Pengusir hantu dari zaman kuno yang memilih untuk bunuh diri karena ingin hidup normal ternyata bereinkarnasi ke tubuh seorang Idol terkenal.
Lee Jaehyun pada akhirnya harus menjalani dua kehidupan dengan dua pekerjaan yang berbeda.
Di mata semua orang, dia dikenal sebagai Maknae dari grup Idol terkenal di Korea Selatan bernama MYTH, namun semua berubah ketika terdapat sebuah masalah serius akibat roh jahat yang membuatnya harus kembali berprofesi sebagai Munyeo Naja.
Demi mewujudkan impiannya di kehidupan keduanya yang damai, dia harus kembali berurusan dengan roh jahat. Satu demi satu masalah serius mulai muncul dan misteri yang selama ini tertutup mulai terkuak. Bahkan dia beberapa kali nyaris mati karena terlibat dengan para arwah gentayangan!
Apakah dia bisa mewujudkan keinginannya untuk jadi Idol normal tanpa harus berurusan dengan hantu? Ataukah terpaksa melibatkan semua rekannya dalam bahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayano Kaname, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Arc 1: Reality Show
Di ruang rapat, MYTH dan Han Yeon bicara dengan sutradara itu. Pria bertopi itu menyuguhkan sendiri tehnya dan memberikannya pada mereka berempat.
Di dalam ruangan tersebut, tidak ada staff lainnya. Hanya ada sutradara dan keempat tamunya.
“Yeon, terima kasih banyak kau mau menerima permintaanku,” kata sutradara itu.
Sutradara itu bernama Choi Min Seok, teman Han Yeon yang secara serius sampai mendesaknya untuk datang.
Sagan masih terlihat kesal di dalam ruangan tersebut dan hal itu langsung dilontarkannya kembali.
“Jadi sutradara, apakah kami bisa mendengar perkenalan singkat dan penjelasan darimu sebelum aku keluar dari sini dan membanting pintu yang ada di sana?”
Han Yeon berusaha meminta Sagan untuk tenang meskipun tidak mudah. Tentu saja Choi Min Seok tau kenapa Sagan marah.
“Go–Goblin-nim, ma–maafkan aku karena meminta Yeon kemari secara mendadak. Se–sebenarnya…um….”
Terlihat keraguan di wajah sutradara Choi dan wajah pucatnya itu semakin membuat anggota lainnya menaruh rasa ingin tau yang cukup besar padanya.
Chief Han bertanya pada Choi Min Seok, “Um, begini Min Seok, aku ingin–...tidak, kami ingin mendengar ceritanya secara lengkap.”
“Kau kan hanya bilang padaku, tapi anak-anak ini sama sekali tidak tau apapun. Jadi aku rasa mereka harus dengar agar semuanya jelas dan–”
“Tunggu,” Shihan menyela, “Siren belum ada di sini. Kita harus menunggunya datang terlebih dahulu.”
Yuno langsung mengambil handphone nya dan menghubungi Jaehyun.
Drrrt.
Bersamaan dengan handphone yang bergetar di saku celananya, musik yang menjadi nada dering panggilannya pun berbunyi.
Jaehyun yang masih tidak bergerak sama sekali dari tempatnya berdiri akhirnya mengambil handphone miliknya untuk melihat siapa yang menghubunginya.
“Yuno?”
Tuut.
“Halo, hyung. Ada apa?” tanya Jaehyun seraya menjawab telponnya.
“Kau dimana?”
“Aku? Di parkiran.”
“Apa? Masih di sana? Kenapa tidak segera ke sini?”
Jaehyun justru balik bertanya, “Memang kalian dimana?”
“Kami sudah di ruang rapat. Sebaiknya, cepat kesini karena sutradara akan memberikan kita sedikit pengarahan,” ucap Yuno di telponnya.
Tentu saja itu tidak sepenuhnya jujur, tapi bukan juga sebuah kebohongan. Sementara itu, Jaehyun akhirnya berjalan menuju ruang rapat yang dimaksud. Pertama, ia mengikuti jalan yang sebelumnya dilalui oleh pria yang masih belum diketahui namanya, kemudian mulai terlihat beberapa orang dengan name tag.
“Itu pasti staff nya,” gumamnya pelan.
Panggilan itu masih belum dimatikan, Jaehyun terus mendengarkan Yuno bicara.
“Hyung, aku sudah melihat para staff. Aku tutup panggilannya ya.”
Tuut.
Jaehyun didekati salah satu staff dan setelah bicara sedikit sebagai basa-basi, ia diantar ke ruang rapat.
Dari sisi lain, pria yang sebelumnya melihat Jaehyun dan bergegas mengejarnya.
Grep.
Lengan Jaehyun digenggam dan ditarik olehnya, membuat langkah Jaehyun terhenti.
“Mau kemana?” tanya pria itu.
Jaehyun tidak berkedip, tanda dia terkejut. Meski tidak berteriak atau mengatakan apapun, matanya yang sedikit terbelalak itu jelas menunjukkan keterkejutannya.
“Hajin-ssi!” teriak salah satu staff, “Hajin-ssi, apa yang kamu lakukan? Kamu kan belum selesai didandani.”
“Hajin?” pikir Jaehyun setelah mendengar staff itu memanggil nama pria itu dan menghampirinya. “Hajin…Hajin…apa dia terkenal?”
“Aku tidak kenal siapa itu Hajin. Kuharap tidak perlu bersamanya dalam syuting.”
“Tapi, kenapa dia malah menangkap tanganku begini? Membuatku kesal saja.”
Jaehyun menatapnya tanpa ekspresi meski kesal, namun lawan bicaranya terlihat begitu serius.
“Jawab aku, kau mau kemana?”
Melihat lengannya digenggam begitu kuat pria bernama Hajin membuat Jaehyun mulai sedikit marah.
Tidak segan-segan, ia langsung menyingkirkan tangan pria itu dengan kasar.
“...!” pria itu terkejut meskipun tidak mengatakan apapun saat Jaehyun menyingkirkan tangannya secara paksa. Yang dipikirkan oleh Hajin adalah lawan bicaranya kini mau melihatnya secara serius.
Jaehyun berkata, “Kenapa aku harus mengatakan kemana aku pergi? Memang kau siapa?”
“Aku tidak memiliki kewajiban untuk menjawabmu dan kau bukan orang yang akan membayarku, jadi lupakan saja jika berpikir aku akan menjawabmu.”
Staff yang mengejar Hajin mulai panik. Siapa yang menyangka bahwa akan ada hal seperti ini.
“Ha–Hajin-ssi…”
Hajin hanya terdiam sambil melihat Jaehyun yang perlahan mulai jauh dan menuju tempat lain. Ia tau kemana Jaehyun pergi, ruang rapat. Disanalah sutradara berada dan di tempat itu pula para anggota MYTH sudah menunggu kedatangan Jaehyun.
Tok tok.
Suara ketukan pintu terdengar dan hanya membutuhkan beberapa detik sampai pintu itu terbuka dengan cepat.
“Kenapa lama sekali?!” sosok Yuno langsung menarik tangan Jaehyun begitu ia membuka pintunya dan melihat Jaehyun berdiri di depan pintu masuk.
Tidak ada penolakan dari Jaehyun sama sekali. Ia melihat bagaimana ekspresi sang sutradara begitu cemas, pucat dan terlihat penuh tekanan.
“Ada apa ini?” pikirnya dalam hati. “Suasana di sini seperti akan ada baku hantam. Ekspresi mereka semua terlihat serius.”
Jaehyun duduk seperti anak polos yang tidak tau apapun dan bertanya pada Yuno, “Hyung, kenapa kalian semua tampak tegang?”
Yuno tidak menjawab pertanyaan itu dan justru langsung bicara pada sutradara di hadapan mereka.
“Siren sudah ada di sini. Sekarang, kami akan mendengarkan ceritamu itu, sutradara Choi.”
Jaehyun mengamati situasinya dan berkata dalam hati, “Hoo, jadi aku akan tau alasan kami dipanggil ke tempat ini ya.”
“Mari dengarkan cerita apa yang akan diberitaukan pada kami semua.”
kaka dapet ide ceritanya dari mana sihhhh
aku yakin, demon lord sebelah dan mulut terkutuk pasti muji!
/Scream//Scream//Scream/
Agaki-sama.. aku lupa/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/