruangan yang mendadak terasa terlalu luas dan hampa. Ia melihat tumpukan perhiasan di atas meja makan yang berkilau di bawah lampu. Ia mengira akan merasa lega, seolah baru saja membuang sampah yang menghalangi jalannya menuju Clarissa.
Namun, kenyataannya berbeda. Kepergian Hana yang begitu tenang, tanpa air mata, dan tanpa sedikit pun keraguan, justru meninggalkan lubang besar di egonya. Ia meraih cincin kawin yang ditinggalkan Hana, meremasnya kuat-kuat di dalam genggamannya.
"Dia akan kembali. Semua wanita sama, mereka tidak bisa hidup tanpa uang," gumam Bima pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan hatinya yang mulai ragu.
Di luar, di koridor apartemen yang sepi, Hana menyandarkan tubuhnya pada dinding lift yang bergerak turun. Saat itulah, kedua kakinya terasa lemas. Ia mengelus perutnya yang terasa kencang.
Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mengalir pelan, membasahi pipinya. Bukan karena ia menyesal kehilangan Bima, tapi karena ia merasa bersalah pada janinnya yang harus merasakan kerasnya dunia bahkan sebelum ia melihat cahaya.
"Maafkan Ibu, Nak," bisiknya lirih. "Tapi mulai malam ini, kita hanya punya satu sama lain."
Hana melangkah keluar dari lobi gedung. Hujan masih turun, namun ia terus berjalan menuju pinggir jalan untuk mencari taksi. Ia tidak tahu ke mana ia akan pergi malam ini, tapi satu hal yang ia tahu pasti, ia tidak akan pernah menoleh ke belakang lagi.
Sementara itu, di lantai 22, Bima melemparkan cincin kawin Hana ke sudut ruangan dengan penuh emosi. Kemenangan yang ia impikan ternyata terasa sepahit empedu.
Akankah Hana menemukan tempat berteduh malam ini, ataukah penderitaannya baru saja dimulai saat ia melihat Bima dan Clarissa justru bermesraan keesokan harinya?
...----------------...
**To Be Continue** ...