Aruna Putri Rahardian harus menelan pil pahit ketika ayahnya menuduh sang ibu berselingkuh. Bahkan setelehnya dia tak mengakui Aruna sebagai anaknya. Berbeda dengan adiknya Arkha yang masih di akui. Entah siapa yang menghembuskan fit-nah itu.
Bima Rahardian yang tak terima terus menyik-sa istrinya, Mutiara hingga akhirnya meregang nyawa. Sedangkan Aruna tak di biarkan pergi dari rumah dan terus mendapatkan sik-saan juga darinya. Bahkan yang paling membuat Aruna sangat sakit, pria yang tak mau di anggap ayah itu menikah lagi dengan wanita yang sangat dia kenal, kakak tiri ibunya. Hingga akhirnya Aruna memberanikan diri untuk kabur dari penjara Bima. Setelah bertahun-tahun akhinya dia kembali dan membalaskan semua perlakuan ayahnya.
Akankan Aruna bisa membalaskan dendamnya kepada sang ayah? Ataukah dia tak akan tega membalas semuanya karena rasa takut di dalam dirinya kepada sangat ayah! Apalagi perlakuan dari ayahnya sudah membuat trauma dalam dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Kembali, Ayah! 35
Bugh
Bugh
Bugh
Aruna sedang bertarung melawan lebih dari dua puluh orang preman. Dia membantu Lima orang preman yang di keroyok oleh mereka. Keadaan lima preman tersebut sudah dalam keadaan terdesak. dan dalam sekejap Aruna bisa membuat dua puluh orang teman yang sudah melawan mereka tumbang dan babak belur.
"Ampun Nona! Ampuni kami. Tolong jangan buat kamu ma-ti saat ini juga! Kami masih ingin hidup!" ucap Salah satu dari mereka yang merupakan ketua anggotanya.
Aruna berdiri di hadapan dua puluh lima orang preman yang babak belur di depannya. Mereka adalah dua kelompok yang berbeda. Aruna saat ini mengenakan masker dan hanya memperlihatkan mata indahnya saja. Tapi menurut mereka saat ini, mata Aruna sangatlah menakutkan. Tatapan seseorang yang siap menerkam dan juga menghajar mereka semua.
"Kenapa kalian menyerang kelompok lebih kecil dengan jumlah yang tak seimbang? Apa kalian tak punya nyali besar melawan lima orang sampai mengerahkan banyak orang?" tanya Aruna.
"Mana mungkin kami seperti itu! Kami hanya ..." jawabnya terpotong.
"Penge-cut!" sela Aruna membuat mereka terdiam.
"Kau Hans kan? Ketua kelompok ini? Berapa anggota yang kamu miliki?" tanya Aruna kepada salah satu dari lima orang itu.
"Anda tahu nama saya Nona?" tanya Hans.
"Tak sulit bagiku! Bahkan membuat kalian ma-ti sekarang juga sangat gampang," jawab Aruna santai.
"Apa maumu Nona?" tanya salah satu orang yang merupakan ketua dari dua puluh orang bernama Sadam.
"Aku mau kalian, kelompokmu Sadam dan juga kelompok Hans menjadi anak buahku! Kalian akan berada dalam satu komando!" jawab Aruna membuat mereka tercengang, ternyata Aruna juga mengetahui nama Sadam.
"Siap kau sebenarnya?" tanya mereka mulai semakin ketakutan.
"Lady Runa!" jawab Aruna.
"APAAAAA? LADY RUNA?" tanya mereka bersamaan.
"Apa mungkin kamu adalah Lady Runa? Tapi bagaimana mungkin anda ada di sini dan menginginkan kamu menjadi anak buah anda? Rasanya kami tak pantas untuk menjadi anak buah Anda. Kemampuan kami tak seberapa di banding anda. Apalagi kami juga ..." ujar Sadam.
"Aku bisa melatih kalian menjadi orang-orang profesional. Dan aku akan memberikan fasilitas yang kalian butuhkan. Asalkan kalian menjadi pengikut setiaku! Aku akan menjamin kalian semua. Tapi jika aku mendapati kalian membelot maka bukan hanya nya-wa kalian! Tapi juga keluarga kalian yang akan menjadi sasaran dan amukanku! Apa kalian paham!" perintah Aruna.
"Baik Lady Runa!" jawab mereka menurut.
Walau di bawah ancaman Aruna. Tapi mereka juga tak punya pilihan lain. Mereka hanya bagian kecil yang pastinya akan selalu di tindas seperti sebelumnya. Jika berada di bawah pimpinan Aruna maka mereka akan aman. Tak akan menjadi bulan-bulanan orang yang lebih kuat lagi.
"Ini uang buat kalian berobat bagi rata jangan pernah berbuat curang dan pegang ponsel ini masing-masing untuk kau dan Sadam. Aku sudah menyiapkan markas untuk kalian beserta pelatih. Dua hari lagi aku menghubungi kalian dan datang ke tempat itu! Izin kepada keluarga kalian karena kalian akan pelatihan lebih dari dua Minggu. Aku butuh lebih banyak lagi orang. Kalau ada aku minta tambahan dua puluh lagi untuk sementara!" jelas Aruna memberikan amplop coklat kepada Hans.
"Baik Lady Runa!" jawab mereka menundukkan kepalanya sedikit.
Aruna pergi dari sana, semua berjalan sesuai rencana Aruna. Sebelum dia benar-benar pergi ke rumah keluarga Mahardika, dia harus sudah memiliki kekuatan sendiri dan mempersiapkannya sendiri. Sesuai dengan keinginannya, dia akan mempersiapkan pasukannya sendiri.
Aruna pulang ke apartemennya untuk mempersiapkan segala sesuatu yang akan berguna untuk di rumah Mahardika. Uang yang dia kumpulkan selama ini, semuanya dia gunakan untuk mempersiapkan diri untuk melawan Bima. Dia benar-benar melakukan semuanya sendiri.
"Dua hari lagi aku akan kirim alamatnya. Kalian harus melatih mereka! Aku mereka yang bukan siapa-siapa menjadi orang-orang yang terlatih dan juga memiliki ketangkasan yang lebih baik lagi!" ucap Aruna kepada seseorang yang ada di sebrang sana kemudian menutupnya.
Aruna membuka berkas yang ada di dalam amplop coklat kemudian kembali mengecek semua data Mahardika yang tak lain adalah kakeknya. Ternyata kekayaan dan kekuasaan yang dia miliki tak menjamin ada banyak orang yang menyukainya. Ada orang-orang bermuka dua yang menginginkan kematiannya lebih cepat. Tak lain dan tak bukan tujuan utama mereka adalah harta dan kekuasaan Mahardika itu sendiri.
"Kasihan juga nasibmu Pak Tua! Padahal dulu kamu mengusir ibuku dan bahkan saat kami datang ke sana kamu juga mengabaikan aku, cucumu! Apa kau tau seberapa hancurnya aku? Tak di inginkan oleh ayah dan juga kakekku sendiri hanya karena aku adalah seorang wanita. Kenapa gender menjadi lebih penting untuk kalian. Selalu menganggap wanita lemah dan tak bisa melanjutkan semua usaha keluarga besar! Kalian salah, akan aku buktikan jika wanita juga bisa kuat dan tak selemah yang kalian kira!" ucap Aruna dengan tangan terkepal meremas berkas di depannya.
Ingatannya kembali saat dia berusia empat tahun. untuk pertama kalinya sang ibu membawa dia bertemu dengan Kakek Mahardika. Saat mengetahui cucunya berjenis kelamin perempuan dari seorang anak keras kepala yang kabur memilih pria pilihannya. Respon kakek Mahardika terlihat sangat dingin dan acuh. Tak jauh berbeda dengan perlakuan ayahnya selama ini di rumah. Selalu cuek dan acuh, Aruna kecil merasa jika dia tak di inginkan oleh mereka. Sehingga selalu membuat dia bersedih dan akhirnya menjadi anak yang pendiam dan menurut semua keinginan ayahnya.
Dia harap dengan menjadi anak sesuai keinginan ayahnya, pria itu akan menyayanginya. memberikan perhatian dan kasih sayang seorang ayah yang tak pernah dia dapatkan. Tapi nyatanya, semua itu tak pernah dia dapatkan sampai sekarang. Sedangkan untuk Kakek Mahardika, itu adalah pertemuan pertama dan terakhirnya. Dia tak pernah mau saat ibunya mengajak bertemu kembali sang Kakek.
Dia selalu menolak, dan lebih memilih untuk diam di rumah saja. Dan kini dia akan kembali bertemu pria tua yang menolaknya sebagai cucu. Dia datang di bayar menantunya untuk menjadi eksekutor. Aruna memang sudah memantau mereka sedari lama. Sehingga dia tahu jika Sandy memerlukan eksekutor. Dan dia mengajukan diri.
"Apa kamu masih akan mengingat aku Mahardika?" ucap Aruna lirih tapi tangannya tetap terkepal dengan kuat. Menahan amarah yang luar biasa di dalam dadanya. Gejolak yang berkecamuk sehingga membuat dia merasa sesak.
kamu yg berbuat masa ankmu juga sama ga fair,
tapi sekarang ga gitu kayanya secara di depan mata ku yg berbuat dia yg kena karma sendiri Al Fatihah untuk nya semoga di ampuni segala perbuatannya yg tidak baik Aamin