NovelToon NovelToon
Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Mencintaimu Di Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Terdengar sayup-sayup suara, seperti orang berbicara. Naina mencoba keluar kamar. Mencari sumber suara. Ternyata itu Ryan yang tengah menelepon seseorang. Obrolannya serius, dan membuat hati Naina sakit.

"Tolong urus surat cerai sebelum tanggal 28 nanti." Ucap Ryan pada seseorang di seberang sana.

"Apa lu serius, Yan?"

"Terus gue harus beristri dua? Maeta sudah mengetahui gue punya wanita lain. Dia ingin gue akhir semua sebelum pernikahan itu terjadi."

"Lalu bagaimana dengan anak lu? Apa keluarga lu atau Maeta bisa terima?"

Pertanyaan itu sukses membuat Ryan terdiam tak bisa menjawab untuk sesaat.

"Aku tetap akan bertanggungjawab menafkahi mereka."

Naina tersenyum kecut mendengar ucapan Ryan. Meski selama ini Naina tak kekurangan apapun, kartu kredit yang Ryan berikan pada Naina cukup menutupi kebutuhannya.

"Kenapa lu kekeuh ingin bersama Maeta?" Tanya orang tersebut pada Ryan.

"Karena dia cinta pertama gue. 10 tahun lebih gue menanti cintanya. Kesempatan untuk hidup bersamanya setelah bertunangan selama 4 tahun ini, masa harus gue tinggalkan hanya demi seorang wanita yang gue gak kenal sama sekali."

Penjelasan Ryan cukup membuat Naina tersadar. Ternyata sampai kapan pun Naina tak bisa menggoyahkan hati Ryan. Pria itu telah ada yang memiliki sebelumnya, dan hanya mencintai satu wanita dalam hidupnya.

Naina hanya sebagai pemeran pengganti di saat pemeran utama hadir, maka Naina harus undur diri.

"Kapan lu ada waktu? Datanglah ke firma hukum gue."

"Lusa. Besok gue ada acara makan bersama keluarga besar." Jawab Ryan.

"Baik gue tunggu."

Percakapan itu pun selesai. Naina pergi dan mengunci pintunya. Hatinya hancur. Bahteranya mulai koyak. Naina sudah tak kuat lagi menahan badai yang terus menerpa. Kini Naina biarkan badai itu menghancurkan bahteranya.

Naina mulai mengemas barang-barangnya. Mencoba bersikap tenang seolah tak terjadi apapun. Naina ingin pergi tanpa meninggalkan jejak untuk Ryan. Naina ingin menutup akses untuk berhubungan kembali dengan Ryan.

Waktu berlalu begitu cepat. Pagi ini Naina bersikap seperti biasanya seolah tak terjadi apapun. Naina masih bersikap ramah dan manut pada ucapan Ryan. Naina masih bersikap seolah ia tak ingin kehilangan Ryan.

"Hari ini aku pulang agak telat. Ada urusan yang harus aku selesaikan." Ucap Ryan tak biasanya memberi kabar.

"Iya, gak apa-apa. Aku akan menunggumu, Pak." Naina tersenyum manis.

...****************...

Setelah selesai bekerja, Ryan langsung menuju rumahnya. Perjamuan makan malam menyambut kedatangan Maeta. Ryan telah berganti kostum, ia berpakaian serba putih. Sangat cocok dengan dirinya yang bertubuh tegap dan tinggi.

Semuanya terlihat sibuk, orang-orang berlalu lalang mempersiapkan semuanya. Sampai saatnya tiba, gadis cantik berkaki jenjang itu memasuki kediaman Varatanu dengan sangat anggun. Di dampingi oleh kedua orangtuanya yang sangat berpengaruh.

"Pak Swandari, lama tak berjumpa." Sapa Arif, Ayahnya Ryan.

"Pak Varatanu, bisa saja."

Ryan tersenyum, dan mengulurkan tangannya pada Maeta. Sangat romantis dan gentleman. Hal yang tak pernah Ryan lakukan pada Naina.

Suasana hangat dan penuh tawa menyelimuti kedua keluarga tersebut. Ryan selalu memandang kagum pada wajah cantik nan anggun, Maeta.

"Bagaimana pekerjaan mu?" Tanya Maeta yang telah terpisah dari dua keluarga.

"Baik-baik saja. Semuanya lancar. Bagaimana denganmu?" Ryan tersenyum manis.

"Baik."

Seketika hening. Tak ada lagi pembahasan di antara mereka. Maeta sejatinya memang tak mencintai Ryan. Ia hanya menuruti keinginan orangtuanya.

Maeta pun sadar, tak ada pria mana pun yang sebanding dengan Ryan. Baik dari paras dan juga status sosial. Maeta tak ingin kehidupan glamornya turun kasta. Karena selama ini, Maeta menjaga betul pergaulannya. Ia tak pernah sekalipun bergaul dengan kelas rendah.

"Bagaimana dengan wanita di samping mu?" Tanya Maeta sembari meneguk anggur merah.

Ryan tersenyum kecut, "aku sudah menyelesaikannya."

"Baguslah."

"Maeta," sapa Ryan ragu.

"Ehmm..."

Ryan dengan lancang mencium bibir Maeta lembut. "Aku mencintaimu." Bisik Ryan membuat Maeta tersenyum kaku.

"Simpan bualan mu itu. Bukankah kau tahu aku bagaimana? Aku tak suka rayuan murahanmu, Ryan. Setidaknya kegilaanmu itu akan terwujud dengan menikahi ku." Maeta berlalu meninggalkan Ryan di balkon seorang diri.

Ryan benar-benar di buat gila. Ia meneguk habis anggur di tangannya dan bergegas menyusul Maeta.

Malam pun berlalu begitu saja. Ryan mengantar Maeta dengan mobilnya. Sepanjang perjalanan tak ada percakapan yang menarik.

"Ini ada minuman siapa?" Tanya Ryan karena ada sebotol minuman di antara kursi kemudi dan penumpang.

"Tadi Ibumu yang kasih. Kalau kau haus, minum saja." Jawab Maeta tak acuh.

Ryan meminum air dalam botol tersebut. Rasanya aneh, ada rasa pahit bercampur manis.

"Minum apaan ini? Aneh banget." Ryan menyimpannya lagi pada tempatnya semula.

Selang beberapa menit, mereka sudah sampai di kediaman Maeta. Sebelum Maeta turun, Ryan menggenggam lengan Maeta.

"Ada yang terlupakan." Ucap Ryan mencoba menggoda Maeta.

Dengan lembut Maeta melepas genggaman Ryan. "Tidak ada. Terimakasih untuk hari ini."

Ryan tersenyum, sulit sekali mendapatkannya.

"Besok aku jemput kamu. Kita habiskan waktu seperti dulu."

"Iya." Maeta tersenyum. Ia tahu apa maksud ucapan Ryan.

Ryan memacu mobilnya. Sambil mendendangkan lagu, hati Ryan berbunga-bunga. Namun entah kenapa Ryan merasa kehausan. Ia menghabiskan minuman yang tadi ia minum. Meski rasanya aneh, tapi itu bisa menahan rasa dahaganya.

Semakin lama, perasaan Ryan semakin tak karuan. Tiba-tiba ia merasa kegerahan dan miliknya terus berkedut. Untungnya reaksi itu bekerja saat Ryan tiba di parkiran apartemen.

Pandangannya mulai kabur dan panas. Badannya pun merasa gerah. Tenggorokannya terasa kering dan haus.

Ryan buru-buru masuk ke apartemennya. Ryan merasakan hal tak biasa. Miliknya makin mengeras dan terus berkedut. Ryan ingin meluapkan hasratnya.

"Minuman apa tadi. Atau jangan-jangan jamu aneh yang Mama buat." Gumam Ryan dengan melepaskan satu per satu kancing kemejanya.

Ryan berjalan menuju kamar Naina. Ia butuh pelampiasan atas nafsu yang memuncak. Hasratnya harus tersalurkan, jangan sampai terpendam.

Ryan melihat Naina yang tertidur pulas. Tanpa basa-basi Ryan langsung berdiri di atas tubur Naina. Ia mulai mencium bibir Naina dan juga leher Naina.

Suara desahan lolos dari bibir Naina. Tentu saja Naina terkejut karena Ryan tiba-tiba sudah ada di atasnya.

"Pak, ada Nay di sini. Nanti dia bangun." Elak Naina berharap Ryan berhenti.

Namun Naina salah sangka, Ryan menggendong dirinya dan membawa Naina pindah ke kamarnya.

Ryan kembali melanjutkan aksinya. Ryan mencumbu setiap inci milil istrinya. Naina hanya bisa pasrah, jika ia menolak Ryan akan curiga. Karena selama ini Naina tak pernah menolak setiap ajakan dan perintah Ryan.

Malam ini menjadi malam yang panjang bagi keduanya. Ryan menitipkan cairan itu pada Naina. Dan Naina pun menganggap hal itu biasa saja.

Karena satu tahun ini pun, meski tanpa pengaman Naina tak juga hamil. Naina pikir malam ini pun akan demikian. Jika pun nanti ia pergi meninggalkan Ryan ia tak akan membawa apapun kecuali Nayla.

Waktu menunjukkan pukul 2 dini hari. Ryan telah tertidur di samping Naina. Naina ingin sekali pergi, namun sekujur tubuhnya terasa linu dan kaku. Sangat pegal sekali.

"Mari kita tertidur dengan saling melupakan. Kejadian ini akan menjadi akhir segalanya. Aku hanya bisa mendoakan, semoga kehidupan Pak Ryan bahagia."

Naina mencium kening Ryan lama. Air matanya tumpah. Hatinya sakit. Naina belum sanggup untuk berpisah, tapi ia tahu, bahwa sebenarnya dirinya adalah pihak ketiga dalam hubungan Ryan dan Maeta. Naina tak boleh egois. Ia harus menyerah dan mengembalikan Ryan pada kebahagiaan awalnya.

Seorang figuran hanya muncul sesekali bila di butuhkan. Kini waktunya pemeran utama mengambil alih peran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!