Ia pernah menjadi Monarch—penguasa yang berdiri di puncak segalanya. Namun pengkhianatan merenggut tahtanya, menghancurkan kerajaannya, dan memaksanya mati berulang kali dalam siklus reinkarnasi yang panjang. Selama ratusan kehidupan, ia menunggu. Menunggu para bawahannya yang tersebar, tertidur, atau tersesat di berbagai dunia. Di kehidupan terakhirnya, saat tubuhnya menua dan kematian kembali mendekat, sebuah system akhirnya terbangun—bukan ciptaan dewa, melainkan jelmaan dari salah satu rekan lamanya. Dengan kematian itu, sang raja kembali terlahir, kali ini di dunia yang sama… namun telah berubah drastis dalam beberapa ratus tahun.
Dunia yang ia kenal telah runtuh, kekaisaran bangkit dan jatuh, gereja menguasai kebenaran, dan para dewa mengawasi dari kejauhan. Dengan system yang setia di sisinya dan ingatan dari kehidupan-kehidupan sebelumnya, sang Monarch memulai perjalanannya sekali lagi: membangkitkan bawahan yang tersisa, membangun kekuatan dari bayang-bayang, dan menuntut balas atas pengkhianatan lama yang belum lunas. Ini bukan kisah pahlawan yang diselamatkan takdir—ini adalah kisah seorang raja yang menolak mati sebelum dunia membayar hutangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sughz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.13. Silverway Traders
Aliran sungai itu jernih dan tenang, terlalu tenang untuk hutan sedalam ini.
Theo duduk di antara pepohonan, memanggang daging di perapian kecil. Sudah dua hari sejak dia meninggalkan ibu kota, dan kesalahan kecil dalam memilih jalur memaksanya berjalan jauh ke dalam hutan.
Theo merebahkan tubuhnya di tanah, memandang langit yang cerah.
“Hei, Lily, apa kau tak ingin mengobrol denganku?” ucap Theo.
[TING]
“Apa anda akan menyalahkan saya lagi karena anda salah memilih jalur?”
Mata Theo berkedut.
“Tidak,”
Theo menghembuskan udara pelan.
“Apa kau masih tak bisa memberi tahuku, kenapa kau bisa berakhir seperti sekarang?” tanya Theo.
Suasana hening.
Hanya ada suara dari gesekan daun tertiup angin.
[TING]
“Kurasa anda harus perhatikan daging panggang anda terlebih dahulu.”
Mendengar itu, Theo segera bangkit dari tidurnya. Tapi terlambat, daging itu sudah berubah jadi hitam.
Theo terdiam, menggaruk kepala.
“Kenapa juga pak tua itu hanya memberi koin emas dalam cincin ini,” hardik Theo kesal. “Apa dia menyuruhku mengunyah koin di tengah hutan.”
Theo mengambil jubah, dan bangkit dari duduknya.
Sekali lagi memandang langit, lalu melangkah pergi, mengikuti jalur aliran sungai.
.
Di sisi lain tepian sungai, terlihat tiga orang sedang bertarung dengan segerombolan serigala. Lima ekor serigala mengepung, tampak sangat kelaparan dan tiga orang itu sudah kelelahan, mengacungkan pedang dengan gemetar.
“Sudah aku bilangkan, ayah. Harusnya kita menyewa prajurit bayaran untuk pengawalan!!!” ucap pria yang sudah kehabisan napas.
“Apa kau yang akan membayar kontrak mereka” balas pria tua di sebelahnya.
“Lebih baik membayar mereka, kan. Daripada mati di sini,” ucap pria lainnya.
Lima serigala yang kelaparan menggeram dengan keras, mereka seperti siap menerjang ketiga pria itu.
SREK.. SREK..
Suara dari semak-semak di sekitar mereka mengalihkan perhatian serigala, lalu seseorang muncul dari semak-semak.
“AAHH, kau benar-benak tak berguna Lily. Bagaimana bisa kau terus salah memilih jalur!!!” teriak Theo saat keluar dari semak-semak.
Tiga orang tadi melihatnya heran, dan lima serigala menjadi waspada terhadap Theo menggeram dengat keras. Satu serigala melompat menerjang Theo.
“HEI, AWAS!!” teriak pria tua.
Theo mendengar teriakan itu. Theo langsung menoleh, tapi moncong serigala itu sudah di depan matanya.
Theo menghindar, mundur satu langkah dengan cepat.
“Apa-apaan...” mengangkat tangan dan mengepalkannya erat. “...anjing sialan ini!!” memukul serigala itu sekuat tenaga ke tanah.
Serigala itu tak bangkit lagi.
Serigala lain menggeram karena marah, Theo langsung menatap mereka.
“Apa?” ucap Theo.
Keempat serigala langsung mernyerbu Theo.
Theo menghunuskan pedangnya, mengindari beberapa serangan yang hampir mengenainya, lalu Theo bergerak cepat dan keempat serigala itu mati tanpa perlawanan yang berarti.
Ketiga pria tadi hanya terdiam melihat aksi Theo, tanpa sadar menjatuhkan pedang mereka.
Theo mendengus, menyarungkannya lagi, lalu menatap ketiga pria yang masih terdiam itu.
“Apa yang kalian lihat” ucap Theo, membuat ketiga pria itu tersadar.
“Ah, bu-bukan begitu tu-tuan muda” ucap pria tua, dengan kikuk. “Terima kasih telah menyelamatkan kami!!!” pria itu membungkuk dan di ikut kedua anaknya.
Theo menatap dengan kesal.
“Aku tak pernah berniat menyelamatkan kalian,” ucap Theo, langsung melangkah pergi.
Melihat Theo yang akan pergi, pria tua itu langsung mencegahnya.
“Tu-tunggu tuan muda,” ucapnya berlari mendekati Theo. “Apa anda seorang prajurit bayaran?” tanya pria itu.
“Kenapa?” tanya Theo.
“Kami butuh pengawal untuk perjalanan ke Morvain, apa anda bisa jadi pengawal kami?” ucap pria itu dengan ragu.
Mendengar kata Morvain, Theo langsung antusias.
“Morvain? Apa kau akan ke sana?”
“Ah, iya kami akan ada perdangangan di Morvain,” jawab pria itu.
“Baiklah aku akan ikut,” ucap Theo cepat.
Pria tua itu senang, tapi berubah dengan cepat.
“Ta-tapi maaf tuan muda, keadaan kami sedang sulit saat ini.” pria itu menunduk. “Kami akan membayar anda saat sampai di Morvain, kami janji!!!” masih dengan posisi menunduk.
“Tak usah di pikirkan, beri saja aku tumpangan gratis,” ucap Theo.
Pria itu mengangkat kepalanya, menatap Theo senang.
“Baik tuan muda,”
“Jangan memanggilku seperti itu, panggil saja aku Ash,” ucap Theo.
“Ah, baiklah tuan mu... tuan Ash, saya Derrik dari kelompok Silverway Traders dan di sana adalah kedua anak saya Malric dan Edrin,” jelas Derrik.
Theo menatap kedua anak Derrik, menunduk saling menyapa.
“Baiklah, apa kita bisa berangkat sekarang?” tanya Theo.
“Tunggu sebentar tuan..” Derrik menatap mayat serigala tadi. “Apa anda akan membiarkan mayat ini begitu saja?”
Theo ikut menatap mayat-mayat itu.
“Memang apa yang bisa dia lakukan mayat-mayat ini?”
Derrik dan kedua anaknya menatap Theo dengan bingung.
“Apa kau sungguh seorang prajurit bayaran?” tanya Malric. “Bagaimana kau bisa meninggalkan sumber daya seperti ini. Kulit dan tulang Feral Wolf adalah barang yang cukup laku di pasaran.”
Theo bingung. “Benarkah?”
“Kalian bisa mengambil semua mayat ini kalau kalian mau,” ucap Theo.
Mereka semua memasang wajah senang.
“Tuan penyelamat,”
“Anda adalah seorang penyelamat,”
Mereka bertiga menyerbu Theo dengan penuh haru.
“Baiklah... hentikan itu,” ucap Theo tak nyaman dengan perlakuan mereka. “Lalu kapan kita akan berangkat?”
“Ah, kami akan menangani mayat mereka dulu. Mungkin akan sedikit lama, jadi anda bisa beristirahat dan menunggu,” jelas Derrik.
Theo mendengus.
“Baiklah, aku akan tidur dulu. Kalian bisa membangunkanku kalau sudah selesai.” ucap Theo, melangkah ke salah satu pohon dan bersandar untuk tidur.
Ketiga pria itu hanya melihat Theo dengan perasaan senang, lalu mereka mulai menguliti mayat Feral Wolf itu dengan cekatan.
.
.
Malam pun datang, butuh setengah hari bagi Derrik dan kedua anaknya menangani lima mayat itu.
Sekarang mereka semua dalam perjalanan menuju Morvain dengan gerobak kecil yang ditarik kuda. Derrik dan Malric duduk di depan sebagai kusir, sedangkan Theo dan Edrin duduk berhadapan di berlakang.
Theo hanya memandang langit yang di penuhi bintang.
“A-anu... apa aku boleh menanyakan sesuatu,” ucap Edrin pada Theo.
Theo menatap Edrin.
“Ada apa?”
Edrin sempat ragu sejenak.
“Anu... sebenarnya... aku sangat penasaran sejak pertama kali melihatmu,” Edrin menelan ludah.
Theo menaikkan alisnya.
“Sebenarnya... berapa usiamu?” tanya Edrin, wajahnya sedikit takut.
Derrik dan Melric yang mendengar itu, juga ikut penasaran dan menguping dari depan.
“Ah, usia? sepuluh tahun,” jawab Theo singkat.
Gerobak berguncang sedikit. Semua orang panik.
“Hei, ada apa?” tanya Theo.
“Ah, ti-tidak tuan Ash, tidak ada apa-apa" jawab Derrik.
Theo menatap Edrin.
Edrin hanya menatap Theo dengan mulut terbuka.
“A-apa kau sungguh masih berumur sepuluh tahun Ash?” Tanya Melric dari depan.
“Yah, kalau aku tidak salah,” jawab Theo.
Edrin masih menatap Theo.
“Hei, Edrin, apa kau tak apa?” tanya Theo, menggoyangkan badan Edrin membuatnya tersadar.
“Apa kau seorang pangeran dari kekaisaran? Ada ditingkat apa kekuatanmu sekarang? Tunggu... tunggu... apa kau sekarang sedang melakukan perjalanan sebagai pewaris?” cecar Edrin saat tersadar dari lamunannya.
Theo merasa seperti baru tertangkap.
‘Apa-apaan insting bocah ini,’ gumam Theo dalam hati.
“Hei, Edrin, apa-apa dengan sifatmu itu!” hardik Derrik.
Edrin tersadar.
“Ah, maafkan aku Ash. Aku hanya penasaran, bagaimana kamu bisa sekuat ini, aku dan kakakku lebih tua darimu, tapi kami masih belum bisa menembus bahkan tingkat mortal.” jelas Edrin, menunduk merasa bersalah.
Melihat itu Theo merasa kasihan padanya.
“Kalian berdua mungkin memang tidak terlahir untuk menjadi petarung, jadi jangan terlalu dipikirkan. Pikirkan saja apa yang kalian bisa,” ucap Theo, dia mengalihkan pandangannya pada langit lagi.
Edrin yang mendengar itu, menatap kagum pada Theo.
Mereka berempat kembali diam.
Hanya suara langkah kaki kuda dan roda yang bergesekan dengan tanah yang terdengar.
.