Bagaimana jika ginjal yang ada di tubuhmu ternyata milik adik seorang mafia, dan sejak saat itu hidupmu berada dalam ancamannya?
Bahkan setelah berhasil lolos dari kematian, kamu masih harus menghadapi bayang-bayang maut dari mafia kejam yang tak pernah berhenti memburumu.
Itulah yang dirasakan Quinn ketika ia mengetahui bahwa keberhasilan operasi transplantasi ginjalnya telah merenggut nyawa orang lain demi kelangsungan hidupnya.
Apakah Quinn mampu bertahan hidup?
Ataukah nyawanya harus menjadi harga yang dibayar atas kehidupan yang pernah ia ambil?
୨ৎ MARUNDA SEASON III ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
III. Mana Mungkin Aku Menikah!
Aku menoleh dan senyum ke Lyorr, cewek yang bikin sahabatku bertekuk lutut. “Hai.”
Waktu dia masuk ke ruangan, aku langsung bergeser dikit. Lyorr mungkin sudah terbiasa sama kehadiranku, tapi aku tetap jaga jarak biar dia merasa nyaman.
Tully pernah cerita soal hal-hal buruk yang dialami istrinya sebelum mereka bertemu, dan hal yang aku perbuat di kantornya dulu, justru memicu serangan paniknya.
“Biar aku bawa dia, jadi kamu bisa ngobrol sama Braun,” kata Lyorr ke Tully.
Tully menyerahkan Draco ke istrinya lalu kasih isyarat ke arah pintu.
Aku mengikuti dia ke ruang tamu. Dia menuang dua gelas Whisky. Sambil menyodorkan satu ke aku, dia bilang, “Duduk.”
Aku duduk di salah satu sofa, menyeruput minumanku sambil melihat sekeliling. Perlengkapan bayi ada di mana-mana.
“Kamu udah nemuin orang yang kamu cari? Noor?” tanya Tully.
Aku menggeleng kepala. Frustrasi langsung menekan dadaku. “Belum. Dia ada di mana-mana di Jakarta, kabur terus kayak tikus.”
Dia menyeruput Whisky nya. “Jadi … cewek itu.” Dia geleng-geleng kepala. “Apa sih yang kamu lakuin, Braun? Jelas banget itu ngacak-ngacak pikiran kamu. Enggak baik buat kamu ada di dekat dia.”
Aku tarik napas dalam-dalam, menatap cairan keemasan di gelasku.
“Kematian Naveen jelas hancurin kamu,” lanjutnya. “Dan kamu harus melewati ini. Tapi apa ini benar-benar cara yang tepat?” tanyanya.
Aku menatap dia dan bergumam, “Kalau ada orang bunuh aku buat ambil ginjal aku, kamu bakal gimana ngadepinnya?”
Dia mikir sebentar, lalu mengeluarkan napas panjang. “Aku enggak bakal menyandera siapa pun. Aku bakal bunuh mereka semua.”
“Termasuk perempuan?”
Sekali lagi dia berpikir sebelum jawab, “Enggak. Dalam hal ini aku bakal berpihak ke Farris. Satu-satunya kesalahan cewek itu cuma nerima ginjalnya. Dia bukan orang yang bunuh Naveen, dan Papanya juga bukan yang beli ginjal itu. Dari yang aku pahami, dia sama sekali enggak tahu apa yang terjadi di balik layar.”
Dia taruh gelas di meja kopi, condong ke depan, dan menyangga lengan di pahanya. “Aku ngerti pasti berat banget buat kamu tahu ginjal Naveen ada di tubuhnya. Tapi mungkin kamu harus mikir ulang apa yang lagi kamu lakuin.”
Aku enggak langsung jawab. Pikiranku masih memutar di lima minggu terakhir.
Rasa sakitnya enggak tertolong, karena kehilangan Naveen.
Orang-orang yang sudah aku bunuh, dan mereka yang masih akan aku siksa sampai mati.
Tanoko.
Quinn.
"Kalau Tanoko Musielak enggak mesan ginjal itu, Naveen pasti masih hidup."
“Kalau gitu bunuh aja dia,” kata Tully sambil mengambil lagi gelas minumannya. “Bunuh dia dan biarin cewek itu pergi."
Enggak.
“Karena dia, aku enggak punya ahli waris,” gumamku. “Karena dia juga Naveen mati. Semua ini dimulai dan bakal berakhir sama Quinn Musielak.”
Tully mengeluarkan napas panjang. “Terus aku harus bilang apa, Braun? Kamu mau restu aku, buat membunuh cewek itu? Ya udah. Habisi aja dia. Buat aku enggak ada bedanya. Aku cuma benci lihat kamu jadi kayak gini.”
Aku menghabiskan sisa wiski di gelas, merasakan alkoholnya membakar tenggorokanku.
Apa aku benar-benar ingin membunuh dia?
Enggak.
Apa aku akan mengurung dia di penthouse seumur hidup?
Itu artinya aku akan terjebak sama dia selamanya, dan itu waktu yang panjang banget.
Sial.
“Atau .…” Tully menggantungkan kata itu di udara sampai aku menatap dia. Dia mengunci tatapanku, lalu lanjut, “Kamu bisa nikahin dia. Dia bisa kasih kamu ahli waris.”
“Apa. Sialan!” Hampir saja aku mendengus.
Dia angkat bahu. “Cuma bilang aja. Itu cara lain biar semuanya beres, dan kamu dapat ahli waris.”
“Enggak mungkin,” geramku, bahkan aku enggak mau menganggap itu sebagai pilihan.
“Farris bilang, Quinn Musielak cantik dan berbakat,” kata Tully. “Emangnya enggak ada ketertarikan sama sekali?”
Aku menatap dia yang mulai gila. “Cuma karena seorang bikin aku horny, bukan berarti dia layak jadi istri aku.”
“Kebanyakan hubungan juga dimulai dari ketertarikan, Bro. Kamu cuma perlu berdiri, buat bikin bayi.”
“Dan kamu benar-benar mikir pernikahan itu solusi terbaik?”
“Cuma pilihan, Broo.”
Aku tertawa, nadaku masih enggak percaya karena obrolan ini makin absurd. “Oke ... Ambil contoh Remy. Itu bakal jadi pernikahan paksa.”
“Karena dari yang kamu dan Farris ceritain, Quinn jelas enggak bakal bilang setuju dengan sukarela.”
“Memperkosa cewek cuma demi punya ahli waris itu bukan gaya aku,” potongku kasar. “Cuma karena kita sah secara hukum, itu enggak bakal mengubah apa pun. Dia enggak bakal tiba-tiba nurut dan menerima semuanya kayak istri pada umumnya.”
Tully mengangguk. “Iya. kamu benar.” Dia mengabiskan minumannya. “Lupain aja apa yang aku bilang. Itu ide bodoh.”
Kami berdua bersandar di sofa dan sama-sama mengeluarkan napas panjang.
Jadi aku balik ke rencana awal.
Aku akan terus mengawasi dia.
Sebagai tawanan.
Disini, aku dapat banyak pelajaran hidup tentang kehilangan seseorang 💔 karena kesabaran dan keikhlasannya akhirnya mereka bahagia✨
Bakalan kangen banget sma Braun dan quin, semoga kedepannya masih bisa ketemu mereka thor 🫶🏼😭💙✨✨