Sarah sang pemeran utama beserta para survivor lainnya telah berada di sebuah dunia tiruan yang nampak aneh. Mereka harus bisa bertahan hidup dengan melewati permainan yang di sebut dengan " 25 aturan iblis ", dimana permainan ini memiliki setiap aturan dan teka teki yang cukup menyulitkan. yang berhasil bertahan hidup sampai akhir, adalah pemenangnya. lalu hadiah yang akan di terima adalah satu permintaan apa saja yang diinginkan...... Mampukah Sarah dan para survivor lainnya keluar dari dunia aneh itu..? lalu bagaimana caranya Alena adik perempuan Sarah yang telah menghilang selama 12 tahun berada di dunia itu....?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhamad aidin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : Markas rahasia
" Bagaimana sekarang....? ". Setelah menutupi jenazah remaja yang meninggal itu dengan beberapa potong kain
" kita kuburkan nanti malam... ". Alena berjongkok, lali memejamkan mata. Dia berdoa untuk remaja itu.
Di tempat ruang staff kedua remaja itu masih menangis, terutama yang wanita. Tangisannya sangat pilu seakan kehilangan seseorang yang sangat berharga.
" Tolong lepasen saya... Saya mau lihat jenazah teman saya, saya mohon..... ". Remaja itu terus memelas ingin melihat jasad temannya itu. Elang dan Sarah hanya bisa terdiam, mereka tak bisa menuruti kata-kata remaja itu begitu saja. Pengalaman membuat mereka semakin mewaspadai apapun itu.
" Lepasen dia, setidaknya dia saja. Gue jadi jaminannya. Kali ini gue mohon... ". Remaja lelaki itu mulai memelas juga. Entah apa yang membuat remaja putri ini begitu menangisi temannya itu.
" Kami mau apa Sarah....? ". Sarah mendekat lalu membuka ikatan remaja putri itu.
" Tentu saja melepaskannya ". Sarah memang hanya diam, namun hatinya seakan tergerak untuk membantu remaja putri itu. Elang menodongkan pistol ke arah remaja putra itu.
Remaja putri itu langsung berlari ke arah kamar mandi. Dia melihat jasad yang sudah terbungkus kain, dengan tangisannya yang pilu dia langsung mendekati jenazah itu dan memeluknya.
" Bagaimana kau bisa lepas....". Bara bereaksi ,namun segera di hentikan Alena.
" Tidak apa-apa.... " Alena hanya memberi kode tatapan.
Waktu berlalu dengan cepat, siang bergantikan malam. Setelah penguburan selesai, kami hanya memberi patok nisan seadanya dengan batu atau kayu yang kami temukan. Remaja putri itu duduk diam di pinggir makam rekannya itu, sambil sesekali mengeluarkan air mata, seperti kehilangan yang sangat mendalam.
Remaja yang satunya lagi kami bebaskan setelah melakukan negosiasi dan kesepakatan. Dia bercerita panjang lebar soal kelompoknya hingga mengalami kematian ketika melakukan game aturan ke empat. Rekan yang tewas tdi siang itu adalah kakak tiri dari remaja perempuan itu, namanya ada Joe, dan remaja perempuan itu Dian namanya. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Hadi. Awalnya setelah melakukan penjarahan di tempat Sarah dan timnya, jumlah mereka adalah tujuh orang. Dengan dua mengawasi di luar, karena itulah, Sarah hanya melihat lima orang saja. Setelah melakukan game aturan keempat kini mereka hanya tinggal berdua saja, lebih tepatnya orang-orang yang bisa diandalkan hanya mereka berdua saja.
" Kau punya markas... ". Sarah nampak terkejut setelah mendengar pernyataannya. Hari mengangguk, dan para penghuni markasnya hanya bocah- bocah berusia tujuh hingga tiga belas tahun. Mereka yang awal bertujuh adalah orang-orang yang paling diharapkan untuk bertahan melewati ujian ini.
" Aku minta maaf soal penjarahan itu, namun kami tidak bisa melakukan hal lain lagi demi bertahan hidup.... ". Mendengar apa yang di sampaikan oleh Hadi, kami semua mulai memahami alasannya. Cukup konteks di tengah kekacauan dan tempat antah berantah ini, tidak hanya game iblis yang mengancam, namun para survivor yang lain. Mereka mulai menunjukkan sifat iblis dari dalam diri mereka sebagai bentuk pertahanan diri.
Hadi meninggalkan kami yang masih terpaku di ruang meja makan. Dia keluar untuk mengecek keadaan Dian yang masih terduduk lemas.
" Ambillah, kalian pasti lapar... ". Sarah memberikan dua bungkus roti dan dua botol air mineral. Hadi mengucapkan terima kasih, setidaknya malam ini dia dan Dian dapat bertahan hingga esok.
" Apa dia bisa di percaya... ? ". Alena menunjukkan keraguannya. Bara dan Elangpun hanya duduk diam.
" Aku percaya... ". Sarah berdiri dengan tegas. Kami bertiga sedikit tertegun dengan tekad Sarah yang mempercayai orang baru. Namun, keraguan kami bisa di tepis tak kala melihat keyakinan Sarah akan mereka berdua.
Malam yang panjang berlalu dengan tenang. Tiga hari sebelum masa visa kami habis. Hari dan Dian menuntun kami ke arah pinggiran kota yang lebih terpencil, lebih tepatnya perbatas kota dengan wilayah hutan dan pegunungan.
Kami sampai di tepi danau yang memiliki aliran bendungan besar. Hadi dan Dian mengarahkan kami ke sebuah tempat di bendungan itu. Terdapat bangunan di tengah bendungan.
" Buka pintunya... Ini Garuda... " . Sambil menggedor sebuah pintu besi.
" Kode... Mereka cukup pintar...". Batin Alena.
Pintu besi itu terbuka perlahan, dernyitannya khas besi yang tergesek dengan besi lagi. Setelah pintu terbuka, orang yang menyambut kami adalah para bocah tanggung seperti yang di katakan oleh Hadi.
" Selamat datang di markas perlindungan kami....". Hadi mempersilahkan kami untuk masuk.