Di masa depan, ketika perang telah membakar Bumi hingga tak tersisa lagi kehidupan, Rudy adalah seorang jenderal perang, pemegang kendali tertinggi kecerdasan buatan dan armada pemusnah umat manusia. Ia menang dalam perang terakhir, namun kehilangan segalanya.
Sebuah insiden ruang-waktu menyeret Rudy ribuan tahun ke masa lalu, ke era ketika dunia belum mengenal teknologi dan keadilan, ia membawa kekuatan yang cukup untuk menaklukkan segalanya, namun ia memilih jalan lain.
Tanpa merebut tahta, Rudy menantang tirani, melindungi yang lemah, dan membentuk dunia agar tak mengulangi kehancuran yang pernah ia lihat. Di tengah konflik dan kekuasaan, ia menemukan cinta, hidup sebagai manusia, lalu menghilang bersama waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adam Erlangga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Union. Nama rumah milik Rudy di bumi. Ia memberikan nama Union.
Seperti biasa, setiap hari Rudy hanya duduk di kursi ruang kontrol rumahnya. Ia mempelajari semua informasi yang ada di tahun 220, tentang perang dan jalannya masa depan.
[Kekaisaran Romana akan runtuh dari dalam karena perebutan kekuasaan, perang saudara terjadi pada sekitar tahun 400 Masehi.]
"Hm, sekitar 200 tahun lagi ya, Tapi menurut sejarah, Kekaisaran Romana adalah Kekaisaran terbesar di dunia saat ini. Lalu ada Kekaisaran Parthia atau persia, dan di Asia sekarang sedang terjadi runtuhnya Dinasti Han lalu menciptakan 3 kerajaan."
Rudy pun menghela nafas.
"Sejarah memang sangat menarik, mau di pikir berapa kali pun, perang terus terjadi dari masa ke masa sampai dunia berakhir. Memang sulit mengendalikan seluruh dunia dalam 1 sistem pemerintahan. Apalagi aku tidak punya basic politik."
"Melihat jaman sekarang, sangat sulit di kontrol tanpa adanya sistem data. Dan untuk membangun itu semua, sangat mustahil bagiku. Jaman ini hanya bisa di kendalikan oleh pikiran dan bukan teknologi. Kepercayaan dan kesetiaan. Tidak peduli mau berperang berapa kali, mereka hanya tunduk dalam sistem otoriter dari pada kemakmuran rakyat."
"Intinya tetap pada kekuasaan dan kekayaan."
Rudy pun berdiri dan mengambil segelas kopi.
"Apa aku ambil saja semua emas yang ada di bumi, lalu mengendalikan semua perekonomian dunia. Aku benar-benar akan kaya raya. HAHAHA."
Lalu, dia terdiam seketika.
"Tapi kalau seperti itu, tidak akan ada orang jenius yang terlahir seperti Issac Newton, Leonardo da Vinci, Nicola Tesla, Albert Einstein, dan ilmuan-ilmuan lainnya. Kalau pun aku menguasai kekayaan di dunia ini, kondisi perekonomian di dunia akan kacau balau. Dan manusia akan menggantinya dengan alat tukar lain."
"Saat itu terjadi, Emas menjadi barang paling langkah didunia. Tentu saja akan menciptakan perang yang lebih brutal dari aku bayangkan. Bukan hanya tentang kekuasaan, tapi ambisi."
Tak. Rudy menaruh gelas di meja.
"Bagaimana pun, aku juga sudah merubah sejarah, aku sudah ikut campur dalam urusan cinta dan kekuasaan. Meskipun tidak ada orang yang tau seperti apa masa depan ini tercipta, tapi aku harus merubahnya. Demi peradaban manusia."
"Mungkin hanya aku satu-satunya orang yang menyaksikan kemusnahan umat manusia. Sekarang adalah kesempatan ku untuk menyelamatkan nya. Bumi masih ada, manusia masih hidup, dan harapan itu pasti terjadi."
Rudy pun keluar dari ruangan itu sambil memegang gelas kopi. Lalu ia berjalan keluar dari rumahnya dan duduk di depan teras sambil melihat air terjun.
"Bumi asli memang sangat indah. Aku tidak mampu berfikir untuk menghancurkannya. Mungkin di suatu tempat, masih ada yang lebih indah dari ini. Hmm, apa yang pikirkan para presiden waktu itu. Menciptakan Bumi menjadi neraka. lihatlah, betapa indahnya bumi ini. Apa mata para presiden tidak bisa melihatnya.?"
"Haish, aku semakin emosi saja."
"Pada Akhirnya, sifat manusia tetaplah sama. Dendam, Kekuasaan, Kekayaan, Kekuatan, Ambisi dan Nafsu, tetap melekat di hati para pemimpin dunia di jaman dulu, jaman sekarang, bahkan sampai akhir jaman."
Rudy pun memejamkan matanya.
"Hmm, lalu aku harus bagaimana sekarang.? menghentikan perang tanpa perang.? lucu sekali."
"Lalu, apa aku harus berdiri di depan para kaisar dan mengancamnya? Hei jangan perang, kamu juga jangan perang, kalau perang, aku hancurkan negaramu. Hahaha, konyol sekali."
"Sepertinya aku sudah tertular Rachel jadi gila. Hmm." sahutnya sambil tersenyum.
Ia pun berdiri dari sana.
"Huh, aku ikuti permainan mereka saja."
Ia pun membalikkan badannya, dan tiba-tiba Rachel sudah ada di sana sambil menyilangkan tangannya.
"Ah? Rachel.?"
"Apa yang kau bilang barusan, aku gila.?"
"Ehm? tidak, siapa yang bilang kau gila.?" sahut Rudy ngeles.
"Kau bilang kau tertular penyakit gila karena ku. Aku masih bisa dengar."
"Huh, sepertinya begitu." sahut Rudy menghela nafas dengan sedih.
"Jadi kau mengakui kalau kau gila karenaku.?" katanya marah sambil mendekatinya.
Rudy pun menariknya lalu memeluk punggungnya.
"Ya benar, aku tergila-gila olehmu. Sampai mataku tidak ingin berpaling darimu."
"Ehm?" sahutnya Rachel kebingungan.
"Haish, aku lupa ini tahun 220, mana ada rayuan gombal seperti itu di jaman ini."
"Prff. Hahahaha." Rachel pun tertawa terbahak-bahak.
"Hihi, hahahaha." dan Rudy terbawa suasana.
....
Beberapa saat kemudian.
Mereka berdua duduk santai di depan teras sambil menikmati indahnya air terjun disana.
"Jadi, apa kau akan berdiri didepan kaisar, lalu bilang, hei jangan perang. hahaha" kata Rachel sambil menunjuk
"Sudahlah, jangan bicarakan itu lagi."
"Hahaha, lucu sekali." Rachel masih tertawa terbahak-bahak disana.
"Huh, tertawalah sepuasmu."
"Kau memang aneh sekali, pikiranmu benar-benar sangat lucu. Aku tidak bisa berhenti tertawa."
Rudy hanya terdiam sambil merenung.
"Yah, sungguh konyol."
Rachel pun melihatnya, lalu ia berhenti tertawa. Ia merasakan sesuatu yang tidak biasa.
"Ada apa.? apa kau sedang memikirkan sesuatu.?"
"Saat kau menjadi kaisar, apa kau pernah berfikir untuk berperang.?"
"Hm?" sahutnya bingung
"Apa perang memang harus di lakukan.?" kata Rudy
"Ehm, kenapa kau bertanya seperti itu tiba-tiba. jangankan berfikir tentang perang, memikirkan nyawaku sendiri sudah lelah. Kenapa kau bertanya seperti itu.?"
"Apa kau pernah melihat sekumpulan orang tiba-tiba mati dalam sekejap.? terlentang di lautan api yang membakar tubuhnya, lalu menjadi abu tertiup angin."
Rachel pun mulai merasa gelisah. Lalu ia memegang jidat Rudy.
"Apa kau sedang demam.?"
"Mana bisa aku sakit, di tempatku dulu tidak ada orang sakit."
"Oh, begitu ya. Aku merasa kau gelisah sekarang. Hmm, kalau kau bertanya seperti itu, aku juga pernah melihat seseorang yang sangat aku sayangi meninggal di pangkuanku."
"Hm?" Rudy pun langsung menoleh kearah Rachel.
Rachel pun tersenyum padanya. "Ya, bahkan dua kali."
"Apa maksud mu.?" tanya Rudy.
Rachel pun menarik nafas panjang.
"6 tahun lalu, Ibuku meninggal di atas pangkuanku. Aku menangis di atas air hujan tanpa henti. Itu moment paling menyedihkan dalam hidupku." kata Rachel tersenyum, tapi matanya sudah memerah.
"1 tahun yang lalu, kejadian itu terulang lagi. Diatas kasur milik kaisar, ayahku meninggal di atas pangkuanku juga. Aku tidak sempat mendengar kata-kata terakhirnya. Ayahku memegang tanganku dengan erat, sampai nafas terakhir nya."
Rachel mulai meneteskan air mata, dan Rudy mulai bersalah karena sudah memancing pembicaraan ini.
"Kau tanya padaku, apa aku pernah melihat orang mati dalam sekejap. Ya aku pernah, dalam perang maupun dalam hukuman mati, aku melihatnya dengan mataku sendiri. Tapi tidak ada yang lebih menyakitkan, ketika melihat orang tuaku sendiri meninggal dalam pelukanku."
Tetes demi tetes, air mata jatuh kebawah lantai. Tapi Rachel masih berusaha untuk tersenyum.
"Kau bilang aku gila, memang benar, aku memiliki trauma masa lalu yang kelam, aku pernah di racun berkali-kali, lalu melihat pelayan istana yang tiba-tiba meninggal tanpa alasan. Aku tidak tau, apa yang sebenarnya terjadi. Saat ibundaku meninggal, pikiranku kemana-mana, aku di larang pergi dari istana, tidak boleh bertemu dengan siapapun, aku mengurung diri selama bertahun-tahun, sampai aku di panggil untuk melihat ayahku untuk yang terakhir kalinya. Dan sekali lagi, aku melihatnya, hiks, aku melihat wajahnya sudah sangat pucat, hiks, aku....
Rudy pun langsung memeluknya.
"Sudah, jangan diteruskan." kata Rudy sambil memeluknya dengan erat.
"Hiks, aku melihat ayahku meninggal di pangkuanku sendiri. hiks."
Rudy pun mengelus pundak nya, memeluknya dengan erat-erat. mencoba untuk menenangkan nya. Dan Rachel menangis tersedu-sedu di pelukannya.
....