"Rena....,Aku mau minta maaf sebelumnya,tapi jujur ini juga berat untuk aku,tapi aku juga harus jujur sama kamu".
Rena tak memandang curiga saat suaminya berkata seperti itu,tapi setelahnya ucapan kejujuran dari suaminya seperti pisau tajam yang menusuk hatinya.
"Aku mencintai wanita lain yang kutemui 6 bulan terakhir ini,Dia bukan hanya cantik tapi juga pintar memasak,semua yang ada didiri wanita itu aku sangat menyukainya".
Rena diam membeku,tapi Ia juga ingin tau apa yang menjadi alasan suaminya bisa mencintai wanita lain padahal ada istri yang sudah Ia nikahi lebih dari 10 tahun.
"Kenapa Mas...?,Kenapa harus ada wanita lain yang Mas cintai".
"Aku sudah tidak cinta sama kamu Rena,Kamu berubah,Kamu tidak lagi menarik dimataku,Kamu juga selalu mementingkan anak-anak daripada aku suamimu".
Rena kembali diam,Ia ingin meledak tapi teringat ada 2 anaknya yang harus Ia jaga mentalnya.
"Baiklah Mas....,terus apa maumu kalau sudah seperti ini?Kamu mau pisah?".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiwit Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cika Hamil
Rena hanya menatap tanpa ada keinginan untuk menerima telpon dari Dion saat ponselnya terus berdering.
Bagi Rena semua hal antara Ia dan Dion telah selesai,Walaupun besok akan bertemu untuk kesepakatan pengajuan perceraian tetap saja Rena tak ingin ada komunikasi diantara mereka.
Rena melanjutkan makan malam bersama kedua anaknya sekaligus ingin mendengarkan pendapat dari kedua anaknya tentang penjualan rumah.
"Axel...,Aluna...,Mama,Kakek serta Nenek berencana menjual rumah ini,Apa kalian setuju?Nantinya kita akan cari rumah yang bagus dan dekat dengan sekolah kalian,kalau perlu kita cari yang dekat juga sama Mall dan dekat juga banyak tempat wisata,Bagaimana?".
Aluna justru murung berbeda dengan Axel yang sangat bersemangat.
Rena bangun dari tempat duduknya dan mendekati Aluna yang terlihat sedih.
"Aluna kenapa?Aluna sedih rumah ini dijual?",tanya Rena dengan lembut.
Aluna justru menangis cukup kencang.
"Hiks Hiks Hiks Ibu.....,Aluna nggak mau Ayah pergi...,Aluna mau sama Ayah.....,Aluna malu Bu jika teman-teman Aluna tau bahwa Aluna sekarang nggak punya Ayah,Aluna mau Ayah Bu.....".
Aluna terus menangis dengan kencang,Rena mendengarnya ikut bersedih begitu juga Axel,tapi semua sudah terjadi dan tidak bisa lagi disatukan kembali.
Rena membiarkan Aluna untuk menangis sepuasnya,Ia memahami kesedihan anaknya yang sebenarnya lebih takut dengan ucapan dari teman-temannya.
Setelah tangisannya mereda,Rena terus memeluk Aluna dengan erat dan menciumnya bertubi-tubi.
Aluna berdiri mensejajarkan tinggi anaknya,Ia ingin Aluna bisa memahami bahwa tidak semua hal harus Ia pikirkan,apalagi untuk hal yang belum tentu terjadi.
"Aluna...,Ayah nggak pergi,Aluna tetap bisa bertemu Ayah saat waktunya pas,Aluna hanya tidak lagi serumah dengan Ayah,Teman-teman Aluna tidak akan ada yang tau dan tidak akan pernah tau,Jadi Aluna jangan memikirkan hal yang belum tentu terjadi,Ibu sama Kakak Axel akan terus bersama-sama dengan Aluna sampai kapanpun,Jadi jangan sedih lagi ya....".
Aluna mengangguk,Mereka kemudian berpelukan bertiga membuat Mbok Sumi yang melihatnya ikut terharu.
Mereka kemudian berpindah kelantai dua sambil membawa buah potong ditangan masing-masing,Rena memberikan waktu kedua anaknya untuk menonton televisi sejenak sebelum menyiapkan apa yang perlu disiapkan besok untuk sekolah.
Saat ketiganya sibuk menonton televisi,Rena dipanggil oleh Mbok Sumi dengan berbisik.
"Bu....,Dibawah ada Pak Dion,katanya ada yang penting yang mau diomongin".
Rena sebenarnya malas,tapi karena tak ingin ada kegaduhan apalagi sampai terdengar kedua anaknya,Akhirnya Rena turun kebawah dan menemui Dion seorang diri.
Wajah kelelahan dan sangat frustasi menjadi penilaian Rena saat melihat Dion kali ini,tapi Ia tak peduli karena diantara mereka sudah sepakat untuk bercerai.
Rena masih terdiam sambil menatap Dion yang terus menunduk,sampai akhirnya suara Dion lebih dulu membuka obrolan diantara mereka.
"Rena....,Aku mau minta tolong sama kamu,Aku butuh uang Ren...,Ayahku sedang sakit dikampung dan......,".
Dion menjeda ucapannya tapi tak membuat Rena bersuara.
"Dan.....,Cika sedang hamil Ren,Dia hamil anakku".
Jegerrr.......,Rena terkejut luar biasa,Ia tidak menyangka bahwa Dion dan Cika sudah bertindak kejauhan dari beberapa bulan yang lalu.
Rena ingin marah tapi Rena merasa nggak ada gunanya karena semua sudah terjadi dan kini Dion sedang menerima akibat dari perbuatannya.
Rena yang terus tak bereaksi membuat Dion menatap ingin belas kasian.
"Rena....,Tolongin aku Ren....,Aku nggak butuh banyak uang kok,Aku cuma butuh 10 juta aja,Kamu ada kan Ren uang segitu?,Anggap aja itu uang tabungan anak-anak,Jadi kita impas,Aku tidak akan mengganggumu lagi setelah ini".
Rena akhirnya memiliki sebuah ide agar terlepas dari Dion untuk selamanya.
"Baiklah Dion,Aku akan memberikan uang 10 juta ketanganmu saat ini juga,Tapi dengan catatan kamu harus membuat surat pernyataan bahwa perceraian kita karena kamu berselingkuh,dan juga hak asuh Axel dan Aluna jatuh ketanganku yang artinya kamu tidak bebas bertemu mereka tanpa seijinku,Dan satu hal lagi,Jangan pernah melibatkan aku maupun orangtuaku setelah ini,Karena malam ini saat kamu keluar dari rumah ini maka hubungan apapun yang pernah terjadi dalam hidup kita telah selesai".
Dion sebenarnya tidak terima,tapi Ia butuh uang segera.
Akhirnya Dion tidak punya pilihan lain selain menulis surat pernyataan sesuai keinginan Rena sendiri.
Rena merasa puas dengan apa yang Dion tulis,setelahnya uang 10 juta Ia kirim ke rekening Dion saat itu juga.
"Silahkan keluar dari rumah ini,Urusan kita telah selesai",usir Rena secara halus kepada Dion.
Dion pun akhirnya pergi dengan membawa uang 10 juta direkeningnya,Dion tersenyum bahagia,Dion merasa bahagia karena bisa memperalat Rena dengan mudah,Padahal Dion tidak tau bahwa Rena juga berniat pergi ketempat yang Dion tidak bisa menjangkaunya sampai kapanpun.
Setelah kepergian Dion Rena menyimpan kertas sekaligus berkas yang akan Ia urus besok bersama pengacara,Ia sudah tidak sabar dengan menyandang status janda terhormat.
Sedangkan Dion langsung mengemudikan mobilnya keRumah Sakit,Ia ingin segera menemui Cika yang kondisinya terus melemah.
Saat Dion tiba ternyata Bu Ratih dan Cika telah dipindahkan dalam satu kamar yang sama,itu artinya Dion mengharuskan memiliki lebih banyak uang lagi untuk membayar rawat inap keduanya.
Bu Ratih tetap memandang Dion kesal,Ia benar-benar kecewa atas apa yang menimpa Cika,begitupula Cika terbangun dengan rasa sakit dikepalanya.
"Bu....,Aku dimana?,Kok aku diRumah Sakit ya?Aku kenapa Bu?Loh Ibu juga sakit?,Ibu sakit apa?",tanya Cika bertubi-tubi.
Dion akhirnya mendekat,Ia memeluk Cika dengan erat dan mencium keningnya dengan lembut.
Bu Ratih yang melihatnya antara bahagia dan kesal,bahagia karena Dion begitu lembut memperlakukan Cika tapi jika teringat bahwa Dion belum benar-benar sah bercerai membuat Bu Ratih kembali kesal.
Cika yang mendapatkan perlakuan manis dari Dion jadi tersenyum,Ia menatap Dion dengan senyum tipis diwajahnya.
"Mas....,Aku kenapa?,Mas pasti tau kan?",tanya Cika sekali lagi.
Dion mengambil nafas panjang sebelum mengatakan semuanya.
"Cika....,Kata Dokter kamu saat ini sedang hamil 6 minggu,Itu anak kita sayang...,Kamu akan jadi Ibu....".
Cika menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang Ia dengar,Ia kemudian menangis sambil menatap Ibunya.
"Bu.....,Maafin Cika Bu....,Cika mengaku salah,tapi anak ini nggak salah apa-apa Bu,Tolong restuin Cika bersama Mas Dion,Biarkan Cika menikah sama Mas Dion Bu....".
Baik Bu Ratih maupun Dion saling menatap satu sama lain,Dion mendadak juga sakit kepala saat Cika ingin dinikahi,padahal uang saja saat ini Dion tak memilikinya,Dion tak menyangka dalam sekejap hidupnya penuh banyak kejutan,padahal bukan seperti itu rencananya tapi sekarang semua terasa berantakan dan Dion bingung harus menyelesaikannya darimana dulu.
amit"