Ye Fan adalah seorang psikopat yang menjadikan orang-orang jahat sebagai target eksekusinya. Ia menikmati perburuan tersebut tanpa rasa bersalah.
Sebelum kematiannya, Ye Fan menghabiskan waktu dengan sebuah game kultivasi yang menurutnya sangat menarik, karena di dalamnya ia bisa memburu dan membunuh para penjahat tanpa batas.
Namun, hidupnya berakhir ketika ia tewas ditembak polisi. Saat membuka mata kembali, Ye Fan mendapati dirinya telah bereinkarnasi ke dalam dunia kultivasi—dunia yang persis seperti game yang pernah ia mainkan, tempat hasrat lamanya kini dapat terwujud sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Lidah yang Terpotong dan Dendam Sang Budak
Ye Fan masih terduduk di atas dipan kayu yang keras saat rasa sakit itu datang. Bukan sakit karena peluru, melainkan sebuah serangan memori yang menghantam kepalanya seperti godam raksasa.
"Argh...!"
Ia mencengkeram kepalanya. Visual-visual buram mulai tajam dalam benaknya, berputar seperti film rusak yang dipaksa putar ulang. Itu bukan ingatannya, melainkan sisa-sisa memori dari pemilik tubuh ini—seorang pemuda yang memiliki nama yang sama, namun nasib yang jauh lebih tragis.
Dalam ingatan itu, Ye Fan melihat dirinya sendiri sedang merangkak di atas tanah berlumpur. Punggungnya perih, terkoyak oleh cambukan berkali-kali.
“Budak cacat! Masih berani kau menatapku?” Suara tawa mengejek terdengar. Seorang pemuda berpakaian mewah, salah satu murid luar dari klan tempatnya mengabdi, berdiri dengan cambuk di tangan. Ye Fan dalam ingatan itu mencoba membalas, mencoba berteriak bahwa dia tidak bersalah, tapi yang keluar dari mulutnya hanyalah suara mengerang yang menyedihkan.
Ye Fan tersentak dalam realitas. Secara naluriah, ia meraba mulutnya. Ia membuka rahangnya lebar-lebar dan meraba bagian dalamnya dengan jari.
Kosong.
Lidahnya telah dipotong. Hanya tersisa pangkal yang kasar dan luka parut yang sudah lama mengering.
"Mati kau, bajingan..." desis Ye Fan.
Suaranya tidak keluar sebagai kata-kata, melainkan hanya desisan udara yang keluar dari tenggorokan. Rasa dingin menjalar di dadanya. Bukan rasa takut, melainkan kemarahan yang amat sangat. Lewat ingatan yang terus mengalir, ia tahu kenapa tubuh ini disiksa. Dia adalah budak pembersih di sebuah sekte kecil bernama Sekte Pedang Patah. Dia dituduh mencuri obat kultivasi tingkat rendah yang sebenarnya dikorupsi oleh salah satu murid senior.
Sebagai hukuman, lidahnya dipotong agar dia tidak bisa membela diri, dan dia dijadikan 'samsak hidup' bagi para murid untuk berlatih teknik pukulan.
Setiap hari adalah siksaan. Setiap malam adalah doa untuk mati.
"Jadi," Ye Fan menyeringai, sebuah ekspresi yang tampak sangat mengerikan di wajah pemuda yang biasanya terlihat lemah ini. "Kau mati karena rasa sakit yang tak tertahankan, dan aku masuk ke sini."
Ia memejamkan mata, merasakan sisa-sisa kesedihan pemilik tubuh asli yang masih mendekam di sudut jiwa.
"Jangan khawatir," gumam Ye Fan dalam hati, meskipun dia tahu dia tidak bisa bicara. "Kau beruntung. Dari jutaan jiwa yang bisa menempati tubuhmu, yang datang adalah aku. Seorang pemburu yang sudah terbiasa mandi darah."
[DING!]
[Sinkronisasi Memori Selesai: 100%]
[Misi Utama Diterima: Balas Dendam Sang Budak]
[Target: Murid Senior Wei, Penjaga Penjara Han]
[Hadiah: Pemulihan Lidah & Teknik Kultivasi "Seni Pemakan Jiwa"]
Ye Fan melihat layar transparan di depannya dengan tatapan lapar. Di dunia lamanya, dia membunuh penjahat untuk memuaskan dahaga psikopatnya. Di dunia ini, membunuh adalah cara untuk menjadi dewa.
Tiba-tiba, pintu kayu gubuknya yang reot ditendang hingga hancur.
"Waktunya bekerja, budak bisu! Bangun!" seorang pria berbadan besar dengan seragam penjaga masuk sambil membawa ember berisi air kotor.
Tanpa peringatan, pria itu menyiramkan air kotor tersebut ke wajah Ye Fan. "Cepat keluar dan bersihkan kandang binatang buas, atau kau ingin aku memotong telingamu juga hari ini?"
Ye Fan mengusap air dari matanya perlahan. Dia menunduk, membiarkan rambut panjangnya menutupi wajahnya agar sang penjaga tidak melihat kilatan haus darah di matanya.
Dalam ingatan tubuh ini, pria di depannya adalah Penjaga Han—orang yang memotong lidahnya atas perintah Murid Senior Wei.
Target pertama sudah datang, pikir Ye Fan.
Ye Fan berdiri dengan tubuh yang gemetar—bukan karena takut, tapi karena menahan tawa yang tak bisa ia keluarkan. Ia mulai berjalan mendekat ke arah Penjaga Han dengan kepala tertunduk, berpura-pura patuh seperti biasanya.
"Bagus. Begitu seharusnya seekor anjing bersi—"
Kalimat Penjaga Han terhenti saat tangan Ye Fan melesat secepat kilat, bukan untuk mengambil ember, melainkan untuk mencengkeram tenggorokan pria besar itu dengan kekuatan yang tidak masuk akal bagi seorang budak.
[Peringatan: Tubuh Host terlalu lemah. Menggunakan 10% Energi Sistem untuk penguatan sementara.]
Krak!
Ye Fan menatap mata Penjaga Han yang mulai membelalak ketakutan. Di dalam gubuk kecil yang bau itu, sang pemburu baru saja memulai permainannya.