Amalia, Anak gadis yang bekerja di salah satu perusahaan ternama diKota itu, keberuntungan telah berpihak kepadanya karena dengan ini dia akan mampu membayar utang budi kepada Pamannya yang telah merawat dirinya selama dia kecil hingga sekarang, Amalia adalah sosok gadis cantik dan periang, senyuman indah akan melelehkan kaum hawa. Amalia telah bekerja keras selama beberapa tahun ini dan akhirnya bisa mencapai ke tahap ini, yaitu posisi sekretaris bos keduanya. Walau sekretaris kedua Amalia tetap bersyukur.
Hingga suatu hari Amalia di kagetkan kedatangan mamah yang tidak lain istri paman nya, mendorong Letizia agar mau menjadi istri pria kaya, agar bisa menolong, usaha mereka yang lagi di ambang kebangkrutan. Amalia menolak apa lagi dia tidak mengenal pria yang akan menjadi Suaminya. Jihan mamah Amalia, membujuk Amalia dan mengimingi perkataan yang meluluhkan hati Amalia. Dengan berat hati Amalia menerima dan pasrah.
APAKAH AMALIA BERHASIL MENJALANI RUMAH TANGGA BARUNYA ATAU TIDAK??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Amarah Peter
Kedua bola mata Amalia terbelalak melihat isi laptop Peter, Laptop Peter tidak di kunci jadi Amalia bisa membuka.
"Apa ini?, foto vulgar siapa wanita ini?", ucap Amalia kaget. Di dalam isi laptop adalah foto vulgar Jenifer dan Ram, Amalia semakin memperhatikan foto pria tersebut sangat seksama.
"Ram...!", pekiknya
"Foto Ram kenapa ada di sini?, dan hubungannya dengan Peter apa?", gumamnya. Ceklek pintu terbuka wajah Peter sangat mengerikan di lihat Peter mendorong Amalia sangat kuat dan membuat Amalia terpelanting di lantai dan dahinya berdarah terkena siku meja.
"Ahk...!", Amalia memegang dahinya dan kedua bola matanya terbelalak melihat darah.
"Beraninya kau menyentuh barang aku, kau mau minta mati hah...!", bentaknya kuat, Amalia kaget bukan kepalang, sakit di dahinya tidak di rasakan lagi mendengar suara bentakan Peter.
"Tuan muda...aku...aku ttadii", Peter memotong perkataan Amalia.
"Mulai malam ini kau, jangan aku lihat lagi, pergi", bentak Peter. Hati Amalia sangat sakit, Amalia berpikir kemana dia akan pergi di tengah malam ini, tidak mungkin ke Mansion.
"Pergi...!", bentak lagi Peter. Amalia berdiri walau kakinya sangat gemetaran.
"Maafkan aku Tuan muda", ucapnya lirih. Peter tidak melihat kepergian dirinya dan masih di emosi. Perlahan Amalia berjalan keluar dan sambil menangis kedua bola matanya sedikit buram melihat ke depan, apa lagi darah yang mengalir di dahinya terus bercucuran.
"Ayah ibu...hiks...hiks...hiks...!", isaknya. Amalia perlahan berjalan tanpa tujuan, hingga Amalia tiba di salah satu jembatan yang di bawahnya air sungai yang sangat deras arusnya.
"Ayah ibu, Amalia tidak sanggup lagi, apa salah Amalia hingga aku harus menerima ini semuanya, hiks...hiks...hiks...aku akan datang Ayah ibu tunggu Amalia", Amalia sudah sangat nekat memanjat jembatan kedua bola matanya pun semakin memudar.
"Ayah ibu aku datang, bugh...!", Amalia terjatuh ke pelukan seseorang yang sangat tegap dan tinggi. Amalia pingsan dan Pria tersebut membawa Amalia ke Apartemen miliknya.
Setibanya Amalia di baringkan di salah satu kamar mewah dan luka di dahinya di obati sangat telaten.
"Maafkan aku Amalia", ucapnya lirih, Peter merasa bersalah karena membuat Amalia kesakitan seperti ini, kepergian Amalia tadi Peter langsung mengikuti dari belakang, Peter bersalah karena tidak seharusnya dia berbuat seperti itu kepada Amalia, hanya karena membuka laptop miliknya Peter hampir saja kehilangan Amalia.
"Jenifer, Ram ini semua karena kalian, awas saja", ucap Peter geram. Peter masih geram jika kehidupan masa lalunya di usik atau di bongkar, tanpa ada rasa ampun Peter siap memberi pelajaran siapa aja, tanpa terkecuali, karena itu Peter tadi tidak segan-segan menyakiti Amalia, walau sudah jadi istrinya.
"Seharusnya aku melupakan Wanita ja---ng itu, sial...!", ucapnya geram. Emosi Peter terkadang meledak-ledak tidak jelas membuat Amalia pusing dan tidak mengerti, Amalia diam saja dan tidak ikut campur apa pun yang di lakukan Peter, pasrah, kata itu lah yang selama ini keluar dari mulut kecil itu.
Peter memandangi wajah Amalia yang terlihat adem dilihat, senyum tipis keluar dari sudut bibir tipis Peter.
"Kau akan tetap jadi sekretaris ku", ucapnya pelan. Peter tadi sempat memutar alat rekam suara dibawah meja laptopnya dan mendengar semua perkataan Amalia, sama dengan tentang foto tadi.