"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Setiap hari, saat Ryan berangkat bekerja, Naina selalu memastikan, apakah hari ini Ryan pulang ke rumah atau tidak.
Naina tak bisa pergi begitu saja dari apartemen ini. Naina memastikan waktu yang tepat. Sebisa mungkin jejak kepergian Naina tidak terlacak cctv setempat.
Yang Naina tahu, tanggal 28 nanti, Ryan pasti akan tinggal di rumah orangtuanya bahkan akan pergi berbulan madu bersama Maeta. Hal itu menjadi momen yang pas untuk Naina melarikan diri.
Saat ini Naina tengah berkemas sedikit demi sedikit keperluannya tanpa sepengetahuan siapapun. Naina bersikap seperti biasanya. Menyiapkan keperluan Ryan tanpa mengeluh. Tersenyum setiap melayani suaminya. Serta membantu keinginan Ryan dalam melepaskan hasratnya.
Naina meyakini bahwa kali ini pun tak akan ada kehidupan dalam perutnya. Sebab satu tahun ini pun tak terjadi apa-apa, meski Naina tak menggunakan alat kontrasepsi, begitu pun dengan Ryan.
Yang Naina tahu, jika Ryan terlalu lelah dan banyak pikiran kualitas sperma yang di hasilkan pun lemah dan tak bisa bertumbuh. Namun siapa sangka obat yang sempat Ryan minum dan beberapa hari ini Ryan yang tak banyak tekanan kerja dan makanan yang bergizi pun dapat memengaruhi hasil produktifitasnya.
"Hari ini anda tidak berangkat bekerja?" Tanya Naina sekedar basa-basi.
"Capek, aku mau istirahat saja."
Naina hanya tersenyum dan mencoba memijat kaki Ryan. Hal yang biasa Naina lakukan saat Ryan merasa lelah. Sebisa mungkin Naina tidak berbuat kesalahan. Naina hanya melakukan perannya sebelum semuanya berakhir.
"Apa Bapak mau kopi?" Tanya Naina kembali.
"Ehmmm... Boleh."
Naina beranjak dan membuatkan kopi kesukaan Ryan. Kopi asli yang minim gula.
"Apa aku bisa melepaskannya?" Gumam Ryan menatap punggung Naina.
Dalam hati kecil Ryan, ia tak sanggup melepaskan Naina. Bahkan kertas cerai yang ia ajukan minggu lalu telah ia pegang. Namun nyatanya Ryan tak sanggup menandatanganinya bahkan ia tak sanggup memberikannya pada Naina.
Ryan terlihat serakah, bahkan terkesan memaksakan keadaan. Ryan tak ingin kehilangan Maeta, namun ia tak bisa melepaskan Naina, yang ia anggap sebagai miliknya yang mutlak. Ryan mulai nyaman dengan Naina. Kehadiran Naina dan Nayla sanggup mengobati rasa lelah yang Ryan rasakan.
Ryan menatap anak dan istrinya yang tengah asik pada kegiatan masing-masing. Melihat senyum Nayla yang bahagia membuatnya nyaman. Melihat senyum manis Naina, ada rasa hangat dalam dadanya.
Tapi Ryan tak bisa begitu saja melepaskan masa lalu yang telah mengakar dalam jiwanya. Ryan tak bisa menghapus semuanya hanya untuk kecambah yang baru tumbuh dalam hatinya.
"Ini kopinya, Pak." Naina memberikan kopi hangat untuk Ryan.
Ryan hanya terdiam menatap segelas kopi itu tanpa berkata apapun.
"Apa Bapak ingin makan yang lain?" Kembali Naina bertanya.
"Naina," lirih Ryan.
"Iya, Pak."
"Jika aku mengkhianati mu, apa yang akan kamu lakukan?"
Naina tersenyum, dan menyandarkan kepalanya pada bahu Ryan. "Aku tidak tahu harus berbuat apa, Pak."
Sesaat tak ada suara dari keduanya.
"Asal Bapak tidak membuang ku dengan Nayla, aku akan tetap setia dan menuruti keinginan mu." Ucap Naina.
"Apa kamu tak merasa sakit hati jika aku berselingkuh dan membagi cinta untuk wanita lain?" Ryan kembali bertanya.
"Apakah ada cinta untuk ku di hati Bapak?" Naina malah balik bertanya.
Ryan bingung harus berkata apa. Memang tidak ada cinta di hatinya untuk Naina. Ryan hanya merasa dirinya tak ingin kehilangan mainannya dan juga anaknya. Tidak ada cinta untuk wanita lain selain untuk Maeta. Ryan terus saja meyakinkan hatinya seperti itu. Tanpa ia sadari, masa lalu yang ia yakini adalah sebuah angan semu di masa remaja, dan orang yang saat ini bersamanya adalah awal rasa kepemilikan itu muncul.
"Apakah Bapak mencintai ku?" Naina kembali memastikan.
"Tidak." Jawab Ryan mantap.
Naina hanya tersenyum dan melepaskan pelukannya dari lengan Ryan.
"Jika memang Bapak memiliki cinta yang lain, aku tidak bisa berbuat apa-apa."
Naina berdiri dan meninggalkan Ryan. Namun langsung Naina terhenti, ia kembali menatap punggung Ryan.
"Jika anda ingin bercerai, aku siapa. Tapi jika anda ingin mendua tanpa bercerai, aku akan terima nasib."
Naina berlalu meninggalkan Ryan. Naina tak sanggup lagi jika harus berpura-pura tenang. Cukup untuk hari ini hatinya merasa sakit. Tunggulah sebentar lagi, semuanya akan selesai.
...****************...
Malam ini, Ryan menatap surat permohonan cerainya. Apa yang Ryan pikirkan dulu sehingga ia terburu-buru ingin bercerai dengan Naina. Kenapa saat semuanya berjalan lancar Ryan merasa sulit untuk melakukannya.
"Dia tak ingin bercerai dariku. Dia tak ingin pisah dariku." Ryan tersenyum bangga seolah ia memiliki budak cinta, monster dalam dirinya mulai bangkit.
Ryan memang tampan dan juga berkarisma, banyak orang mengaguminya bahkan ingin memilikinya. Hanya saja sifatnya yang buruk dan terkesan menjaga jarak dengan wanita manapun membuatnya susah mendapatkan wanita pilihannya.
Wanita mana yang akan menolak Ryan. Lelaki berusia 30 tahun itu sudah sukses merintis karirnya sendiri. Harta yang ia kumpulkan sendiri pun lebih dari ratusan miliar. Ditambah dirinya merupakan pewaris dari grup Varatanu yang bergerak di bidang produksi rumah tangga. Mulai dari sabun, sampo, makanan instan, makanan ringan, minuman, dan skincare, semuanya di bawah lebel Varatanu grup.
Meski hartanya keluarga Varatanu tak seberapa dengan keluarga Swandari, yang bergerak di bidang fashion branded. Tapi keluarga Varatanu bisa bersaing dengan perusahaan besar lainnya.
Terlebih Ryan yang memiliki perusahaan sendiri dengan kolega yang tak tanggung-tanggung, yaitu pemerintah pusat dan daerah. Hal tersebut menjadi kunci kesuksesan Ryan di usia mudanya.
Tentu saja Ryan merasa, wajar saja jika Naina menjadi budak cintanya. Naina yang gadis miskin dan tak berpendidikan itu bisa hidup enak hanya dengan menempelkan padanya.
Ryan menimbang kembali niatnya untuk bercerai dengan Naina. Ia merasa sayang bila melepaskan orang yang bisa mencukupi segala kebutuhannya tanpa perlu memerintah ini dan itu.
Ryan berjalan menuju kamarnya. Ia melihat Naina yang belum tertidur dan masih sibuk membereskan apartemennya. Entah bisikan apa yang memengaruhi Ryan, ia berjalan mendekati Naina dan memeluk Naina dari belakang.
"Belum tidur?" Tanya Ryan pelan.
"Belum ngantuk. Ada yang bisa saya bantu, Pak."
Ryan terdiam, ia mencium aroma manis pada leher Naina. Aroma vanilla dan cendana yang membuatnya tenang dan nyaman. Wangi yang lembut dan terasa manis. Aroma yang selalu ia rindukan.
"Naina," sapa Ryan dalam pelukannya.
"Iya, Pak."
Ryan terdiam, ia terus mencium leher Naina. Tanpa sadar Ryan membalikkan tubuh Naina agar berhadapan langsung dengannya. Ryan menatap bola mata Naina yang sendu.
Perlahan Ryan mencium bibir Naina pelan, jarinya mengelus rambut panjang Naina. Permainan yang awalnya lembut dan tenang berubah menjadi agresif dan sedikit kasar.
"Aaahhh... Pak...." Lirih Naina mencoba menghentikan aksi Ryan.
Tanpa basa basi Ryan mengangkat tubuh kurus Naina dan membawanya ke kamar. Kamar yang tak seluas kamar miliknya itu cukup untuknya melepaskan hasratnya. Di kamar yang biasa Naina tempati itu menjadi saksi bisu pergulatan panas di antara mereka.
Berkali-kali Naina mencoba melepaskan permainan Ryan, namun tenaganya kalah oleh tubuh Ryan yang berotot. Naina hanya bisa pasrah dalam setiap lenguhan dan kenikmatan.
Malam yang singkat, menjadi awal baru bagi Naina memikul kehidupan lain. Ryan yang terbaring di sampingnya mulai memejamkan matanya.
Naina tersenyum, dalam hatinya berbisik pelan menyerukan kata perpisahan. Hanya tinggal beberapa hari ini mereka akan berpisah. Naina hanya menunggu ucapan alibi dari Ryan.
Alasan apa yang akan di katakan nanti. Apakah ia ada pekerjaan di luar kota, atau ada proyek baru di kota A atau kota B. Yang jelas pernikahan Ryan tinggal menghitung hari, dan itu akan menjadi masa yang pas untuk Naina pergi.
Waktunya sudah habis untuk peran piguran. Saatnya pemeran utama mengambil alih panggung.
Naina akan membuat ceritanya kembali. Kisah yang tak akan membuatnya sakit hati karena cinta. Kisah yang hanya akan ada dia dan anaknya. Tak perlu orang lain yang menjadi bumbu penyedap dalam hidupnya nanti. Cukup hanya Naina dan anaknya.
"Kisahku akan di mulai saat pernikahanmu." Lirih Naina menatap lekat wajah tampan suaminya.