Renita Rakhwati Putri, Gadis yang sudah siap menikah, namun tak kunjung ada laki-laki yang datang kepada nya. Hingga akhirnya, adiknya yang telah memiliki pasangan berniat untuk menikah muda.
Namun niat adik nya terhalang restu sang ayah. Karena ayah dari Renita masih percaya hal-hal kuno, dan menganggap adik yang menikah melangkahi kakak nya adalah suatu aib yang sangat memalukan dan melanggar adat.
Renita akhirnya di paksa menikah secepat nya, karena laki-laki calon suami sang adik sudah tidak mau menunggu lama lagi. Renita harus berkorban menikah cepat dan kilat demi sang adik.
Cerita lengkapnya akan temen-temen baca di naskah novel Ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noktafia Diana Citra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Aku tertidur sangat lama, hingga akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari kamar untuk buang air kecil. Aku sudah tidak mampu menahan hajat yang satu ini. Meskipun sebenarnya aku masih enggan untuk bertemu dengan orang-orang rumah. Rasa sakit di pipi kiriku masih terasa sangat jelas, menyakitkan. Aku berusaha tidak menimbulkan suara ketika membuka pintu, dan aku kaget ketika ibu, ayah, Adelia, dan Safira sudah menungguku didepan pintu. Entah sejak kapan mereka semua ada di situ. Aku jujur shock, dan sangat bingung. Sedang apa mereka didepan kamarku ?, apa mungkin mereka menungguku bangun dari tidur ?, tadi saja aku melihat waktu menunjukan pukul 20:00. Ternyata aku tertidur begitu sangat lama, pantas saja aku seperti orang linglung dan sangat pusing kepalanya, ditambah lagi pipi kiri bekas tamparan ibu tadi siang.
" Kak Zaskiaaa ....!!".
Adelia dan Safira berteriak bersamaan sambil memelukku erat. Aku tidak tahan menahan rindu dan kangen pada mereka. Aku bersyukur, mereka masih mau memelukku, setelah aku melakukan hal memalukan itu. Tak terasa air mataku menetes, ibu juga ikut memelukku, hanya ayah yang diam saja melihat kejadian itu. Aku tidak melihat kak Renita bahkan hingga detik ini. Mungkin kak Renita sedang berbulan madu dengan suaminya.
" Kak, Safira sangat rindu pada kakak, kenapa kak Zaskia lama sekali pulang nya ?!, hiks.. hiks...hiks...".
" Ma-maafkan kak Zaskia ya dek".
Aku melihat adik bungsuku merengek padaku. Dia terlihat sangat haru melihatku kembali dalam rumah ini. Safira sangat dekat padaku, aku mengerti pasti dia sangat kehilanganku. Adelia pun sama, dia masih saja memelukku dengan sangat erat, pun dengan ibu yang air matanya tak henti-hentinya menangis. Aku percaya, tamparan ibu padaku tadi siang karena memang ibu sangat rindu padaku, atau ibu malah merasa bersalah karena tidak bisa menjagaku dengan baik.
" Se-sebentar ya dek, kak Zaskia ingin buang air kecil, sudah tidak tahan".
" Oh iya iya kak, hehehe ".
Aku tersenyum, setelah berbalik badan dan meninggalkan mereka. Aku bahagia melihat tertawa karena melihatku yang kebelet buang air kecil. Sejujurnya, kebahagiaan mereka adalah yang sangat aku inginkan.
" Kak, jika sudah selesai langsung menuju keruang makan ya kak. Ayah, ibu, dan kak Adel sudah menunggu disana".
" Iya Safira, nanti kak Zaskia kesana".
Aku menjawab ucapan Safira dari luar kamar mandi. Rasanya lega sekali setelah membuang hajat. Perut lumayan nyeri karena menahan pipis terlalu lama. Aku melangkahkan kaki menuju ruang makan. Ruangan sederhana yang sering mengumpulkan orang-orang dirumah ini.
" Kak, sini duduk".
Perintah Adelia yang sedang sibuk mengambilkan sepiring nasi untuk diriku.
" Ini kak, lauknya kalo kurang ambil lagi aja ya kak".
" Makasih banyak Adel".
" Sama-sama kak Zaskia".
" Makanlah yang banyak Zaskia. Jangan memikirkan apapun. Nikmati makan malam bersama lagi".
Kali ini, ibu yang berkata padaku. Ada tampak wajah penyesalan dari ibu, mungkin ibu sangat menyesal karena telah menampar pipiku dengan sangat kasar, dan ibu menyesal karena tidak mampu menahan emosinya yang meluap.
" Ba-baik ibu, terimakasih. Se-selamat makan semuanya".
Aku tergugup. Rasanya masih sangat canggung dan tidak enak bagiku. Mereka sangat baik padaku, padahal aku sudah merepotkan mereka dengan acara kabur demi keinginan ku bisa tercapai. Ah, aku benar-benar sangat egois. Aku bahkan belum sempat mengabari mas Andre. Sedari tadi ponselku tidak aku nyalakan. Biarlah, nanti saja aku akan menelepon nya, ketika semua keadaan termasuk diriku sudah stabil dulu.
Acara makan malam bersama untuk pertama kalinya setelah aku kembali dari tempat persembunyiannya ku ketika kabur berjalan sangat renyah. Tidak ada satupun di antara mereka yang menyinggung atau menanyakan kemana aku pergi ?, kenapa aku pergi ?, atau pertanyaan sejenis yang menjurus dan mengintimidasi padaku. Aku bersyukur, setidaknya selera makanku tidak terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Jujur saja, aku memang sangat kelaparan. Tidak ada sesuatu yang masuk kedalam perutku sedari tadi.
" Zaskia, setelah selesai makan. Kamu temui ayah dan ibu di teras belakang rumah ya".
" Ba-baik ayah".
Ayah menyuruhku untuk menemuinya dan menemui ibu di teras belakang setelah makan malam ku selesai. Jantungku langsung berdegup kencang. Apa yang akan terjadi ?, kenapa ayah menyuruhku untuk bertemu hanya dengan ibu dan ayah saja ?. Aku sudah bisa menebak, ayah dan ibu akan menanyakan tentang kejadian kaburku selama hampir setengah bulan itu. Mau bagaimana lagi ?, aku harus tetap menemui mereka dan mengucapkan segalanya pada mereka. Aku harus menyiapkan diriku untuk menjawab semua pertanyaan diluar dugaan ku. Aku yakin aku pasti bisa melewati ini.
Aku melihat ayah dan ibu sedang duduk di teras belakang rumah. Adelia dan Safira seakan mengerti keadaan ini. Mereka langsung mengambil sikap dan masuk kedalam kamar mereka masing-masing. Dengan berat, aku berusaha melangkahkan kakiku menemui ibu dan ayah.
" A-ayah ? I-ibu ?".
Aku memanggil mereka dengan suara tergugup. Jantungku berdegup semakin tidak karuan.
" Oh ya, sini duduk lah".
Ucap ibu sembari bergeser menyisakan ruang kosong diantara dirinya dan ayah. Aku menurut dan duduk di tengah-tengah antara ayah dan ibu. Aku merangkulkan kedua tanganku di atas lututku yang terlipat. Aku diam, menunggu atau atau ibu yang mulai membuka pembicaraan denganku.
" Zaskia...??".
" I-iya ayah, ada apa ayah ?".
Ayah membuka pembicaraan dengan memanggil namaku. Aku masih saja tergugup dan berusaha menutupi rasa khawatir dan takutku.
" Ada banyak hal yang ingin ayah dan ibu tanyakan padamu".
" Tentang apa ayah ?".
" Tentang apa lagi jika bukan tentang dirimu yang kabur dari rumah selama hampir setengah bulan ?!". Ucap ibu yang menjawab pertanyaanku untuk ayah.
" Zaskia, apa ada orang yang mempengaruhi atau menyuruhmu melakukan hal bodoh seperti itu ?".
" Ti-tidak ayah, itu atas kemauan Zaskia sendiri. Tidak ada yang menyuruh Zaskia dan mempengaruhi Zaskia untuk kabur dari rumah".
" Lalu ?, atas dasar apa ?, apa alasan kamu nekat kabur dari rumah ?!".
" Zaskia tidak perlu menjawab pertanyaan itu, ayah dan ibu bahkan sudah tau jawabannya".
Aku berusaha menutupi, menjaga nama baik mas Andre di depan ayah dan ibu. Aku tidak mungkin mengatakan kalau semua ide kaburnya diriku adalah datang dari mas Andre. Dan tentang pertanyaan itu, aku tidak ingin menjawabnya. Karena apa lagi jika bukan agar ayah mau merestuiku untuk menikah dengan mas Andre ?.
" Apa agar ayah merestui kamu untuk menikah ?". Tanya ibu dengan wajah yang sangat penasaran.
" Ya". Jawabku datar dan dingin.
" Kenapa harus dengan acara kabur ?, apa itu akan menyelesaikan masalah ?, apa itu akan membuat ayahmu menyetujui untukmu menikah ?!, hahhh !!".
Nampaknya ibu sudah mulai terbawa suasana. Nada bicaranya mulai meninggi.
" Awalnya, aku pikir dengan kaburnya Zaskia dari rumah. Ayah akan menyetujui aku untuk menikah tanpa harus memaksa kak Renita untuk menikah".
" Dan sekarang apa ?!!, kamu tau Zaskia !!, kakakmu Renita berkorban banyak untukmu !!, kamu tau ?!! kakak mu Renita sering di perlakukan kasar oleh ayahmu, dan di paksa untuk menikah hanya agar kamu bisa menikah dengan laki-laki pilihanmu itu !!!!, dan kamu tau !!, dia berusaha melawan rasa traumanya setelah kejadian kemarin hanya untuk dirimu !!".
" Buuu... !!!, apa yang kamu ucapkan !!".
" Apaa.... !!, itu faktanya kan ??!!!, kamu memperlakukan anakku Renita dengan sangat kasar ?!!!".
Sekarang malah ayah dan ibu yang bertengkar. Aku tidak menyangka, jika ayah melakukan hal kejam seperti itu pada kak Renita hanya demi aku. Bodohnya aku mengorbankan kebahagiaan kakakku sendiri. Tapi aku masih bingung, kenapa ibu selalu menyebut kak Renita dengan sebutan anakku. Bukankah aku juga anaknya ?. Aku tidak melihat ayah berusaha membela diri, berarti memang seperti itu keadaannya. Dan baru kali ini, aku melihat ibu berani membantah dan melawan ayah.
" Kamu egosi Zaskia !!!, sejak kapan kamu berubah menjadi jahat seperti ini ??!".
" Ma-maafkan Zaskia bu, tidak ada maksud menyakiti kak Renita. Mungkin Zaskia salah. Maafkan bu".
" Terlambat !!, sekarang kakakmu bahkan sudah menjadi istri laki-laki yang sama sekali tidak dia kenal dan tidak dia cintai !!".
Aku melihat ibu menyeka air matanya yang jatuh menetes di pipinya. Sedang ayah, hanya menatap kosong kearah rerumputan.
" Lalu apa yang kamu inginkan sekarang ?". Ayah bertanya padaku.
" Zaskia hanya ingin menikah dengan laki-laki yang Zaskia cintai ayah".
" Siapa laki-laki itu ?, siapa namanya ?, Apa pekerjaannya ?, dimana rumah nya ?, orang tuanya bekerja apa ?".
" Namanya Andre, dia hanya seorang laki-laki biasa, orangtuanya pun hanya dari kalangan orang biasa. Tapi Zaskia sangat mencintai mas Andre".
Ayah bertanya begitu banyak padaku. Aku enggan menjawab semuanya.
" Baiklah, suruh Andre datang untuk melamarmu secepatnya. Dan akan segera ayah nikahkan kamu dengannya".
" Ba-baik ayah, akan Zaskia sampaikan pada mas Andre. Dan ibu, maafkan Zaskia. Apa kak Renita tidak akan kembali lagi kerumah ini ?".
" Mungkin dia akan datang jika kamu menikah".
Ucapan ibu sangat dingin padaku. Aku mengerti. Aku hanya memilih diam dan tanpa membela diri.
" Sudah, kembali ke kamar !".
" Ba-baik ayah. Ibu Zaskia pamit ke kamar dulu".
" Ya..!". Jawab ibu dingin dan ketus.
Aku berdiri dan beranjak pergi meninggalkan ayah dan ibu yang masih saling diam. Entah apa yang akan mereka bicarakan. Yang jelas aku sangat bahagia. Aku akan segera dilamar dan menikah dengan mas Andre. Aku akan segera mengabarkan hal ini pada mas Andre. Aku yakin, mas Andre pasti sangat senang mendengar berita ini. Akhirnya, semua pengorbananku tidak sia-sia.
Belum apa" banyak bawangnya 😭
sukses
semangat