Mencintai bukan berarti sepenuhnya memiliki karena takdir tak pernah kita tahu rencana yang Kuasa. Memiliki bukan berarti sepenuh mencintai karena cinta tulus setia hanya untuk seseorang saja.
Simak Kisah "Perindu Senja."
By : Farit Rittan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ata~Tenareten, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diskusi
Pak Lukas menundukkan kepalanya sesaat sebelem menghela nafas panjang serta menatap mereka berdua penuh dengan kebingungan, "Jadi begini, Nak. Lima belas tahun yang lalu, Istriku (Nano) terserang penyakit Kangker Payudara dan yang bisa menghilangkan deritanya, ialah ramuan tradaional yang dibuat oleh opamu juga di bantu para medis. Terus sekarang anakku Melan terjangkit penyakit yang sama. Nah, maka dari itu aku kesini meminta bantuan tumpang tangan opamu,” jelasnya.
Mendengar dia, Metallo dan Festo menatapnya penuh antusias. Keduanya melamun beberapa saat memikirkan keadaan Melan yang terlihat baik-baik saja.
'Apakah ini benar adanya? Ah... Aku tidak percaya dengan semua ini,' benaknya. Ia menatap plak Lukas penuh kebingungan. "Andaikata demikian, kita ngobrol-ngobrol dulu Pak sembari menunggu mereka pulang. Tapi setahuku, tiga hari yang lalu Melan menjenguk opa dan oma di kampung Pak," pintanya.
"Masa...” Pak Lukas kaget mendengarkan Metallo. Dia kemudian menggelengkan kepala pelan, “Seminggu yang lalu telah aku ingatkan bahwa, jikalau kesini harus bersamaku. Pantas saja tadi pagi ketika aku hendak tanyakan tentang hal ini padanya, katanya, [Tak ada kesempatan tuk, ngobrol,] hingga dia buru-buru pergi kesekolah,” jelas Pak Lukas kepada mereka penuh kekesalan.
"Mungkin dia kesal terhadapmu, sebap setahuku Bapak tidak memiliki banyak waktu luang untuk bersenda gurau bersamanya, itupun diceritakannya kepadaku lantas kami berdua sangat akrab, hingga kadang-kadang di keluhkannya kepadaku tapi soal penyakit yang dideritanya baru kali ini aku dengar darimu paman."
"(Ehe... Ehe...) Aduh tenggorokanku. kamu ngomong apa? Masih ingat tidak? dari Pak ke Paman terus, ke Bapak. Jikalau dilanjutkan menjadi menantu,” bisik Festo penuh manja menertawakan tingkahnya.
Kedua bola mata Pak Lukas seketika melebarkan matanya mantap kekonyolan mereka berdua dengan raut wajah yang sangat cemberut serta tersenyum tipis seolah-olah menertawakan mereka berdua, "Jangan harap," pintanya.
"Aku sangat berharap Pak tetapi belum tentu dengan dia," cetus Metallo yang membuat ketiganya tertawa terbahak-bahak.
"Nanti aku potong kepalamu," cetus Pak Lukas.
Tak lama kemudian terdengar suara sentakan langkah diiringi ujaran tentang dirinya dari samping gubuk.
"Beda, apa mungkin Metallo tidak sekolah.” tanya neneknya sembari menjatuhkan kayu bakar yang dijunjungnya.
"Tak mungkin Kewa," dia berdiri sejenak sembari menghembuskan nafas yang dalam, "Jikalau dia disini, kita berbicara pun pasti tak akan kedengaran dibuatnya. Kamu tahu sendiri bagaimana tingkah cucumu itu, siang dan malam telinga kita geger dipecerkan oleh nyanyian yang bergemah disalon bututnya itu.
Mereka bertiga yang berada di dalam tersipu senyum mendengar ujaran opanya, sedangkan Pak Lukas mulai menggelengkan kepalanya pelan dan tertawa mengejeknya, "Sekolah yang rajin, engkau pikir lembaga pendidikan itu milik Ayahku," pinta Pak Lukas kepadanya sembari berjalan menuju ke dapur untuk menemui Opa dan Omanya.
"Bapak Beda, mereka berdua tidak sekolah, karena menemaniku disini sejak pagi tadi," sapa Paka Lukas sembari menjelaskan keberadaan Metallo dan Festo "
"Oh, Lukas. Mari, duduk disini,” ajak opanya.
Pak Lukas menunggu sesaat sebelum menceritakan kejadian yang menimpahnya, sedangkan Metallo dan Festo buru-buru pergi dari situ menuju ke kost milik Rian dan mereka tidak hiraukan lagi Pka Lukas, lantas opanya telah pulang.
"Kenapa-kenapa kamu tidak sekolah hari ini!" terdengar suara yang begitu keras dari dalam kost Rian.
Metallo dan Festo pun langsung berlarian menuju ke dalam rerumpun Bambu yang tidak jauh dari situ untuk bersembunyi karena takut.
Setelah sekian lama mereka simak dengan seksama, ujaran itu ialah pamannya Rian (Pak Sem) guru matematika mereka yang sedikit galak.
"Metal, apakah kita harus membatu Rian?” tanya Festo seakan-akan menempatkannya kedalam perangkap yang berada di depan mata.
"Biarkan saja terlebih dahulu, jikalau Pak Sem telah pulang barulah kita menghampiri Rian,” pintanya diguncangi tasa takut yang mendalam dari kalbu lantas Pak Sem sangat bengis.
Pertikain antara mereka berdua tidak berlangsung lama, sebap Pak Sem harus ke sekolah mengikuti rapat yang diselenggarakan oleh ketua komite mengenai sistem pengelolaan dana BOS.
Dengan motor butut yang selalu diandalkannya mempercepat langkah, diresingnya sekuat mungkin meninggalka Rian, sedangkan suara tangisan Rian tak terheti, menandakan pukulan yang diterimanya cukup lumayan.
" Festo, suasananya telah aman. Yuk, kita tengok Rian,” ajaknya, seraya berjalan menghampiri Rian.
"Hay Rian, apakah tak terasa sakit lagi,” ejek Festo.
"Tak usah nangis Rian, nanti juga lekas hilang sakitnya. Nah, dari pada diam disini kita kekali yuk,” ajaknya.
☆ Teman-teman kita pantun dulu ☆
“Pergi berburu dikali
Bawa cabai bagai pemali
Kukenang masa lalu dalam bui
Batu dan air jadi saksi
"Setel-Setel nyaris kepagian
Orangtua pikir aku disekolah
Malah aku kekali batan
Dikejar-kejar belut beliah.
*****
“Metal... Apakah kamu telah mengerjakan tugas yang diberikan Pak Sil seminggu yang lalu,” tanya Nia membuatnya terkesima.
Laju jalan Nia yang menghapirinya dengan tatapan mata yang tajam buat luluh kalbunya, dibius oleh ayu paras Nia yang tak seperti biasanya. Ingin ia dekapi raga yang menawan itu tapi sayang Nia tak menghiraukan hasratnya.
"Be ... Belum, Nia, “ ujaranya terbata-bata lantas Nia bagaikan bidadari dari khayangan yang muncul tak tepat waktu hingga-hingga raganya hampir remuk seketika.
“Jikalau belum, ini jawabannya. Selesaikanlah terlebih duhulu barulah kita berangkat kesekolah,” pinta Nia sembari memberikan tugas itu.
Tatapan Nia yang tak terhenti membuatnya tak bisa menulis lantaran tak tahu harus dari mana ia memulai, begitu pula dengan Nia melihatnya yang tak bisa menulis diapun meninggalkan Rifael sendiri disitu.
××××××
“Metal, mana buku tugasku?” tanya Nia sembari menunjuk Pak Sil dari kantor menuju ke kelas mereka.
Tanpa basa-basi Pak Sil langsung mengumpulkan tugas yang diberikannya kepada mereka. Setelah semuanya telah selesai terkumpulkan merekapun langsung mengadakan diskusi karena sistem pembelajaran yang mereka anut mengikuti kurikulum tahun 2012 (Siswalah yang berperan penting dalam kegiatan belajar).
Lewat kesepakatan bersama ketua kelas, mereka yang berjumlahkan tiga puluh orang dibagi menjadi enam kelompok dan yang pertama kali memaparkan materi ialah dari perkumpulan ketiga tentang ☆ Sejarah Revolusi Industri ☆ yang terdiri dari : Festo, Rifal, Amel, Devi dan Patresia.
Peresentasi materinya pun berjalan lancar, sebap keingin tahuan mereka sunhguh tak nampak sedikitpun.
Selanjutnya giliran kelompok keenam yang terditri dari : Menti, Lian, Anus, Boli, Rinto juga juga Melan. Materi yang mereka bahwa ialah ☆ Revolusi Prancis ☆.
Pemaparan materi yang mereka bawakan sangatlah bagus dan hampir tak ada pertanyaan yang dilontarkan.
'Jikalau seluruh materi yang bawakan hari ini berjalan lacar, maka aku dan teman-teman sekelompokku juga ikut bagian dalam presentasi tersebut,' benaknya.
Telah dua kali sang moderator (Melan), memberikan ruang dan waktu untuk bertanya namun semua bisu tak ada yang memberanikan diri untuk bertanya.
"Teman-teman saya belum memahami materi ini, jadi tolong jelaskan. Apa isi dari Revolusi Prancis,” tanyanya dengan yang rasa ego yang tinggi.
Semua sorotan mata tertuju menatapnya. Sedangkan Pak Sil terlihat sangat geram mendengarnya. Nampaknya dirinya masih menyimpan dendam terhadapnya.
“Ayo, jawablah pertanyaan dari Metallo tersebut,” pinta Pak Sil seraya bangkit dari duduknya dan melangkah ke belakang ruangan.
Setelah menjawab pertanyaan dari Metallo, Melan pun balik bertanya kepadanya. Sekarang dirinyalah yang menjadi penentu, jikalau ia menerima dengan lapang dada jawaban mereka, maka diskusi akan dilanjutkan.
mampir juga ya.../Coffee//Coffee/
Dikelilingi kebencian
Thor, itu maksudnya bagaimana ya??