SINOPSIS
Feng Ruxue adalah Permaisuri dari Kekaisaran Phoenix yang dikhianati oleh suaminya sendiri, sang Kaisar, dan adik perempuannya yang licik. Mereka menjebak Ruxue, mencabut tulang sumsum phoenix-nya (sumber kekuatannya), dan membakarnya hidup-hidup di Menara Terlarang.
Namun, alih-alih mati, jiwa Ruxue justru bangkit kembali ke tubuh seorang gadis lemah berwajah buruk rupa yang sering ditindas di desa terpencil. Dengan ingatan masa lalunya sebagai kultivator tingkat tinggi, ia mulai berlatih kembali, menyembuhkan wajahnya, dan membangun pasukan rahasia. Ia kembali ke ibu kota bukan untuk meminta maaf, tapi untuk mengambil kembali mahkotanya dan membakar setiap orang yang pernah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mieayam(•‿•), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Salju Abadi dan Kelahiran Kembali
Hembusan angin dingin yang tajam seperti ribuan silet mulai menyapu permukaan kulit saat romfongan kecil itu mendaki lereng curam Pegunungan Utara. Di sini, di wilayah yang dikenal sebagai Puncak Nafas Dewa, salju tidak pernah mencair selama ribuan tahun. Langit di atas mereka bukan lagi biru cerah, melainkan abu-abu pekat yang terus-menerus menjatuhkan serpihan es kristal. Di bawah kaki mereka, lapisan salju yang tebal menelan suara langkah kaki, menciptakan kesunyian yang mencekam sekaligus sakral.
Lin Xiao berjalan paling depan. Jubah abu-abunya kini telah berganti dengan jubah kulit binatang yang tebal, namun ia seolah tidak merasakan dingin yang mematikan itu. Energi Nirwana Hitam di dalam tubuhnya justru terasa semakin tenang dan stabil di tengah suhu ekstrem ini. Di belakangnya, Kepala Paviliun Gu tampak terengah-engah, uap napasnya membeku di janggut putihnya, sementara Yun'er kecil berada di dalam gendongan pelayan setia Gu, terbungkus rapat oleh selimut wol tebal.
"Nona... di depan sana terdapat sebuah gua kuno yang pernah digunakan oleh tabib-tabib masa lalu untuk meditasi," ucap Gu dengan suara yang gemetar karena hawa dingin. "Gua itu memiliki urat nadi energi bumi yang murni, sangat cocok untuk proses penyerapan Teratai Darah."
Lin Xiao mengangguk pelan. Matanya yang ungu gelap menyisir puncak gunung yang tertutup kabut. Ia bisa merasakan tarikan energi yang kuat dari arah yang ditunjuk oleh Gu. Setelah beberapa saat mendaki, mereka akhirnya tiba di depan sebuah mulut gua yang tersembunyi di balik bongkahan es raksasa.
Begitu mereka melangkah masuk, suhu udara mendadak berubah. Gua itu tidak sedingin di luar; dinding-dindingnya memancarkan cahaya biru redup dari kristal es alami yang mengandung energi spiritual. Di tengah ruangan gua, terdapat sebuah altar batu yang permukaannya rata dan halus.
Lin Xiao menoleh ke arah Gu dan Yun'er. "Kalian berdua, berjaga-jagalah di pintu masuk. Jangan biarkan siapa pun atau apa pun masuk selama tiga hari ke depan. Proses ini akan sangat tidak stabil. Jika kalian merasakan gelombang energi yang terlalu kuat, menjauhlah sejauh mungkin."
"Kakak... apa kau akan baik-baik saja?" tanya Yun'er dengan suara kecil, matanya penuh kekhawatiran.
Lin Xiao berjongkok sejenak, menyentuh pipi dingin gadis kecil itu. "Saat aku keluar dari sini, aku tidak akan lagi memakai tudung ini, Yun'er. Aku berjanji."
Setelah mereka keluar ke area luar gua, Lin Xiao duduk bersila di atas altar batu. Ia mengeluarkan Teratai Darah yang kini telah berubah warna menjadi ungu pekat dari dalam wadah gioknya. Bunga itu berdenyut pelan, seolah-olah memiliki jantungnya sendiri. Aroma amis darah yang dulu menyengat kini telah berganti dengan wangi bunga yang memabukkan namun terasa berat oleh kekuatan.
"Mari kita mulai," bisik Lin Xiao pada dirinya sendiri.
Ia menelan satu per satu kelopak teratai tersebut. Begitu kelopak pertama menyentuh lidahnya, ia merasakan sensasi panas yang meledak, seolah-olah ia baru saja menelan api cair. Energi tersebut tidak langsung menuju perut, melainkan merambat ke atas, langsung menghantam wajah kirinya yang cacat.
AAAGGHHH!
Lin Xiao mengerang tertahan. Rasa sakitnya sepuluh kali lebih hebat daripada saat ia membangkitkan energinya di gubuk desa. Rasanya seolah-olah ada tangan-tangan tak kasat mata yang sedang menguliti wajahnya secara perlahan, lalu menghancurkan tulang pipinya dan menyusunnya kembali. Keringat dingin mulai bercucuran, membeku seketika di permukaan kulitnya.
Di dalam kesadarannya, ia melihat kembali momen di mana api membakar wajahnya di kehidupan sebelumnya—saat Feng Meili tertawa sambil memegang obor. Namun kali ini, api itu bukan lagi musuhnya. Lin Xiao meraih api itu dalam bayangannya, menjadikannya bagian dari Energi Nirwana Hitam.
Tato mawar hitam di pipinya mulai berpendar sangat terang hingga menyinari seluruh isi gua. Kelopak-kelopak pada tato itu mulai mekar sepenuhnya, dan akarnya seolah merambat ke seluruh sistem saraf di kepalanya. Di luar gua, langit yang tadinya abu-abu tiba-tiba berputar, membentuk pusaran awan hitam raksasa tepat di atas puncak gunung. Petir ungu menyambar-nyambar, menghantam puncak-puncak es di sekitarnya.
Kepala Paviliun Gu yang melihat fenomena alam itu dari kejauhan hanya bisa terpana. "Ini... ini bukan sekadar pemulihan tubuh. Dia sedang memanggil kembali hakikat aslinya sebagai penguasa kegelapan!"
Di dalam gua, proses itu mencapai puncaknya. Kulit mati dan bekas luka yang kasar di wajah Lin Xiao mulai mengelupas, jatuh ke lantai altar seperti debu hitam. Di bawahnya, kulit baru yang seputih salju dan sehalus porselen mulai terbentuk. Namun, transformasi ini tidak berhenti di wajah. Seluruh tulang di tubuh Lin Xiao berderak, menjadi lebih padat dan mengandung serat-serat energi hitam yang tidak bisa dihancurkan.
Energi dari Teratai Darah mulai masuk ke dalam Inti Jiwanya, memaksa dinding penghalang antara Tahap Pembersihan Sumsum dan Tahap Pembentukan Inti untuk hancur.
KRRRAAAKK!
Sebuah suara retakan terdengar di dalam pikiran Lin Xiao. Sebuah ledakan energi ungu keluar dari tubuhnya, menghantam dinding-dinding gua hingga menciptakan guncangan hebat yang terasa hingga ke kaki gunung.
Lin Xiao menarik napas dalam-dalam. Setiap sel di tubuhnya sekarang terasa hidup dengan kekuatan yang berlipat ganda. Ia membuka matanya, dan untuk sesaat, pupil matanya benar-benar berubah menjadi simbol mawar hitam sebelum kembali menjadi ungu.
Ia berdiri dengan perlahan, merasakan keseimbangan baru dalam tubuhnya. Ia melangkah menuju sebuah dinding es yang jernih untuk melihat bayangannya.
Apa yang ia lihat di sana adalah sosok yang mampu membuat dewa sekalipun menahan napas. Wajahnya kini telah pulih sepenuhnya, bahkan jauh lebih cantik dan anggun daripada kehidupannya yang dulu sebagai Feng Ruxue. Tato mawar hitam itu masih ada, namun kini ia tampak seperti hiasan yang disengaja, memberikan kesan misterius yang mematikan pada kecantikannya yang sempurna. Matanya kini memiliki kedalaman yang mampu mengintimidasi siapa pun yang berani menatapnya.
"Tahap Pembentukan Inti Tingkat Dua..." gumam Lin Xiao, merasakan kekuatannya yang kini setara dengan para tetua sekte besar.
Ia melangkah keluar dari gua. Di luar, badai salju telah mereda, digantikan oleh cahaya bulan yang memantul di atas salju putih. Kepala Paviliun Gu dan Yun'er berdiri di sana, membeku saat melihat sosok yang keluar dari gua.
Yun'er adalah yang pertama tersadar. Ia berlari mendekat, namun berhenti beberapa langkah di depan Lin Xiao, wajahnya penuh kekaguman. "Kakak... kau... kau sangat cantik. Kau benar-benar seorang peri sekarang."
Lin Xiao tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kini tampak begitu mempesona tanpa ada lagi cacat yang menghalangi. "Aku bukan peri, Yun'er. Aku adalah badai yang akan menghancurkan mereka yang telah merenggut segalanya dariku."
Kepala Paviliun Gu berlutut dengan satu kaki, memberikan hormat yang paling tinggi. "Selamat atas keberhasilan Anda, Nona. Dengan kekuatan ini, nama Klan Mawar Hitam akan kembali mengguncang dunia."
Lin Xiao menatap ke arah selatan, ke arah Ibu Kota Kekaisaran Phoenix yang jauh di sana. "Persiapkan semuanya, Gu. Kita tidak akan lagi bersembunyi. Kita akan menuju Akademi Phoenix Langit. Aku ingin melihat wajah Feng Meili saat ia menyadari bahwa 'sampah' yang ia buang kini kembali untuk mengambil kepalanya."
Dengan langkah yang mantap, Lin Xiao turun dari puncak gunung. Sang Phoenix Hitam telah benar-benar lahir kembali, dan kali ini, ia tidak akan membiarkan api siapa pun memadamkan cahayanya.