Warning!! Hanya untuk pembaca 21 tahun ke atas.
Lyra menjadi wanita yang haus akan kasih sayang setelah kepergian suaminya. Usia pernikahannya baru berjalan 2 bulan, namun harus berakhir dengan menyandang status janda di tinggal mati. Bertemu Dika seorang lelaki yang bekerja di daerah tempat tinggalnya. Membuat mereka terlibat dengan hubungan cinta yang penuh dosa.Tapi siapa sangka, ternyata Dika sudah menikah, dan terobsesi kepada Lyra.
Lyra akhirnya memutuskan untuk sendiri menjalani sisa hidupnya. Namun ia bertemu Fandi, rekan kerjanya yang ternyata memendam rasa padanya.
Bagaimana kisah kehidupan dan cinta Lyra selanjutnya?
Yuk simak kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Luka Yang Masih Terasa
Bab 3
Luka Yang Masih Terasa
"Dik, saya akan pulang. Masa bertugas saya sudah selesai disini. Ada rekan lain yang akan menggantikan saya. Apa kamu mau ikut saya?"
Irwan mengajak Lyra untuk ikut bersamanya. Karena ia tahu, Lyra sebatang kara di kampung itu. Tempat tinggal sudah hancur dan tidak ada sanak saudara. Irwan berniat untuk mengajak Lyra tinggal bersama ia dan keluarganya.
Sesaat Lyra terdiam. Memandangi area sekitarnya yang hampir rata dengan lumpur dan puing-puing bangunan. Ada rasa ingin tetap tinggal mengingat itu adalah kampung halamannya, tempat ia di besarkan. Juga makam keluarga yang baru saja di kuburkan. Tetapi Lyra juga bingung, bagaimana nanti ia harus memulai tanpa keluarga disisinya.
Keraguan dan kekhawatirannya itu bergambar jelas di wajahnya. Irwan hanya diam, menunggu gadis itu menanggapi ajakannya tanpa ingin memaksa.
"Tapi nanti keluarga Bapak bagaimana?"
Irwan tersenyum kecil. "Saya belum berkeluarga, jadi jangan panggil saya bapak. Nama saya Irwan. Saya rasa keluarga saya nggak akan masalah kalau kamu tinggal bersama kami."
Lyra diam lagi. Ia terlihat ragu untuk memutuskan. Lyra sebenarnya butuh sandaran. Tetapi ia tidak ingin merepotkan.
"Pelan-pelan, kita akan mencarikan pekerjaan yang cocok untuk kamu. Lalu, jika kamu sudah siap dan ingin mandiri, kamu boleh kok nggak tinggal lagi dengan ku dan keluarga ku." Ucap Irwan yang paham keraguan Lyra. "Bagaimana? Kamu mau?"
Lyra akhirnya mengangguk.
-
-
-
Keesokan harinya, Lyra ikut Irwan pindah ke kota sebelah. Kampung halamannya masih rusak dan pasti perlu beberapa tahun untuk maju kembali.
Lyra sedih dan menitikkan air mata melihat orang-orang yang masih berduka. Kehilangan harta benda mereka, rumah, bahkan orang-orang tercinta. Termasuk dirinya, yang harus ikhlas meninggalkan semua kenangannya bersama keluarganya.
7 jam perjalanan Lyra dan Irwan menaki bus yang sebagian besar ditumpangi oleh Tim SAR. Lyra duduk di sebelah Irwan yang tidak tidur seperti yang lainnya.
"Mas nggak tidur?" Tanya Lyra memberanikan diri untuk berbicara.
Irwan tersenyum. "Saya sedang berbalas pesan dengan adik saya. Saya sudah mengabari keluarga saya, kalau saya mengajak kamu tinggal bersama kami. Oh ya, siapa nama mu?"
"Terima kasih Mas. Namaku Lyra Handayani."
"Berapa usia mu Lyra?"
"Tahun ini sudah 19 tahun Mas."
"Oh, masih muda."
"Mas sendiri usianya berapa?"
"Saya sudah 30 tahun."
"Oh. Kenapa belum menikah?"
"Nggak ada yang mau sama saya. Hehehe.."
"Padahal Mas nggak jelek kok."
"Oh, masa?"
Lyra mengangguk. Obrolan pun mencair begitu saja. Lyra menceritakan kisah hidupnya dan keluarganya. Begitu pula Irwan yang berbagi kisahnya dengan Lyra.
Hari ke hari Lyra semakin dekat dengan Irwan. Setelah beberapa bulan saling mengenal dan menjalin kedekatan, Irwan melamar Lyra. Mereka kemudian menikah setelah Lyra tinggal satu tahun di kota itu.
Awalnya, pernikahan mereka berjalan dengan baik dan penuh kebahagiaan. Namun, sebuah tragedi tiba-tiba menimpa mereka dan menyebabkan Irwan meninggal dunia. Usia pernikahan mereka baru dua bulan ketika Lyra harus menjanda.
Ibu Irwan yang tidak sanggup menerima kepergian anaknya, menyalahkan Lyra atas terjadinya tragedi dan menyebutnya sebagai pembawa sial. Keluarga Irwan kemudian mengucilkan Lyra, bahkan menyebarkan cerita-cerita bohong tentang dirinya yang dibuat-buat. Akibatnya, banyak tetangga mulai mencemooh Lyra. Akhirnya, dia diusir dari rumah dan terpaksa pindah ke kota lain.
Flashback Off
...----------------...
Hari sudah beranjak sore ketika Lyra terbangun dari tidurnya. Lamunannya tadi siang mengantarkan dirinya terlelap dengan kenangan masa lalunya. Jejak air mata mengering di bawah kelopak matanya. Lyra segera melihat ke arah jam dinding dan sadar Dika sebentar lagi akan pulang.
Lyra bergegas bangun dan menuju dapur. Ia memasak untuk makan malam mereka nantinya. Selesai memasak ia pun mandi dan menunggu kedatangan Dika dengan penampilan yang bersih dan segar kembali.
"Sayang!"
Suara Dika terdengar begitu langkahnya masuk ke dalam rumah. Masih dengan pakaian kerja, ia langsung memeluk Lyra dan mencium pipi kekasihnya itu.
"Mas mandi dulu ah, bau." Kata Lyra sambil menutup hidungnya.
Dika memilih duduk di kursi meja makan dan mencomot tempe goreng yang masih hangat.
"Mas capek sekali sayang. Tadi seharian turun ke lokasi."
"Triiing....triiing...!"
Handphone Dika berdering, wajah Dika sesaat berubah begitu melihat di layar siapa yang menelpon dirinya. Namun ekspresinya cepat ia kendalikan dan beranjak dari duduknya untuk mengangkat telepon.
"Mas, ke depan dulu, beli rokok."
"Iya Mas."
Dika segera melangkah menuju ke luar rumah. Dari balik ke depan Lyra bisa melihat kekasihnya itu mengangkat telepon sambil berjalan menuju ke warung yang letaknya beberapa rumah dari rumah kontrakannya.
Lyra memilih masuk ke kamar. Lalu menyiapkan pakaian bersih untuk Dika.
Menunggu Dika kembali Lyra kembali teringat lamunannya tadi siang. Ia jadi membayangkan jika menikah dengan Dika kelak, apakah keluarga Dika nanti mau menerimanya dan tidak membenci dirinya seperti keluarga mendiang suaminya sebelumnya.
Hanyut dalam lamunannya Lyra tidak sadar jika Dika sudah kembali. Lelaki itu langsung memeluk Lyra dari belakang yang terlihat melamun tanpa mendengar kedatangannya.
"Mikirin apa sayang?"
"Mas?"
Dika menciumi tengkuk Lyra. Ia mulai hanyut untuk menjamah Lyra lebih lagi.
"Mas, tadi siapa yang telepon?"
Kegiatan Dika langsung berhenti mendengar pertanyaan Lyra.
"Ibuku. Dia menanyakan kapan aku pulang."
Lyra merasa harus bisa mengambil calon hati ibu mertuanya. Ia tidak ingin apa yang pernah terjadi di masa lalu terulang kembali pada kehidupan dengan Dika kelak.
"Terus Mas kapan mau pulang?"
"Kamu nggak suka aku bersama mu?"
Dika melepaskan pelukannya. Lyra pun memutar tubuhnya menghadap Dika.
"Bukan begitu Mas. Aku hanya nggak mau, ibu Mas nanti menyalahkan aku yang menahan Mas lama disini. Ini pasti gara-gara minggu tadi Mas nggak pulang ke rumah orang tua Mas."
Dika tersenyum. "Yah. Besok sepulang kerja, aku akan langsung pulang ke rumah orang tuaku. Dan minggu malam, aku akan kambali lagi ke sini. Nggak apa-apa kan?"
"Kan biasanya juga gitu Mas. Jangan bikin ibu Mas khawatir. Dan bantu aku menjadi calon istri yang baik dimata ibunya Mas." Ungkap Lyra jujur.
Dika terkekeh. Lalu mencium bibir Lyra sesaat, sebelum akhirnya menuju kamar mandi.
Hubungan mereka sudah berjalan 7 bulan lamanya. Awalnya Dika adalah seorang pria yang tinggal sendiri di sebelah rumah kontrakan Lyra. Dan Lyra yang merupakan seorang janda berusaha menghidupi dirinya dengan berjualan kue setiap kali ada yang memesan padanya.
Dika mengira awalnya Lyra seorang gadis yatim piatu. Tapi setelah mendengar kejujuran Lyra bahwa wanita itu merupakan seorang janda, Dika pun berani mengajak Lyra melakukan hubungan bebas dalam memacarinya.
Bujuk rayu Dika membuat Lyra lemah. Lyra yang kesepian dan mencintai pria itu, merasa Dika bisa menjadi sandarannya. Lyra pun akhirnya menerima Dika dan menurut pada pria itu.
Semenjak menjalin hubungan dengan Dika hidup Lyra menjadi lebih indah dan mudah. Lyra tidak lagi menjalankan usaha kecilnya karena Dika selalu rutin memberikan uang tiap bulan kepada dirinya.
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
pas pulang lyra udah pergi.. kayaknya bakalan nambah Maslah deh Novia.. mending ber3 bicaranya..klo sepihak gitu nantinya badan dika dikamu tapi hati dan jiwanya di lyra