Di beli untuk dinikahi dan disakiti adalah jalan hidup seorang gadis cantik bernama Lovita. Di usianya yang masih remaja, Rumah bordil adalah tempatnya mengadu nasib. Uang sebanyak tiga milyar yang dibayarkan lelaki tampan itu untuk menikahinya semakin membuat Lovi merasa bahwa dunia ini kejam. Semua kesengsaraannya dimulai saat perusahaan Ayahnya bangkrut. ia bisa tinggal di rumah bordil dan menjadi budak Berry untuk mencari uang karena keegoisan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arzeerawrites, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Vanilla dan Jane
"Devan mulai peduli mungkin,"
Lelaki muda itu langsung menoleh tajam pada Mamanya yang kini tersenyum menggoda.
Devan terkekeh kecil dengan raut menyeramkan yang begitu kental.
"Aku hanya peduli dengan Elea, tentu saja."
"Ah, Mama kira kamu mengkhawatirkan kondisi Lovi yang hampir pingsan karena Jane,"
Rena melengkungkan bibirnya ke bawah. Ia kira sudah ada kemajuan dari pernikahan anaknya.
"Memangnya siapa dia? tidak penting untukku,"
"Ya.. ya... kamu mengatakan itu karena belum mencintainya!"
*************
"Mama kasihan pada Lovi,"
Begitu Devan keluar dari kamar Lovi, Ia sudah disambut oleh ucapan sinis Rena. Ia mengangkat kepalanya setelah menutup pintu di belakangnya dengan pelan. Lovi sedang tidur, setelah mereka menghabiskan waktu bersama di atas ranjang.
"Kamu selalu menggunakannya sebagai pemuas nafsu. Padahal kamu tidak mencintanya bukan?"
"Untuk melakukan tugas itu, tidak perlu ada perasaan di dalamnya, Ma."
Rena menggeleng tidak percaya dengan apa yang dikatakan Devan. Putranya semakin kejam seiring berjalannya waktu. Ia kira pernikahan Devan sudah mengalami sedikit kemajuan, tidak lagi dingin dan penuh kekejaman.
"Apa yang akan kamu lakukan kalau orang terdekatmu ternyata mempunyai jalan hidup yang sama dengan Lovi, dulu."
Rena hanya ingin melihat respon Devan. Apakah Devan akan membencinya juga setelah tahu masa lalunya?
"Tidak ada yang seperti itu di dekatku,"
"ADA!!" dengan lantang Rena menjawab. Kobaran lain terlihat dari matanya. Antara sedih dan marah bercampur jadi satu.
Devan menggeleng tidak mengerti. Ia menatap Mamanya bingung.
"Mama akan jujur sekarang. Kalau kamu mau membenci Mama, silakan!"
Ada apa ini? kenapa Rena terlihat aneh? Devan berada di situasi yang membuatnya berpikir keras.
"Dulu, Mama sama seperti Lovi!"
"TIDAK MUNGKIN!!"
Devan marah dengan kenyataan itu. Mamanya wanita baik-baik. Tidak mungkin Ia lahir dari Wanita yang berasal dari rumah bordil, tempat para jal*ng yang sangat dibencinya.
"Memang itu kenyataannya,"
"Ma... kenapa Mama harus seperti itu?" suara Devan sangat pelan. Seolah berusaha keras untuk tidak percaya, namun melihat sorot Mamanya yang serius, Ia tidak bisa lagi mengelak kalimat yang diucapkan Rena.
" KENAPA?! AKU MEMBENCI FAKTA ITU!!"
"Mama mengatakan ini karena Mama tidak sanggup lagi melihat Lovi yang setiap hari kamu siksa, Devan!! Mama kembali merasakan sakit yang sama setiap kali kamu memperlakukan Lovi tidak baik,"
**********
Elea merasa tidak nyaman saat Jane selalu menatapnya sinis namun ia memilih untuk sibuk dengan kegiatan memotong smoke beef yang ada di piringnya. Memilih tidak ambil pusing dengan keberadaan Jane di tengah-tengah keluarga ini.
Raihan pulang dari kantornya untuk makan siang seperti biasa. Sementara Devan tidak bisa melakukan hal itu karena disibukkan dengan Rapat bersama Relasinya. Devan juga terlihat menghindari Rena setelah Mamanya itu jujur mengenai masa lalunya. Devan menyesalkan keadaan Rena dulu. Ia tidak mengetahui pasti penyebab Rena menjadi perempuan yang menjajakan tubuhnya. Padahal yang Devan tahu, kedua orangtua Rena tidaklah miskin hingga harus menjual putri mereka.
Devan membenci seorang jal*ng karena keluarganya hampir dihancurkan oleh jal*ng. Apakah Rena pernah melakukan hal itu juga?Pernahkah Rena menghancurkan kebahagiaan suatu keluarga?
"Kamu jangan macam-macam di sini, Jane!"
Jane mengangguk saat mendengar ucapan Kakak dari Almarhum ayahnya itu.
"Tenang saja," Ujarnya dengan percaya diri.
Elea mendengus pelan dan melirik Jane dari ekor matanya yang duduk di Ujung sana berdekatan dengan Vanilla.
"Jane tidur di mana, Pa?"
"Yang jelas berjauhan dari kamar Devan,"
Vanilla sontak tertawa. Ternyata Raihan lebih waspada dari apa yang ia bayangkan. Istirahat Devan akan selalu di ganggu dengan perempuan bernama Jane ini mengingat Ia sangat gemar mencari perhatian dari Sepupu lelakinya itu.
Jane memang gila. Sejak di bangku sekolah Jane dengan terang-terangan mengatakan kalau dia mencintai Devan. Tentu saja hal itu tidak membuat Raihan langsung percaya. Namun melihat perilaku Jane yang ditunjukkan pada Devan setiap hari, membuat semuanya tidak bisa berpikir jernih lagi. Oleh karena itu, Raihan menjauhi perempuan itu dari kehidupan putranya dengan membiayai kuliah Jane di luar negeri.
Raihan tidak menyangka bahwa Jane masih terjebak dalam pesona Devan. Jane masih tergila-gila dengan lelaki itu sampai saat ini.
"Walaupun jauh tapi hati kami tetap dekat,"
Elea berdecih jijik namun sebisa mungkin ia tidak memperlihatkannya di depan Raihan.
"Kamu terlalu percaya diri," Vanilla meledeknya hingga mendapat pukulan di lengan.
"Kecantikanku belum hilang, pasti Devan masih mencintaiku,"
"Sejak kapan kakak ku mencintaimu? Terlalu gila perempuan ini,"
Jane mendengus dan mencebikkan bibirnya kesal.
"Sialan kamu, Vanilla!"
"Hei, Jaga ucapanmu Jane!" Rena melotot marah pada keponakan suaminya itu. Rena tidak bisa mendengar mereka semua mengumpat atau berbicara kasar.
"Maaf aku salah bicara," Rena menggeleng pelan saat Jane berucap dengan senyuman manisnya.
"Dia memang kasar, Ma. Lihat saja tidak ada laki-laki yang mendekatinya sejak dulu,"
Vanilla berusaha membuat perempuan di sampingnya itu kepanasan. Dari dulu hingga sekarang, keduanya memang tidak bisa akrab.
Jane hampir melempar sendok dan garpunya ke wajah Vanilla. Jika saja ia tidak ingat tempat tingalnya sekarang.
"Kamu berbicara omong kosong, Vanilla! Buktinya Sepupuku saja jatuh dalam pesonaku," Dengan bangga ia mengibaskan rambut pirangnya ke belakang membuat Vanilla memutar bola matanya.
"Ya, Lanjutkan saja khayalanmu itu sampai mati,"
***********
Heiii guiseee jgn lupa tinggalkan jejaknya yaa spy aku semangat lnjtnya. Boleh lah bagi" poinnya jgn pelit jd org :p WKWKWK boleh kan aku bagi poin/koinnya? kelean kan baik**** :)
ceritanya kagak nyambung
lari sana lari sini
gak nyambung juga
biking pusing sy bacanya